Thursday, May 19, 2011

buku metode penelitian download dan baca disini

KATA PENGANTAR

Pengetahuan tentang metode penelitian semakin dirasakan manfaatnya dan telah menjadi pereangkat yang penting bagi mahasiswa putra dan putrid yang sedang mengikuti kuliah di perguruan tinggi. Mengingat buku tentang metode peneltian belum banyak diterbitkan di Indonesia, maka penulis memberanikan diri untuk menyusun suatu buku teks oleh mahasiswa ataupun sebagai buku referensi bagi peneliti-peneliti.
Isi buku ini mencakup metode, prosedur, dan teknik penelitian yang secara umum biasa dipergunakan dalam penelitian ilmu social dan ilmu natura . Penjelasan- penjelasan diarahkan untuk memberikan bekal teori dan terapan kepada mahasiswa dan peneliti muda dalam rangka memecahkan masalah penelitian dengan pendekatan ilmiah. Penekanan diberikan kepada pengertian tentang metode ilmiah serta hubungannya denagan desain dan metodologi dalam memecahkan masalah penelitian, jenis-jenis metode penelitian yang lazim digunakan , serta teknik-teknik ang lumrah dipergunakan dalam mengumpulkan dan menganalisis data.
Teknik terapan ditekankan kepada metode survey dan metode percobaan, serta membentuk pemikiran kritis dan analisis tentang sampling maupun desain percobaan. Materi pokok mencakup kajian tentang pentingnya penelitian, perumusan masalah penelitian, studi kepustakaan, perumusan dan teknik menguji hipotesis, teknik pengumpulan data, analisis dan pemberian interpretasi, dan penulisan makalah ilmiah.
Buku ini berisi penjelasan-penjelasan tentang ilmu dan penelitian, metode ilmiah, beberapa metode penelitian, studi kepustakaan, desain penelitian, teknik merumuskan masalah, mengukur variabel, merumuskan hipotesis, dan menguji hipotesis. Seterusnya, buku ini juga menjelaskan teknik mengumpulkan data, desain percobaan, teknik sampling, pembuatan skala, analisis, interpretasi dan perumusan kesimpulan, anallisis statistik, dan teknik membuat laporan ilmiah.
Secara keseluruhan, isi buku ini tidak lain dari kumpulan hasil pemikiran penulis-penulis terdahulu. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika banyak bagian dari buku ini berisi karya Whitney, Festinger, Katz, Kerlinger, Selltiz et.al.,Goede dan Hatt, Babbie, Singarimbun dan Effendi, Moser dan Kalton, serta penulis-penulis lainya, yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu.
Sudah terang, tulisan manusia itu tidak luput dari kekurangan-kekurangan. Oleh karenanya, penulis sangat mengaharapkan kririk-kritik dan saran-saran yang konstruktif dari kolega dan para ahli dalam rangka menyempurnakan buku ini.
Buku ini tidak akan muncul jika tidak ada dorongan dari teman sejawat, dan untuk ini penulis mengucapkan banyak terima kasih. Dua sejawat yang telah banyak sekali memberikan dorongan untuk menyiapkan karya ini adalah Dr. H. M. Ali Basyah Amin Direktur Pusat Latihan Penelititan Ilmu-Ilmu Sosial Aceh dan Dr. Syamsuddin Mahmud Ketua Bappeda Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Dalam rangka menelusuri literatur, penulis juga telah menerima banyak sekali mabtuan dari Kepala Perpustakaan University of New England, Armidale, Australia, dan untuk ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih. Khususnya kepada istri penulis, Katrunnada Nazir, dengan kesabaran dan dedikasihnyalah, karya kecil ini dapat terwujud menjadi suatu kenyataan.
























DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Ilmu Pengetahuan dan Penelitian
Peranan dan Jenis-jenis Penelitian
Metode Ilmiah
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Studi Kepustakaan
Perumusan Masalah
Memilih Variabel dan Teknik pengukurannya
Merumuskan dan Menguji Hipotesis
Mengumpulkan Data
Desain Percobaan
Teknik Membuat Plot Lapangan
Beberapa Teknik Sampling
Teknik Membuat Skala
Analisis dan Penafsiran Data
Memerapa Teknik Statistik dalam Analisis
Menulis Laporan Ilmiah

Bibliografi
Lampiran














ILMU PENGETAHUAN
DAN
PENELITIAN


Ilmu atau ”sains” adalah pengetahuan tentang fakta –fakta , baik natura atau sosial, yang berlaku umum dan sistematis . karena ilmu berlaku umum, maka dari nya dapat disimpulkan pernyataan-pernyataan yang didasarkan beberapa kaidah umum pula. Ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematis menurut kaidah umum.
ILMU DAN PROSES BERPIKIR
Dua buah definisi dari ilmu adalah sebagai berikut .
” Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum. ”
” Ilmu ialah pengetahuan yang sudah dicoba dan diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematis. ”
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya , dari pernyataan apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi, timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematis, yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan mengelilingi matahari dan bumi juga mengelilingi matahari. Juga bidang ilmu-ilmu sosial, keingintahuan tentang masalah- masalah sosial tentang membuat orang tentang pengamatan-pengamatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena sosial seperti sosiologi, antropologi, dan sebagainya.
Menurut Maranon (1953, ), ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang progress manusia secara menyeluruh. Termasuk didalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sitenmatis melalui pengamatan dan percobaan terus menerus, yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Tan ( 1954 ) berpendapat bahwa ilmu bukan saja merupakan suatu himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi. Ilmu telah memberikan metode dan sistem, yang mana tanpa ilmu , semua itu akan merupakan suatu kebutuhan saja. Nilai dari ilmu tidak hanya terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya. Sehingga sipenuntut ilmu menjadi seorang yang ilmiah, baik dalam keterampilan, dalam pandangan maupun tindak tanduknya.
Ilmu menemukan materi-materi alamiah serta memberikan suatu rasionalisasi sebagai hukum alam. Ilmu membentuk kebiasaan serta meningkatkan keterampilan observasi, percobaan(experimentasi), klasifikasi, analisis serta membuat generalisasi. Dengan adanya keingin tahuan manusia yang terus menerus, maka ilmu akana terus berkembeang dan membentuk kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir seacra logis , yang sering disebut penalaran.
Konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama. Dalam memecahkan masalah, keduanya dimulai dengan adanya rasa sanksi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pernyataan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentatif untuk penyelidikan .
Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpiukir lahir dari suatu rasa sanksi akan sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan, yang kemudian tumbuh menjadi suatu maslah yang khas. Masalah ini memerlukan suatu pemecahan dan untuk ini dilakukan penyelidikan terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat. Akhirnya, sebuah kesimpulan tentatif akan diterima, tetapi masih tetap dibawah penyelidikan yang kritis dan terus menerus untuk mengadakan evaluasi secara terbuka.
Biasanya, manusia normal selalu berpikir dengan situasi permasalahan . Hanya terhadap hal-hal yang lumrah saja, biasanya reaksi manusia terjadi tanpa berpikir. Ini adalah suatu kebiasaan atau tradisi .Akan tetapi, jika masalah yang dihadapi adalah masalah yang rumit, maka manusia normal akan memecahkan masalah tersebut menerut langkah-langkah tertentu. Berpikir demikian dinamakan berpikir secara reflektif ( Reflective Thinking ).
Bagaimana kira-kira proses yang terjadi ketika berpikir ? Menurut Dewey ( 1933 ) proses berpikir dari manusia normal memiliki urutan berikut .
Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yangmuncul secara tiba – tiba.
Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka – reka, hipotesis, inferensi, atau teori.
Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti ( data )
Menguatkan pembuktian tentang ide-ide diatas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.
Menurut Kelly ( 1930 ) proses berpikir menuruti langkah-langkah berikut.
Timbul rasa sulit
Rasa sulit tersebut didefinisikan.
Mencari suatu pemecahan sementara.
Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental ( percobaan ).
Mengadakan penilaian terhadap penemuan- penemuan eksperimental menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menimbulkan rasa sulit.
Memberikan suatu pandangan kedepan atau gambaran mental tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.
Dari keterangan-keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa berpikir secara nalar mempunyai kriteria penting, yaitu
Ada unsur logis didalamnya, dan
Ada unsur analitis didalamnya.
Ciri pertama dari berpikir adalah adanya unsur logis didalamnya. Tiap bentuk berpifikir mempunyai logikanya tersendiri. Dengan perkataan lain, berfikir secara nalar tidak lain dari berfikir secara logis. Perlu juga dijelaskan, bahwa berfikir secara logis mempunyai konotasi jamak dan bukan konotasi tunggal. Karena itu, suatu kegiatan berfikir dapat saja logis menurut logika lain. Kecenderungan tersebut dapat menjurus kepada apa yang dinamakan kekacauan penalaran. Hal ini disebabkan karena tidak adanya konsistensi dalam menggunakan pola berfikir.
Ciri kedua dari berfikir adalah adanya unsur analitis didalam berfikir itu sendiri. Dengan logika yang ada ketika berfikir, maka kegiatan berfikir itu secara sendirinya mempunyai sifat analitis, yang mana sifat ini merupakan konsekuensi dari adanya pola berfikir tertentu. Berfikir secara ilmiah berarti melakukan kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah. Dengan demikian, berfikir tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkaikan rambu-rambu pikirannya kedalam suatu pola tertentu, yang dapat timbul sebagai kejeniusan seorang ilmuan.
Rasio atau fakta dapat merupakan sumber utama dari nalar atau sumber dari berfikir. Mereka yang berpendapat bahwa rasio lah yang merupakan sumber utama dari kebenaran dalam berfikir digolongkan dalah mazhab rasionalisme. Dilain pihak terhadap mazhab empirisme. B agi mazhab empirisme, sumber utama dari kebenaran dalam berfikir adalah fakta yang dapat ditangkap melalui pengalaman manusia.
Pada hakikatnya, berfikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif. Masing-masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau empirisme. Induksi merupaan cara berfikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Misalnya , fakta menunjukkan bahwa ayam, perlu makan untuk hidup. Anjing Perlu Makan. Singa Perlu Makan. Jadi dari fakta-fakta diatas, secara induktif, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua hewan perlu makan untuk hidup. Dilain pihak, teerdapat cara berfikir yang berpangkat dari pernyataan yang bersifat umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Berfikir secara demikian dinamakan berfikir secara deduktif. Berfikir secara deduktif sering menggunakan sillogisme.

2. APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENELITIAN
Penelitian adalah terjemahan dari kata inggris Research. Dari itu, ada juga ahli yang menerjemahkan Research sebagai reset. Research itu sendiri berasal dari kata re, yang berarti ”kembali” dan to search yang berari mencari. Dengan demikian, arti yang sebenarnya dari Research atau riset adalah ” mencari kembali ”.
Menurut kamus Webter’s New International , penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip;suatupenyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuan Hillway (1956) penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Whitney(1960) menyatakan bahwa disamping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidik harus pula dilakukan secara sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian, penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran sehingga penelitian juga merupakan metode berfikir secara kritis.
Whitney mengutip beberapa definisi tentang penelitian yang ditunkan dibawah ini.
Penelitian adalah pencarian atas sesuatu ( Inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencaharian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan. Parsons (1946).
Penelitian adalah suatu pencarian fakta menurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antar fakta dan menghasilkan dalil atau hukum. ( John, 1949).
Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya, seperti mengubah unsur dari situasi orisional menjadi suatu keseluruhan yang bersatu padu. (Dewey, 1936).
Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (Critical Thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, menformulasikan hipotesis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan apakah ia cocok dengan hipotess( Woody, 1927).
Dalam hubungannya definisi penelitian, Gee(1957) memberikan tanggapannya sebagai berikut.
Dalam berbagai definisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurang nya sebuah pengaturan baru atau interpretasi(tafsiran)baru daripengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi, maka tampaknya aktivitas lebih tertuju kepada pencarian( search) dari pada suatu pencarian kembali( Re-search). Jika proses yang etrjadi adalah hal yang perlu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah definisi lain terhadap definisi-definisi yang telah begitu banyak.”
Dari tanggapan serta definisi-definisi tentang penelitian, maka nyata bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi . Dalam definisi-definisi diatas, penekanan diletakkan pada sistem asuhan sebagai atribut-atribut yang esensial(mutlak).
Penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima,ataupun mengubah dalil-dalil denfgan adanya aplikasi baru dari dalil-dalil tersebut. Dari itu, penelitian dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan dan pemberi artian yang terus menerus terhadap sesuatu.. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru.
Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method ) disebut penelitian ilmiah (scientific research ). Dalam penelitian ilmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar ( reasoning ) ( Ostle, 1975 ). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu diperoleh kerja mata ( pengamatan ) dengan menggunakan persepsi ( sense of perception ). Nalar adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan yang sekarang.

ILMU, PENELITIAN, DAN KEBENARAN
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, ilmu adalah suatu pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi. Kita juga memahami pengertian penelitian, yaitu suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan terus menerus untuk memecahkan suatu masalah. Kita juga sudah mendapat gambaran tentang berpikir reflektif, sebagai suatu proses memecahkan sesuatu dalam menghadapi kesulitan. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana hubungan antara ilmu, penelitian, dan berpikir reflektif ?
Pertama-tama mari kita lihat hubungan antara ilmu dan penelitian. Ilmu dan penelitian mempunyai hubungan yang sangat erat . Menurut Almack(1930) hubungan antar ilmu dan penelitian adalah seperti hasil dan proses. Penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu.( Lihat gambar 1.1).
Akan tetapi Whitney(1960), berpendapat bahwa ilmu dan penelitian adalah sama-sama proses, sehingga ilmu dan penelitian adalah proses yang sama. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran( truth). (Lihat gambar 1.2). Berkata Whitney:
”...Terdapat suatu kesamaan yang tinggi derajatnya antara konsep ilmu dan penelitian. Keduanya adalah sama-sama proses. ”
Bagaimana pula hubungan antara berpikir, penelitian dan ilmu ? Konsep berpikir, ilmu dan penelitian juga sama . berpikir, seperti halnya dengan ilmu, juga merupakan proses untuk mencari kebenaran. Proses berpikir ádalah refleksi yang hati-hati dan teratur.
Perlu juga disinggung bahwa kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah suatu kebenaran yang telah ditemukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tersebut dilakukan secara ilmiah. Sebaliknya, banyak juga kebenaran terhadap fenomena yang fana diterima tidak melalui proses penelitian.
Umumnya, suatu kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh tiga hal, yaitu :
Adanya koheren ;
Adanya corresponden; dan
Prakmatis.
Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang di anggap benar. Misalnya, suatu pernyataan bahwa si Badu akan mati dapat dipercaya, karena pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan bahwa semua orang akan mati. Kebenaran matemátika misalnya, didasarkan atas sifat koheren, karena dalil matematika di susun berdasarkan beberapa aksioma yang telah diketahui kebenarannya lebih dahulu.

Gambar 1.1



( proses ) ( hasil )






( proses ) ( proses) ( hasil )


Dasar lain untuk mempercayai kebenaran adalah sifat koresponden yang diprakarsai oleh Betrans Russel (1872-1970 ). Suatu pernyataan dianggap benar jira materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Pernyataan bahwa ibu kota Propinsi Daerah Istimewa Aceh adalah Banda Aceh adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi atau faktualitas bahwa Banda Aceh memang ibu kota Propinsi Aceh. Jika orang mengatakan bahwa ibu kota Republik Indonesia adalah Kuala Lumpur, maka orang tidak akan percaya, karena tidak terdapat objek yang mempunyai korespondensi dengan pernyataan tersebut. Secara faktual, ibu kota Republik Indonesia adalah Yakarta bukan Kuala Lumpur. Sifat kebenaran yang diperoleh dalam proses berpikir secara ilmiah umumnya mempunyai sifat koheren dan sifat koresponden. Berpikir secara deduktif adalah menggunakan sifat koheren dalam menentukan kebenaran, Sedangkan berpikir secara induktif, peneliti menggunakan sifat corresponden dalam menentukan kebenaran.
Kebenaran lain dipercaya karena adanya sifat pragmatis. Dengan perkataan lain, pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu kesimpulan dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmatis dalam kehidupan sehari-hari. Teori kebenaran dengan sifat pragmatis ini dikembangkan oleh Ch.s Pierce ( 1839-1914 ) dan di anut oleh banyak ahli seperti John Dewey ( 1859-1952 ), C.H. Mead ( 1863-1931 ), C. I. Lewis ( 1883- ), dan sebagainya. Misalnya ada sebuah teori X dalam ilmu Genetika dan dengan teori X ini telah dapat dikembangkan teknik Z untuk membuat tanaman tahan terhadap serangan penyakit. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa teknik Z memang mampu membuat tanaman tahan terhadap penyakit. Dari penemuan tersebut dapat disimpulkan, bahwa teori X juga benar, karena teori X adalah fungsional dan mempunyai kegunaan. Secara pragmatis orang percaya kepada agama, karena agama bersifat fungsional dalam memberikan pegangan dan aturan hidup pada manusia.

KEBENARAN NON ILMIAH
Tidak selamanya penemuan kebenaran diperoleh secara ilmiah. Kadangkala kebenaran dapat ditemukan melalui proses nonilmiah, seperti :
Penemuan kebenaran secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara common sense ( akal sehat )
Penemuan kebenaran melalui wahyu
Penemuan kebenaran secara intuitif
Penemuan kebenaran secara trial dan error
Penemuan kebenaran melalui spekulasi
Penemuan kebenaran karena kewibawaan

Penemuan kebenaran secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah. Walaupun penemuan kebenaran secara kebetulan bukanlah kebenaran yang ditemukan secara ilmiah, tetapi banyak penemuan tersebut telah menggoncangkan dunia ilmu pengetahuan. Misalnya, penemuan cristal urease oleh Dr. J.S Summers adalah secara kebetulan saja di tahun 1926. Pada suatu hari Summers sedang bekerja dengan ekstrak aceton. Karena ia ingin bermain tenis, maka ekstrak aceton tersebut disimpannya di dalam kulkas dan ia bergegas pergi ke lapangan tenis. Keesokan harinya, ketika ia ingin meneruskan percobaan dengan ekstrak aceton yang disimpannya di dalam kulkas, dilihatnya telah timbul kristal-kristal baru pada ekstrak aceton tersebut. Kemudian ternyata bahwa cristal-kristal tersebut adalah enzim urease yang amat berguna bagi manusia.
Akan tetapi, tidak selalu penemuan secara kebetulan merupakan kebenaran asasi. Adakalanya, penemuan secara kebetulan dapat membuat seseorang menjadi tertipu karena hubungan yang seakan-akan ada artinya padahal hubungan tersebut berdiri sendir-sendiri.

Penemuan dengan cara akal sehat ( Common Sense )
Common sense merupakan serangkaian konsep atau bagan konsepsual yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Akal sehat dapat menghasilkan kebenaran dan dapat pula menyesatkan. Misalnya, di abad ke-19 dengan akal sehat ( Common sense ) orang percaya bahwa hukuman untuk anak didik merupakan alat utama dalam pendidikan. Kemudian ternyata pendapat tersebut tidak benar. Hasil penelitian dalam bidang psikologi dan pendididkan menunjukkan bahwa alat yang baik bagi pendidikan bukan hukuman tetapi ganjaran.
Karena kebenaran yang diperoleh dengan Common sense sangat dipengaruhi oleh kepentingan yang menggunakannya, maka sering orang mempersempit pengamatan kepada hal-hal yang bersifat negative saja. Karena itu, Common sense dapat menjurus kepada prasangka.

c. Penemuan kebenaran secara wahyu
Kebenaran yang didasarkan kepada wahyu merupakan kebenaran mutlak, jika wahyu datangnya dari Allah melalui Rasul dan Nabi. Kebenaran yang diterima sebagai wahyu bukanlah disebabkan oleh hasil usaha penalaran manusia secara aktif. Wahyu diturunkan Allah kepada Rasul dan Nabi. Akan tetapi, kebenaran yang dibawakan melalui wahyu merupakan kebenaran yang asasi.

d. Penemuan kebenaran secara Intuitif
Kebenaran dapat juga diperoleh berdasarkan intuisi. Kebenaran dengan intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berfikir, ataupun melalui suatu renungan. Kebenaran yang diperoleh secara intuisi sukar dipercay, karena kebenaran ini tidak menggunakan langkah yang sistematis untuk memperolehnya.

e. Penemuan kebenaran melalui Trial dan Error
Bekerja secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang jelas sampai seseorang menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dan error memakan waktu yang lama, memerlukan biaya yang tinggi, dan selalu dalam keadaan meraba-raba. Penemuan dengan cara trial dan error tidak dikategorikan sebagai penemuan ilmiah.
Istilah trial dan error mula-mula hanya digunakan dalam ilmu jiwa. Kemudian penggunaan istilah ini telah menyebar kesegala bidang ilmu.

f. Penemuan kebenaran melalui Spekulasi
Penemuan kebenaran secara spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari penemuan secara trial dan error. Jika dalam penemuan secara trial dan error peneliti tidak mempunyai panduan sama sekali, maka dalam penemuan dengan spekulasi seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun pertimbangan tersebut kurang dipikirkan secara masak-masak, tetapi dikerjakan dalam suasana penuh dengan resiko. Penemuan kebenaran dengan spekulasi memerlukan pandangan yang tajam walaupun penuh spekulatif. Cara menemukan kebenaran dengan cara spekulasi juga tidak dianggap penemuan kebenaran secara ilmiah.

g. Penemuan Kebenaran Karena Wibawa
Kebenaran ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewibawaan seseorang. Pendapatan dari seseorang ilmuwan yang berbobot tinggi ataupun yang mempunyai otorita dalam suaatu bidang ilmu dan mempunyai banyak pengalaman sering diterima begitu saja tanpa perlu diuji kebenaran tersebut lebih dahulu. Kebenaran tersebut diterima karena wibawa saja. Ada kalanya kebenaran karena kewibawaan seseorang seteleh diuji ternyata tidak benar sama sekali. Umumnya kebenaran karena kewibawaan didasarkan pada logika saja. Kewibawaan seorang pemimpin politik dapat menghasilkan suatu kebenaran yang diterima oleh masyarakat . Kebenaran karena wibawa dianggap suatu kebenaran yang diperoleh tanpa prosedur ilmiah.

PROPOSISI, DALIL, TEORI, DAN FAKTA
Proposisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita. Proposisi tersebut dapat diuji kebenarannya. Jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya, proposisi tersebut disebut hipotesis. Dalam ilmu sosial, proposisi biasanya pernyataan antara dua atau lebih konsep. Sebagai contoh lihatlah dua buah proposisi sebagai berikut.
Tingkat modernitas suami istri adalah salah satu faktor penentu perilaku kontraseptif mereka.
Penerimaan konrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi tentang nilai ekonomis anak.
Kedua pernyataan diatas adalah proposisi. Proposisi tersebut menghubungkan
dua faktor yaitu faktor penyebab dari faktor lainnya. Proposisi ini jika dirumuskan untuk diuji kebenarnnya, ia akan menjadi hipotesis. Hipotesis adalah suatu pernyataan yang diterima secara sementara untuk diuji kebenarannya.
Proposisi yang sudah mempunyai jangkauan cukup luas dan telah didukung oleh data empiris dinamakan dalil ( scientific law ). Dengan perkataan lain, dalil adalah singkatan dari suatu pengetahuan tentang hubungan sifat-sifat tertentu, yang bentuknya lebih umum jika dibandingkan dengan penemuan-penemuan empiris pada mana dalil tersebut didasarkan.
Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematis dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti. Teori merupakan abstaksi dari pengertian atau hubungan dari proporsi atau dalil . Menurut Kerlinger (1973), teori adalah sebuah set konsep atau construct yang berhubungan satu dengan lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dari fenomena .
Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris . Fakta dapat meanjadi ilmu dapat juga tidak. Jika fakta hanya diperoleh saja secara random, fakta tersebut tidak akan mengahasilkan ilmu. Sebaliknya , jika dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta beberapa pokok-pokok pengurutan, maka fakta tersebut dapat mengahsilakan ilmu. Fakta tanpa teori juga tidak akan menghasilkan apa-apa.
Ada tiga hal perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut.
Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas konstrak ( Construct ) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas pula.
Teori menjelaskan hubungan antarvariabel atau antarkonstrak ( consruct ) sehingga pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan oleh variabel dengan jelas kelihatan.
Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variabel mana yang berhubungan dengan variabel mana.

Fakta ilmiah adalah produk dari pengamatan yang bukan random dan mempunyai arti. Dengan perkataan lain, fakta harus relevan dengan teori, sehingga fakta dan teori tidak pernah bertentangan. Dengan demikian, teori memperlihatkan hubungan antarfakta atau suatu pengurutan fakta dalam bentuk yang mempunyai arti.
Teori adalah alat dari ilmu ( tool of science ). Di lain pihak, teori juga merupakan alat penolong teori. Sebagai alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai berikut :
Teori mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi tehadap jenis-jenis data yang akan dibuat abstraksinya.
Teori memberikan rencana (Scheme) konsepsuar, dengan rencana mana fenomena-fenomena yang relevan disistematiskan, diklasifikasikan, dan diumumkan.
Teori memberi ringkasan terhapat fakta dalam bentuk generalisi empiris dan sistem generalisasi.
Teori memberikan prediksi terhadap fakta.
Teori memperjelas celah-celah didalam pengetahuan kita.

Teori sebagai orientasi utama dari ilmu. Fungsi pertama dari teori adalah memberi batasan terhadap ilmu dengan cara memperkecil jangkauan (range) dari fakta yang akan dipelajari. Karena banyak fenomena yang dapat dipelajari dari berbagai aspek , maka teori membatasi aspek mana saja yang akan dipelajari dari fenomena tertentu. Permainan bola kaki, misalnya,dapat dipelajari dari berbagai aspek, seperti dari aspek fisik, dari aspek ekonomi(penawaran dan permintaan terhadap bola kaki), dari aspek kimia, aspek sosiologi, dan sebagainya. Dengan adanaya teori, maka jenis fakta mana yang relevan dengan aspek tertentu dari fenomena dapat dicari dan ditentukan.

Teori sebagai konsep sualisasi dan klasifikasi. Tugas dari ilmu juga mengembangkan sistem klasisikasi dan struktur konsep. Dalam pengembangan tersebut, ilmu memegang peranan penting, karena konsep serta klasifikasi selalu berubah karena pentingnya suatu fenomena berubah-ubah.
Teori meringkaskan fakta. Teori meringkaskan hasil penelitian. Dengan adanya teori, generalisasi terhadap penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Teori juga dapt memadu generalisasi-generalisasi satu sama lain secara empiris sehingga dapat diperoleh suatu ringkasan hubungan antar generalisasi atau pernyataan.

Teori memprediksi fakta-fakta. Penyingkatan fakta-fakta oleh teori akan menghasilkan uniformitas dari pengamatan-pengamatan. Dengan adanya uniformitas tersebut, maka dapat dibuat prediksi terhadap fakta-fakta yang akan datang. Teori fakta-fakta apa yang dapat mereka harapkan muncul berdasarkan pengamatan fenomena-fenomena sekarang.

Teori memperjelas celah kosong. Karena meringkas fakta-fakta sekarang dan memprediksi fakta-fakta yang akan datang , yang belum diamati, maka teori dapat memberikan petunjuk dan memperjelas daerah mana dalam khazanah ilmu pengetahuan yang belum di eksplorasikan. Misalnya, jika teori menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pendapatan dan fertilitas, maka teori tersebut menunjukkan celah mana saja dimana hubungan tersebut berlaku secara umum, ataukah teori tersebut berlaku hanya pada suatu kelompok pendapatan tertentu. Adanya teori kriminalitas yang dirumuskan berdasarkan pengamatan terhadap perilaku kelas bawah, telah memperjelas celah bahwa kini dipertanyakan apakah teori tersebut juga berlaku untuk kriminalitas yang terjadi pada anak-anak golongan atas?

Seperti telah disinggung terdahulu, fakta juga mempunyai peranan terhadap teori. Fakta berperan dan mempunyai interaksi yang tetap dengan teori. Peranan fakta terhadap teori antara lain sebagai berikut:
Fakta menolong memprakarsai teori.
2. Fakta memberi jalan dalam mengubah atau menformulasikan teori baru.
3. Fakta dapat membuat penolakan terhadap teori.
4. Fakta menukar fokus dan orientasi dari teori.
5. Fakta memperterang dan memberi definisi kembali terhadap teori.

Fakta memprakarsai teori. Banyak fakta yang ditemui secara empiris menjurus kepada penemuan teori baru. Memang fakta tidak secara langsung menghasilkan teori, tetapi kumpulan dari fakta-fakta dapat dibuat suatu generalisasi utama yang berjenis-jenis jumlahnya. Dengan menghubung-hubungkan generalisai-generalisasi tersebut, maka bukan tidak mungkin akan menghasilkan sebuah teori.

Fakta memformulasikan kembali teori yang ada. Fakta-fakta tidak semuanya menghasilkan teori, tetapi fakta-fakta hasil pengamatan tersebut dapat membuat suatu teori lama untuk dikembangkan. Secara umum, fakta-fakta cocok dengan teori. Akan tetapi, jika banyak sekali fakta yang kurang sesuai denga teori yang telah ada, maka sudah tentu teori tersebut harus disesuaikan dengan fakta. Dengan demikian, fakta tersebut dapat mengadakan reformulasi terhadap teori.

Fakta dapat menolak teori. Jika banyak fakta yang diperoleh menunjukkan bahwa teori tidak sesuai dengan fakta tersebut, maka teori tersebut tidak diformulasikan kembali, tatapi harus ditolak. Penolakan teori karena tidak cocok dengan fakta harus dilakukan secara hati-hati sekali. Harus diingat, bahwa banyak fakta yang diperoleh berasal dari suatu kondisi tertentu. Karena itu, bukan tidak mungkin bahwa fakta tersebut tidak cocok dengan teori bukan karena teorinya yang tidak benar, tetapi kondisi pengamatan yang menghasilkan fakta itu yang tidak sesuai sehingga fakta yang dihasilkan tidak cocok dengan teori.

Fakta mengubah orientasi teori. Seperti telah diterangkan diatas, fakta-fakta baru yang diperoleh adakalanya baru sesuai dengan teori, jika teori tersebut didefinisikan kembali. Fakta-fakta tersebut memperterang teori dan mengajak seseorang untuk mengubah orientasi teori. Dengan adanya orientasi baru dari teori, akan menjurus pula kepada penemuan fakta-fakta baru.
Secara skematis, fungsi dari teori dalam hubungannya dengan fakta, serta hubungan fakta dengan teori dapat dilihat pada gambar 1.3 dibawah ini.

Penelitian dan teori juga mempunyai hubungan yang sangat erat. Teori memberikan dukungan kepada penelitian dan dilain pihak, penelitian juga memberikan konstribusi kepada teori. Teori dapat memandu penelitian sehingga penelitian yang dilakukan memberikan hasil yang diharapkan. Teori dapat merangkum penemuan-penemuan khas dari banyak studi dan teori dapat menyediakan basis untuk suatu penjelasan atau prediksi oleh suatu teori.
Teori juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian karena dengan teori dapat membuat hasil penelitian tersebut menjadi suatu kasus proposisi abstrak yang lebih umum. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Dengan adanya hubungan antara penemuan empiris yang khas dengan suatu konsep umum, hubungan ini dapat meletakkan dasar yang lebih kuat untuk membuat prediksi.
Dapat disimpulkan bahwa teori memberikan konstribusi terhadap penelitian, antara lain dengan jalan :
Teori meningkatkan kebrehasilan penelitian karena teori dapat menghubungkan penemuan-penemuan yang tampaknya berbeda-beda kedalam suatu keseluruhan serta memperjelas proses-proses yang terjadi didalamya;
Teori dapat memberikan penjelasan terhadap hubungan-hubungan yang diamati dalam suatu penelitian.

Gambar 1.3



Meramalkan



Memperkecil jangkauan



Meringkaskan


Memperjelas celah














menolong memprakarsai


menolak


menukar orientasi

mendefinisikan kembali

memberi jalan mengubah











Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula konstribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembengkan ilmu pengetahuan.
Dilain pihak, penelitian juga memberikan konstribusi kepada teori. Penelitian dapat menguji teori, dapat memperjelas konsep-konsep teori dan dapat pula menyarankan untuk mengadakan reformulasi terhadap suatu teori ataupun mengembangkan teori lama.
Teori dalam ilmu sosial yang telah cukup berkembang sudah sampai ke taraf tertinggi dimana teori tersebut dapat menghasilkan deduksi untuk mengembangkan hipotesis. Hipotesis tersebut diuji, dan jika hipotesis dapat dijelaskan oleh penelitian, maka penelitan tersebut telah memberikan konstribusi dalam mengadakan verifikasi terhadap teori.
Pada ilmu-ilmu sosial yang masih muda, teori-teori yang dikembangkan belum berapa banyak dan teori-teori yang ada belum merupakan grand teori yang perlu diadakan verifikasi. Penelitian-penelitian yang diadakan dalam bidang ilmu tersebut dapat memberikan konstribusi untuk pengembangan teori.
Kontribusi yang lebih jelas dari penelitian terhadap teori adalah dalam hal fungsi penelitian dalam mengadakan klarifikasi (penjelasan) terhadap konsep yang telah digunakan untuk menformulasikan teori itu sendiri. Konsep-konsep harus diperjelas, karena penelitian tidak dapat dilaksanakan hanya dengan menggunakan konsep yang bersifat umum.
Konsep yang bersifat umum harus diperinci kedalam definisi kerja. Penelitian pada dasarnya tidaklah dilakukan untuk memperbaiki suatu teori. Akan tetapi, jika hasil penelitia membuktikan bahwa penemuan-penemuan tidak cocok dengan teori, maka hal ini memberi peluang untuk mengadakan reformulasi kembali teori ataupun memperluas teori yang ada.
Penelitian juga dapat mengubah fokus teori dengan mengubah perhatian ke dalam area lain. Hal ini dapat terjadi melalui pengembangan prosedur baru dalam penelitian. Dengan adanya prosedur dan teknik baru, bidang atau area penelitian dapat diubah dari satu bidang kebidang lain.
Konstribusi timbal balik antara teori dan penelitian merupakan proses yang berketerusan. Penelitian yang didasarkan atas pertimbangan teori dapat menghasilakan isu-isu teoretis yang baru. Dilain pihak, adanya isu-isu teoretis yang baru tersebut menghendaki adanya penelitian lebih lanjut. Proses tersebut akan terjadi terus- menerus.
















PERANAN DAN
JENIS-JENIS PENELITIAN


1. KEGUNAAN DAN PERANAN PENELITIAN

Kegunaan penelitian ialah untuk menyelidiki keadaan dari, alasan untuk, dan konsekuensi terhadap suatu set keadaan khusus. Keadaan tersebut bisa saja dikontrol melalui percobaan (eksperimen) ataupun berdasarkan observasi tanpa kontrol. Penelitian memegang peranan yang amat penting dalam memberikan fondasi terhadap tindak serta keputusan dalam segala aspek pembangunan. Adalah snagat sulit, bahkan tidak mungkin sama sekali, untuk memperoleh data yang terpercaya yang dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan, jika penelitian tidak pernah diadakan, serta kenyataan-kenyataan tidak pernah diuji lebih dahulu melalui penelitian. Tidak ada suatu negara sudah maju dan berhasil dalam pembangunan, tanpa melibatkan banyak daya dan dana dalam bidang penelitian.
Dinegara-negara yang telah berkembang, apresiasi terhadap karya penelitian sudah begitu melembaga dan penggunaan dana untuk keperluan penelitian tidak pernah dipertanyakan lagi manfaatnya. Pengeluaran negara untuk penelitian dapat mencapai 1-2 persen dari total pengeluaran negara. Amerika Serikat, Misalnya, menggunakan 0,27 persen dari total pendapatan negara untuk keperluan penelitian antara tahun 1940-1944, dan meningkat 1 persen ditahun 1957 dan naik lagi 1,3 persen ditahun 1955. Ditahun 1953, Amerika Serikat telah menggunakan 3,5 billiun(Miliar) dolar untuk penelitian. Kira-kira 60 persen dibiayai pemerintah dan 35 persen dibiayai oleh industri swasta, dan selebihnya oleh instansi dan lembaga lainnya. Dari keseluruhan pembiayaan tersebut, 94 persen digunakan untuk penelitian terapan(applied research) dan 6 persen untuk penelitian dasar(basic research). (Waterman,et.al.1954) Untuk tahun 1951-1952, pemerintah federal Amerika Serikat menggunakan 4 dolar untuk penelitian terapan dan 1 dolar untuk penelitian dasar untuk tiap 5 dolar yang digunakan untuk penelitian.
Dinegara-negara yang sedang berkembang, penelitian pertanian memegang peranan penting sekali, yang meliputi aspek-aspek pemasaran, penerapan teknologi, alat-alat pertanian, pengangkutan serta perangsang produksi. Dalam harga nyata 1971, pembiayaan untuk penelitian pertanian di Asia telah mencapai US$ 646 Juta pada tahun 1974 dibandingkan dengan hanya US$ 70 juta pada tahun 1951 (Boyce and Evanson,1975) . Jika pengeluaran untuk penelitian pertanian dibandingkan dengan nilai dari produk pertanian dari negara-negara didunia, maka perbandingannya dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1
Persentase Pengeluaran untuk Penelitian Pertanian Menurut
Kelompok Pendapatan Perkapita,1951-1974

Kelompok pendapatan perkapita
(US$) Persentase pengeluaran untuk penelitian pertanian terhadap nilai produk pertanian
1951 (%) 1959 (%) 1965 (%) 1971(%) 1974(%)
1.750 1,21 1,26 1,80 2,48 2,55
1.000-1.750 0,83 2,29 2,95 2,34 2,34
401-1.000 0,40 0,57 0,85 1,13 1,16
150-400 0,36 0,37 0,62 0,84 1,01
150 0,22 0,28 0,47 0,70 0,67

Sumber: J.K. Boyce and R.E. Evenson, Agricultural Research and Extension Programs.A/D/C, New York, 1975, Tabel 1.7,p.11.

Banyak studi menyimpulkan konstibusi dari penelitian mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan tersebut. Ada dua cara untuk menilai benefit (keuntungan) dari penelitian. Pertama, menggunakan teknik internal rate of return to investment dan kedua menghitung nilai marginal dari output perdolar modal yang ditanamkan dalam penelitian.
Hasil penelitian tidak dapat dengan segera dinikmati,tetapi biasanya mempunyai lag waktu (time lag) dan mempunyai bentuk grafik sebagai berikut.




M -------------------------------------------------------------





0 T+3 T+10 Tahun

Penanaman modal dalam penelitian dalam waktu T diharapkan akan memberikan sumbangan sesudah 2 atau 3 tahun kemudian. Sumbangan penelitian terus meningkat sampai ke level M sesudah kira-kira 10 tahun. Tergantung dari jenis penelitian, maka sesudah 10 tahun, akan terjadi penyusutan dsri output penelitian.

2. JENIS-JENIS PENELITIAN
Secara umum, penelitian dapat dibagi atas dua jenis, yaitu penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan(applied research).

a. Penelitian Dasar ( Basic Research )
Penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian dan keingintahuan terhapat hasil suatu aktivitas. Penelitian dasar dikerjakan tanpa memikirkan ujung praktis dan titik terapan. Hasil dari penelitian dasar adalah pengetahuan umum dan pengertian-pengertian tentang alam serta hukum-hukumnya. Pengetahuan umum ini merupakan alat untuk memecahkan masalah-masalah praktika, walaupun ia tidak memberikan jawaban yang menyeluruh untuk tiap masalah tersebut. Tugas penelitian terapanlah yang akan menjawab masalah-maslah praktis tersebut.
Penelitian murni tidak dibayang-bayangi oleh pertimbangan penggunaan dari penemuan tersebut untuk masyarakat. Perhatian utama adalah kesinambungan dan integritas dari ilmu dan filosofi. Penelitian murni bisa diarahkan kemana saja, tanpa memikirkan ada tidaknya hubungan dengan kejadian-kejadian yang diperlukan masyarakat. Proses pemikiran si peneliti bisa membawanya kemana saja, tanpa memikirkan sudut apa dan arah mana yang akan dituju. ( Hogben, 1938 ).
Charters (1920) menyatakan bahwa penelitian dasar terdiri atas halnya pemilihan sebuah masalah khas dari sumber mana saja, dan secara hati-hati memecahkan masalah tersebut tanpa memikirkan kehendak social atau ekonomi ataupun masyarakat. Contoh penelitian murni misalnya penelitian tentang gene, tentang nucleus, dan sebagainya.

b. Penelitian Terapan
Penelitian terapan (applied research, practical research) adalah penyelidikan yang hati-hati, sistematik dan terus-menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan segera untuk keperluan tertentu. Hasil penelitian tidak perlu sebagai satu penemuan baru, tetapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang telah ada. Peneliti yang mengerjakan penelitian dasar atau murni tidak mengharapkan hasil penelitiannya digunakan secara praktika. Peneliti-peneliti terapanlah yang akan memerinci penemuan penelitian dasar untuk keperluan praktis dalam bidang-bidang tertentu. Tiap ilmuan yang mengerjakan penelitian terapan mempunyai keinginan agar dengan segera hasil penelitiannya dapat digunakan masyarakat, baik untuk keperluan ekonomi, politik maupun sosial.
Penelitian terapan memilih masalah yang ada hubungannya dengan keinginan masyarakat serta untuk memperbaiki praktik-praktik yang ada. Penelitian terapan harus dengan segera mengumumkan hasil penelitiannya dalam waktu yang tepat supaya penemuan tersebut tidak menjadi kadaluwarsa.
Chartes (1925) yang disiter oleh Whitney (1960) memberikan lima buah langkah dalam melaksanakan penelitian terapan. Kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut.
Sesuatu yang sedang diperlukan, dipelajari, diukur dan diperiksa kelemahannya.
Satu dari kelemahan-kelemahan yang diperoleh, dipilih untuk penelitian
Biasanya dilakukan pemecahan dalam laboratorium
Kemudian dilakukan modifikasi sehingga penyelesaian dapat dilakukan untuk diterapkan
Pemecahannya dipertahankan dan menempatkannya dalam suatu kesatuan sehingga ia menjadi bagian yangg permanen dari satu sistem.

Tiap penelitian segera tahu bahwa, istilah penelitian”murni” dan penelitian”terapan” hanya mendefinisikan area yang hanya berbeda dalam konsep. Dalam praktik, yang satu membayangi yang lain. Di negara-negara berkembang,penelitian terapan lebih banyak dikerjakan dibandingkan dengan penelitian murni. Contoh dari penelitian terapan, misalnya, penelitian tentang pengaruh traktorisasi terhadap penyerapan tenaga kerja, pengaruh pemupukan daun terhadap tanaman jagung, dan sebagainya.

3. PENELITIAN ILMU SOSIAL VS ILMU NATURA
Ilmu-ilmu sosial, seperti halnya dengan ilmu-ilmu natura merupakan suatu pengetahuan yang bersifat umum, sistematik, dalam mana disimpulkan dalil-dalil tertentu dalam hubungan manusia yang bersifat umum. Penelitian dalam ilmu sosial, seperti halnya dengan semua penelitian pada umumnya, merupakan suatu proses yang terus-menerus kritis dan terorganisasi untuk mengadakan analisis dan memberikan interpretasi terhadap fenomena sosial yang mempunyai hubungan yang kait-mengait. Ilmu sosial, seperti hanya dengan ilmu natura, selalu dimulai dari satu premis, bahwa semua gejala maupun keadaan, yang bagaimanapun sulitnya akan dapat dipecahkan dan diterangkan. Penelitian ilmu sosial juga berpijak kepada metode ilmiah, tetapi beberapa ciri khas dari ilmu sosial itu sendiri membuat sipeneliti harus mempunyai keterampilam yang khas dan harus didukung oleh kerangka analitik dan teori yang agak berbeda dalam menganalisis sebab-musababnya dibandingkan dengan penelitian dalam ilmu eksakta. Ini dikarenakan oleh sangat rumitnya interelasi antarfenomena dalam ilmu sosial itu sendiri.
Penelitian-penelitian dalam ilmu sosial dapat dibedakan dengan penelitian dalam ilmu natura, bukan saja karena fenomena-fenomena yang ditangani oleh sipeneliti ilmu sosial lebih kompleks dengan data yang tidak eksak, serta tidak dapat dikontrol, tetapi permasalahn dalam ilmu sosial lebih banyak disebabkan oleh masalah orientasi yang sangat luas yang tidak dipunyai oleh ilmu natura. Peneliti proses natura merupakan pengamat yang imparsial diluar alam, meneliti proses natura tersebut dan mencoba menyempitkan proses kedalam hubungan umum yang sederhana. Peneliti ilmu natura tidak mengharapkan dapat mengubah alam, walupun sipeneliti tersebut mengetahui bahwa jika ia mengerti lebih baik tentang proses alam, manusia akan sanggup menggunakan alam secara lebih baik. Sebaliknya, peneliti-peneliti ilmu sosial tidak dapt menjadikan dirinya sebagi pengamatt yang imparsial, ia tidak dapat meneliti dan memperoleh pandangan tentang proses sosial itu sendiri. Akan tetapi, perhatiannya, penilaiannya, tujuan akhirnya harus selalu berada dalam proses sosial itu sendiri. Peneliti-peneliti ilmu sosial berpendapat bahwa dalam batas-batas tertentu, proses dalam masyarakat tidak kaku, tetapi fleksibel, dan dapat diubah. Tujuan serta hasil penelitian akan digunakan untuk melayani keperluan masyarakat itu sendiri yang menjurus kepada modifikasi dari pengaturan-pengaturan sosial yang telah ada.
Peneliti-peneliti ilmu sosial, walaupun berhadapan dengan fenomena-fenomena yang tidak kompleks, banyak dari fenomena tersebut secara relatif lebih kompleks dari fenomena yang dihadapi oleh ilmu natura. Lebih lanjut, perubahan-perubahan yang terjadi atas objek yang diteliti secara relatif dapat mengubah diri sipeneliti sendiri dalam waktu yang relatif cepat, sedangkan perubahan-perubahan ini tidak mempunyai suatu pengaturan yang lebih nyata regulasinya(pengaturannya). Walaupun fenomena-fenomena dalm ilmu natura juga kompleks dan sulit untuk diteliti , tetapi peneliti-peneliti ilmu natura telah mempunyai alat-alat yang ampuh serta metode yang teruji dalam memecahkan masalah dengan membagi-bagi fenomena menjadi bagian-bagian yang wajar untuk dipecahkan satu persatu.
Ilmu-ilmu natura mempunyai umur sudah lebih tua dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial, sehingga pengalaman peneliti dengan ilmu natura sudah lebih mantap dan cukup terampil . Dengan kelahirannya yang lebih awal, peneliti-peneliti ilmu natura telah mempunyai unit pengukur yang lebih perfect dibandingkan dengan unit-unit pengukur yang digunakan dalam penelitian-penelitian dalam ilmu-ilmu sosial. Penggunaan metode kuantitatif yang telah lazim pada penelitian ilmu-ilmu natura, belum lagi cukup berkembang didalam penelitian-penelitial ilmu sosial .
Masalah lain yang dihadapi penelitian ilmu-ilmu sosial adalah ketidak mungkinan melakukan eksperimentasi yang jelas terhadap fenomena-fenomena sosial, dalam arti bahwa penelitian dalam ilmu sosial tidak memungkinkan dilakukannya percobaan dengan replikasi serta kontrol yang cukup terjamin ketepatannya. Dalam penelitian ilmu-ilmu natura, variabel-variabel serta fenomena-fenomena dapat diatur dalam bentuk percobaan dan dapat dibandingkan dengan variabel kontrol secara akurat. Dengan adanya kontrol ini, maka efek-efek dengan perlakuan yang berlainan, dapat ditentukan dengan presisi yang sangat tepat. Sebaliknya, pengelompokan dari fenomena sosial dalam perlakuan dan kontrol , secara umum, tidak dapat dilakukan, kecuali untuk sebagian kecil cabang penelitian saja. Akan tetapi, percobaan dengan kontrol dalam penelitian ilmu-ilmu sosial telah diadakan modifikasi dengan dilakukan teknik pseudo kontrol dengan menggunakan teknik regrasi dan adaptasi ilmu statistik sebagai alat analisis.
Kesulitan lain yang dihadapi oleh peneliti-peneliti ilmu-ilmu sosial ialah kurangnya kemampuan prediksi dalam membuat ramalan terhadap masalah-masalah sosial. Tiap prediksi sosial selalu terbentur kepada inferensi dari objek-objek penelitian sendiri sehingga kemungkinan terjadinya salah prediksi selalu lebih besar. Objek penelitian selalu mengadakan respons terhadap prediksi dan mengambil kesempatan untuk mengadakan antisipasi terhadap perubahan-perubahan yang diramalkan, yang mengakibatkan melesetnya forcasting. Prediksi-prediksi dalam ilmu sosial lebih lanjut tidak seeksak prediksi dalam ilmu-ilmu natura.
Informasi yang diperoleh oleh peneliti-peneliti ilmu sosial banyak disandarkan kepada daya ingat (memory) dari objek dalam mencari fakta. Disebabkan oleh hal tersebut, maka timbul lagi permasalahan dalam penelitian ilmu sosial tentang bagaimana mengurangi bias dari informasi yang diterima. Hal ini meruakan tambahan kerja yang menghendaki kecermatan dari peneliti-peneliti sosial , yang jarang ditemui oleh peneliti-peneliti dalam bidang ilmu-ilmu natura.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa peneliti-peneliti dalam ilmu-ilmu sosial selalu mendapatkan dirinya berkecimpung dalam aktifitas ataupun melibatkan dirinya dalam meneliti catatan aktifitas manusia, dan sipeneliti bukan seorang pengamat yang imparsial, tetapi pengamat yang berada dalam objek yang membuat proses dan fenomena sosial itu sendiri. Variabel-veriabel fenomena sosial sulit sekali diukur secara kuantitatif, dan sipeneliti sosial tidak dapat mengadakan perlakuan-perlakuan terhadap atribut-atribut yang sedang diteliti. Peneliti-peneliti ilmu-ilmu sosial susah sekali mengadakan percobaan-percobaan dalam kerjanya sehingga pengelompokan-pengelompokan dengan perlakuan dan kontrol tidak mungkin dilakukan secara cukup akurat.

4. BEBERAPA SIFAT (CIRI ) KHAS PENELITIAN
Penelitian mempunyai beberapa ciri khas. Oleh Crawford (1928) telah diberikan sembilan buah kriteria penting dari penelitian. Sebenarnya ciri-ciri penelitian dari Crawford ini tidak lain dari suatu kesimpulan tentang ilmu dan pemikiran reflektif.
Kesembilan kriteria atau ciri-ciri penelitian adalah sebagai berikut.
Penelitian berkisar disekeliling masalah yang ingin dipecahkan
Penelitian sedikit-dikitnya harus mengandung unsur-unsur orisionalitas
Penelitian harus didasarkan pada pandangan”ingin tahu”
- Penelitian harus berdasarkan pada asumsi bahwa suatu fenomena mempunyai hukum dan pengaturan(order).
Penelitian berkehendak untuk menemukan generalisasi atau dalil
Penelitian merupakan studi tentang sebab akibat
Penelitian harus menggunakan pengukuran yang akurat
Penelitian harus menggunakan teknik yang secara sadar diketahui

5. AKTIVITAS PENELITIAN TEMPO DULU
Apakah semua pekerjaan untuk memecahkan suatu permasalahan dapat kita golongkan sebagai penelitian? Hal ini sukar dijawab, walaupun sudah diberikan definisi serta kriteria-kriteria penelitian. Perumusan-perumusan kriteria serta sifat-sifat penelitian telah dikembangkan dengan melihat aktifitas-aktifitas ilmuwan dalam mengerjakan penelitiannya. Hal yang juga sukar dijawab adalah sebagai berikut.
Aktivitas bagaimanakah yang dapat digolongkan dalam kerja penelitian? Akan tetapi, marilah secara kias kita melihat aktivitas-aktivitas dari ilmuan tempo dulu melaksanakan kerja penelitiannya.
Cara penelitian yang sistematik (systematic inquiry) yang dilakukan oleh Charles Darwin dengan menggunakan prinsip Baconian . Aktivitas penelitiannya adalah secara induksi yang terpencar. Dipelajarinya variasi-variasi dari hewan dan tumbuhan, dikumpulkannya fakta-fakta, tetapi tanpa petunjuk hipotesis. Aktivitas begini rupa memakan waktu yang lama dan biaya yang mahal dan harus dilakukan oleh orang-orang yang genius seperti Darwin.
Aktivitas Charters dalam studinya tentang kurikulum, bekerja sebagai berikut. Kegiatan serta sifat-sifat yang diteliti, dianalisis untuk melihat kesulitan kesulitan yang muncul. Area kesulitan serta kebutuhan yang muncul sebagai suatu kesalahan diperiksa.Kemudian kurikulum yang terorganisasi dicoba dan diperbaiki pada fakultas-fakultas. Selanjutnya dilakukan uji prognostik pada kantor-kantor dengan menggunakan sekretaris-sekretaris yang disediakan.
Kilpatrick (1931) menekankan perlunya generalisasi. Dia sangat mementingkan konsep-konsep dan hipotesis, yang mana menurut Kilpatrick, konsep dan penggunaan hipotesis merupakan tindak yang filosofis. Didalam mencari pemecahan terhadap masalah, hipotesis menentukan asumsi dasar yang digunakan dalam semua kegiatan pemikiran reflektif yang digunakan.
T.L. Kelly (1932) meneliti dengan cara yang dapat dilaksanakan oleh orang-orang kurang genius. Sejak permulaan ia telah merumuskan pemecahan tentatif terhadap masalah.Ia menggunakan metode eksperimen dengan kontrol yang cermat. Jika hasil percobaan tidak cocok dengan teori, maka pemecahan dicari lagi dengan cara lain, sehingga hasil yang memuaskan diperoleh.
Dari cara peneliti-peneliti tempo dulu melaksanakan penelitiannya, satu kesimpulan dapat ditarik, yaitu semua mereka bekerja berdasarkan berpikir secara reflektif ala Dewey yang tersohor itu.

6. SYARAT UTAMA UNTUK BERHASILNYA PENELITIAN
Penelitian yang efektif tidak dapat terjadi seenaknya saja, tetapi harus didukung oleh faktor-faktor serta penunjang serta sarana dan prasarana yang cukup. Disamping samping faktor peneliti sendiri maka faktor lingkungan sangat penting artinya dalam menunjang keberhasilan penelitian. Kita lihat misalnya, penelitian yang direncanakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Filipina di Los Banos. Sejak tahun 1940-1942, dan 1947-1959 telah dikerjakan 163 buah penelitian. Akan tetapi, antara 1942-1947 tidak ada satu penelitian pun yang dikerjakan oleh fakultas tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain sebagai berikut.
Atmosfir untuk penelitian tidak memungkinkan.
Data penelitian sebelumnya telah berhilangan akibat perang dunia ke-2
Perangsang untuk mengadakan penelitian menurun, karena kekurangan sarana penelitian, kurangnya dana, tidak ada ketenangan jiwa, serta kurang jaminan atas keselamatan diri dari peneliti.
Perhatian peneliti lebih banyak dicurahkan untuk mencari nafkah sehari-hari untuk menambah pendapatan, karena gaji tidak memadai.

Somers (1959) memberikan beberapa syarat agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan lancar. Syarat tersebut adalah sebagai berikut.
Adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya penelitian untuk suatu negara ataupun daerah.
Harus ada sarana dan pembiayaan yang cukup.
Hasil penelitian harus dengan segera diterapkan
Harus ada kebebasan dalam melakukan penelitian
Peneliti harus mempunyai kualifikasi yang diperlukan

Adanya kesadaran masyarakat
Masyarakat harus disadarkan tentang perlunya penelitian serta pentingnya penelitian dalam pembangunan. Peneliti tidak dapat bekerja dalam suasana hampa. Ilmuwan menghendaki laboratorium, lapangan percobaan, alat-alat, bahan-bahan serta kesempatan untuk mengikuti konferensi dan kegiatan ilmiah. Semua ini menghendaki biaya yang mana biaya ini akan diperoleh jika masyarakat sadar akan pentingnya penelitian. Seorang ilmuwan perlu ditunjang dengan bayaran yang mencukupi sehingga ia bisa melimpahkan waktu dan konsentrasinya kepada penelitian, tanpa memikirkan kerja tambahan untuk menyambung hidupnya serta memelihara keluarganya, baik untuk masa kini ataupun untuk hari tuanya.

Harus Ada Pembiayaan yang memadai
Untuk penelitian, diperlukan biaya. Biaya ini harus datang dari rakyat, pemerintah maupun dari pihak swasta. Dengan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya penelitian, maka dana untuk penelitian akan lebih mudah diperoleh.Biaya penelitian, secara relatif memang mahal, tetapi biaya tersebut akan selalu dikembalikan dengan jumlah yang lebih besar dengan berhasilnya penelitian. Pengeluaran untuk penelitian bukanlah pengeluaran yang sia-sia. Biaya penelitian adalah investment yang kelak akan membuahkan keuntungan.Ilmuwan harus selalu berkomunikasi dengan rakyat dan masyarakat.Ilmuwan janganlah menjadi suatu kelompok elite dalam masyarakat. Ilmuwan harus memberitahukan kepada masyarakat tentang hasil penemuannya, supaya kepercayaan masyarakat akan kegunaan penelitian dapat ditingkatkan.Meningkatnya kepercayaan akan kegunaan penelitian akan memudahkan pengadaan biaya penelitian. Di Amerika Serikat, misalnya, tiap $ 100 yang dikeluarkan untuk penelitian, akan dikembalikan dengan jumlah $ 5.000 melalui penemuan-penemuan penelitian.

3. Hasil Penelitian Harus Diterapkan
Penerapan hasil penelitian dengan segera merupakan suatu perangsang bagi si peneliti. Banyak kejadian, hasil hasil penelitian tidak dengan segera diterapkan, tetapi penemuan tersebut hanya tinggal dalam laporan saja dan di simpan dalam arsip institut, tanpa diketahui oleh masyarakat apa kiranya hasil penelitian tersebut. Adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi si peneliti, jika hasil penelitiannya diterima dan dipakai untuk kebaikan umat. Biasanya, jika penemuan terus disebarkan oleh penyuluh dan diterima oleh masyarakat, maka tidak lama sesudah itu, akan menyusul hasil penelitian lain dari si peneliti tersebut.

4. Harus Ada Kebebasan Dalam Meneliti
Penelitian akan berhasil baik, jika dalam meneliti terdapat kebebasan, walaupun kebebasan ini tetap berada dalam batas-batas moral yang diterima masyarakat. Tiap peneliti harus bebas memilih masalah serta bebas melapor hasil penelitiannya, tanpa ada tangan-tangan halus yang akan menjurus atau mendikte penemuan tersebut untuk memuaskan keinginan sekelompok orang saja.

5. Peneliti Harus Memenuhi Syarat
Faktor lain yang harus diperhatikan untuk mensukseskan penelitian adalah faktor si peneliti sendiri sebagai the man behind the gun. Peneliti harus benar-benar ilmuwan yang berbobot. Seorang peneliti harus menguasai ilmu dalam bidangnya dan harus mempunyai devosi dan pengabdian yang tinggi dalam mengejar ilmu pengetahua. Seorang peneliti harus mempunyai kejujuran intelektual, integritas, rajin dan berkemauan keras. Seorang peneliti harus mempunyai sifat bertanggung jawab.
Tingkat efisiensi serta efektifitas dari penelitian tentu tidak sama. Efisiensi penelitian sangat bergantung dari beberapa hal, antara lain : keterampilan peneliti dan teknisian; organisasi penelitian serta kepemimpinan dan hubungan antar unit dalam meneliti; orientasi kegiatan penelitian terhadap masalah ekonomi yang dihadapi.
Kualifikasi peneliti harus didasarkan kepada intelegensia, kekuatan bekerja serta sifat jujur dan rajin. Whitney (1960) memberikan beberapa kriteria yang harus dipunyai oleh peneliti, yaitu sebagai berikut.
Daya nalar. Seorang peneliti harus mempunyai daya nalar yang tinggi, yaitu adanya kemampuan untuk memberi alasan dalam memecahkan masalah, baik secara induktif maupun secara deduktif.
b. Orisinalitas. Peneliti harus mempunyai daya khayal ilmiah dan harus kreatif. Peneliti harus brilian, mempunyai inisiatif yang berencana serta harus subur dengan ide-ide yang rasional dn menghindarkan ciplakan.
c. Daya ingat. Seorang peneliti harus mempunyai daya ingat yang kuat, selalu ekstensif dan logis. Dapat dengan sigap melayani serta menguasai fakta-fakta.
d. Kewaspadaan. Seorang peneliti harus secara tepat dapt melakukan pengamatan terhadap perumahan yang terjadi atas sesuatu variable atau suatu sifat fenomena. Ia harus sigap dan mempunyai intaian yang tajam, serta responsif terhadap perubahan atau kelainan.
e. Akurat. Seorang peneliti harus mempunyai tingkat pengamatan serta tingkat perhitungan yang akurat , tajam, serta tidak cepat muak.
f. Konsentrasi. Seorang peneliti harus mempunyai kekuatan konsentrasi yang tinggi, kemauan yang keras, serta tidakcepat muak.
g. Dapat bekerja sama. Peneliti harus mempunyai sifat kooperatif, dapat bekerja sama dengan siapa pun. Harus mempunyai keinginan untuk berteman secara intelektual, dan dapt bekerja secara team-work. Ini menjurus kepada adanya sifat leadership dari sipeneliti.
h. Kesehatan. Seorang peneliti harus sehat, baik jiwa maupun fisik. Peneliti harus stabil, sabar, dan penuh vitalitas.
i. Semangat. Kesehatan sipeneliti harus ditunjang pula oleh adanya semangat untuk meneliti. Peneliti harus mempunyai kreativitas serta hasrat yang tinggi.
j. Pandangan moral. Seorang peneliti harus mempunyai kejujuran intelektual, mempunyai moral yang tinggi, beriman, dan dapat dipercaya.

Dinegara-negara yang sedang yang berkembang, pengembangan penelitian sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan, keterampilan, serta kualifikasi sipeneliti. Langkahnya peneliti serta rendahnya tingkat keterampilan telah membuat jenis serta arah penelitian yang berbeda-beda.
Tingkat keterampilan dalam melaksanakan penelitian dapat dikategorikan atas 4 tingkat (Boyce dan Evenson, 1975), yaitu sebagai berikut
Keterampilan inventif
Keterampilan teknis (Engineering)
Keterampilan teknis ilmiah
Keterampilan ilmiah-konseptual

Keterampilan inventif (inventive skill)
Keterangan inventif merupakan sifat umum dari manusia. Seorang petani yang sederhana dapat menemukan sesuatu dengan pengalaman. Keterampilan dinamakan keterampilan inventif . Keterampilan jenis ini tidak memerlukan penataran ataupun training secara formal.

Keterampilan teknis-engineering
Sarjana-sarjana lulusan universitas mempunyai keterampilan ini. Keterampilan ini adalah hasil dari terapan dari text book untuk memecahkan masalah-masalah teknis yang dihadapi. Secara umum, peneliti-peneliti dinegara berkembang, mem[punyai keterampilan jenis ini.

Keterampilan teknis-ilmuah
Keterampilan teknis-ilmiah biasanya diperoleh sesudah menamatkan program magister pada perguruan tinggi. Keterampilan ini berjenis-jenis tingkatnya dan keterampilan yang diperoleh dapat menguasai teknik dan cukup kemampuan ilmiah serta ackground teori dalam mengadakan analisis.

Keterampilan ilmiah konseptual
Dengan meningkatnya deraja keilmuan seseorang dan semakin dekatnya seseorang mencapai scientific frontier of knowledge serta pengalaman yang cukup banyak, maka sipeneliti telah memperoleh keterampilan konsepsional. Skill ini dipunyai oleh peneliti yang cukup berpengalaman dan oleh Doktor-doktor Filosofi.







METODE ILMIAH


PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk Allah selalu menghadapi banyak tantangan. Kemajuan serta eksistensi manusia itu sendiri sangat bergantung kepadatekad manusia untuk menjawab tantangan dan kesanggupan manusia untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam hidupnya. Penelitian memegang peranan penting dalam membantu manusia untuk memperoleh pengetahuan baru dalam memecahkan masalah. Penelitian akan menambah ragamm pengetahuan lama dalam memecahkan masalah.
Kerja memecahkan masalah akan sangat berbeda antara seorang ilmuawan dan seorang awam. Seorang ilmuwan selalu menempatkan logika serta menghindarkan diri dari pertimbangan subjektif. Sebaliknya bagi orang awam, kerja memecahkan maslah dilandasi oleh campuran pandangan perorangan ataupun dengan apa yang dianggap masukan oleh banyak orang.
Dalam meneliti, seorang ilmuwan dapat saja mempunyai teknik, pendekatan ataupun cara yang berbeda dengan seorang ilmuwan lainnya. Namun, kedua ilmuwan tersebut tetap mempunyai satu falsafah yang sama dalam memecahkan masalah, yaitu menggunakan metode ilmuwan dalam meneliti. Seperti diketahui, ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh suatu interelasi yang sistematis dari fakta-fakta. Metode ilmiah adalah suatu pengejaran(pursuit) dari ideal ilmu itu..

APAKAH YANG DIMAKSUD DENAGN METODE ILMIAH
Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh iinterelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.
Menurut Almack (1939) ,metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.
Metode ilmiah dalam meneliti mempunyai criteria serta langkah-langkah tertentu dalam bekerja, seperti tertera pada skema 3.1 dibawah ini.
Skema 3.1
Kriteria dan Langkah-langkah Metode Ilmiah




























KRITERIA METODE ILMIAH
Upaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai criteria sebagai berikut.
Berdasarkan fakta.
Bebas dari prasangka (bias).
Menggunakan prinsip-prinsip analisis.
Menggunakan hipotesis.
Menggunakan ukuran objektif.
Menggunakan teknik kuantifikasi.

Berdasarkan Fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisis haruslah berdasarkan fakta-fakt yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda, atau kegiatan sejenis.

Bebas dari prasangka
Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih, dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alas an dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.

Menggunakan Prinsip Prasangka
Dalam memahami serta member arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisi. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahnnya dengan menggunakan analisis yang logis. Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Akan tetapi, semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisis yang tajam.

Menggunakan Hipotesis
Dalam metode ilmiah,peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisis. Hipotesis harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran kearah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesis merupakan pengarangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.

Menggunakan ukuran objektif
Kerja penelitian dan analisis harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.
Menggunakan Teknik Kuantifikasi
Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk atribut-atribut yang tidak dapat dikuantifikasikan. Ukuran-ukuran seperti ton,mm per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan. Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagainya. Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking,dan rating.

LANGKAH (STEP) DALAM METODE ILMIAH
Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti
langkah-langkah tertentu. Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli dalam mereka melaksanakan penelitian.
Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
Mengadakan survey lapangan untuk merumuskan masalah-masalah yang ingin dipecahkah.
Membangun sebuah bibliografi.
Memformulasikan dan mendifinisikan masalah.
Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hubungannya dengan data atau bukti , baik langsung ataupun tidak langsung.
Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
Menentukan apakah data atau bukti yang diperlukan tersedia atau tidak.
menguji untuk diketahui apakah maslah dapat dipecahkan atau tidak.
Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.
Mengatur data secara sistematis untuk dianalisis.
Menganalisis data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpresi.
Mengatur data untuk persentase dan penampilan.
Menggunakan citasi, referensi, dan footnote (catatan kaki).
Menulis laporan penelitian.

Downing (1928), memberikan proses penelitian yang mempunyai 7 buah unsur pemikiran ilmiah yang harus dipatuhi, serta 15 buah sifat ataupun tindakan serta kualifikasi yang harus ada agar penelitian tersebut dapat dilaksanakan secara ilmiah. Unsur serta sifat dan kualifikasi tersebut adalah sebagai berikut.

Unsur Pemikiran Ilmiah

Observasi (pengamatan) dengan suatu tujuan tertentu.
Analisis Sintesis.
Mengingat dan memunculkan kembalia secara selektif
Hipotesis



Verifikasi dengan inferensi dan percobaan



Pemberian alasan dengan :
Metode penyesuaian
Metode perbedaan
Metode pertinggal
Metode persamaan dan perbedaan
keputusan Sifat atau Kualifikasi

harus tetap dan efektif
harus dikerjakan dalam berjenis
harus berisi unsur-unsur esensial dalam situasi problematic
harus diperhitungkan kesamaan atau keragaman dengan mengingat bahaya analogi
harus diberi perhatian pada pengecualian-pengecualian. Interpretasi harus dilakukan secara selektif.
Memerlukan pengalaman yang luas.
Harus dimasukkan semua hipotesis yang mungkin
Inferensi harus diuji dengan percobaan
Hanya satu variable yang dibenarkan
Data harus diatur secara sistematik
Keputusan yang diambil harus berdasarkan kebenaran-kebenaran data
Pertimbangan harus melalui ketepatan data
Harus tidak mempunyai prasangka
Harus tidak pribadi
Harus ditunda, jika data tidak mencukupi


Dalam melaksanakan penelitian secara ilmiah, Abelson (1933) memberikan langkah-langkah berikut.
Tentukan judul. Judul dinyatakan secara singkat.
Pemilihan masalah. Dalam pemilihan ini harus:
Nyatakan apa yang disarankan oleh judul,
Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum.
Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi, situasi, dan hal-hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.
Pemecahan masalah. Dalam memecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut.
Analisis harus logis. Aturlah bukti dalam bentuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.
Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.
Urutkan data, fakta, dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan.
Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.
Tunjukkan cara datadikelolasampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.
Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta huubungannya dalam berbagai fase penelitian.
Kesimpulan
Berikan kesimpulan dari hipotesis. Nyatakan duaatau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh.
Berikan implikasi dari kesimpulan . Jelaskan beberapa implikasi dari produk hipotesis dengan memberikan beberapa inferensi.
Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah. Nyatakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya sebagai model dalam memecahkan masalah.

Dari pedoman beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian dengan menggunakan metode ilmiahsekurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
Merumuskan serta mendefinisikan masalah
Langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raruan, masalah tersebbut didefinisikan secara jelas. Sampai kemana luas masalah yang akan dipecahkan . Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapat dalam masalah. Misalnya, masalah yang dipilh adalah : bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh? Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa, dan sebagainya.
Mengadakan studi kepustakaan
Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan diperpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan oleh seorang peneliti. Ada kalanya, perumusan masalah dan studi kepustakaan dapat dikerjakan secara bersamaan.
Memformulasikan hipotesis
Setelah diperoleh informasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sanngkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan, maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian. Hipotesis tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubungan sangkut-paut antar variabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesis merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.
Menentukan model untuk menguji hipotesis
Setelah hipotesi-hipotesis ditetapkan, kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesis tersebut. Pada ilmu-ilmu social yang telah lebih berkembang, seperti ilmu ekonomi misalnya, pengujian hipotesis didasarkan pada kerangka analisis(analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implicit terdapat dalam hipotesis, untuk diuji dengan teknik statistic yang tersedia.
Mengumpulkan data
Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesis. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesis perlu dikumpulkan. Bergantung dari masalah yang dipilih serta metode penelitian yang akan digunakan , teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan misalnya, data diperoleh dari plot-plot percobaan yang dibuat sendiri oleh peneliti. Pada metode sejarah ataupun survey normative, data diperoleh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden, baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questionair. Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia dimana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.
Menyusun, menganalisis, dan memberikan interpretasi
Setelah data terkumpul,peneliti menyusun data untuk mengadakan analisis. Sebelum analisis dilakukan, data tersebut disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisis. Penyusunan data dalam bentuk tabel ataupun membuat coding untuk analisis dengan computer.
Sesudah data dianalisis, maka perlu dinerikan tafsiran atau interptretasi terhadap data tersebut.
Membuat Generalisasi dan kesimpulan
Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, damn selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesis. Apakah hipotesis benar untuk diterima, ataukah hipotesis tersebut ditolak. Apakah hubungan-hubungan anatarfenomena yang diperoleh akan berlaku secara umum ataukah hanya berlaku pada kondisi khususnya saja. Saran-saran apa yang dapat ditarik dari hasil penelitian dan bagaimana implikasinya untuk kebujakan?
Skema 3.2



























































































































































































































































































































































































































































Membuat laporan ilmiah
Langkah akhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitiann tersebut. Penulisan secra ilmiah mempunyai teknik tersendiri pula. Berdasarkan atas langkah serta criteria dari metode ilmiah, maka peneliti menyusun suatu outline dari penelitiannya yang mana outline ini juga merupakan panduan dalam mengerjakan penelitian. Outline dari penelitian berjenis-jenis bentuknya.
Sebagai kesimpulan, marilah kita lihat skema 3.2 yang memperagakan langkah-langkah yang dikerjakan dalam melakukan penelitian. Skema tersebut merupakan skema umum dalam penelitian social dalam ilmu-ilmu social yang sudah berkembang. Dalam penelitian tersebut, kerja penelitian menjurus kepada verifikasi dari suatu teori besar yang bersifat umum atau apa yang dinamakan grand theory.

Sudah terang langkah-langkah tersebut tidal berlaku dalam melaksanakan penelitian yang sifatnya eksplorasi. Demikian juga bagi penelitian yang tidak menggunakan suatu teori sebagai dasar dalam membuat kerangka analisis dari penelitian, seperti dari apa yang dinamkan grounded research.



























METODE PENELITIAN


PENDAHULUAN

Para peneliti dapat memilih berjenis-jenis metode dalam melaksanakan penelitiannya. Sudah terang, metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus sesuai dengan metode penelitian yang dipilih. Prosedur serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok dengan metode penelitian yang digunakan. Karena itu, sebelum melaksanakan penelitian, seorang peneliti perlu menjawab tiga buah pertanyaan pokok sebagai berikut.

Urutan kerja apakah yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian.
Alat-alat apa yang digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data?
Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut.

Prosedur memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang harus dilakukan dalam suatu penelitian. Teknik penelitian mengatakan alat-alat pengukur apa yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian. Sedangkan metode penelitian memandu si peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan.
Jika suatu penelitian dikerjakan dengan menggunakan questionair sebagai alat dalam mengumpulkan data, maka yang dibicarakan disini adalah teknik penelitian. Jika seorang berbicara tentang cara seorang peneliti melakukan percobaan lapangan, dimana dalam menentukan plot di lapangan, ia pertama-tama membagi daerah dalam 4 buah blok kemudian blok-blok tersebut dibagi 4 untuk keperluan perlakuan yang akan dia kerjakan, dan seterusnya, maka yang dibicarakan disini adalah prosedur penelitian. Jika kita membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan, maka yang dibicarakan adalah metode penelitian.
Memang dalam banyak hal, orang banyak mencampurbaurkan antara prosedur dengan metode penelitian, ataupun antara metode dengan teknik penelitian. Hal ini lumrah, karen dalam sekali kilas ketiga hal tersebut sukar dibedakan. Jika seseorang membicarakan metode penelitian, maka ia tidak terlepas dari membicarakan teknik dua prosedur penelitian. Akibatnya, peneliti dan ahli terdahulu mencampur-adukkan saja antara prosedur dan metode penelitian.
Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian, kriteria yang dipakai adalah teknik serta prosedur penelitian. Namun tidak jarang terdapat, bahwa pengelompokkan yang dibuat ada kalanya didasarkan pada prosedur saja dan ada kalanya didasarkana pada teknik saja, karena ahli-ahli mencampuradukkan antara metode dan teknik penelitian dalam membuat pengelompokan metode penelitian. Penelitian dibagi oleh Crawford (1928) atas 14 jenis, yaitu sebagai berikut.
Eksperimen
3. Psikologis
5. Survei
7. Analisis pekerjaan
9. Questionair
11.Pengukuran
13.Tabel dan grafik Sejarah
4. Case study
6. Membuat kurikulum
8. Interview
10.Observasi
12.Statistik
14.Teknik perpustakaan

Pembagian penelitian menurut Crawford di atas mamakai kriteria metode (sejarah, survei, eksperimen dan sebagainya) dan teknik Questionair, Interview, dan sebagainya yang tidak dipisahkan olehnya secara jelas. Kita lihat bahwa pembagian penelitian dari nomor 1 sampai dengan nomor 7, merupakan metode-metode dalam penelitian.
Sejak tahun 1914 telah muncul ahli-ahli untuk membagi penelitian dalam kelompok penelitian tertentu. Antara tahun 1914-1931 terdapat 4 buah metode favorit, yaitu:
Metode eksperimen
Metode sejarah
Metode deskriptif
Metode questioner
Pada tahun 1931, penelitian dikelompokkan atas 4 yaitu :
Metode sejarah
Metode eksperimen
Metode filsafat
Metode deskriptif

Antara tahun 1932-1938, metode yang banyak digunakan dalam penelitian masih dalam pengelompokan seperti di atas, hanya saja urutan-urutan menurut popularitasnya berubah menjadi :
Metode eksperimen
Metode sejarah
Metode deskriptif
Metode filsafat
Jika kita teliti kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengelompokan penelitian-penelitian tempo dulu, maka kita lihat adanya campur baur antara metode, prosedur, waktu, area pemikiran, tujuan, lokasi dimana penelitian dilakukan, ataupun alat-alat yang digunakan, sehingga kita lihat jenis dan dasar pengelompokan kelompok-kelompok penelitian, sebagai berikut.
Kelompok penelitian Dasar/Basis Pengelompokan
Deskriptif/historis Waktu
Eksperimen Prosedur
Falsafah/psikologi Area pemikiran
Prognastik Tujuan(objective)
Perpustakaan Lokasi, lokus
Questioner Alat yang digunakan

Dewasa ini pengelompokan penelitian lebih banyak didasarkan pada :
Sifat masalahnya, di samping alat dan teknik yang digunakan
Tempat dimana penelitian dilakukan
Waktu jangkauan penelitian, serta
Area ilmu pengetahuan yang mendukung penelitian tersebut

Sifat masalah yang dipecahkan
Pengelompokan berdasarkan sifat masalah membagi penelitian dengan memperhatikan apakah masalah yang ingin dipecahkan tersebut masalah yang dapat di kontrol apa tidak, masalah sosial ataukah masalah natura atau alamiah, dan apa tujuan dari penelitian tersebut.



Teknik dan alat yang digunakan
Pengelompokan dapat didasarkan pada alat yang digunakan dalam melaksanakan penelitian. Alat apa serta tekknik apa yang digunakan dalam mengumpulkan data, serta dalam data.

Tempat dimana penelitian dilakukan
Dalam pengelompokan penelitian, maka lokus atau tempat penelitian juga merupakan ciri khas penelitian. Apakah penelitian dilakukan di lapangan, di dalam laboratorium, di perpustakaan, di dalam masyarakat, di kalangan pendidikan, dan sebagainya.

Waktu jangkauan
Apakah penelitian yang dilakukan mengenai status dewasa ini, ataukah status di masa lampau. Apakah penelitian hanya menganalisis hasil penelitian dengan kesimpulan data generalisasi seperti data yang ada, ataukah juga memberikan ramalan dan prediksi untuk masa yang akan datang.

Daerah penelitian
Pengelompokan dapat juga didasarkan pada daerah atau area penelitian yang didukung oleh bidang ilmu tertentu, seperti filsafat, sosiologi, kependudukan, psikologi, usaha tani, dan sebagainya.
Untuk dapat memberikan dengan jelas beberapa metode penelitian, maka penelitian dikelompokkan dalam lima kelompok umum sebagai berikut :
1. Metode sejarah
Metode deskripsi / survei
Metode survei
Metode deskriptif berkesinambungan
Metode studi kasus
Metode analisis pekerjaan dan aktivitas
Metode studi komperatif
Metode studi waktu dan gerakan
Metode eksperimental
Metode grounded research
Metode penelitian tindakan
Metode penelitian di atas sangat berhubungan dengan desain dari penelitian. Oleh karena itu, dalam banyak buku, metode-metode penelitian identik dengan desain penelitian, karena pengelompokan metode penelitian sangat dipengaruhi oleh desain dari penelitian yang bersangkutan.

METODE SEJARAH
Penellitian dapat kita lihat dari segi perspektif serta waktu terjadinya fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode sejarah mempunyai perspektif historis. Banyak juga ahli yang mempersamakan metode sejarah dengan metode dokumenter, karena dalam metode sejarah banyak data didasarkan pada dokumen-dokumen. Namun, sebenarnya metode sejarah tidak sama dengan metode dokementer, karena metode dokumenter dapat saja mengenai masalah dini dan tidak perlu mengenai masalah masa lalu.
Metode sejarah menggunakan catatan observasi atau pengamatan orang lain yang tidak dapat diulang-ulang kembali. Ini nyata sekali bedanya dengan metode penelitian eksperimen pada fenomena natura, dimana data observasi dapat dikontrol dengan percobaan.

2.1 Definisi
Sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Sejarah adalah deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari kebenaran (Nevins, 1933). Penelitian dengan menggunakan metode sejarah penyelidikan yang kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pengelaman dimasa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti faliditas dari sumber sejarah, serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut.
Dari definisi diatas, maka kita lihat bahwa biografi dapat menjadi sejarah, jika perorangan tersebut dihubungkan dengan fenomena masyarakat pada masanya. Jika biografi dibatasi dalam kehidupan perorangan saja dan terisolasi dari masyarakat, maka bibliografi tersebut bukan sejarah. Karena itu, metode sejarah merupakan suatu usaha untuk memberikan interpretasi dari bagian trend yang naik turun dari suatu status keadaan dimasa yang lampau untuk memperoleh suatu generalisasi yang berguna untuk memahami kenyataan sejarah, membandingkan dengan keadaan sekarang dan dapat meramalkan keadaan yang akan datang. Dengan demikian, tujuan dari penelitian dengan metode sejarah adalah untuk membuat rekontruksi masa lampau secara objektif dan sistematis dengan mengumpulkan, mengevaluasikan, serta menjelaskan dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan menarik kesimpulan secara tepat.
Penelitian dengan metode sejarah amat luas lapangannya. Dilapangan pendidikan, serta lapangan ilmu perilaku yang lain, metode sejarah banyak sekali dilakukan dalam memecahkan masalah. Studi masalah dalam pertanian yang menelusuri masa lampau serta relevansinya untuk masa kini dengan melihat aspek perubahan-perubahan sosial serta teknologi dapt dilakukan dengan metode sejarah.

2.2. Ciri-ciri metode sejarah
Beberapa ciri khas dari metode sejarah adalah sebagai berikut.
Metode sejarah lebih banyak mengantungkan diri pada data yang diamati orang lain di masa-masa lampau.
Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer dibandingkan dengan data sekunder. Bobot data harus dikritik, baik secara internal maupun eksternal.
Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta menggali informasi yang lebih tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
Sumber data harus dinyatakan secara difinitif, baik nama pengarang, tempat dan waktu. Sumber tersebut harus diuji kebenaran dan ketulenannya. Fakta harus dibenarkan oleh sekurang-kurangnya dua saksi yang tidak pernah berhubungan.

Sumber data pada metode sejarah
Sumber dari sejarah merupakan data yang digunakan dalam penelitian dengan metode sejarah dapat diklasifikasikan secara bermacam-macam. Anata lain : remain, dokumen, sumber primer, sumber sekunder, materi fisik, materi tulisan dan sebagainya.

2.3.1 Remain dan Dokumen
Jika sumber sejarah ditinjau dari sengaja atau tidak sengajanya bahan atau sumber data tersebut ditinggalkan, maka sumber sejarah dapat dibagi dua yaitu : remain dan dokumen. Remain adalah peninggalan-peninggalan yang tidak disengaja, baik berupa barang fisik maupun peninggalan rohani. Dilain pihak, terdapat juga catatan-catatan yang sengaja ditinggal, dan disebut dokumen. Pengertian remain dan dokumen adalah sebagai berikut.

Remain atau relics, yaitu bahan-bahan fisis atau tulisan yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang terdapat tanpa suatu kesadaran menghasilkannya untuk suatu keperluan pembuktian sejarah. Peninggalan materi tersebut: alat perkaskas, perhiasan-perhiasan kuno, bangunan seperti piramida, candi, senjata-senjata, sendok, benda budaya dan sebagainya.
Dokumen, yaitu laporan dari kejadian-kejadian yang berisi pandangan serta pemikiran-pemikiran manusia dimasa yang lalu. Dokumen tersebut, secara sadar ditulis untuk tujuan komunikasi dan transmisi keterangan. Contoh dari dokumen antara lain buku harian, batu bertulis, daun-daun lontar, relief-relief pada candi, surat-surat kabar, dan sebagainya.
Jika sumber sejarah diatas diperluas lagi, maka sumber tersebut dapat kita bagi sebagai berikut :
(1) Keterangan ditinggalkan secara sadar
Sumber tertulis: catatan harian, memori, biografi, dan sebagainya
Karangan tradisional: balada, cerita-cerita tradisional, anekdot-anekdot, dan sebaginya.
Hasil-hasil artistik: potret, gambar, lukisan, patung, dan sebagainya.
(2) Relic atau tetimoni tanpa sadar: pakaian, bahan makanan, alat rumah tangga, mesin-mesin, buku, makam-makam, dan sebagainya.
(3) Inskripsi, dokumen, monumen: memorial, kuburan, candi, dan sebagainya.

Sebuah makam atau kuburan dapat dimasukkan dalam dua kategori diatas. Jika sebuah makam ditemukan dan pada makam tersebut hanya ada nama saja tertulis, maka makam tersebut adalah relic. Namun, jika dibawah nama tersebut tedapat lagi beberapa keterangan, seperti jabatan, kelahiran serta tugas-tugas lain, maka makam tersebut merupakan dokumen yang sengaja ditinggalkan.
Oleh Nevins (1938) sumber sejarah dibagi sebagai berikut.
pertinggal fisis: tempat-tempat bersejarah, piramida, pot-pot, senjat-senjata, gedung-gedung, dan sebagainya.
cerita secara oral: yaitu materi yang dipindahkan dari mulut ke mulut seperti balada, cerita rakyat, tradisi-tradisi, legenda, dan sebagainya.
Materi inskripsi: yaitu materi pada tulisan tidak seperti biasa seperti tulisan pada pot-pot, pada piring, pada patungdan sebagainya.
Materi tulisan tangan: papirus, hiroglif, dokemen-dokumen modern, dan sebagainya
Buku dan cetakan: bahan-bahan yang tercetak
Bahan audio-visual: film-film, televisi, microfilm, kaset-kaset, radio, dan sebagainya.
Observasi langsung: hasil pengamatan penulis atau pengamatan oleh orang-orang yang diwawancarai.

2.3.2 Sumber primer dan sekunder
Selain pembagian sumber seperti diatas, sumber sejarah dapat juga dibedakan antara sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah tempat atau gudang penyimpan yang orisinal dari data sejarah. Data primer merupakan sumber-sumber dasar yang merupakan bukti atau saksi utama dari kejadian yang lalu. Contoh dari data atau sumber primer adalah: catatan resmi yang dibuat pada suatu acara atau upacara, suatu keterangan oleh saksi mata, keputusan-keputusan rapat, foto-foto, dan sebagainya.

Suatu peraturan dasar dari metode sejarah adalah menggunakan data primer sebanyak mungkin. Di lain pihak adalah sumber sekunder. Sumber sekunder adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang “jaraknya” telah jauh dari sumber orisinil. Misalnya, keputusan rapat suatu perkumpulan bukan didasarkan dari keputusan(minutes) dari rapat itu sendiri, tetapi dari sumber berita di surat kabar. Berita surat kabar tentang rapat tersebut adalah sumber sekunder. Menggunakan citasi orang lain tentang suatu kejadian, merupakan sumber sekunder dalam metode sejarah. Sumber sitasi dan bukan dari penyaksi kejadian sendiri juga merupakan sumber sekunder.

Dalam metode sejarah, maka menggunakan sumber sekunder, padahal sumber primer ada, merupakan error yang besar sekali. Ini dapat diterima karena sumber-sumber data masa lampau akan terjadi banyak sekali distorsi dalam transmisi. Adanya distorsi akibat dari transmisi keterangan dapat membuat interpretasi keterangan yang salah tentang suatu fenomena sejarah.


2.4 Kritik terhadap keaslian sumber
Seperti telah diterangkan diatas, maka sumber untuk sejarah haruslah sumber-sumber yang orisinil. Karena itu, maka ada dua kanon yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah sumber sejarah tersebut orisinil atau tidak. Kanon tersebut adalah kritik eksternal dan kritik internal.

Peneliti-peneliti yang menggunakan metode sejarah memeriksa secara kritis sumber-sumber data tentang keasliannya, atau lebih tepat tentang validitas data tersebut. Apakah sebuah dokumen benar-benar asli? Apakah surat tersebut benar-benar ditulis oleh Iskandar Muda? Jika sebuah berita ditulis oleh si Polan, apakah si Polan tersebut cukup mampu, cakap, dan jujur sebagai saksi dari suatu kejadian? Penelitian serta penyellidikan seperti di atas adalah suatu kritik eksternal terhadap sumber sejarah. Kritik eksternal adalah menyelidiki keadaan “luar” dari sumber. Melihat autentik tidaknya suatu tulisan, meneliti bentuk kertasnya, menyelidiki bentuk papirus, meneliti bahan-bahan bakunya, dan formatnya. Juga diselidiki usia dari sumber serta rupa dari sumber tersebut. Dalam penelitian atau kritik eksternal ini dapat digunakan alat-alat mutakhir seperti sinar ultra violet, radiasi, dan sebagainya.

Kritik internal terhadap sumber sejarah adalah melihat dan menyelidiki isi dari bahan sejarah dan dokumen sejarah. Apakah pernyataan yang dibuat benar-benar merupakan fakta historis? Apakah isinya cocok dengan sejarah? Kritik internal termasuk: isi, bahasa yang digunakan, tata bahasa, situasi disaat penulisan, style, ide, dan sebagainya.

Walaupun suatu sumber telah lolos dalam kritik eksternal, belum tentu sumber tersebut lolos dalam kritik internal. Sebuah dokumen misalnya, akan lolos kritik eksternal, karena ditulis oleh seorang yang kompeten, tetapi dia mungkin saja menyembunyikan kebenaran.

Bagi peneliti dengan menggunakan metode sejarah, kedua kritik di atas digunakan dalam menentukan validitas sumber. Dalam mempelajari validitas sumber ini, maka sulit diadakan batasan, bila dikerjakan kritik eksternal dan bila diadakan kritik internal. Kritik eksternal dan internal umumnya dikerjakan secara tumpang tindih oleh peneliti-peneliti sejarah.

Whitney (1960) membagi kritik terhadap sumber sejarah sebagai kritik rendah (lonwer critism) dan kritik tinggi (higher critism). Kritik ini ditujukan pada bagian yang tampak di luar dari sumber, sehingga dari luar saja sudah dapat ditentukan hal-hal yang berbeda atau menyangsikan. Inilah yang disebut kritik rendah. Di lain pihak, perlu juga diselidiki tentang isi dari sumber untuk memperoleh pertimbangan terakhir tentang asli tidaknya dokumen. Inilah yang dinamakan kritik tinggi (higher critism).

Walaupun dengan melalui kritik, baik kritik eksternal maupun internal, telah diperoleh keaslian sumber, tetapi keaslian sumber ini sendiri belum menjamin tentang baiknya hasil penelitian tersebut. Hasil yang diperoleh bisa saja tidak tepat, karena bias saja teknik yang digunakan untuk meneliti tidak cocok atau kurang relevan dengan masalah yang teliti.

2.5 Peranan hipotesis pada metode sejarah
Ada orang yang beranggapan bahwa hipotesis tidak diperlukan dalam metode sejarah. Ini tidak benar. Seperti penelitian yang menggunakan metode-metode lain, metode sejarah juga memerlukan adanya hipotesis sebagai jawaban sementara dalam memecahkan masalah. Memang, jika kerja hanya untuk memperoleh catatan-catatan masa lampau untuk kebutuhan masa sekarang, hipotesis tidak diperlukan. Namun, penelitian yang hanya sekadar mengumpulkan catatan-catatan dan fakta-fakta masa lampau saja, bukanlah penelitian dalam arti yang sesungguhnya, tetapi hanya merupakan sebagian kecil prosedur atau step-step metode ilmiah dalam penelitian-penelitian sejarah. Seperti halnya penelitian-penelitian lain, metode sejarah juga bermaksud untuk menemukan suatu generalisasi yang akan menemukan pengertian-pengertian tentang fenomena-fenomena dengan dimensi waktu, yang mana generalisasi itu mencakup bukan saja masa lampau, tetapi juga tentang masa sekarang dan masa yang akan datang. Karena itu, hipotesis dalam metode sejarah diperlukan sebagai titik tolak dalam memfokuskan serta memandui kerja.

2.6 Jenis-jenis penelitian sejarah
Penelitian historis banyak sekali macamnya. Akan tetapi, secara umum, dapat dibagi atas empat jenis, yaitu sebagai berikut.
Penelitian sejarah komparatif
Penelitian yuridis atau legal
Penelitian biografis
Penelitian bibliografis

2.6.1 Penelitian sejarah komparatif
Jika penelitian dengan metode sejarah dikerjakan untuk membandingkan faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis pada suatu periode masa lampau, maka penelitian tersebut dinamakan penelitian sejarah komparatif. Misalnya, ingin diperbandingkan system pengajaran di Cina dan Jawa dan pada masa kerajaan Majapahit. Dalam hal ini, si peneliti ingin memperlihatkan unsure-unsur perbedaan dan persamaan dari fenomena-fenomena sejenis. Atau misalnya, seorang peneliti ingin membandingkan usaha tani serta factor social yang mempengaruhi usaha tani dari beberapa Negara dan membandingkannya dengan usaha tani indonesi dalam tahap-tahap tren waktu zaman pertengahan.
2.6.2 Penelitian yuridis atau legal
Jika dalam metode sejarah diinginkan untuk menyelidiki hal-hal yang menyangkut dengan hukum, baik hokum formal ataupun hokum nonformal dalam masa yang lalu, maka penelitian sejarah tersebut digolongkan dalam penelitian yuridis. Misalnya, peneliti ingin mengetahui dan menganalisis tentang keputusan-keputusan pengadilan akibat-akibat hukum adat serta pengaruhnya tehadap suatu masyarakat pada masa lampau, serta ingin membuat generalisasi tentang pengaruh-pengaruh hukum tersebut atas masyarakat, maka penelitian sejarah tersebut termasuk dalam penelitian yuridis.

2.6.3 Penelitian biografis
Metode sejarah yang digunakan untuk meneliti kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat dinamakan penelitian biografis. Dalam penelitian ini, sifat-sifat, watak, pengaruh, baik pengaruh lingkungan maupun pengaruh pemikiran dan ide dari subjek penelitian dalam masa hidupnya, serta pembentukan watak figur yang diterima selama hayatnya. Sumber-sumber data sejarah untuk penelitian biografis antara lain: surat-surat pribadi, buku harian, hasil karya seseorang, karangan-karangan seseorang tentang figure yang diselidiki ataupun catatan- catatan teman dari orang yang diteliti tersebut.

2.6.4 Penelitian bibliografis
Penelitian dengan metode sejarah untuk menganalisis, membuat interpretasi serta generalisasi dari fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu organisasi dikelompokkan dalam penelitian bibliografis. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis oleh pemikir-pemikir dan ahli-ahli. Kerja penelitian ini termasuk menghimpun karya-karya tertentu dari seorang penulis atau seorang filosof dan menerbitkan kembali dokemen-dokumen unik yang dianggap hilang dan tersembunyi, seraya memberikan interpretasi serta generalisasi yang tepat terhadap karya-karya tersebut.

2.7 Langkah-langkah pokok
Langkah-langkah pokok dalam penelitian sejarah adalah sebagai berikut.

2.7.1 Definisikan masalah
Dalam mendefinisikan serta merumuskan masalah, maka tanyalah pada diri sendiri pertanyaan berikut .
Apakah dalam menjawab masalah tersebut, metode sejarah adalah yang terbaik?
Apakah data-data yang diperlukan cukup tersedia dan dapat diperoleh?
Apakah hasil penelitian cukup berguna?

2.7.2 Rumuskan tujuan penelitian
Dari masalah yang telah diformulasikan, maka rumuskan tujuan-tujuan dari penelitian. Dalam merumuskan tujuan ini maka hubungkan dia dengan teori, jika ada dan kaitkan dengan hipotesis yang ingin dibentuk.

2.7.3 Rumuskan hipotesis
Rumuskan hipotesis sebagai keterangan sementara yang akan diuji kebenarannya. Hipotesis tersebut amat berguna untuk memberi arah dan fokus bagi kegiatan penelitian.

2.7.4 Kumpulkan data
Kumpulkan data dengan selalu mengingat sumber-sumber. Tujuan pengumpulan data terhadap data primer lebih dahulu, dan baru di tunjang dengan data sekunder.

2.7.5 Evaluasi data
Data yang dikumpulkan perlu dievaluasi dengan melakukan kritis eksternal maupun internal.

2.7.6 Interpretasi dan generalisasi
Analisis data serta buat interpretasi dan generalisasi dan fenomena-fenomena yang diselidiki. Buat kesimpulan-kesimpulan

2.7.7 Laporan
Tuliskan laporan penelitian

3. METODE DESKRIPTIF
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akuratmengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

3.1 Definisi
Menurut Whitney (1960), metode deskriptif adalah pencaraian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehinggan merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klarifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normative (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau factor dan melihat hubungan antara satu factor dengan factor yang lain. Karenanya, metode deskriptif juga dinamakan studi status(status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar, sehingga penelitian deskriptif ini disebut juga survey normative. Dalam metode deskriptif dapat diteliti masalah normative bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antar fenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskriptif. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian deskriptif, adalah waktu sekarang, atau sekurang-kurang jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.

3.2. Ciri-ciri metode deskriptif
Secara harfiah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun, dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama, metode survey. Kerja peneliti, bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena- fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dalam mengumpulkan data digunakan teknik wawancara, dengan menggunakan schedule questioner ataupun interview guide.

3.3 Jenis-jenis penelitian deskriptif
Ditinjau dari masalah yang diselidiki, teknik atau alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu penelitian dilakukan, penelitian deskriptif dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:
Metode survey
Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive)
Penelitian studi kasus
Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas
Penelitian tindakan (action research)
Penelitian perpustakaan dan documenter

3.3.1 Metode survey
Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara factual, baik tentang institute social, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Metode survey membedah dan menguliti serta mengenal masalah-masalah serta mendapatkan pembenaran terhadap keadaan dan praktik-praktik yang sedang berlangsung. Dalam metode survei juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam pembuatan rencana dan pengambilan keputusan dimasa mendatang.Penyelidikan dilakukan dalam waktu yang bersamaan terhadap sejumlah individu atau unit, baik secara sensus atau dengan menggunakan sample. Unit yang digunakan dalam metode survei cukup besar. Misalnya, Kinsey,et al.,(1948), dalam penelitian mereka mengenai tingkah laku seksual di Amerika Serikat telah menggunakan sample dengan 12 ribu orang anggota sample, termasuk bidang produksi dan tata niaga (survei produksi dan tata niaga), usaha tani (survei usaha tani), masalah kemasyarakatan (survei social), masalah komunikasi dan pendapat umum (survei pendapat umum), masalah politik ( survei politik), masalah pendidikan (survei pendidikan dan persekolahan), dan sebagainya.
3.3.2 metode deskriptif berkesinambungan
metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive research) adalah kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus-menerus atas suatu objek penelitian. Sering kali dilakukan dalam meneliti masalah-masalah sosial. Pengetahuan yang lebih menyeluruh dari masalah serta fenomena kekuatan-kekuatan sosial dapat diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu interval perkembangan dalam suatu periode yang lama. Dengan memperhatikan secara detail perubahan-perubahan yang dinamis dalam suatu interval tertentu, maka generalisasi suatu situasi atau fenomena secara dinamis dapat dibuat. Meneliti yang berkehendak menjangkau informasi faktual yang mendetail secara interval dinamakan penelitian deskriptif berkesinambungan. Jika perhatian dipusatkan kepada perubahan-perubahan perilaku atau pandangan, maka teknik dalam meneliti dinamakan teknik panel. Teknik ini berupa wawancara dengan kelompok manusia yang sama pada situasi yang berbeda. Informasi yang diinginkan bisa saja kuantitatif, seperti jumlah konsumsi, anggaran belanja keluarga, dan sebagainya.

Penggunaan metode deskriptif berkesinambungan lebih populer dalam mengkaji masalah sosial. Misalnya, Whitney dan Milholland (1930) mempelajari status akademis dari mahasiswa tingkat persiapan dari Colorado State Colege of Education pada tahun 1930. Penelitian dilakukan dalam waktu empat tahun, dengan menelusuri status akademis sejak tingkat persiapan sampai dengan lulus sarjana muda.


3.3.3 Studi Kasus
Studi kasus, atau penelitian kasus( case study), adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Maxfield, 1930). Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Peneliti ingin mempelajari sacara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari unit-unit sosial yang menjadi subjek. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu , yang kemudian dari sifat-sifat khas diatas akan jadikan suatu hal yang bersifat umum. Pada mulanya, studi kasus ini banyak digunakan dalm penelitian obat-obatan dengan tujuan diagnosis, tetapi kemudian penggunaan studi kasus telah meluas sampai ke bidang-bidang lain.

Hasil dari penelitian kasus merupakan suatu generalisasi dari pola-pola kasus yang tipikal dari individu, kelompok, lembaga, dan sebaginya. Tergantung dari tujuannya, ruang lingkup dari studi dapat mencakup segmen atau bagian tertentu atau mencakup keseluruhan siklus kehidupan dari individu, kelompok, dan sebagainya, baik dengan penekanan terhadap faktor-faktor kasus tertentu, ataupun meliputikeseluruhan faktor-faktor dan fenomena-fenomena. Studi kasus lebih menekankan mengkaji variabel yang cukup banyak pada jumlah unit yang kecil. Ini berbeda dengan metode survei dimana peneliti cenderung mengevaluasi variabel yang lebih sedikit, tetapi dengan unit sample yang relatif besar.

Studi kasus banyak dikerjakan untuk meneliti dasa, kota besar, sekelompok manusia drop out, tahanan-tahanan, pemimpin-pemimpin, dan sebagainya. aJaika studi kasus ditujukan untuk meneliti kelompok, maka perlu dipisahkan atau diisolasikan kelompok-kelompok dalam onngokan yang homoge.

Studi kasus mempunyai banyak kelemahan disamping adanya keunggulan-keunggulan. Studi kasus mempunyiai kelemahan karena anggota sample yang terlalu kecil, sehingga sulit dibuat inferensi kepada populasi. Disamping itu, studi kasus sangat dipengaruhi oleh pandangan subjektif dalam pemilihan kasus karena adanya sifat khas yang dapat saja terlalu dibesar-besarkan. Kruangnya objektifitas, dapat disebabkan karena kasus cocok benar dengan konsep yang sebelumnya telah ada pada sipeneliti, ataupun dalam penempatan serta pengikutsertaan data dalam kontaks yang bermakna yang menjurus pada interpretasi subjektif

Studi kasus mempunyai keunggulan sebagai suatu studi untuk mendukung studi-studi yang besar dikemudian hari. Studi kasus mendukung studi-studi yang besar dikemudian hari, Studi kasus dapat memberikan hipotesis-hipotesis untuk penelitian lanjutan. Dari segi edukatif, maka studi kasus dapat dugunakan sebagai contoh ilustrasi bail dalam perumusan masalah, penggunaan statistik dalam menganalisis data serta cara-cara perumusan generalisasi dan kesimpulan.
Marilah kita lihat sebuah contoh studi kasus tentang anak-anak yang tidak dapat menguasai teknik membaca karena berjenis-jenis sebab. Penelitian yang memakan waktu dua tahun, secara mendetail telah mepelajari hal-hal berikut.
Menentukan sejarah dari sekolah dan rumah tangga sang anak.
Menentukan status sekarang dari anak.
Mengadakan diagnosis terhadap kesukaran-kesukaran membaca sang anak.
Menentukan sebab-musabab sianak mempunyai kekurangan-kekurangan dalam membaca.
Mengukur hasil dari pengajaran.

Langkah-langkah pokok dalam meneliti kasus adalah sebagai berikut.
Rumuskan tujuan penelitian.
Tentukan unit-unit studi, sifat-sifat mana yang akan diteliti dan hubungan apa yang akan dikaji serta proses-proses apa yang akan menuntun penelitian.
Tentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan taknik pengumpulan data mana yang digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia.
Kumpulkan data.
Organisasi informasi serta data yang terkumpul dan analisis untuk membuat interpretasi serta generalisasi.
Susun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari hasil penelitian.

3.3.4 Studi atau Penelitian Komparatif
Penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawab secar mendasartentang sebab-akibat, dengan menganalisis fakktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Jangkauan waktu adalah masa sekarang, karena jika jangkauan waktu terjadinya adalah masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah. Dalam studi komparatif ini, memang sulit untuk mengetahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding, sebab penelitian komparatif tidak mempuntai kontrol. Hal ini semakin nyata kesulitannya jika kemungkinan-kemungkinan hubungan antar fenomena banyak sekali jumlahnya.

Studi kompratif banyak sekali dilakukan jika metode eksperimental tidak dapa diperlukan. Bidang studi dapat mencakup penghidupan kota dan desa, dengan membandingkan pengaruh sebab-akibat dari makanan, rekreasi, waktu kerja, ketenangan kerja, dan sebagainya. Penelitian komparatif dapat dilakukan untuk mencari pola tingkah laku serta prestasi belajar dengan membedakan unsur waktu masuk sekolah, dan lain-lain.

Metode penelitian komparatif adalah bersifat ec post facto. Artinya, data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung . Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. Keunggulan metode ini adalah sebagai berikut.
Metode komparatif dapat mensubstitusikan metode eksperimental karena beberapa alasan:
Jika sukar diadakan kontrol terhadap salah satu faktor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab-akibatnya;
Apabila teknik untuk mengadakan variabel kontrol dapat menghalangi penampilan fenomena secar normal ataupun tidak memungkinkan adanya interaksi secara normal;
Penggunaan laboratorium untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala teknik, keuangan, maupun etika, dan normal.

Dengan adanya teknik yang lebih mutakhir serta alat statistik yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakan estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif.

Disamping keunggulan-keunggulan, penelitian komparatif mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai berikut.
Karena penelitian komparatif sifatnya ex post focto, maka penelitian tersebut tidak mempunyai kontrol terhadap variabel bebas. Peneliti hanya berpegang pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa kesempatan mengatur kondisi ataupun mengadakan manipulasi terhadap beberapa variabel. Karena itu, sipeneliti diharapkan mempunyai cukup banyak alasan dalam mempertahankan hasil hubungan-hubungan kausal yang ditemukan, dan dapat mengajukan hipotesis-hipotesis saingan untuk membuat justifikasi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ditarik.
Sukar memperoleh kepastian, apakah faktor-faktor penyebab suatu hubungan kausal yang diselidiki benar-benar relevan.
Karena faktor-faktor penyebab bukan bekerja secara merdeka tetapi saling berkaitan antara satu dengan lain, maka interaksi antar faktor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena sukar diketahui. Bahkan akibat dari faktor ganda, bisa saja dikarenakan oleh faktor diluar cakupan penelitian yang bersangkutan.
Ada kalanya dua atau lebih faktor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab-akibat. Mungkin saja hubungan variabel tersebut dikarenakan oleh adanya keterkaitan dengan faktor-faktor lain diluar itu. Dilain pihak, andai kata pun telah diketemukan bahwa hubungan antara faktor-faktor adalah hubungan sebab-akibat, tetapi masih sukar untuk dipisahkan faktor mana sebagai penyebab dan faktor mana yang merupakan akibat.
Mengkategorisasikan subjek dalam dikhotomi(misalnya, dalam kategori demokrasi dan otoriter, pandai bodoh, tua-muda, dan sebagainya/0 utnuk tujuan perbandingan, dapat menjurus kepada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah akibat kategori-kategori dikhotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervaiasi, samar-samar, menghendaki valuejudgement, dan tidak kokoh.

Langkah-langkah pokok dalam studi komparatif adalah sebagai berikut
Rumuskan dan definisikan masalah
Jajaki dan teliti literatur yang ada
Rumuskan kerangka teoretis dan hipotesi-hipotesis serta asumsi-asumsi yang dipakai.
Buatlah rancangan penelitian:
Pilih subjek yang digunakan dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan;
Kategorikan sifat-sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah ingin dipecahkan, untuk memudahkan analisis sebab-akibat.
Uji hipotesis, buat interpretasi terhadap hubungan dengan teknk statistik yang tepat.
Buat generalisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan.
Susun laporan dengan cara penulisan ilmiah.

Dalam penelitian komparatif, sering digunakan teknik korelasi, yaitu meneliti derajat ketergantungan dalam hubungan-hubngan antarvariabel dengan menngunakan koefisien korelasi. Namun, perlu dijelaskan bahwa penggunaan koefisien korelasi hanya menyatakan tinggi rendahnya ketergantungan antarvariabel yang diiuji, tetapi tidak menyatakan ada tidaknya hubungan yang terjadi. Ini berbeda dengan penggunaan metode eksperimental. Pada metode eksperimental, peneliti dapat menguji ada tidaknya efek tertentu. Dengan demikian, penggunaan teknik korelasi dalam penelitian komparatif mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain sebagai berikut.
Menjurus pada keterbiasaan menggunakan teknik korelasi dengan memasang variabel apa saja tanpa pilih yang menjurus pula kepada interpretasi yang salah.
Tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas, dan tidak dapat melihat ada tidaknya hubungan kausal antarvariabel. Peneliti tidak dapat mengenal, yang mana variabel bebas dan mana variabel dependen.

3.3.5 Analisis kerja dan aktivitas
Analisis kerja dan aktivitas (job and activity analysis), merupakan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia, dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang. Penelitian pekerjaan di bidang industri dinamakan job analysis (analisis pekerjaan), sedangkan penelitian dibidang pertanian, disebut analisis aktivitas (activity analysis). Analisis aktivitas juga mencakup analisis pekerjaan di bidang jasa, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sebagainya.

Dalam penelitian ini, studi yang mendalam dilakukan terhadap kelakuan-kelakuan pekerja, buruh, petani, guru, dana lain-lain terhadap gerak-gerik mereka dalam melakukan tugas, penggunaan waktu secara efisien dan efektif, dan sebagainya. Data mengenai hal-hal yang ingin diselidiki, kemudian di analisis, diberikan interpretasi, dan diadakan generalisasi dalam rangka menetapkan sifat-sifat dan kriteria-kriteria pekerjaan yang baik, rencana upgrading, keseimbangan berusaha dan bekerja serta aktivitas sangat berkembang pada masa sesudah Perang Dunia I, dengan tujuan untuk mengadakan klasifikasi pekerja dan pekerjaan secara efektif.

3.3.6 Studi waktu gerakan
Studi waktu dan gerakan (time and motion study) adalah penelitian dengan metode deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki efisiensi produksi dengan mengadakan studi yang mendetail tentang penggunaan waktu serta perilaku pekerja dalam proses produksi. Gerak-gerak utama dalam pekerjaan diamati, dicatat, dilukiskan, serta dianalisis. Generalisasi dan interpretasi tentang waktu yang digunakan sertagerak-gerak utama yang terjadi, sehingga suatu kesimpulan tentang gerak-gerak yang diperlukan dalam pekerjaan, gerak-gerak yang tidak diperlukan yang dapat menghambat pekerjaan serta saran-saran dalam rangka memperbaiki pekerjaan dan menambah efisiensi kerja. Dalam rangka efisiensi, juga perlu dikaji alat-alat produksi yang digunakan, serta bagaimana alat-alat produksi tersebut diatur demi peningkatan efisiensi kerja.

3.4 Kriteria pokok metode deskriptif
Metode deskriptif mempunyai beberapa criteria pokok, yang dapat dibagi atas criteria umum dan criteria khusus. Kriteria tersebut adalah sebagai berikut.

3.4.1 Kriteria umum
Kriteria umum dari penelitian dengan metode deskriptif adalah sebagai berikut.
Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu
Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum
Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini
Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas
Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan
6. Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data mauun dalam menganalisis data serta studi kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.
3.4.2 Kriteria khusus
Criteria khusus dari metode deskriptif adalah sebagai berikut.
Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value)
Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status
Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variable, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.Variabel sebagaimana adanya.

3.5 Langkah-langkah umum dalam metode deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian metode deskriptif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut.
Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan.Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk didalamnya daerah geografis diman penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis, ukuran tentang dalam dangkal, serta seberapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau.
Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverifikasikan.Bagi ilmu social yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan
Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implicit
Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian
Membuat tabulasi serta analisis statistic dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi social yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
10.mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Memberikan rekomendai-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
11.Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah
4. METODE EKSPERIMENTAL
Selain dari metode deskriptif, metode eksperimental merupakan metode penelitian yang sering digunakan, lebih-lebih dalam penelitian eksakta. Menurut sejarah, seorang navigator Inggris bernama Sir Humprey Gilbert (1539-1583) dan seorang dokter dan ahli bintang Italia bernama Galileo Galilei(1564-1642) merupakan ’’bapak” dari metode eksperimen. Gilbert membuktikan ketidakbenaran Forta, seorang ahli pada masanya, dan menolak teori forta yang mengatakan bahwa besi akan menjadi besi berani jika besi digosok dengan berlian. Gilbert membantah hokum forta tersebut dengan mengatakan percobaan-percobaan. Ia menggosok besi dengan 95 macam berlian di depan saksi-saksi, dan hasil percobaannya menunjukkan bahwa tidak ada satu berlianpun dapat membuat besi menjadi besi berani.
Galilei menolak hukum Aristoteles (384-322 SM) yang menyatakan bahwa kecepatan benda yang sejenis sebanding dengan berat benda tersebut. Galilei membuat percobaan dengan melemparkan bola besi yang beratnya berbeda-beda dari atas menara condong Pisa. Kenyataannya, semua bola besi tersebut jatuh dalam waktu yang sama, walaupun bola besi tersebut berbeda-beda beratnya.

4.1 Definisi
Eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan (artificial condition) diman kondisi tesebut dibuat dan diatur oleh sipeneliti. Dengan demikian, penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya control.
Metode eksperimental sering kali dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu eksakta. Walaupun demikian, penggunaan metode eksperimen didalam ilmu-ilmu social, akhir-akhir ini semakin banyak peminatnya.
Seorang yang menggunakan mikroskop untuk memperhatikan objek renik atau halus bukanlah suatu percobaan. Sang ahli hanya ”mengintip” objek renik dibawah mikroskopnya, memandang objek kecil tersebut, tetapi bukan melakukan percobaan apapun. Sang ahli tidak mengadakan manipulasi atau mengubah situasi. Akan tetapi, jika sang ahli telah melakukan manipulasi terhadap objek, misalnya, ia membakar objek, lalu ia cuci dengan alcohol kemudian ia celup dengan bahan pencelup, kemudian meletakkan objek tersebut di bawah mikroskopnya, maka barulah sang ahli melakukan percobaan.
Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian eksperimental dapat mengubah teori-teori yang usang. Percobaan-percobaan dilakukan untuk menguji hipotesis serta untuk menemukan hubungan-hubungan kausal yang baru. Akan tetapi, walaupun hipotesis telah dapat diuji dengan metode percobaan, tetapi penerimaan atau penolakan hipotesis bukanlah merupakan penemuan suatu penemuan yang mutlak. Eksperimentasi atau percobaan bukanlah merupakan titik akhir atau tujuan yang diinginkan dalam penelitian. Percobaan hanya merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan. Karena itu, maka seringkali ada kritik-kritik terhadap metode eksperimen karena interpretasi yang salah dari hasil percobaan, atau karena salahnya asumsi yang digunakan ataupun karena desain percobaan yang kurang sempurna.
Jika kita bandingkan dengan metode deskriptif, maka ada dua hal yang cukup membedakan metode eksperimen dengan metode deskriptif. Perbedaan pokok tersebut adalah sebagai berikut.
Pada metode eksperimen terdapat kontrol, sedangkan pada metode deskriptif, kontrol tidak ada. Kontrol ini, dapat saja merupkan manipulasi fisik, seperti penggunaan cara dan alat, ataupun kontrol dengan cara mengadakan seleksi terhadap materi maupun objek penelitian.
Pada metode eksperimen si peneliti mengadakan manipulasi terhadap variabel, sedangkan pada metode deskriptif, variabel yang diteliti berada dalam keadaan sebagaimana adanya. Pada metode eksperimen, objek diatur lebih dahulu untuk diadakan perlakuan-perlakuan, sedangkan penelitian deskriptif, sifatnya adalah ek post facto

4.2 Beberapa kriteria umum
Kriteria umum dari metode eksperimental tidak jauh berbeda dengan penelitian-penelitian dengan menggunakan metode lain. Beberpa kriteria yang penting-penting dari metode eksperimental adalah sebagai berikut.
Masalah yang dipilih adalah masalah yang penting dan dapat dipecahkan
Faktor-faktor serta variabel dalam percobaan harus didefinisikan seterang-terangnya.
Percobaan harus dilaksanakan dengan desain percobaan yang cocok, sehingga maksimisasi variabel perlakuan dan meminimisasikan variabel pengganggu dan variabel rendom.
Ketelitian dalam observasi serta ketepatan ukuran sangat diperlukan.
Metode, material, serta referensi yang digunakan dalam penelitian harus dilukiskan seterang-terangnya karena kemungkinan pengulangan percobaan ataupun penggunaan metode atau percobaan lain dalambidang yang serupa.
Interpretasi serta uji statistik untuk dinyatakan dalam beda signifikan dari parameter-parameter yang dicari atau yang diestimasikan.

4.3 Merencanakan percobaan
Percobaan yang akan dilakukan harus direncanakan sebaik-baiknya, sehingga dalam pelaksanaan percobaan sudah ada garis pembatas yang nyata tentang apa yang akan dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Ada dua hal penting yang harus memperoleh perhatian khusus dalam perencanaan percobaan, yaitu .
Langkah-langkah yang digunakan
Desain dari percobaan

4.3.1 Langkah-langkah dalam percobaan
Langkah-langkah yang diperlukan dalam percobaan harus jelas-jelas diberikan. Tiga hal penting harus diterangkan, yaitu sebagai berikut.
Rumuskan masalah serta pernyataan tentang tujuan percobaan atau penelitian.
Gambaran dari percobaan yyang akan dilakukan, termasuk tentang besarnya percobaan, jumlah dan jenis perlakuan, material yang dipakai, dan sebagainya.
Outline dari penganalisisa yang akan dikerjakan.

Masalah harus dirumuskan dan dijabarkan dalam pernyataan-pernyataan tentang tujuan percobaan. Kegunaan percobaan harus dinyatakan secara spesifik. Bagi peneliti muda yang menggunakan metode percobaan, sering membuat kesalahan dalm merumuskan tujuan penelitian, sehingga pernyataan tujuan dituangkan dalam bentuk yang terlalu ambisius dan terlalu umum. Karena itu, penelitian tersebut menjadi tidak visibel.

Dalam pernyataan tujuan penelitian, juga perlu dilukiskan luasnya persoalan yang akan dibuat generalisasinya, yaitu jenis populasi mana yang akan dibuat inverensinya. Misalnya, jika percobaan dibuat untuk suatu aspek dari penyakit malaria, apakah nanti generalisasi dan kesimpulan hanya berguna untuk pasien-pasien dalam rumah sakit tempat percobaan tersebut dilakukan atau untuk semua rumah sakit yang ada, ataukah untuk semua orang yang dihinggapi penyakit malaria. Hal ini sangat diperlukan dalam penelitian karena sipeneliti selalu mempunyai beberpa populasi dalam benaknya, kepada mana si peneliti tersebut akan mengadakan inferensi hasil percobaannya.

Gambaran tentang percobaan harus jelas dinyatakan. Perlakuan-perlakuan yang diberikan harus didefinisikan seterang-terangnya untuk dapat memperkirakan atau menjelaskan peranan dalam tiap perlakuan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Ketidakjelasan dalam memberikan gambaran serta deskripsi dari percobaan, akan menimbulkan banyak kesulitan seperti dibawah ini.

Kadangkala penelitian menjadi kabur sifatnya karena ketidakjelasan percobaan untuk mencapai sasaran untuk menjawab”apakah ” dan ”bagaimana”, atau ”mengapa”. Mari kita lihat semua contoh. Misalnya, untuk percobaan, peneliti menggunakan tiga perlakuan, yaitu
Wiski campur air
Tuak campur air
Bir bampur air

Yang diminumkan secukupnya pada beberapa orang pasien sampai pasien itu menjadi mabuk untuk melihat penyebab kemabukan bagi pasien saraf. Dengan percobaan tersebut diatas, si peneliti tidak akan memperoleh keterangan apakah mabuk disebabkan oleh air atau karena wiski, tuak, atau bir, ataukah karena oleh campurannya sendiri.

Dalam banyak hal kita lihat bahwa perlakuan yang dapat diuji dengan percobaan bukanlah yang ingin diuji sama sekali. Misalnya, seorang peneliti ingin menguji kebaikan dua teknis mengajar bahasa inggris, yaitu teknik A dan teknik B. Kedua teknik tersebut sudah kita definisikan seterang-terangnya, baik alat yang digunakan maupun pengukuran sukses dari kedua teknik diatas. Akan tetapi, dalam memilih objek penelitian yang terdiri atas guru-guru, beberapa guru telah memakai teknik menagajar bahasa inggris yang hampir bersamaan dengan teknik A dan percaya penuh bahwa teknik A tidak baik sama sekali. Jadi, jika guru-guru dibagi kelompok secara random , maka beberapa diantaranya akan terpilih untuk mengajar dengan teknik yang secara apriori tidak disenanginya ataupun tidak menarik minat sama sekali, sehingga kesimpulan yang salah dapat diambil dari percobaan diatas.

Spesifikasi dari perlakuan dapat menyababkan timbul kesulitan dalam hubungannya dengan kondisi pada mana perlakuan diabandingkan. Misalnya, tujuan dari percobaan adalah untuk melihat pengaruh penggunaan ZA terhadap satu jenis tanaman. Sudah terang, pengaruh ZA tersebut sangat ditentukan juga oleh keadaan zat hara lain yang ada dalam tanah dan juga berguna untuk tanaman diatas. Oleh karena itu, harus secara jelas digambarkan apakah percobaan tersebut hanya mengenai tambahan ZA pada tanah, ataukah untuk menguji pengaruh ZA pada tanah dimana tanaman itu tumbuh. Keputusan yang diambil haruslah sesuai dengan tujuan penelitian, lebih-lebih pada populasi kepada mana peneliti akan membuat inferensi. Kadangkala akan lebih baik jika percobaan menguji dua hal, yaitu perlakuan pada tanah yang ada zat-zat hara lain, dan perlakuan pada tanah tanpa zat hara lain. Percobaan dimana suatu perlakuan dicoba dengan adanya beberapa faktor lain biasa dinamakan percobaan faktorial.

adakalanya, terdapat kesangsian, apakah percobaan yang dilakukan benar-benar efektif karena sudah ada kontrol yang baik. Misalnya, peneliti ingin membandingkan kebaikan dari tiga perlakuan, katakan tiga jenis pupuk N dimana ketiga-tiga pupuk tersebut mempunyai kadar N yang sama. Yang berbeda hanya bahan campuran lain saja karen ketika jenis pupuk N tersebut mempunyai nama dagang yang berbeda. Walaupun kita punya kontrol, yaitu tanaman tanpa dipupuk, tetapi ada tiga hal yang membuat sipeneliti ragu-ragu:
Karena keefektifan dari jenis perlakuan sudah didemonstrasikan secara konsisten sebelumnya, maka kita tidak dapat mengetahui yang mana dari ketiga perlakuan tersebut yang baik.
Walaupun kadar N serupa, tetapi efektifitas perlakuan sering dipengaruhi oleh kondisi percobaan. Misalnya, pupuk N tidak akan memberikan responsi yang cukup tinggi pada tanah yang subur. Dalam hal ini, seyogyanya kontrol sangat diperlukan
Sukar diketahui perlakuan apa dan perlakuan yang mana yang paling efektif sesuai dengan kondisi, sehingga diperlukan, selain kontrol, juga replikasi dari percobaan.

Selain dari rumusan tujuan, gambaran tentang percobaan, maka hal ketiga yang harus mendapat perhatian dalam merencanakan percobaan adalah penjelasan tentang hal-hal yang diperlukan dalam mengadakan analisis dari hasil percobaan. Dalam draf perencanaan, harus diikutsertakan jumlah serta jenis replikasi, urutan, serta statistik-statistik yang digunakan, teknik-teknik dalam menguji hipotesis serta dalam mengambil kesimpulan termasuk analisis variansi serta level signifikan. Hipotesis harus dinyatakan dalam hipotesis nol.
Keepthorne (1962) memberikan langkah-langkah dalam merencanakan percobaan sebagai berikut.
Rumusan permasalahan
Formulasikan hipotesis
Pengaturan teknik serta desain percobaan
Penyelidikan atas kemungkinan-kemungkinan hasil yang diperoleh dari percobaan dan menghubungkan kembali kepada alasan-alasan mengapa percobaan harus dilakukan. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan bahwa percobaan-percobaan yang akan dilakukan benar-benar akan memberikan keterangan-keterangan yang dikehendaki.
Memberikan pertimbangan-pertimbangan terhadap teknik dan prosedur statistik yang akan digunakan untuk meyakinkan bahwa kondisi yang diperlukan untuk menggunakan teknik di atas cukup valid dan dapat dipertanggung jawabkan.
Laksanakan percobaan
Aplikasikan teknik statistik terhadap percobaan tesebut
Tarik kesimpulan dari estimasi-estimasi yang diperoleh serta dari tiap kuantitas yang diperoleh, serta dari tiap kuantitas yang dievaluasikan dengan ukuran-ukuran realibilitas yang lazim digunakan. Pertimbangan secara hati-hati validitas dari kesimpulan serta pada populasi mana kesimpulan tersebut ingin diinferensikan.
Berikan evaluasi terhadap seluruh penelitian dan bandingkan dengan percobaan-percobaan lain yang telah dilakukan dengan masalah yang serupa atau hampir serupa.

4.3.2 Desain Percobaan
Desain percobaan adalah step-step atau langkah yang utuh dan berurutan yang dibuat lebih dahulu, sehingga keterangan yang ingin diperoleh dari percobaan akan mempunyai hubungan yang nyata dengan masalah penelitian. Dengan adanya desain percobaan, maka keyakinan akan diperoleh data yang cocok serta dapat dianalisis secara objektif semakan bertambah, dan inverensi yang valid terhadap populasi yang diinginkan akan terjamin diperoleh. Karena desain percobaan diperlukan untuk sedapat mungkin memaksimumkan dan memperoleh keterangan-keterangan yang berhubungan dengan masalah penelitian, maka desain percobaan harus sederhana, evisien, serta efektif, sesuai dengan waktu, uang, tenaga kerja, serta material yang digunakan dalam percobaan tersebut. Ciri-ciri desain percobaan yang baik adalah sebagai berikut.
Desain yang baik dapat mengatur variabel-variabel dan kondisi percobaan secara utuh dan ketat, baik dengan manipulasi, randomisasi, dan kontrol.
perlakuan-perlakuan yang dilakukan dapat dibandingkan secara nyata dengan kontrol
desain yang baik dapat memaksimisasikan variance dari variabel-variabel yang berkaitan dengan hipotesis yang diuji, serta dapat meminisasikan variance dari variabel pengganggu serta variabel random yang berada diluar penelitian. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan adanya randomisasi terhadap perlakuan serta replikasi.
desain yang baik harus dapat menjawab dua pertanyaan pokok, yaitu validitas internal, atau apakah manipulasi percobaan memang benar-benar menimbulkan pebedaan, dan kedua, validitas eksternal atau sampai berapa jauh penemuan-penemuan percobaan cukup representatif untuk dibuat generalisasi pada kondisi yang sejenis.
desain yang baik, secara simultan dapat memberikan keterangan-keterangan tentang efek variabel perlakuan, variasi yang berkaitan denga variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi serta dapat diketahui interaksi antara kombinasi variabel bebas dan/ atau veriabel-variabel yang digunakan untuk membuat klasifikasi tertentu.
Dengan adanya desain yang baik, maka variabel-variabel yang relevan dapat dikontrol. Akan tetapi, dengan adanya manipulasi serta pengontrolan tersebut, kondisi menjadi artificial. Jika metode percobaan ini dilakukan terhadap barang hidup, lebih-lebih manusia, maka pembatasan-pembatasan artificial ini merupakan kelemahan darimetode percobaan.


4.4 Melaksanakan Percobaan
Setelah perencanaan rampung dan desain yang cocok telah dipilih, maka tibalah saatnya untuk melaksanakan percobaan. Hal yang pertama-tama perlu diperhatikan dalam pelaksanaan percobaan, adalah pengenalan terhadap material yang digunakan dalam percobaan. Jika material yang digunakan cukup banyak, maka diperlukan adanya check list dari material yang digunakan. Jika digunakan bahan-bahan kimia, maka harus jelas dicatat sumber, furifikasi, grading dari bahan-bahan tersebut. Misalnya, jika dalam perlakuan dipakai insektisida, maka perlu dijelaskan apakah insektisida tersebut dalam formulasi tertentu seperti 50 WP, 20 e.c., dan sebagainya.
Pengamatan terhaap performance percobaan harus dilakukan secara periodik sesuai dengan jadwal yang telah diatur. Adanya kelainan-kelainan harus dicatat serta dilakukan pengukuran-pengukuran. Observasi harus dilakukan dengan teliti, disamping menggunakan indera mata, maka gunakan tangan dan otak. Dalam pengamatan, maka diperlukan satu buku catatan yang dinamakan record book. Data yang diperlukan secepatnya dimasukkan dalam record book tersebut pada waktu observasi dilakukan. Jangan lakukan penundaan catatan dengan mempercayai ingatan. Hindarkan mencatat sementara dilembaran-lembaran lepas yang kemudian akan dimasukkan dalm recor book. Tiap entry, harus diberi tanggal yang terang.
Buku catatan berisi kolom-kolom dengan kriteria yang diperlukan dalam observasi. Selain kolom-kolom untuk mengisi data kuantitatif dari pengukuran, maka harus ada kolom tempat catatan kualitatif tentang performance percobaan. Dalam menggambarkan sifat-sifat kualitatif, maka gunakan kata-kata dan kamlimat yang terang dan mudah dimengerti. Jika perlu dibuat sketsa, diagram danlain-lain, maka lukisan, sketsa serta diagram harus jelas. Observasi menghendaki kesabaran. Pengamatan yang tergesa-gesa tidak ada gunanya sama sekali.
Data harus dimasukkan dalam record book dalam bentuknya yang paling primer, dan jangan data yang sudah diadakan kalkulasi atau transformasi.
Suksesnya percobaan tidak saja tergantung pada sumber fisik, tetapi juga dari sumber manusia itu sendiri. Maslah sikap, kecepatan bekerja, semnagat, kepercayaan terhadap diri sendiri sangat mempengaruhi keberhasilan pecobaan. Dua sifat penting dari setiap peneliti adalah sifat percaya kepada diri sendiri dan sifat antusias. Kesungguhan bekerja sangat dipengaruhi oleh kepercayaan diri sendiri, disamping perlunya dorongan serta bimbingan dari atasan ataupun dari pembimbing penelitian. Antusias adalah produk dari keadaan lingkungan.
Jika seorang peneliti mempunyai teman peneliti(co-worker) dalam melaksankan percobaan, maka team work amat diperlukan. Adanya team work dalam meneliti bersama teman, memberikan beberapa kebaikan, antara lain sebagai berikut.
Manusia lebih gembira bekerja bersam-sama dan dapat mengembangkan kepercayaan terhadap diri masing-masing serta antusias masing-masing.
Dapat menguranngi pengambilan kesimpulan yang salah karena dapat menghindarkan bias perorangan.
Dapat mengombinasikan keunggulan spesifik yang dipunyai oleh masing-msing peneliti sehingga diperoleh suatu keunggulan yang terpadu.

Kekurangan dengan bekerja secara taem work antara lain banyak terbuangnya man-lour, sukar memperoleh co-worker yang simpatik, dan dapat mengurangi kepercayaan mandiri serta menjurus kepada ketergantungan kepada kawan.
Setelah pengamatan selesai, maka tiba pula saatnya dilakukan analisis, interpretasi serta generalisasi dari penemuan-penemuan. Dalam membuat analisis, diperlukan seakali pengelompokan data dalam tabel, ataupun melakukan koding, jika diinginkan penelitian, dan dapat dalam bentuk estimasi terhadap populasi ataupun menguji hipotesis nol dalam memberikan jawaban terhadap tujuan penelitian. Teknik statistik yang lumrah dilakukan adalah menguji dengan:
Uji Z atau uji t,
Uji khai kuadrat,
Analisis variance,
Regresi dan korelasi,
Analisis probit.

Dari hasil pengujian, maka dapt diadakan interpretasi terhadap hasil percobaan serta dapat membuat generalisasi yang berlaku umum tentang populasi yang kita inginkan. Kesimpulan-kesimpulan kemudian dapat ditarik serta diberikan beberapa rekomendasi-rekomendasi. Hasil penelitian harus dilaporkan secara baik.

4.5. Syarat-syarat Percobaan yang baik.
Beberapa syarat-syarat harus dipenuhi oleh suatu percobaan yang memenuhi syarat. Syarat-syarat pokok antara lain adalah sebagai berikut.
percobaan harus bebas dari bias.
percobaan harus punya ukuran terhadap error.
percobaan harus punya ketetapan.
tujuan harus didefinisikan sejelas-jelasnya.
percobaan harus punya jangkauan yang cukup.

Percobaan harus bebas dari bias
Percobaan harus sedemikian rupa direncanakan sehingga tidak bias. Ketidak biasaan satu percobaan dapat dijamin dengan adanya desain yang baik. Secara garis besar, adanya randomisasi mengurangi sifat bias dari percobaan .

4.5.2. Harus ada ukuran terhadap error
Dengan adanya desain yang baik, maka error dapat diukur. Dalam istilah desain percobaan, error tidak sama artinya dengan kesalahan. Yang dimaksud dengan error adalah semua variasi ekstra, yang juga mempengaruhi hasil disamping pengaruh perlakuan-perlakuan. Dengan adanya ukuran error, maka percobaan menjadi objektiv sifatnya. Ukuran error ini bergantung pada desain percobaan yang dipilih.

4.5.3. Percobaan harus punya ketepatan
Percobaan harus dilakukan dengan desain yang dapat menanbah ketepatan. Ketepatan dapat terjamin jika error teknis dapat dihilangkan dan adanya replikasi pada percobaan. Ketepatan atau presisi dapat ditingkatkan jika error teknis, seperti kurang akuratnya alat penimbang, kurang baikknya dalam menggunkan meteran, dan sebagainya, maka jumlah replikasi dapat menambah ketepatan percobaan.

4.5.4. Tujuan percobaan harus jelas
Sering kita lihat bahwa percobaan-percobaan yang dilaksanakan oleh peneliti-peneliti muda kurang jelas tujuan percobaannya. Tujuan percobaan dengan mengatakan, ”bertujuan untuk membandingkan perlakuan A dengan perlakuan B”, dan sebagainya, adalah kurang jelas. Tujuan percobaan harus dibuat sejelas-jelas nya, ditambah dengan alasan-alasan yang kuat mengapa memilih perlakuan demikian. Pada kondisi mana hasilnya akan diaplikasikan serta pada daerah ilmu mana sasaran penelitian tersebut ingin diterapkan. Tujuan percobaan didefinisikan dan dapat dituangkan dalam hipotesis-hipotesis nol yang akan dikembangkan.

4.5.5. Percobaan harus punya jangkauan yang cukup
Tiap percobaan harus mempunyai jangkauan atau skope yang cukup sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk lebih memperjelas pengertian jangkauan atau skope, marilah kita lihat percobaan dibawah ini. Seorang peneliti ingin melihat pengaruh memberikan susu pada anak lembu. Peneliti akan melakukan percobaan. Timbul pertanyaan. Sampai umur berapa kita sebutkan lembu sebagai anak lembu ? sampai umur tiga bulan, sampai umur lima bulan, sampai umur dimana anak lembu berhenti menyusui? Pemilihan umur anak lembu yang akan dicoba dalam penelitian tersebut adalah jangkauan dari percobaan. Yang sudah terang, jangkauan atau skope dari percobaan diatas adalah kecil, karena sipeneliti hanya mengamati satu stage saja dari seluruh perkembangan lumbu sampai lembu tersebut mati. Skope penelitian harus sesuai dengan tujuan penelitian. Apakah percobaan hanya dilakukan untuk bibit satu tanaman untuk melihati daya kecambahnya, ataukah sampai tanaman tersebut berbuah? Dan sebagainya. Skope dari percobaan sangat penting artinya untuk keperluan mengadakn perulangan percobaan sehingga satu faktor sudah kita atur konstan. Akan tetapi, pada dewasa ini dengan adanya teknik percobaan faktorial, pengulangan percobaan telah dapat dilakukan secara simultan. Misalnya, jika ingin diuji pengaruh dua jenis pupuk dengan level yang berbeda, maka peneliti tidak perlu membuat dua percobaan, yaitu percobaan pertama untuk membandingkan level pupuk pertama, dan percobaan kedua untuk membandingkan level pupuk yang lain. Akan tetapi, dibuat satu percobaan denga kombinasi jenis pupuk dan level pemupukan dengan percobaan faktorial.

4.6. Jenis-jenis metode eksperimen
Percobaan banyak ragamnya. Ada yang dinamakan percobaan absolut, dimana percobaan digunakan untuk mengadakan estimasi terhadap suatu set observasi dengan hasil yang mempunyai reliabilitas yang tinggi. Misalnya, percobaan untuk menentukan muatan dari satu elektron. Dengan mengulang-ulang percobaan maka walaupun hasil pengamatan tidak sama, tetapi dengan desain dan teknik yang sepadan, peneliti dapat mengadakan estimasi terhadap muatan elektron tersebut. Di lain pihak, ada percobaan yang dilakuakan dengan mengadakan perbandingan. Ini dinamakan percobaan perbandingan(comparative exsperiment). Dalam hal ini, dilakukan satu percobaan dengan membandingkan perlakuan-perlakuan dan membandingkan pengaruh perlakuan-perlakuan tersebut terhadap satu populasi yang dipilih.
Dari sudut lain, metode eksperimen dapat juga dibagi atas penelitian eksperimental sungguhan (true experimental) dan eksperimental semu (quasi experimental). Percobaan kedua jennis metode eksperimental tersebut adalah seperti dibawah ini.

METODE EKSPERIMEN SUNGGUHAN METODE EKSPERIMEN SEMU
Menyelidiki kemungkinan hubungan sebab Akibat dengan desain dimana secara nyata Ada kelompok perlakuan dan kelompok Kontrol dan membandingkan hasil perlakuan Dengan kontrol secara ketat validitasinternalDan eksternal cukup utuh.

Contoh :
Penelitan tentang pengaruh dua metode mengajar bahasa inggris pada II SLA sebagai fungsi dari taraf intelegensia (tinggi, sedang, rendah) dan besarnya kelas (besar, kecil), dimana guru ditempatkan secara random berdasarkan intelegensia, besarnya kelas dan metode mengajar.

Contoh lain :
Percobaan faktorial tentang pengaruh pemupukan dan jarak tanam dengan adanya kontrol pada percobaan faktorial. Replikasi juga sangat ketat diawasi.
Penelitian yang mendekati percobaan sungguhan dimana tidak mungkin mengadakan kontrol/memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada kompromi dalam menentukan validitas internal dan eksternal sesuai dengan batasan-batasan yang ada.

Contoh :
Penelitian untuk mengetahui pengaruh dua macam cara menghafal kata-kata asing pada empat buah kelas SLA tingkat I tanpa menentukan penempatan murid-murid pada perlakuan secara random atau mengawasi waktu latihan secara cermat.

Contoh lain :
Penelitian untuk menilai efektifitas 3 cara mengajar konsep-konsep dasar suatu ilmu di SD apabila guru-guru tertentu dapat secara suka rela tanpa random memilih cara mengajar tertentu karena guru-guru tersebut tertarik akan bahan ajaran tersebut.




Perlu dijelaskan bahwa perbedaan antara penelitian percobaan sungguhan dan percobaan semu menjadi kecil jika objek dari percobaan adalah manusia. Percobaan sungguhan umumnya dilaksanakan pada penelitian-penelitian dalam ilmu natura.

4.7 Penelitian percobaan vs penelitian Ex Post Facto
Sebelumnya telah diterangkan bahwa penelitian dengan mengunakan metode deskriptif adalah penelitian ex post facto. Penelitian ex post facto adalah penyelidikan secara empiris yang sistematik, dimana peneliti tidak mempunyai kontrol langsung terhadap variabel-variabel bebas (Independent variables) karena manifestasi fenomena telah terjadi atau karena fenomena sukar dimanipulasikan.Inferensi tentang hubungan antar variabel dibuat tanpa interfensi langsung, tetapi dari fariasi yan seiring (concomitant variation) dari variabel bebas dengan variabel dependen ( Kerlinger, 1973) penelitian ex post facto mempunyai banyak perbedaan dengan metode eksperimental. Secara sederhana, metode eksperimen bekerja dengan logika berikut : jika A maka B, atau jika dipupuk, maka hasil naik. Peneliti mengadakan manipulasi terhadap A, dan kemudian melihat variasi yang seiring dari B, yang disebabkan oleh adanya variasi A. Jika terdapat variasi dari B, maka peneliti telah menemukan responsi yang diperlihatkan oleh B dengan cara mengontrol dan memanipulasikan A. Manipulasi A dilakukan dengan randomisasi. Dilain pihak, penelitian dengan ex post facto juga mempunyai A dan B, hanya saja B diamati dan A atau beberapa A juga diamati. Pengamatan A bisa saja sebelum, sesudah ataupun bersama dengan pengamatan B. Observasi A dan B adalah dalam keadaan sebagaimana adanya. Validitas logik dan validitas empiris yang dinginkan oleh kedua jenis penelitian di atas adalah sama. Perbedaan hanya terletak di dalam kontrol manipulasi dari variabel bebas. Pada ex post facto, kontrol langsung tidak mungkin dikerjakan, baik secara manipulasi ataupun randomisasi. Akibatnya, hubungan hipotetika yang dibentuk atau di pikiran ada pada penelitian ex post facto tidak dapat diuji dengan confidence seperti pada penelitian dengan metode percobaan.

GROUNDED RESEARCH
Grounded research adalah suatu penelitian yang metodenya dicetuskan oleh Glaser dan Strauss (1967), yang mana penelitian dengan metode ini adalah lawan dari penelitian secara verifikasi. Seperti diketahui, kebanyakan dari penelitian ex post facto beranjak dari teori, yang mana dari teori dijabarkan hipotesis-hipotesis sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan, dan kemudian diadakan verifikasi untuk menguji kebenaran hipotesis yang juga berarti menguji kebenaran teori. Akan tetapi, grounded research bertolak dari fakta, dan dari fakta tanpa teori dicoba mewujudkan suatu teori. Jenis research ini kemudian dikembangkan oleh Schlegel di Aceh pada tahun 1974, dan diberikan nama Grounded Research.

5.1 Definisi
Grounded research adalah suatu metode penelitian yang mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisis perbandingan bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori, dan mengembangkan teori dimana pengumpulan data dan analisis data berjalan pada waktu bersamaan.
Dari definisi diatas, maka terlihat bahwa metode yang digunakan dalam grounded research adalah reaksi terhadap metode penelitian yang asasnya verifikasi teori. Dalam grounded research, data merupakan sumber teori, dan teori disebut grounded karena teori tersebut berdasarkan data. Data yang diperoleh dapat dibandingkan melalui kategori-kategori.
Tujuan dari grounded research, seperti telah dinyatakan dalam definisi diatas adalah untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori, dan mengembangkan teori. Metode yang digunakan dalam grounded research adalah studi-studi perbandingan bertujuan untuk menentukan sampai berapa jauh ssuatu gejala berlaku umum. Penelitian juga bertujuan untuk menspesifikasikan konsep. Maksudnya, dalam mempelajari suatu kasus/gejala, maka perlu untuk membandingkan gejala/kasus tersebut dengan kasus/gejala serupa. Perbandingan demikian akan menjelaskan unsur-unsur baru khas dari kasus yang sedang dipelajari.
Penelitian juga dikerjakan untuk mengadakan verifikasi terhadap teori yang sedang dikembangkan dan dicek dalam kaitannya dengan data yang ditemukan. Verifikasi eksplisit tidak diperkenankan oleh penelitian grounded. Penelitian grounded juga memasukkan satu tujuan yang sangat berat yaitu mengembangkan teori.Bukti-bukti yang tepat tidak diperlukan untuk mengembangkan teori. Satu kasus saja dapat menunjukkan kategori umum dan beberapa kasus dapat membuktikan indikasi tersebut. Tugas peneliti adalah mengembangkan suatu teori yang dapat menjelaskan kebanyakan dan perilaku yang relevan.

5.2 Ciri-ciri gGrounded Research
Grounded research mempunyai ciri-ciri tersendiri. Ciri yang paling pokok dari grounded research adalah menggunakan data sebagai sumber teori, sehingga teori yang dibangun berdasarkan logika tidak ada tempatnya dalam penganut grounded research. Lihat diagram dibawah ini.

Diagram 4.1









Ciri lain dari grounded research adalah menonjolkan peranan data dalam penelitian. Data merupakan sumber dari teori dan sumber hipotesis.
Dasar analisis dari grounded research adalah sifat-sifat yang ditemukan, yang mana sifat-sifat yang penting untuk membedakan satu dengan yang lain dikelompokkan dalam kategori. Kategori dalam pengertian grounded research adalah konsep-konsep melalui mana data dapat diperbandingkan. Sebuah kategori adalah suatu konsep yang dapat digunakan untuk menegaskan perbedaan dan persamaan dari apa yang diperbandingkan. Kategori serta sifat-sifat yang ada didalam kategori tersebut merupakan dasar utama analisis dalam grounded research.
Pengumpulan data dan analisis data harus berjalan pada waktu yang bersamaan agar dapat dipastikan bahwa analisis selalu berdasarkan data. Apa yang ditemui pada suatu saat merupakan suatu pedomana langsung terhadap apa yang akan dikumpulkan berikutunya dan dimana data tersebut dicari.
Pengumpulan data pada grouded research tidaklah secara random, ataupun secara mekanik, tetapi pengumpulan data dikuasai oleh pengembangan analisis.
Rumusan hipotesis didasarkan atas kategori-kategori. Hipotesis adalah merupakan hubungan antara kategori-kategori dan sifat-sifatnya.
Hubungan antara hipotesis-hipotesis yang menghubungkan kategori-kategori merupakan serangkaian keterangana dari fenomena masyarakat yang dipelajari dan pengertian secara analisis dari hipotesis-hipotesis tersebut merupakan sebuah teori.

5.3. Langkah-langkah dalam grounded research
Langkah-langkah pokok dari grounded research adalah sebagai berikut.

5.3.1. Tentukan masalah yang ingin diselidiki
Adakalanya masalah ini ditemukan dilapangan ketika sipeneliti sedang mengumpulkan data untuk mencari informasi apa saja.

5.3.2. Kumpulkan data
Untuk memperoleh aspek deskriptif dari penelitian dan mengkaji hal-hal berikut.
Manakah kelompok-kelompok atau individu-individu yang penting yang harus diperbandingkan?
Apakah perbedaan dan persamaan diantara kelompok-kelompok itu? Jawaban dari petanyaan ini akan memberikan kategori-kategori.
Apakah cirri-ciri yang penting dari setiap kategori? Jawabannya, akan memberikan sifat-sifat.

5.3.3. Analisis dan Penjelasan
Ini merupakan tugas utama dari penelitian, dimana kategori-kategori serta hubungannya dianalisis dan dapat menjawab pertanyaan mengapa. Dalam fase analisis ini maka peneliti akan menjawab pertanyaan berikut.
Bagaimana kategori-kategori yang utama berhungan satu dengan yang lain? Jawaban dari pertanyaan ini akan menghasilkan hipotesis-hipotesis.
bagaimana hipotesis-hipotesis berhubungan satu dengan yang lain? Jawabannya akan memberi inti dari teori yang muncul dan akhirnya teori yang lengkap.

Membuat laporan penelitian
Kerja terakhir adalah melaporkan hasil penelitian dengan cara penulisan ilmiah.
Marilah kita beri contoh tentang sebuah penelitian yang sederhana dengan menggunakan grouded research. Misalnya seseorang ingin meneliti” sistem pengadilan suku tirurai “ yang masih menganut animisme. Dari pengamatan serta keterangan yang diperoleh dalam penelitian, maka data menunjukkan bahwa suku tirurai mempunyai pengadilan, dan pengadilan dibagi atas dua, yaitu sebagai berikut.
Pengadilan yang panas, yang menyidangkan masalah-masalah jahat, seperti pertengkaran, pembunuhan dan sebagainya.
Pengadilan yang baik, berkenaan dengan hal-hal yang baik, seperti menyidangkan perkawinan, dan lain-lain. Adanya dua pengadilan ini rupanya ada hubungannya tentang alam kemanusiaan suku tirurai. Perbuatan-perbuatan orang tirurai dikuasai oleh hati mereka. Jika orang tirurai senang, maka hatinya menjadi baik, sedangkan jika marah-marah, hatinya menjadi tidak baik, dan dapat berbuat jahat. Dari analisis diatas, maka ditemukan dua kategori dari pengadilan dan dua kategori dari hati orang tirurai, yaitu sebagai berikut.
































Dari empat buah kategori diketahui pula sifat-sifat umum dari masing-masing kategori tersebut.
Kemudian kategori-kategori diperoleh dihubungkan satu dengan yang lain dan mencoba menjelaskan kategori-kategori diatas, dan menghasilkan dua buah hipotesis, yaitu sebagai berikut.
Pengadilan yang baik diatur untuk mengurus kebutuhan orang-orang yang berhati baik.
Pengadilan yang panas diatur untuk mendinginkan hati yang jahat dan untuk membuat hati jahat menjadi baik.

Kemudian dari beberapa hipotesis memberikan sebuah teori, yaitu teori tentang sistem pengadilan orang tirurai.

5.4. Kelemahan dari grounded research
Kelemahan-kelemahan dari grounded research telah disajikan secara jelas oleh (Vredenbregt,1981) yang patinya adalah sebagai berikut.
Grounded research mengunakan analisis perbandingan dan mensifatkan analisis perbandingan sebagai penemuan yang baru. Karena grounded research tidak menggunakan probality sampling, maka generalisasi akan mengandung banyak bias.
Akhir suatu penelitian bergantung pada subjektifitas peneliti apakah hasilnya siatu teori atau hanya satu generalisasi saja, tidak ada seorangpun yang tahu kecuali peneliti itu sendiri.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa teori yang diperoleh dalam grounded researchadalah tidak didasarkan atas langkah-langkah sistematis melalui siklus empiris dari metode ilmiah. Spekulasi dari sifat inpresionistis menjadi kelemahan utama grounded research, sehingga diragukan adanya representatifitas, validitas dan reliabilitas dari data.
grouded researc dapat disamakan dengan pilot studi atau exploratory research belaka.

Karena dalam memberikan definisi banyak sekali digunakan aksioma atau asumsi mereka sendiri, maka sukar sekali dinilai dengan metode-metode umum lainnya yang sering dilakukan dalam peneltian kemasyarakatan.

6. METODE PENELITIAN TINDAKAN ( ACTION RESEARCH)
Apabila dihubungkan antara penelitian dan tindakan, maka dapat kita lihat hubungan antara penelitian dan tindakan yang dilaksanakan sebagai berikut.
Penelitian dan tindakan terpisah sama sekali. Penelitian memilih masalahnya sendiri, dan pelaksanaan tindakan praktis melaksanakan kegiatannya sendiri pula, dimana kedua mereka menpunyai tujuan yang berbeda. Jika ada dialog antara peneliti dan kaum praktisi, maka dialog ini bukan disengaja.
Terdapat interdependensi antara tindakan dengan penelitian, tetapi tindakan yang dilaksanakan oleh kaum praktisi tidak disambung dengan institusi penelitian, tetapi hanya dipandui oleh penelitian. Misalnya, ada program penelitian tentang program peningkatan produksi pangan yang dilaksanakan oleh Universitas, tentang pemilikan dan produktivitas, dan hasilnya digunakan oleh Dinas atau Departemen Pertanian. Akan tetapi, Dinas/ Departemen Pertanian tidak mempunyai kontrol terhadap masalah, desain, dan sebagainya, kecuali Dinas/ Departemen Pertanian menginginkan adanya data atau kesimpulan dari penelitian tersebut.
Program tindakan tidak bergantung dari penelitian, tetapi penelitian bergantung atau berkenaan dengan tindakan praktisi. Penelitian berupaya untuk mengadakan evaluasi terhadap tindakan dan biasanya para praktisi mendefinisikan masalah dan meminta institusi penelitian untuk meneliti tindakan tersebut. Dalam hal ini proyek penelitian bertujuan:
Menentukan pengaruh peningkatan produksi dari peningkatan kegiatan PPL didesa.
Mengadakan evaluasi terhadap koordinasi petugas-petugas dalam suatu tugas bersam, dan sebagainya

Ada juga tindakan atau kegiatan dialksanakan untuk kepentingan penelitian. Disini program dan tindakan dilaksanakan untuk menguji hipotesis dan tindakan dilakukan demi kepentingan penelitian. Misalnya, peneliti ingin melihat efektivitas dari tiga metode memperkenalkan KB.
Hubungan yang terakhir antara penelitian dan tindakan praktisi adalah program tindakan dan penelitian dilaksanakan bersam-sama oleh peneliti dan mengambil keputusan(decision maker), memeilih masalah, membuat desain, dan bersama-sama pula membuatnya serta dilaksanakan dalam masyarakat. Penelitian yang demikian dinamakan penelitian tindakan atau action research.

6.1 Definisi
Metode penelitian tindakan adalah suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dan decision maker tentang variabel-variabel yang dapat dimanipulasikan dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Peneliti dan decision maker bersama-sama menentukan masalah, membuat desain serta melaksanakan program-program tersebut.
Ciri utama dari penelitian tindakan adalah tujuannya untuk memperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehinggan dapat digunakan ketika kebijakan dilaksanakan. Suatu penemuan yang menyatakan bahwa pembentukan modal pada suatu negara tidak berkembang karena kebiasaan menyimpan emas, bukanlah kesimpulan yang operasioanl.Akan tetapi, suatu generalisasi dan kesimpulan penelitian yang menyatakan bahwa penolakan peggunaan kontraseptik disebabkan oleh penolakan istri karena ketakutan akan kesehatannya, adalah jenis penemuan yang operasional untuk kebijakan pemerintah secara langsung.
Penelitian tindakan mengadakan rangka kerja penelitian empiris yang didasarkan pada observasi objektif pada masa sekarang untuk memecahkan masalah-masalah baru, serta praktis dan aktual dalam kegiatan-kegiatan kerja.karena itu, penelitian tindakan mempunyai sifat lebih fleksibel, dan dapat mengorbankan kepentingan kontrol demi adanya inovasi dan bekerja dengan on the spot experimentation. Validitas intenal dan eksternal dari penelitian tindakan secara relatif lemah, karena sample kurang representatif masih dibenarkan, demikian juga kontrol terhadap variabel bebas tidak terlalu ditekankan.
Penelitian tindakan yang bertujuan memberikan penemuan-penemuan yang praktis, kurang memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

6.2 Tujuan Penelitian Tindakan
Tujuan dari penelitian tindakan berjenis-jenis, tetapi secara umum dapat diberikan tujuan-tujuan berikut.
Untuk memperoleh keterangan yang objektif dalam rangka membenarkan kebijakan atau kegiatan yang telah dibuat.
Untuk memberikan keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk kegiatan dan tindakan yang akan datang.
Untuk membenarkan penundaan aksi, pengambilan tindakan atau tidak mengambil tindakan apapun.
Untuk menstimulasikan pekerja-pekerja pelaksanaan program ke arah yang lebih dinamis serta lebih menggiatkan implikasi dari berbagai alat untuk mencapai tujuan.

Karena secara umum penelitian tindakan ditujukan untuk membuat perubahan, maka hal-hal yang ingin diteliti akan berkisar disekitar masalah perubahan,seperti :
1.apakah yang telah berubah?
2.seberapa jauh perubahan tersebut telah terjadi?
3.bagaimana dan berapa cepatnya perubahan tersebut terjadi?
4.kondisi bagaimana terdapat sebelum dan sesudah terjadi perubahan?
5.apa yang terjadi selama masa transisi?
6.stimulus-stimulus apakah yang telah merangsang perubahan?
7.melalui mekanisme apa perubahan terjadi?
8.apa yang menyebabkan terdapatnya stabilisasi pada titik tertentu dalam perubahan yang terjadi
9.dapatkah arah perubahan diketahui?

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, maka dapat ditelusuri masalah-masalah yang khas yang ingin dipelajari dengan menggunakan penelitian tindakan. Masalah serta fokus evaluasi akan berkisar kepada hal berikut.
Dampak dari program terhadap objek (perorangan, kelompok, masyarakat, intitusi) dan juga terhadap pembawa-pembawa perubahan sendiri.
Besarnya pengaruh program terhadap objek yang dituju, termasuk jumlah mereka yang sudah dipengaruhi oleh program dan derajat pengaruh atas mereka.
Waktu yang diperlukan untuk membawa pengaruh atau untuk dapat melihat dampaknya.
Pengukuran terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan,baik sebelum program diadakan maupun sesudah program diadakan. Perbedaan antara ukuran sebelum dan sesudah, cet. Par.,merupakan dampak dari program.
Mengenal dan mengadakan identifikasi terhadap kejadian serta proses yang ambil bagian antara sebelum dan sesudah dilakukan pengukuran-pengukuran.
Analisis bahan atau isi substansial dari program, seperti pengadaan komponen dan bagaimana komponen ini berhubungan satu dengan lain dan berhubungan dengan tujuan program dapat dibuat. Misalnya, jika tujuan adalah untuk meningkatkan produksi padi, maka isi dari bahan-bahan untuk meningkatkan produksi dalam program harus menunjang masalah diatas.
Aspek-aspek program yang menyangkut organisasi, struktur, serta aspek operasional dipelajari, seperti bagaimana program dilaksanakan, oleh siapa, dan dengan teknik apa.
Kajian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketika pembaharuan dilakukan, termasuk yang mempengaruhi pembuat pembaharuan sendiri, serta dari objek sendiri sehingga program tersebut dilaksanakan.
Pengamatan dan analisis terhadap arah dari perubahan yang terjadi dan dihubungkan dengan tujuan dari program.konsekuensi-konsekuensi dari program, baik langsung, tidak langsung, yang diharapkan dari program dianalisis dan diberikan interpretasi dalam hubungannya dengan tujuan program dan implikasinya.

6.3 kesukaran pelaksanaan penelitian tindakan
Kesulitan-kesulitan pelaksanaan penelitian tindakan dapat mencakup dua hal,yaitu kesulitan dalam mengadakan evaluasi serta kesulitan dalam koordinasi antara peneliti dan pelaksana kegiatan serta pelaksanaan program.
6.3.1 kesukaran evaluasi
Adakalanya tidak diperoleh pengaruh yang dapat diobservasikan atau beda yang nyata antara kelompok-kelompok dimana dilaksanakan program karena tidak ada kontrol untuk membuat hal-hal lain diluar program tidak berubah. Kesukaran analisis serta evaluasi juga disebabkan oleh kurangnya dokumentasi yang sistematik dan hati-hati dengan program,baik ketika dimulai, asal usul program, modifikasi, dan sebagainya. Kadangkala stimulus terlalu lemah relatif terhadap faktor-faktor lain yang terjadi diluar program, yang mana kadangkala berhubungan dengan jangka waktu yang terlalu pendek untuk mengevaluasi hasil. Juga karena waktu yang terlalu pendek untuk mengevaluasi hasil. Juga karena adanya sifat ”mengamati langsung” oleh peneliti terhadap manusia yang melaksanakan dan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan perubahan itu sendiri, maka dampak yang diperlihatkan tidak murni lagi.

6.3.2 kesukaran kerja sama
Karena dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini perlu sekali adanya kerja sama antara sipeneliti dengan si pelaksana kegiatan/decision maker, maka disana-sini terdapat kesukaran-kesukaran, antara lain sebagai berikut.
Sukar untuk menjelaskan apakah proyek tersebut suatu penelitian atau suatu program tindakan, sehingga sukar menentukan siapa yang akan merupakan pengambilan keputusan dalam kegiatan tersebut.
Adanya ketergantungan antara peneliti dan pelaksana program, sedangkan kedua pihak mempunyai profesi serta orientasi dan perbedaan dalam deskripsi pekerjaan, serta sistem ”rewarding” membuat pelaksanaan penelitian tindakan relatif sukar.
Ketentuan-ketentuan serta requirement yang interdisiplin dari penelitian tindakan (antara ahli antropologi dengan ahli pertanian, dan sebagainya) membuat penelitian tindakan merupakan satu penelitian yang menghendaki kerja sama yang utuh.

6.4 langkah-langkah dalam penelitian tindakan
Langkah-langkah pokok dalam penelitian tindakan adalah sebagai berikut.
Rumusan masalah dan tujuan penelitian bersama-sama antara peneliti dan pekerja praktis dan decision maker.
Himpun data yang tersedia tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah ataupun metode-metode dengan melakukan studi kepustakaan.
Rumuskan hipotesis serta strategi pendekatan dan memecahkan masalah.
Duat desain penelitian bersama-sama antara peneliti dengan pelaksana program serta rumuskan prosedur, alat, dan kondisi pada mana penelitian tersebut akan dilaksanakan.
Tentukan kriteria evaluasi, teknik pengukuran, serta teknik-teknik analisis yang digunakan.
Kumpulkan data, analisis, beri interpreetasi, serta generalisasi dan saran-saran.
Laporkan penelitian dengan penulisan ilmiah.





























DESAIN PENELITIAN



1. PENDAHULUAN
Penelitian adalah suatu proses mencarai sesuatu secara sistematik dalam waktu yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku. Untuk dapat menghasilkan suatu penelitian yang baik, maka sipeneliti bukan saja harus mengetahui aturan permainan, tetapi juga harus mempunnyai keterampilan-keterampilan dalam melaksanakan penelitian. Untuk menerapkan metode ilmiah dalam praktik penelititan, maka diperlukan suatu desain penelitian, yang sesuai dengan kondisi, seimbang dengan dalam dangkalna penelitian yang akan dikerjakan. Desain penelitian harus mengikuti metode penelitian.

Definisi
Desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja. Dalam pengertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses-proses berikut.
Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian.
Pemilihan kerangka konsepsual untuk masalah penelitian serta hubungan-hubungan dengan penelitian sebelumnya.
Memformulasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkau(scope), dan hipotesis untuk diuji.
Membangun penyelidikan atau percobaan.
Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variabel-varibel.
Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan.
Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data.
Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosessing data.
Menganalisis data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan generalisasi serta inferensi statistik.
Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian, diskusi serta interpretasi data, generalisasi, kekurangan-kekurangan dalam penemuan, serta menganjurkan beberapa saran-saran dan kerja penelitian yang akan datang.

Dari proses diatas, jelas terlihat bahwa proses tersebut terdiri atas dua bagian , yaitu:
Perencanaan penelitian, dan
Pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian.

Proses perencanaan penelitian dimulai dari identifikasi, pemilihan serta rumusan masalah, sampai dengan perumusan hipotesis serta kaitannya dengan teori dan kepustakaan yang ada. Proses selebihnya merupakan tahap operasional dari penelitian.

Beberapa ciri desain penelitian
Desain penelitian tidak pernah dilihat sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, tetapi dilihat dari segi baik atau tidak baik saja. Karena desain juga mencakup rencana studi, maka didalamnya selalu ada trade off antara kontrol atau tanpa kontrol, antara objektivitas dengan subjektivitas. Desain tergantung dari derajat akurasi yang diinginkan, level pembuktian dari tingkat perkembangan dari bidang ilmu yang bersangkutan.
Desain yang tepat sekali tidak pernah ada. Hipotesis dirumuskan bisa dalam bentuk alternatif, karena itu desain juga, dapat berbentuk alternatif-alternatif. Desain yang dipilih biasanya merupakan kompromi, yang banyak ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan praktis.

2. DESAIN DALAM MERENCANAKAN PENELITIAN
Dalam merencanakan penelitian, desain dimulai dengan mengadakan penyelidikan dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, dalam memecahkan masalah. Dari penyelidikan itu, akan terjawab bagaimana hipotesis dirumuskan dan diuji dengan data yang diperoleh untuk memecahkan suatu masalah. Dari sini pula dapat dicari beberapa petunjuk tentang desain yang akan dibuat untuk penelitian yang akan dikembangkan. Pemilihan desain biasanya dimulai ketika seseorang peneliti sudah mulai merumuskan hipotesis-hipotesisnya. Akan tetapi, aspek yang paling penting adalah berkenaan dengan apakah suatu hipotesis yang khas diterjemahkan kedalam fenomena-fenomena yang diamati dan apakah metode penelitian yang akan dipilih akan dapat menjamin diperolehnya data yang diperlukan untuk menguji hipotesis etrsebut. Sampai pada taraf ini, sipeneliti dihadapkan kepada pilihan metode yang akan dipakai dalam penelitian. Apakah akan digunakan metode survei, metode eksperimen, ataukah metode kualitatif yang tidak berstruktur. Juga telah dapat dipertimbangkan apakah dengan biaya yang tersedia serta keterampilan dari orang-orang yang akan dilibatkan dalam penelitian sudah cukup tersedia untuk melaksanakan penelitian. Desain untuk perencanaan penelitian bertujuan untuk melaksankan penelitian, sehingga dapat diperoleh suatu logika, baik dalam pengujian hipotesis, maupun dalam membuat kesimpulan. Desain rencana penelitian yang baik akab dapat menterjemahkan metode-metodeilmiah kedalam operasioanal penelitian secara praktis. Tiapa langkah dari desain perencanaan penelitian memerlukan pengambilan keputusan yang tepat oleh sipenelitit. Keputusan yang diambil harus merupakan kompromi antara penggunaan metode ilmiah yang sangat sukar dan kondisi sumber yang tersedia. Kompromi-kompromi ini dapat menghasilkan rencana penelitian yang cocok dengan masyarakat ilmiah setempat serta taraf pengembangan ilmu itu sendiri.

3. DESAIN PELAKSANAAN PENELITIAN
Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih prosedur dan teknik sampling, alat-alat untuk mengumpulkan data kemudian membuat coding, editing, dan memproses data yang dikumpulkan. Dalam pelaksanaan penelitian termasuk juga proses analisis data serta membuat pelaporan. Oleh Suchman ( 1967) desain dalam pelaksanaan penlitian dibagi atas:
Desain sampel.
Desain alat (instrumen)
Desain administrasi.
Desain analisis.

3.1. Desain Sampel
Desain sampel yang akan digunakan dalam operasional penelitian amat tergantung dari pandangan efisiensi. Dalam desain sampling ini termasuk:
Mendefinisikan populasi.
Menentukan besarnya sampel.
Menentukan sampel yang representatif .

Definisi dari sampling sangat bergantung dari hipotesis. Dalam menentukan besar sampel, pemilihannya perlu dihubungkan dengan tujuan penelitian serta banyaknya variabel yang ingin dikumpulkan.
Dalam merencanakan desain dari sampling diperlukan teknik-teknik untuk memperoleh sampling yang representatif. Memang terdapat perbedaan pendapat apakah sampling yang diambil harus probability sampling atau judgemental sampling, tetapi perbedaan diatas baru perlu dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan kesimpulan yang akan diambil serta inferensi statistik yang akan dibuat. Kombinasi dari kedua teknik sampling diatas dapat juga dilaksanakan.
Jika metode penelitian yang dipilih adalah metode eksperimental, maka dalam masalah desain sampling, penekanan lebih diarahkan kepada pemilihan desain percobaan yang cocok. Dalam pemilihan desain percobaan ini sipeneliti selalu dituntun oleh derajat akurasi yang ingin dicapai, validitas yang ingin diperoleh serta error yang ingin diminimisasikan. Kondisi homogenitas dari media percobaan juga menentukan desain percobaan mana yang lebih baik dan lebih efisien untuk digunakan.

3.2. Desain dari instrumen atau alat
Yang dimaksud dengan alat disini adalah alat untuk mengumpulkan data. Walau metode penelitian apa saja yang digunakan, masalah desain terhadap alat untuk mengumpulkan data sangat menentukan sekali dalam pengujian hipotesis. Alat yang digunakan dapat saja sangata berstruktur (seperti check list dari quesioner atau schedule), kurang berstruktur seperti interview guide ataupun suatu outline biasa didalam mencatat pengamatan langsung. Pemilihan alat harus dievaluasikan sebaik mengkin sehingga alat tersebut cocok dengan informasi yang diinginkan untuk memperoleh data yang cukup reliable. Kecuali penelitian percobaan, maka alat yang digunakan dalam penelitian sosial sukar menjamin terdapatnya validitas mutlak dari observasi data. Satu alat bisa saja untuk satu kegunaan, tetapi menjadi tidak valid untuk tujuan yang lain. Secara umum desain dari alat haruslah dievaluasikan sebelum digunakan untuk dapat menjamin evisiensi dalam mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk menguji hipotesis.

3.3. Desain analisis
Secara ideal desain analisis sudah dikerjakan lebih dahulu sebelum pengumpulan data dimulai. Jika desain dalam menformulasikan hipotesis sudah cukup baik, maka desain analisis secara paralel dapat dikembangkan dari desain merumuskan hipotesis tersebut. Hipotesis tersebut dianggap baik jika ia konsisten dengan analisis yang akan dibuat.
Dalam desain hipotesis, juga harus sudah dispesifikasikan hubungan-hubungan dasar yang akan dianalisis. Dalam analisis hubungan-hubungan antara variabel bebas dan variabel dependen, maka variabel lain yang mempengaruhi kedua variabel diatas perlu dianalisis.
Hipotesis merupakan titik tolak analisis, tetapi pemikiran imajinatif serta pikiran-pikiran asli akan muncul dalam analisis dan disesuaikan dengan data yang tersedia. Dalam analisis, si peneliti akan mencocokkan hipotesis dengan data, menambah yang kurang, mengurangi yang lebih. Walaupun demikian, lukisan akhir yang dihasilkan oleh analisis harus menyerupai gamabara yang dilukiskan oleh hipotesis.
Dalam desain analisis, maka diperlukan sekali alat-alat yang digunakan untuk membantu analisis. Penggunaan statistik yang tepat yang sesuai dengan keperluan analisis harus dipilih sebaik-baiknya. Penggunaan statistik sebagai alat analisis telah sangat berkembang, tetapi dalam analisis yang dilakukan, jangan dilupakan asumsi-asumsi dasar yang ditempelkan pada penggunaan statistik tersebut, serta kearah mana inferensi tersebut akan dibuat.

4. JENIS-JENIS DESAIN PENELITIAN
Pengelompokan desain percobaan yang menyeluruh belum dapat dibuat dewasa ini, karena masing-masing ahli mengelompokkan jenis desain penelitian sesuai dengan kondisi dari ilmuwan sendiri. Misalnya, McGrath (1970) membagi desain penelitian atas lima , yaitu : percobaan dengan kontrol, studi, survei, investigasi, dan penelitian tindakan. Sedangkan Barnes (1964) membagi desain penelitian atas :
studi ”sebelum-sesudah” dengan kelompok kontrol
studi ”sesudah saja” dengan kelompok kontrol
studi ”sebelum-sesudah” dengan satu kelompok
studi ”sesudah saja” tanpa kontrol
percobaan ex post facto

Sedangkan Selltiz,et. al.,(1964) membagi desain penelitian atas tiga, yaitu :
desain untuk studi eksporatif dan formulatif
desain untuk studi deskriptif
desain untuk studi menguji hipotesis kausal

Shah (1972) mencoba membagi desain penelitian atas 6 jenis, yaitu:
Desain untuk penelitian yang ada kontrol
Desain untuj studi deskriptif dan analitis
Desain untuk studi lapangan
Desain untuk studi dengan dimensi waktu
Desain untuk studi evaluatif-nonevaluatif
Desain dengan menggunakan data primer atau data sekunder

4.1 Desain penelitian yang ada kontrol
Desain penelitian ini adalah desain percobaan atau desain bukan percobaan. Kedua desain tersebut mempunyai kontrol. Dalam desain percobaan, beberapa variabel dikontrol dan beberapa merupakan kontrol. Dalam percobaan, sipeneliti mengadakan manipulasi terhadap beberapa variabel atau faktor yang merupakan fenomena yang menyebabkan munculnya hasil yang sedang diteliti. Desain percobaan ini biasanya dipakai untuk meneliti fenomena natura.
Dilain pihak, terdapat kesulitan untuk mengadakan percobaan jika objeknya adalah manusia. Dalam hal ini, maka percobaan sejati tidak bisa dilakukan. Karena itu, sipeneliti mengadakan percobaan semu dengan kontrol yang tidak berapa ketat. Kontrol ini dapat dilaksanakan dengan randomisasi, manipulasi melalui pemilihan kelompok yang mempunyai sifat atau karakter yang berbeda dan dengan mengontrol secara statistik. Karena kelompok kontrol ditentukan secara alamiah tanpa manipulasi, maka sukar dipastikan apakah adanya hubungan secara statistik antara fenomena memang disebabkan oleh variabel yang sedang diteliti atau oleh variabel luar lain.

4.2 Desain penelitian deskriptif-analisis
Penelitian yang noneksperimental dapat dibagi atas penelitian deskriptif dan penelitian analisis. Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam desain studi deskriptif ini, termasuk desain untuk studi formulatif dan eksploratif yang berkehendak hanya untuk mengenal fenomena-fenomena untuk keperluan studi selanjutnya. Dalam studi deskriptif juga termasuk :
studi untuk melukiskan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena, kelompok atau individu.
studi untuk menentukan frekuensi terjadinya suatu keadaan untuk meminimisasikan bias dan memaksimumkan reliabilitas.

Disamping penelitian deskriptif, terdapat juga desain untuk penelitian analitis. Walaupun sangat kecil perbedaan antara studi deskriptif dan analisis, tetapi pada studi analitis, analisis ditujukan untuk menguji hipotesis-hipotesis dan mengadakan interpretasi yang lebih dalam tentang hubungan-hubungan. Berbeda dengan penelitian eksperimen, pada desain penelitian analitis ini, analisis dikerjakan berdasarkan data ex post fakto. Desain studi analisis lebih banyak dibatasi oleh keperluan-keperluan pengukuran-pengukuran, dan menghendaki suatu desain yang menggunakan model seperti pada desain percobaan.
Sesuai dengan metode penelitian, maka desain deskriptif dan analisis dapat dibagi pula atas tiga, yaitu : desain studi historis, desain studi kasus, dan desain survei. Seperti sudah dijelaskan, metode penelitian sejarah mencakup empat aspek, yaitu : mencari material historis, menguji secara kritis asal dan keaslian sumber sejarah, serta validitas dari isi sumber tersebut memberikan interpretasi dan pengelompokan dari fakta-fakta, serta hubungannya dengan formulasi serta melukiskan hasil penemuan. (Gee, 1950)
Sedangkan pada desain studi kasus, unit sosial selalu dilihat sebagai suatu keseluruhan, apakah unit tersebut adalah perorangan, keluarga ataupun kelompok sosial lainnya. Penelitian biasanya mencakup hubungan-hubungan atau proses, seperti krisis dalam keluarga, pembentukan kesetiakawanan, masalah penyesuaian terhadap penyakit, dan sebagainya. Sedangkan desain untuk survei mengikuti pola percobaan dengan kontrol statistik ataupun dengan analisis korelasi atau regresi, dalam menentukan tingkat hubungan yang terjadi.

4.3. Desain penelitian lapangan atau bukan
Desain percobaan dapat dilihat dari sudut apakah penelitian tersebut merupakan setting dengan menggunakan lapangan atau tidak. Desain penelitian sejarah, misalnya, kurang menggunakan penelitian lapangan, karena banyak kerja penelitian dilakukan untuk mencari dokumen-dokumen di museum, perpustakaan dan sebagainya. Sebaliknya , desain untuk penelitian percoabaan lebih banyak dilakukan di lapangan. Keadaan serta tingkat kontrol yang dapat dilakukan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya lapangan dalam penelitian.
Pada metode sejarah, kerja di lapangan hanya merupakan sebagian dari kerja penelitian seluruhnya. Walaupun teknik dalam metode kasus dan metode sejarah hampir bersamaan, tetapi secara relatif, desain studi kasus lebih banyak melakukan kerja lapangan dibandingkan dengan metode sejarah.
Metode survei menggunakan kombinasi dari teknik yang mencakup sampel yang cukup besar sampai teknik pengamatan yang kurang formal dengan sampel kecil dan kualitatif, ataupun studi yang cukup intensif mengenai suatu fenomena. Metode survei dilaksanakan di lapangan, karenanya desain untuk penelitian survei sangat bergantung dari pemilihan respoden, pemilihan alat mengumpulkan data, prosedur-prosedur yang dilaksanakan serta kondisi di lapangan.
Desain percobaan dengan mempertimbangkan ada tidaknya penelitian lapangan sangat erat hubungannya dengan ada tidaknya kontrol dalam mengumpulkan data. Peneliti dapat membauat kontrol yang ketat pada percobaan laboratorium. Kemampuan memakai kontrol sedikit berkurang jika desain percobaan dilakukan dilapangan. Kontrol semakin berkurang jika desain noneksperimental dilaksanakan dilapangan. Kontrol boleh dikatakan tidak sama sekali jika desain nonexperimental dilakukan bukan sepenuhnya dilapangan dalm mengumpulkan data seperti desain metode sejarah.

4.4. Desain penelitian dalam hubungan dengan waktu
Dalam hubungannya dengan waktu serta pengulangan penelitian, maka kita lihat bahwa penelitian percobaan dan penelitian dengan menggunakan metode sejarah memakai desain dimana pendidikan dilakukan dalam satu interval waktu tertentu. Akan tetapi, dalam desain survei, masalah waktu yang digunakan dalam mengumpulkan data perlu sekali diperhatikan. Jika data dikumpulkan dengan cara crossection, maka penelitian dinamakan one time crossectional study. Akan tetapi, jika data dikumpulkan untuk suatu periode tertentu, dan responden yang digunakan pada periode lain adalah kelompok yang tidak serupa dengan kelompok pada pengumpulan data pertama, maka desain tersebut dinamakan desain study panel. Jika data dikumpulkan pada lebih dari dua titik waktu dengan menggunakan kelompok responden yang sama, maka desain studi dinamakan study longitudinal.
Jika data dikumpulkan beberapa kali dengan interval yang reguler yang memakai suatu interval yang lama, maka penelitian tersebut dinamakan studt time series, atau study trend. Dalam studi trend, desain yang digunakan ialah membuat perbandingan antara kelompok percobaan sebelum perbandingan antara kelompok percobaan sebelumnya, dengan kelompok kontrol sesudah itu. Masalah dalam desain ini timbul karena sukar mengamati perubahan-perubahan internal dan check-ing dibatasi dengan hanya mencocokkan kelompok kontrol dengan kelompok percobaan.
4.5. Desain dengan tujuan evaluatif atau bukan
Dalam suatu horizon penelitian, maka dapat dipikirkan suatu penelitian yang melulu dengan tujuan mengumpulkan pengetahuan atau penelitian dasar, dan pada ujung horizon lain adanya penelitian tindakan yang bertujuan terapan yang hasilnya dengan segera diperlukan untuk merumuskan kebijakan. Kemudian terdapat pula suatu penelitian yang dinamakan penelitian evaluatif yang merupakan penelitian yang berhubungan keputusan administratif terhadap aplikasi hasil penelitian. Suchman (1967) memberi definisi penelitian evaluatif sebagai penentuan (apakah berdasarkan opini, catatan, data subjektif, atau objektif) hasil (apakah baik atau tidak baik, sementara atau permanen, segera ataupun ditunda) yang diperoleh dengan beberapa kegiatan (suatu program, sebagian dari program, dan sebagainya) yang dibuat untuk memperoleh suatu tujuan tentang nilai atau performance. Kita lihat bahwa orientasi dari penelitian evaluatif adalah accesman atau appraisal dari kualitas dan kuantitas kegiatan serta meneliti faktor-faktor yang membuat kegiatan tersebut berhasil. Dalam penelitian evaluatif ini, peneliti harus membuat desain sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang aspek-aspek evaluasi dapat terjawab. Misalnya, pertanyaan tentang kualitas dan kuantitas upaya, hasil dari upaya, efisiensi, spesifikasi mengapa dan bagaimana program tersebut sukses, dan sebagainya. Desain penelitian hampir selalu menjurus kepada model percobaan sebelum- dan sesudah pengukuran dari kelompok percobaan dan kelompok kontrol. Desain harus berisi analisis, desain dilapangan atau tidak dilapangan. Desain penelitian evaluatif harus selalu mengenai perubahan yang terjadi menurut waktu.
Walaupun tujuan dari penelitian evaluatif dan penelitian non evaluatif sangat berbeda, tetapi signifikannya hasil penelitan harus dinyatakan menurut standar ilmiah yang berlaku.

4.6 Desain penelitian dengan data primer/sekunder
Sebagian besar dari tujuan desain penelitiaan adalah untuk memperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, dan valid. Dalam mengumpulkan data, maka sipeneliti dapat bekerja sendiri untuk mengumpulkan data atau menggunakan data orang lain. Jika data primer yang diinginkan, maka sipeneliti dapat menggunakan teknik dan alat untuk mengumpulkan data seperti observasi langsung( participant atau nonparticipant ), menngunakan informan, menggunakan questionair, schedule atau interview guide, dan sebagainya.
Jika data yang di inginkan adalah data primer, maka desain yang dibuat harus menjamin pengumpulan data yang efisien dengan alat dan teknik serta karakteristik dari responden. Jika peneliti ingin menggunakan data sekunder maka sipeneliti harus mengadakan evaluasi terhadap sumber, keadaan data sekundernya, data juga sipeneliti harus menerima limitasi-limitasi dari data tersebut. Hal ini lebih-lebih diperlukan jika diinginkan untuk memperoleh data mengenai masa yang lampau.
Desain penelitian merupakan perpaduan antara keputusan dan refisi dimana suatu keputusan yang diambil selalu diiringi dengan pengaruh keseimbangan dalam proses. Sudah terang, tiap keputusan harus di sandarkan kepada metode ilmiah. Tetapi menterjemahkan keputusan tersebut dalam suatu prosedur operasional yang khas memerlukan seni dan ketrampilan. Desain yang ideal sekurang-kurangnya harus mempunyai ciri-ciri berikut ini. ( Suchman 1967 )
dibentuk berdasarkan metode ilmiah
dapat dilaksanakan dengan data dan teknik yang ada
cocok untuk tujuan penelitian, dalam artian harus menjamin validitas penemuan untuk memecahkan masalah
harus ada orisinalitas dalam membuat desain yang inventif sifatnya
ada keindahan dalam desain, dalam artian bahwa desain tersebut seimbang
desain harus cocok dengan biaya penelitian, dan dengan kemampuan sumber manusia

























STUDI KEPUSTAKAAN


PENDAHULUAN
Mengadakan survei terhadap data yang ada merupakan langkah yang penting sekali dalam metode ilmiah. Memperoleh informasi dari penelitian terdahulu harus dikerjakan, tanpa memperdulikan apakah sebuah penelitian menggunakan data primer atau data sekunder, apakah penelitian tersebut menggunakan penelitian lapangan ataupun laboratorium atau di dalam museum. Menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun merupakan kerja kepustakaan yang sangat diperlukan dalam mengerjakan penelitian.
Survei terhadap data yang telah tersedia dapat dikerjakan setelah masalah penelitian dipilih atau dilakukan sebelum masalah dipilih. Jika studi kepustakaan dilakukan sebelum pemilihan masalah, penelaahan kepustakaan termasuk memperoleh ide tentang masalah apa yang paling up to date untuk dirumuskan dalam penelitian.
Dengan mengadakan survei terhadap data yang telah ada, sipeneliti bertugas menggali teori-teori yang berkembang dalam bidang ilmu yang berkepentingan, mencari metode-metode serta teknik penelitian, baik dalam mengumpulkan data atau dalam menganalisis data, yang telah pernah digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu; memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindarkan terjadi duplikasi-duplikasi yang tidak diinginkan. Studi diteratur, selain dari mencari sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai kemana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang, sampai kemana terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang telah pernah dibuat, sehingga situasi yang diperlukan dapat diperoleh. Dengan mengadakan studi terhadap literatur yang telah ada, sipeneliti juga dapat belajar secara lebih sistematis lagi tentang cara-cara menulis karya ilmiah, cara mengungkapkan buah pikiran yang akan membuat sipeneliti lebih kritis dan analitis dalam mengerjakan penelitiannya sendiri.



MENGENAL PERPISTAKAAN
Dalam rangka menelusuri literatur serta menelaah studi yang ada pada perpustakaan maka sipeneliti harus lebih dahulu mengenal perpustakaan secara lebih baik, termasuk sistem pelayanan, sistem penyusunan literatur, dan klasifikasi buku yang dianut oleh perpustakaan tersebut.

2.1 Sistem pelayanan
Sistem pelayanan perpustakaan secara umum dapat dibagi atas dua jenis, yaitu :
sistem tertutup
sistem terbuka

2.1.1 Sistem tertutup
Pada pelayanan tertutup pembaca tidak dapat langsung ke rak buku untuk memillih buku atau bacaan lainnya. Pembaca hanya dapat mengetahui koleksi yang ada diperpustakaan tersebut melalui katalog. Dengan melihat pada katalog, sipembaca mencatat nomor buku atau literatur yang diinginkan, dan menyerahkan pada petugas penjaga untuk mencari buku yang bersangakutan di rak. Petugaslah yang mengambil buku dirak dan menyerahkan buku atau literatur tersebut kepada pembaca.

2.1.2 Sistem terbuka
Jika perpustakaan menganut sistem pelayanan terbuka, si pembaca dapat langsung menuju ke rak buku. Biasanya susunan buku pada rak berdasarkan topik umum. Dalam sistem ini, si pembaca dapat melihat-lihat sampai menemukan bahan yang dicari. Resiko bagi perpustakaan terbuka adalah tidak adanya jaminan bahwa buku atau bahan-bahan lain tidak akan hilang dan terbawa oleh si pembaca. Sebenarnya sistem pelayana tersebut tidaklah nyata pembagiannya seperti di atas. Banyak di perpustakaan dimana dari sebagian dari buku/literatur merupakan pelayanan tertutup, sedangkan sebagian lagi merupakan pelayanan terbuka.

2.2 Sistem klasifikasi
Dalam mengenal perpustakaan, si peneliti juga harus mengetahui sistem klasifikasi buku/literatur yang di anut oleh perpustakaan tersebut, dalam mengatur buku-bukunya. Sistem klasifikasi diatur menurut jumlah bahan bacaan yang ada, mulai dari yang tersulit sampai kepada yang cukup standar, ataupun yang sederhana, yang disesuaikan dengan kondisi perpustakaan yang sedang dibina.
Dalam klasifikasi standar, maka ada dua sistem umum klasifikasi yang dianut, yaitu sebagai berikut.
Sistem library of congress ( LC )
System Dewey decimal ( DD )

Kedua system tersebut pada prinsipnya mempunyai suatu filosofi yang sama yaitu menandai buku-buku dengan nomor catalog. Jika peneliti mengetahui system klasifikasi mana yang dianut oleh suatu perpustakaan, maka pencarian literature yang diinginkan tidak akan mengalami kesukaran sama sekali.

2.2.1 Sistem library of congress
Pada klasifikasi dengan menggunakan system Sistem library of congress, klasifikasi besar dinyatakan dengan huruf, sedangkan klasifikasi dibawahnya di nyatakan dalam angka. Dalam sisitem klasifikasi ini, ilmu pengetahuan di bagi atas 20 golongan besar, yang simbolnya ditentukan dengan huruf. Kemudian tiap golongan besar ini dibagi atas golongan lagi, dan dinyatakan dengan sebuah huruf lagi. Pembagian dibawahnya dinyatakan dengan angka. Dengan demikian, angka kode pada buku terdiri atas huruf dan angka. Kode-kode dan angka tersebut dimuat dalam satu catalog yang ada pada perpustakaan tersebut.

Kelas utama dari sistem Sistem library of congress adalah sebagai berikut;
A kerja umum, poligrafi M musik
B falsafah, agama N seni murni
C sejarah P bahasa, kesenian
D sejarah dan topografi Q ilmu natura
E-F amerika R obat-obatan
G ilmu bumi, antropologi S pertanian, tanaman, ternak
H ilmu sosial T teknologi
I ilmu politik U ilmu kewiraan
K hukum V ilmu laut
L pendidikan Z bibliografi, ilmu pustaka

Klasifikasi bawahan, di tambah sebuah huruf lagi, sehingga menjadi dua huruf. Mari kita lihat sebuah contoh :
Q............................... Sains natura
QL....................... Zoologi
QR....................... Bakteriologi
QC....................... Fisika
S................................. Pertanian
SB........................ Hortikultura, hama, penyakit
SF........................ Ulat sutra, membuat madu, dan sebagainya

Jika seorang ingin mencari buku tentang insekta, maka sudah terang insekta tersebut sudah termasuk dalam klasifikasi ilmu natura Q, dan termasuk dalam Zoologi, OL kemudian klasifikasi bawahan dicari dengan melihat pada kode huruf dan angka:
Q................................ Sains, ilmu natura
QL........................Zoologi
QL.460................. Insekta
QL.461.................. Periodecals, society, dan sebagainya
QL.496…………..Biologi, metamorfosis,dan sebagainya

Untuk mencari buku tentang fotometri, maka kita lihat bahwa ilmu tersebut termasuk dalam sains, dan termasuk dalam fisika;
Q……………………..Sains, ilmu natura
QC………………..Fisika
QC……………Fotometri

Pemberian nomor catalog sangat bergantung pada perpustakaan yang bersangkutan. Misalnya, sebuah buku berjudul :”Pemberantasan Insekta Pertanian” yang di karang oleh Josef Waldo, dapat dicari dan diberi klasifikasi sebagai berikut :
QL……………………Insekta
S………………………Pertanian
RC……………………..Obat-obatan

2.2.2 Sistem Dewey Decimal
Kalau kode buku dengan system Library of Congress terdiri atas huruf dan angka, maka pada system Dewey Decimal, kode sebuah buku terdiri atas angka melulu. System Dewey Decimal cukup baik untuk perpustakaan yang koleksi bahan bacaannya tidak terlalu banyak. Akan tetapi, jika perpustakaan cukup besar, maka penggunaan klasifikasi system Library of Congress lebih efisien. Perpustakaan di Indonesia umumnya memakai klasifikasi Dewey Decimal.
Dalam klasifikasi Dewey Decimal, cabang ilmu pengetahuan dibagi atas 9 jenis ditambah dengan 1 jenis pengetahuan yang bersifat umum yang mana kelompok ini hampir sangat umum sehingga mencakup semua bidang ilmu yang lain. Tiap kelompok dibagi atas 10 bagian, dan bagian-bagian ini dibagi lagi atas subbagian yang lebih kecil. Kelas yang besar dinyatakan dengan 3 buah angka. Kemudian baru ada satuan-satuan di belakang koma(decimal). Pembuatan indeks dengan klasifikasi Dewey Decimal dalam kelas besar adalah sebagai berikut:
000 umum (General Work )
100 Falsafah
200 Agama
300 Pengetahuan Sosial
400 Filologi
500 Pengetahuan Alam ( Natural Sciences )
600 Seni yang Berguna ( Usefull Arts )
700 Seni Murni
800 Kesusaatraan ( Literature )
900 Sejarah

Jika diinginkan suatu buku mengenai pengetahuan alam maka kodenya pada digit pertama adalah 5 (kode 500), sedangkan untuk ilmu sosial, digit pertamanya adalah 3 (kode 300). Jika kita ingin mencari sebuah buku tentang insekta, misalnya Entomologi karangan Borror dan De long, misalnya, maka cara mencari indeks atau nomor catalog dari buku tersebut adalah berikut ini.
Ilmu pengetahuan alam
Zoologi
Insekta
Dan jika lebih detail lagi, jika ingin dicari buku mengenai kumbang (Coleoptera), maka klasifikasi menurut Dewey Decimal adalah berikut ini.
500 Pengetahuan alam
590 Zoologi
595 Insekta dan invertebrate lain
595.7 Insekta
595.7 Kumbang
Kode klasifikasi sebuah buku Kimia Organik adalah sebagai berikut.
500 Pengetahuan alam
540 Kimia
547 Kimia organik
Beberapa kode untuk ilmu social adalah sebagai berikut.
300 Ilmu social
310 Ilmu statistik
330 Ilmu ekonomi
340 Ilmu hukum
350 Pemerintahan
380 Perdagangan
320 Umum
321 Bentuk negara
321.1 Keluarga
321.2 Tribal
321.3 Feodalisme

Mengenal pengaturan ruang
Pengenalan terhadap ruangan yang digunakan pada perpustakaan juga penting sekali bagi si peneliti yang ingin menggunakan sumber-sumber pada perpustakaan. Dalam pengenalan ruangan ini, termasuk juga mengenal petugas-petugas di perpustakaan, yang mana petugas ini cukup mempunyai pengetahuan tentang klasifikasi dan sistem cataloging perpustakaan tersebut. Ruang perpustakaan biasanya terdiri atas ruang untuk meletakkan buku teks, ruang untuk jurnal, majalah-majalah ilmiah, ruang untuk leaflet serta ruang untuk buku referensi, ensiklopedia, thesis-thesis. Menurut besarnya perpustakaan pembagian ruang pada perpustakaan juga berbeda-beda.

3. SUMBER PADA PERPUSTAKAAN
Dalam menelusuri bacaan-bacaan dalam perpustakaan dalam rangka mencari keterangan-keterangan tentang buku serta bahan bacaan apa yang ada pada suatu perpustakaan, maka sumber utama adalah sebagai berikut.
Kartu catalog perpustakaan
Buku referensi

3.1 Kartu katalog perpustakaan
Salah satu kunci untuk mengetahui bahan bacaan apa yang ada pada satu perpustakaan adalah kartu katalog. Untuk tiap buku biasanya indeks yang mengurutkan semua publikasi yang dipunyai oleh perpustakaan. Tiap kartu catalog berisi nama pengarang, judul publikasi, edisi, kota penerbit, nama penerbit, tahun, kolesi(yaitu keterangan tentang jumlah halaman, ilustrasi, tabel, dan lain-lain), dan anotasi (misalnya: karangan ini adalah PH. D thesis, atau disampaikan pada Seminar di Tokyo, dan sebagainya). Tiap buku atau publikasi biasanya mempunyai 3 buah kartu, yaitu kartu catalog menurut pengarang(author card), kartu menurut isi(subject card) dan kartu menurut judul(title card). Kartu katalog disusun menurut abjad seperti kamus, dan abjad pertama sesuai dengan jenis kartu. Jika kartu pengarang, maka abjad pertama adalah huruf pertama dari pengarang. Jika kartu isi, maka huruf pertama adalah huruf dari isi buku atau bahan bacaan yang bersangkutan.
untuk kartu pengarang, maka huruf awal dari nama pengarang yang tertulis pada kartu tersebut adalah.
Huruf awal nama untuk pengarang Indonesia yang tidak mempunyai marga
Huruf awal dari nama marga, untuk pengarang Indonesia yang mempunyai nama marga
Huruf awal dari family name untuk pengarang-pengarang asing

Kartu menurut isi menyatakan isi dari suatu bahan bacaan. Kartu menurut isi harus ditelusuri menurut bidang ilmu. Misalnya,jika kita ingin mencari suatu buku tentang Administrasi Pemerintahan, maka jangan cari kartu isi dengan heading”Administrasi Pemerintahan”, tetapi harus dicari dengan heading ”Ilmu politik” atau Political Science.
Selain kartu pengarang, kartu isi, dan kartu judul, maka ada kartu lain yang dinamakan kartu cross reference. Kartu ini untuk memandui pembaca jika pembaca sangsi dalam pengaturan alphabet suatu bahan bacaan. Misalnya seorang peneliti ingin mencari buku atau literatur tentang Primitif Agriculture. Dia mencoba mencari kartu isi dengan heading ”primitive Agriculture”. Di akhir kartu-kartu, ia tidak menemukan adanya primitive Agriculture, tetapi ada sebuah kartu cross reference yang berisi tulisan:

PRIMITIVE AGRICULTURE
See
AGRICULTURE, PRIMITIVE

Ini menyatakan bahwa bahan mengenai primitive agriculture tidak diurutkan dalam Primitive, Agriculture, tetapi dalam heading Agriculture, Primitive, dengan alphabet A, sebagai huruf awal.
Adakalanya kita temui juga kartu cross reference yang bertulis:

PERTANIAN
Lihat juga
KEHUTANAN, PETERNAKAN

Kata ”lihat juga” ini tertulis di belakang kartu catalog biasa(kartu pengarang, kartu isi atau kartu judul) dan menunjukkan pada si pembaca atau si pencari bahan kepustakaan di heading mana bahan bacaan tersebut dapat dicari. Ini berarti bahan tersebut dapat juga dicari dalam heading Kehutanan atau heading Peternakan.
Cara menyusun kartu-kartu catalog pada perpustakaan biasanya memakai dua cara. Pertama susunan terpisah. Disini, tiap kartu disusun tersendiri menurut abjad. Dengan demikian, terdapat tiga jajaran catalog, yaitu jajaran catalog pengarang, jajaran katalog isi, dan jajaranakatalog judul. Biasanya ada dua jajaran, yaitu katalog pengarang judul dan jajaran katalog isi.
Cara kedua adalah menurut susunan kamus. Ketiga macam kartu di atas disusun menjadi satu dan menurut abjad. Menyusun kartu katalog menurut system si atas biasanya kurang efisien.
Marilah kita lihat 3 jenis kartu katalog sebagai sumber pada perpustakaan untuk mencari buku Dasar-dasar Entomologi Pertanian karangan Moehammad Nazir, yang diterbitkan oleh Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada tahun 1966.



3.1.1 kartu katalog menurut pengarang

a.
b
c
d
e
f
g


h


Dari buku catalog tersebut nyata bahwa system klasifikasi yang dianut perpustakaan adalah system Library of Congress. Call number dari buku tersebut adalah QL. 460. Dibawah call number terdapat apa yang dinamakan cutter number, yaitu M.24 cutter number menyatakan tentang pengarang atau isi buku tersebut. Kartu catalog tersebut berisi :
call number e) nama penerbit
cutter number f) tempat dan tahun penerbitan
nama pengarang g) kolesi
judul buku h) anotasi

kartu buku menurut judul

QL. 460

M24
DASAR-DASAR ENTOMOLOGI PERTANIAN
Moehammad Nazir
Fakultas Pertanian Unsyiah
Darussalam, 1966
240 hlm., 62 gambar

1) Pentingnya Insekta 4) Klasifikasi Insekta
2) Morfologi Insekta 5) Pemberantasan Insekta
3) Fisiologi Insekta

Kartu diatas adalah kartu judul dari buku yang sama. Call number-nya menurut klasifikasi Library of Congress. Catatan yang ada di kartu, sama juga dengan catatan pada kartu pengarang, hanya saja yang menjadi abjad pertama adalah D.




3.1.3 kartu buku menurut isi

QL. 460

M24
PERTANIAN
Moehammad Nazir
Fakultas Pertanian Unsyiah
Darussalam, 1966
240 hlm., 62 gambar

1) Pentingnya Insekta 4) Klasifikasi Insekta
2) Morfologi Insekta 5) Pemberantasan Insekta
3) Fisiologi Insekta


301.2 SOCIAL BEHAVIOR
Lai
s
LAIYA, BANBOWO
Solidaritas kekeluargaan dalam
Salah satu desa di Nias-Indonesia.
Gajah Mada Univ. Press

Yogyakarta,1980
Vii, 113 p., illus., app.,bibl.
Sistem Dewey Decimal

Buku Referensi
Selain dari kartu katalog, maka ada satu lagi sumber pada perpustakaan dimana sipeneliti dapat menggunakannya sebagai penunjuk informasi dalam menelusuri bahan bacaan. Sumber ini adalah buku referensi. Referensi berasal dari bahasa inggis, reference, kata sifat yang berasal dari to refer, yang berarti menunjuk pada. Buku-buku referensi ini dapat berisi uraian singkat atau penunjukan nama dari bahan bacaan tersebut. Bahan dari buku referensi tidaklah untuk dibaca dari halaman pertama sampai tamat. Akan tetapi, digunakan pada bagian-bagian penting yang diinginkan saja. Buku-buku referensi pada perpustakaan dapat dibagi dua jenis, yaitu sebagai berikut
Yang memberikan informasi langsung
Yang memberikan petunjuk pada sumber informasi

3.2.1 Referensi yang memberi informasi langsung
Jenis referensi yang memberikan informasi langsung adalah: kamus, ensiklopedia, direktori, almanak, kamus biografi, buku atlas, dan statistik. Beberapa contoh dapat dilihat dibawah ini.

Kamus:
Kamus Inggris Indonesia, karangan John M. Echols dan Hassan Shadly, diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta.
Webster’s Student Dictionary, diterbitkan oleh CC Meriam Co., New York.

Ensiklopedia
Encyclopedia Brittanica, diterbitkan oleh Encyclopedia Brittanica Ltd., Chicago
Encyclopedia Americana, diterbitkan oleh Americana Co., New York
Van Nostrand’s Scientific Encyclopedia diterbitkan oleh D. Van Nostrand Co., Inc., Princeton, New Jersey.
Encyclopedia Of Real Estate Appraisal, diterbitkan oleh Prentice Hall Inc., Englewood Cliff.

Buku Statistik
Statistical Yearbook Of Indonesia diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Statistical Pocketbook Of Indonesia ditetrbitkan tiap tahun oleh Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Statistical Yearbook, diterbitkan tiap tahun oleh Perserikatan Bangsa-bangsa(UN).
International Labor Statistical, diterbitkan tiap tahun oleh International Labor Office, Geneva.

Buku Referensi yang Memberi Petunjuk.
Selain dari buku refensi yang langsung memberikan informasi maka ada lagi buku referensi yang tidak memberikan informasi langsung, tetapi memberikan petunjuk tentang sumber informasi. Dalam buku referensi jenis ini termasuk: Bibliografi, indeks, dan abstak. Contoh-contoh diberikan dibawah ini

Buku-buku bibliografi
Philippine Population Studies: A Selected Biblipgrafy With Selected Annotations, oleh R.A. Bulatao et., al., diterbitkan U.P. Sosial laboratory, Diliman, Filipina.
The Bibliography of Agriculture, diterbitkan tiap bulan oleh National Agricultural Library, USDA, Washington.
Bibliography of Published Research Of World Employment Programme, diterbitkan oleh ILO Office, Geneva, tahun 1979.

Journal Indeks
Agriadex, International Information System for Agricultural Sciences and Technology, diterbitkan tipa bulan oleh, Apimondia, Roma.
Index of Indonesia Learned Perodicals ( Indek Majalah Ilmiah), diterbitkan tiap tahun oleh De Indonesian Institute of Science.
Population Index, diterbitkan tiap tiga bulan oleh Office of Population Research, Prinseton Univ., New Jersey.

Journal Abstract
Excerpta Indonesia, diterbitkan dua kali setahun oleh centre for documentation on modern Indonesia of The Royal Institute of Linguistic and Antropology, Leiden.
Indonesian Abstracts: Containing Abstracts of Scintific Articles Appering in Indonesia, diterbitkan triwulanan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.
World Agricultural Economics and Rural Sociology Abstract, terbit triwulanan oleh Commonwealth Bureau of Agricultural Economics, Oxford, England.
Biological Amstracts, diterbitkan oleh University of Pensylvania, Filadelfia.

4. MEMBACA DAN MENCATAT BAHAN BACAAN
Selain bahan bacaan ditelurusi, maka tibalah membaca dan mencatat bahan-bahan perpustakaan yang bersangkutan untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Membaca dan mencatat informasi merupakan bagian yang penting dalam studi kepustakaan

4.1 Membaca
Membaca segala keterangan yang ada hubungannya dengan penelitian sangat penting peranannya dalam studi kepustakaan. Disamping pentingnya membaca, dilain pihak membaca juga mempunyai kerugian-kerugian. Wilson Jr. (1952) memberikan dua tujuan utama membaca, yaitu untuk mencari apakah keterangan-keterangan mengenai penelitian ada dan tersedia, dan kedua, untuk memperoleh latar belakang yang cukup dalam di dalam bidang penelitian yang dilakukan sipeneliti.
Secara umum kegunaan membaca adalah sebagai berikut.
a. untuk menghindarkan duplikasi yang tidak diperlukan dengan melihat apakah masalah penelitian sudah pernah diuji ataukah masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang masalah tersebut.
b. untuk memperoleh ide, keterangan-keterangan, metode-metde yang berguna dalam memecahkan masalah, aaupun dalam rangka memilih masalah-masalahnya sendiri.
c. Untuk memnunjukkan data komparatif yang berguna dalam mengadakan interpretasi hasil penelitian nantinya.
d. untuk menambah pengetahuan umum sipeneliti.
Di samping banyak kegunaannya, membaca juga mengandung bahaya, antara lain sebagai berikut.
ketakutan akan ketergantungan terhadap kepada apa yang dibaca.
Memperoleh informasi yang salah

4.2 Mengutip informasi
Karena daya ingat seseorang selalu di batasi oleh dimensi waktu, maka apa yang penting dalam bacaan perlu dicatat.
4.2.1 Jenis-jenis kutipan
Kutipan-kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk penting adalah : quotasi, paraphrase, kesimpulan, dan praise. Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu kata pun dari-dari kata-kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dua buka dan koma dua tutup. Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata si peneliti atau si pembaca sendiri. Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan darai keseluruhan pemikiran yang ada dalam bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Precis (baca: praisi) adalah pemendekan isi yang lebih padat dari summary, dengan memilih secara hati-hati material yang akan dipendekkan dengan menggunakan kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana orisinal artikel.

4.2.2. Teknik mencatat dan mengutip
Dalam rangka membuat catatan tanpa apa yang kita baca, maka perhatikan hal-hal berikut.
Sebelum membaca dan mengutip dari buku teks maka lihat dahulu daftar indeks isi dibelakang buku tersebut untuk mencari hal-hal yang berkenaan dengan materi yang akan dikutip.
Jika kutipan ingin dibuat dari majalah ilmiah, leafled, dan sebagainya, maka lihatlah lebih dahulu judul dari artikel.
Baca dahulu secara keseluruhan dari artikel yang ingin kita kutip.
Kemudian baru baca sekali lagi secara hati-hati dan seksama untuk membaca catatan yang diperlukan.

Biasanya kertas yang digunakan untuk membuat catatan adalah kertas standar yang meerupakan kartu tebal dengan ukuran 12 ¾ x 20 ¾ cm ( 5 x8). Cara kita mencatat bergantung dari jenis kutipan. Mencatat kutipan hanya dari artikel yang di anggap penting sekali. Abstrak atau summary dari suatu artikel dapat kita gunakan sebagai kutipan. Jika hanya sebagian dari kalimat atau paragraf yang dikutip, maka kalimat yang tidak dikutip diberi titik-titik (...). andaikata ada sesuatu yang kita buat kutipan, misalnya membuat satu kata menjadi italics atau dicetak miring, maka kita harus membuat keterangan didalam tanda kurung kotak. Lihat contoh kutipan dibawah ini.








Jika sipeneliti ingin mencatat ikhtisar dari bacaannya, maka diatas catatannya harus ditulis IKHTISAR. Ikhtisar adalah ringkasaan dari artikel dan dengan membaca ikhtisar tersebut seseorang yang bersangkutan. Contoh menulis ikhtisar dapat dilihat dibawah ini.













Jika dalam mencatat, si peneliti memberi komentar tentang ikhtisar dari bacaan, maka pada kartu tersebut ditulis ulasan, lihat contoh.












Dalam membuat catatan-catatan, apakah dalam bentuk kotasi, ikhtisar atau ulasan, jangan lupa menuliskan sumber artikel tempat dimana catatan tersebut diambil. Cara menulis referensi dimana artikel tersebut dimuat atau dibaca mempunyai aturan tersendiri. Walaupun demikian, yang penting adalah judul bahan atau artikel, nama pengarang, tahun penerbitan, halaman, serta penerbit dan tempat penerbit untuk buku teks, tetapi untuk majalah ilmiah yang diperlukan adalah nama pengarang, judul artikel, nama majalah ilmiah serta nomor dan kalau bisa bulan penerbitan, serta halaman dari artikel tersebut dimuat. Sebaiknya, jika ada kuotasi, maka halaman dimana terletak bahan kuotasinya dikutip, ditulis dengan jelas.

5. SUMBER BACAAN
Sumber bacaan banyak sekali, dari buku teks sampai dengan surat kabar. Dalam penelitian ilmiah, selain dari buku referensi, digunakan juga sumber-sumber berikut :
Buku teks (texsbook)
Jurnal
Periodical
Yearbook
Buletin
Annual review
Recent advances

5.1 buku teks
Buku teks adalah tulisan ilmiah yang dijilid rapi yang diterbitkan dengan interval yang tidak tentu. Buku teks berkenaan dengan suatu bidang ilmu yang isinya menyeluruh dan biasanya digunakan sebagai buku wajib dalam mata kuliah tertentu. Contoh dari buku teks adalah sebagai berikut.
Pengantar ekonomi pertanian, karangan Mubyarto. Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian, pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3S), Jakarta, tahun 1977.
Experimental Design, Procedures for the Behavioral Sciences, karangan Robert R. Kirk, diterbitkan oleh Brooks/Cole Publishing Co., Belmont, California, tahun 1968.

5.2 Jurnal
Jurnal adalah majalah ilmiah yang berisi tulisan ilmiah atau hasil-hasil seminar yang diterbitkan oleh Himpunan profesi Ilmiah. Biasanya terbit sekali tiga bulan, atau sekitar 3-4 jilid setahun. Contoh :
Journal of Economic Entomology, diterbitkan oleh Entomological Society of America.
Journal of Animal Science, diterbitkan oleh American Society of Animal Science.
The Economic Record, diterbitkan 4 kali setahun oleh The Economic Society of Australia and New Zealand.

Jurnal berisi lebih dari satu artikel ilmiah dalam satu volume, yang ditulis oleh banyak pengarang-pengarang ilmuwan.
Ada juga jurnal yang berisi hanya singkatan-singkatan artikel dari pengarang, yang dinamakan Review Journal dan Abstract Journal.

Review Journal
Review journal adalah majalah ilmiah yang berisi artikel-artikel yang dipersingkat dalam suatu cabang pengetahuan. Singkatan artikel bukan saja berisi ikhtisar dari hasil penemuan tetapi dimulai dari masalah dan termasuk metode penelitian. Review journal diterbitkan secara berkala. Contoh :
Science progress
Biological review
Botanical review
Quarterly review of biology
Economic review

Abstract Journal
Abstract journal adalah majalah ilmiah yang berisi singkatan atau ikhtisar dari artikel-artikel dari jurnal-jurnal terbaru. Artikel singkatan berisi judul, metode serta kesimpulan. Artikel yang disingkatkan tidak lebih dari artikel yang baru diterbitkan oleh jurnal-jurnal, antara 8-10 bulan yang lampau. Contoh :
Biological Abstract (terbit sejak tahun 1926)
Field Crops Abstract (terbit sejak 1939)
Plant Breeding Abstract (terbit sejak 1930)
International Abstract of Biological Sciences (terbit sejak 1956)

5.3 Periodical
Periodical adalah majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh lembaga-lembaga baik pemerintah atau swasta yang berisi hasil penelitian yang dikerjakan. Banyak periodical diterbitkan oleh Perguruan Tinggi.
Contoh :
Ekonomi dan Keuangan Indonesia, diterbitkan triwulanan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Bulletin of Indonesian Economic Studies, diterbitkan oleh Institute of Pacific Studies, Australian National University, Canberra, Australia.
Food Research Institute Studies, diterbitkan oleh Food Research Institute, Stanford University, Stanford, California.
Philipine Agriculturist, diterbitkan sekali sebulan oleh University of the Philippine at Los Banos, College, laguna, Philippines.

5.4 yearbook
Yearbook adalah buku mengenai fakta-fakta dan statistik setahun yang diterbitkan tiap tahun oleh lembaga pemerintah atau swasta, yang diterbitkan tiap tahun. Adakalanya tiap tahun yearbook yang dikeluarkan membahas suatu masalah bidang ilmu.
Contoh :
U.N. Statistical yearbook for Asia and the Far East
F.A.O. Production Yearbook
Departemen Pertanian Amerika Serikat tiap tahun mengeluarkan yearbook bernama Yearbook of Agriculture. Tiap tahun mengandung artikel mengenai masalah, seperti :
Yearbook of Agriculture tahun 1953 mengenai Insekta
Yearbook of Agriculture tahun 1958 mengenai Tanah (Land)
Yearbook of Agriculture tahun 1960 mengenai Power to Produce

Buletin
Buletin ialah tulisan ilmiah pendek yang terbit secara berkala yang berisi catatan-catatan ilmiah ataupun petunjuk-petunjuk ilmiah tentang satu kegiatan operasional. Biasanya dikeluarkan oleh Lembaga Negara ataupun oleh Himpunan Profesi Ilmiah. Tiap buletin biasanya berisi satu artikel saja. Jika buletin berisi satu artikel mengenai hasil penelitian, sering disebut contributions.
Contoh :
USDA Farmers Bulletin, ditebitkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat. USDA Farmers Bulletin No. 2045 berisi artikel tentang Comercial Production of Tomoto. USDA Farmers Bulletin No. 2121 berisi artikel tentang Disk Plow.
Technical Bulletin No. 526 dari University of Florida, Gainville, Florida, berisi artikel : Soil Moisture Relations in the Costal Citrus Area of Florida.
Contributions of Central Research Institute For Agriculture, Bogor, Indonesia No 60 tahun 1980, berisi artikel The Agroclimatic Maps of Kalimantan, Maluku, Irian Jaya and Bali, West and East Nusa tenggara, karangan L.R Oldeman, Irsal Las and Muladi, diterbitkan oleh Central Research Institute for Agriculture, Bogor, Indonesia.

5.6 Circular
Circular adalah tulisan ilmiah pendek dan praktis, biasanya dikeluarkan oleh Lembaga Negara atau swasta seperti Universitas, Lembaga Penelitian, Dinas-dinas, dan sebagainya. Circular diterbitkan tidak dengan interval tertentu.
Contoh :
Agricultural Extention Service, University of Florida Circular. Circular No. 1945, April 1962 berisi artikel “ Pineaples in Florida “ oleh Willian H. Matheews.
Agricultural Extension Service, University of Arizona, Tucson. Circular No. 223, Juli 1957 berisi artikel dengan judul “ Diseases of Cotton in Arizona “ oleh Ivan j. Shields.

5.7 Leaflet
Leaflet berisi karangan kecil yang sifatnya ilmiah praktis. Diterbitkan oleh Lembaga-lembaga Negara atau swasta, dengan interval yang tidak tetap.
Contoh:
USDA Leaflet, dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Aamerika Serikat. USDA Leaflet No.506, Mei, 1950, Memuat karangan “ Wind Erosion Control on Irrigated Land” karangan Stephen J. Mech.

5.8 Annual Review
Annual review berisi ulasan-ulasan tentang literatur yang telah diterbitkan selama masa setahun atau beberapa tahun yang lampau. Dalam menggunakakn Annual review ini, maka carilah Annual review yang terbaru, kemudian baru mundur ke jilid-jilid sebelumnya.
Contoh :
Annual Review of Microbiology ( sejak 1947).
Annual Review of Biochemistry (sejak 1932).
Annual Review of Pland Physiology ( sejak 1950).

5.9 Beberapa Sumber Bacaan Lain
Disamping dari bentuk-bentuk sumber bacaan seperti yang diterangkan di atas, banyak lagi sumber-sumber lain yang tidak dapat diturunkan satu per satu. Akan tetapi, beberapa diantaranya dicoba menurunkannya dibawah ini.

5.9.1 Off Print
Adakalanya perpustakaan mendapat kiriman artikel dari pengarang yang terlepas dari majalah atau dari buku teks. Bahan demikian dinamakan off print.

5.9.2 Reprint
Jika satu dari artikel yang sudah dimuat dalam satu majalah ilmiah dan dicetak ulang oleh penerbit secara terpisah dan diberi sampul, bahan demikian dinamakan reprint.

5.9.3 Recent Advances
Recent Advances adalah sejenis majalah ilmiah yang berisi, artikel-artikel yang tidak diperoleh dalam review jurnals. Beberapa Recent Advances adalah sebagai berikut.
Advances In Food Research (terbit sejak 1948).
Advances In Genetics ( terbit sejak 1947).
Advances In Agronomy ( terbit sejak 1949).
Survey of Biological Progress ( terbit sejak 1949).
Fortechritte der Botanik ( terbit sejak 1931).

5.9.4 Bibliografi
Bibliografi adalah buku yang berisi juduk-judul artikel yang membahas bidang ilmu tertentu. Dalam buku tersebut diberikan judul, pengarang, tahun penerbitan, nama penerbitan serta halaman dari sumber dimana artikel tersebut dimuat. Bibliografi ini merupakan buku refensi pada perpustakaan, dan pembaca dengan membaca buku bibliografi ini memperoleh petunjuk tentang artikel-artikel yang berguna dalam bidang ilmu tertentu, dan dalam buku atau majalah ilmiah mana artikel tersebut dapat diperoleh. Misalnya:
Bibliography on Socio Economic Aspects of Asian Irrigation, diterbitkan oleh IRRI Los Banos dan A/ D/C New York, tahun 1976.
Bibliografi terpilih untuk latihan dalam penelitian masyarakat perkotaan. Dikarang oleh Mitsuo Nakamura, dann diterbitkan oleh Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta tahun 1977.

Jika bibliografi tersebut bukan saja berisi judul dan pengarang, tetapi juga berisi ikhtisar dari hasil penelitian, maka bibliografi tetrsebut berisi anotasi.

5.9.5 Handbook
Handbook adalah buku kecil yang diterbitkan oleh Lembaga Negara atau swasta yang biasanya berisi petunjuk-petunjuk tentang suatu masalah tertentu, ataupun tentang suatu fenomena yang bersifat umum. Handbook ini bisa saja mempunyai pengarang, ataupun tanpa pengarang, tetapi dikumpulkan oleh suatu instansi tertentu.
Contoh :
Handbook for Agricultural Adviser yang berjudul : Agricultural Demontrations. Handbook ini tidak ada pengarang, tetapi diterbitakan oleh European Productivity Agency, Paris.
Plain English Handbook, dikarang oleh J. Martyn Walsh dan Anna K. Walsh, dan diterbitkan oleh McCormick-Mathers Publishing Co., Inc Wichita, Kansas tahun 1959.

5.9.6 Manual
Manual adalah buku petunjuk tentang mengerjakan atau melakukan sesuatu secara terperinci. Biasanya mengenai suatu masalah praktis, baik dalam mengukur, melakukan kegiatan atau memakai sesuatu secara benar.
Contoh :
Manual of Fumigation for Insert Control oleh H.A.U. Monru, yang diterbitkan oleh FAO Rome, tahun 1961.
Productivity Measurement Manual karangan Shunsaku Nishikawa et.al diterbitkan oleh Asian Productivity Organization, Tokyo, tahun 1969.





























PERUMUSAN MASALAH





1. PENDAHULUAN
Tiap kerja meneliti harus mempunyai masalah penelitian untuk dipecahkan. Perumusan masalah penelitian merupakan kerja yang bukan mudah, termasuk bagi penelitit-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah selalu ada disekeliling kita.
Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya kemenduaan arti(ambiguity), adanya halangan dan rintangan, adanya celah( gap) baik antar kegiatan atau antar fenomena, baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah itu, atau sedikit-dikitnya menutup celah yang terjadi.
Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian, sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu hal, untuk memisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antar kegiatan atau fenomena. Karenanya peneliti harus memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian ilmiah.
Tujuan dari pemilihan serta perumusan masalah adalah unutuk:
- Mencari sesuatru dalm rangka pemuasan akademis seseorang;
- memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru.
- meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya.
- memenuhi keinginan sosial
- menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

2. CIRI-CIRI MASALAH YANG BAIK
Sebelum seorang peneliti dapat merumuskan suatu masalah untuk penelitiannya, maka ia lebih dahulu mengidentifikasikan dan memilih masalah itu. Walaupun masalah yang ada dan tersedia cukup banyak, tetapi cukup sulit bagi sipeneliti untuk memilih masalah mana yang akan dipilihnya untuk penelitiannya. Sipeneliti harus mencari masalah yang mempunyai ciri-ciri yang baik, dan sipeneliti harus mengetahui sumber serta tempat mencari masalah tersebut.
Ada beberapa ciri-ciri maslah yang harus diperhatikan, baik dilihat dari segi isi (content) dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi penunjang yang diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah dipilih. Ciri-ciri dari masalah yang baik adalah sebagai berikut .
masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.
masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.
masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti.

2.1. Masalah harus ada nilai penelitian
Masalah untuk satu penelitian tidaklah dipilih seadanya saja. Masalah harus mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Dalam memilih masalah, maka masalah akan mempunyai nilai penelitian jika hal-hal berikut diperhatikan.

2.1.1 Masalah haruslah mempunyai keaslian
Masalah yang dipilih haruslah mengenai hal-hal yang up to date dan baru. Hindarkan masalah yang sudah banyak sekali dirumuskan orang dan sifatnya sudah usang. Masalah harus mempunyai nilai ilmiah atau aplikasi ilmiah dan janganlah berisi hal-hal yang sepele untuk dijadikan suatu masalah yang akan dipilih untuk penelitian. Tentu sangat menggelikan jika masalah yang dipilih adalah: Apakah warna tahi Ir. Abdurrahman ? masalah yang kita formulasikan tersebut tidak signifikan sama sekali. Dari itu, satu syarat dari masalah yang dipilih adalah masalah haruslah mengenai pertanyaan-pertanyaan yang signifikan, dimana hal tersebut kurang memperoleh perhatian dimasa lampau. Jika hal-hal yang lama yang ingin dibuat menjadi masalah ilmiah, maka ini dapat diperkenankan jika hal tersebut ingindihubungkan dengan teknik, atau percobaan atau teori baru, sehingga topik-topik lama menjadi lebih dihargai.

2.1.2 Masalah harus menyatakan suatu hubungan
Masalah harus menyatakan suatuh hubungan antara dua atau lebih variabel. Sebagai konsekuensi dari hal diatas, maka rumusan masalah akan merupakan pertanyaan seperti : apakah X berhubungan dengan Y ? Bagaiaman X dan Y berhubungan dengan C? Bagaimana A berhubungan dengan B dibaawah kondisi C dan D ? masalah yang lebih nyata, misalnya : “ apakah konflik menambah atau mengurangi efisiensi organisasi?” masalah harus padat, definitif dan dapat dinyatakan dalam beberapa hipotesis altenatif. Masalah dapat saja mengenai hubungan antara fenomena-fenomena alam, atau lebih khas lagi, mengenai kondisi-kondisi yang mengontrol fakta-fakta yang diamati. Selanjutnya, pemecahan masalah tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengetahui dan mengontrol fenomena-fenomena yang sedang diteliti.

2.1.3 Masalah harus merupakan hal yang penting
Masalah yang dipilih harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam bidang ilmunya sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian terapan. Bacon sendiri, misalnya dalam memilih masalah tidak hanya untuk tujuan ilmiah saja, tetapi juga hal-hal yang mempunyai adaptasi hasil untuk fenomena-fenomena sosial. Masalah harus ditujukan lebih utam untuk memperoleh fakta serta kesimpulan dalam suatu bidang tertentu. Pemecahan masalah tersebut seyogyanya dapat diterbitkan oleh jurnal ilmu pengetahuan dan digunakan sebagai referensi dalam buku-buku teks.

2.1.4 Masalah harus dapat diuji
Masalah harus dapat diuji, dengan perlakuan-perlakuan serta data dan fasilitas yang ada. Sekurang-kurangnya masalah yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga memberikan implikasi untuk kemungkinan pengujian secara empiris. Suatu masalah yang tidak berisi implikasi untuk diuji hubungan-hubungan yang diformulasikan, bukanlah suatu masalah ilmiah. Hal yang terkait ini memberikan implikasi bahwa bukan saja hubungan-hubungan harus dinyatakan secara jelas, tetapi juga harus mengandung pengertian bahwa hubungan-hubungan tersebut harus dinyatakan dalam variabel-variabel yang dapat diukur.

2.1.5 Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
Masalah harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan dalam bentuk pertanyaan. Misalnya dari p ada mengatakan ” masalahnya adalah...,” maka nyatakan masalah dalam bentuk pertanyaan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa bukan semua pertanyaan walaupun begitu menarik, merupakan masalah atau pertanyaan ilmiah, karena masalah tersebut tidak dapat diuji. Misalnya pertanyaan: ” bagaimana kita tahu? ” ataupun pertanyaan, ”apakah pendidikan memperbaiki pengajaran anak-anak?.” masalah tersebut sangat menarik, tetapi tidak dipakai untuk suatu pengujian.

2.2 Masalah Harus Fisibel
Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas, yaitu masalah tersebut dapat dipecahkan. Ini berarti :
Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia
Biaya untuk memecahkan masalah secara relatif harus dalam batas-batas kemampuan.
Waktu untuk memecahkan masalah harus wajar.
Biaya dan hasil harus seimbang.
Administrasi dan sponsor harus kuat
Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.

Masalah fisibilitas dalam memilih masalah penelitian harus benar-benar diperhatikan oleh peneliti. Misalnya, dalam tesis S1 dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, yang harus menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun dengan 1 tahun waktu untuk penelitian, tidaklah mungkin untuk memilih masalah : “Apakah pemuliaan kelapa dengan perkawinan silang akan menambah hasil per hektar ?” karena :
pembiayaan yang cukup besar;
waktu yang relatif terlalu lama;
sponsor tidak ada dan kemampuan fakultas yang masih lemah;
equipment untuk itu belum dipunyai fakultas.

2.2.1 Data serta metode harus tersedia
Masalah yang dipilih harus mempunyai metode untuk memecahkannya dan harus ada data untuk menunjang pemecahan. Data untuk menunjang masalah harus pula mempunyai kebenaran yang estándar, dan dapat diterangkan. Misalnya, jika masalah yang kita pilih berkenaan dengan jatuhnya kerajaan romawi, maka masalah tersebut sukar dipecahkan karena kompleksnya masalah, dan terdapat kekaburan data tentang jatuhnya kerajaan romawi. Karena terbatasnya data mengenai konsumsi beras serta pendapatan di Aceh, misalnya,maka tidak mungkin melihat apakah terdapat perubahan terhadap marginal propensity to consume dari beras di Aceh sejak tahun 1961 sampai dengan 1980 ? karena keterbatasan ilmu seorang sarjana, maka relatif sukar menentukan berapa besar pengaruh adanya 7 industri besar terhadap under employment di Aceh, karrena metode mengukur pengaruh serta mengukur under employmemnt belum lagi dipelajari oleh penelitit lulusan S1.

2.2.2 Equipment dan kondisi harus mengizinkan.
Masalah yang dipilih harus sesuai dengan equipment dan alat yang tersedia. Walaupun equipment, tidak perlu yang muluk serta kompleks, tetapi equipment yang dipunyai haruslah dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Masalah yang dipilih harus mempunyai equipment untuk kontrol kondisi ataupun untuk mencatat ketepatan.
Alat yang paling penting dalam memecahkan masalah adalah pipkiran manusia itu sendiri (the mind of man). Banyak penemuan ahli-ahli tidak menggunakan equipment dan laboratorium yang komplit. Laboratorium Pasteur adalah kamar yang menyerupai gua. Goodyear menemukan vulkanisasi dalam dapurnya di New England, sedangkan Mozart menemukan sajak kuartet Magio Flute dirumah bola ketika sedang main bilyar. Dalam hal ini, yang menentukan pemilihan masalah adalah kondisi yang cukup mendukung untuk pemecahan masalah. Dengan suasana yang tenang, masalah serta penulisan Sejarah India telah dikerjakan oleh James Mill pada satu sudut meja, sedangkan disudut yang lain duduk anaknya John Stuart Mill mempelajari bahasa Yunan. Descartes terpaksa meninggalkan Paris karena kondisi tidak memungkinkannya untuk menformulasikan masalah-masalah akibat banyak sekali teman-temannya yang selalu mengganggu. Von Braun baru sukses merumuskan masalah misi angkasa setelah ia hijrah ke Amerika Serikat.

2.2.3 Biaya untuk memecahkan masalah harus seimbang.
Biaya untuk pemecahan masalah harus selalu dipikirkan dalam memilih masalah. Jika pemecahan masalah diluar jangkauan biaya, maka masalah yang ingin dipilih tidak fisibel sama sekali. Mencocokkan masalah dengan biaya merupakan seni serta keterampilan peneliti.
Masalah yang dipilih janganlah sekali-kali dikaitkan untuk kepentingan sendiri, dalam arti untuk memperoleh keuntungan pribadi. Tidak heran jika kita lihat bahwa Charles Goodyear yang menemukan vulkanisasi karet meninggal dunia dengan meninggalkan hutang sebesar 200 dolar Amerika, ataupun Le Blanc, ilmuwan Prancis yang menemukan cara memperoleh alkali secara murah meninggal dunia dalam rumah miskin di Prancis. Camkanlah kata Pasteur. “ saya tidak akan bekerja untuk uang, tetapi saya akan selalu bekerja untuk ilmu pengetahuan.” ( I could never work for money, but I would always work for science).

2.2.4 Masalah harus didukung oleh sponsor yang kuat.
Masalah yang dipilih harus mempunyai sponsor serta administrasi yang kuat. Lebih-lebih lagi bagi penelitian mahasiswa, maka masalah yang dipilih harus diperkuat dengan adfiser, pembimbing ataupun tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya. Dalam penelitian-penelitian besar, maka masalah yang dipilih harus didukung keuangannya oleh sponsor yang kuat. Charles Darwin, adalah bangsawan Inggris yang kaya, yang dapat mendukung pemilihan masalah dalam penelitiannya. Lavoiser, adalah seorang ilmuwan yang memperoleh pendapatan setahun sampai S60.000 dan banyak menggunakan uang tersebut untuk penelitian.

2.2.5 Tidak bertentangan dengan hokum dan adat
Masalah yang dipilih harus tidak bertentangan dengan adat istiadat, hokum yang berlaku, maupun kebiasaan. Pilihlah masalah yang tidak akan menimbulkan kebencian orang lain. Janganlah memilih masalah yang dapat menimbulkan pertentangan baik fisik maupun itikad. Karenanya, masalah yang akan menimbulkan kesulitan, pertentangan, baik secara individu, ataupun kelompok, haruslah dihindarkan, demi menjaga kesinambungan profesionalisme dalam meneliti.

2.3. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi peneliti
Masalah yang dipilih, selain mempunyai nilai ilmiah serta fisibel, juga harus sesuai dengan kualifikasi sipeneliti sendiri. Dalam hal ini, masalah yang dipilih sekurang-kurangnya:
- menarik bagi sipeneliti
- cocok dengan kualifikasi ilmiah sipeneliti.

Menarik bagi sipeneliti
Masalah yang dipilih harus menarik bagi sipeneliti sendiri dan cocok dengan bidang kemampuannya. Seorang ahli pertanian haruslah memilih judul ahli mengenai pertanian. Tidaklah wajar, misalnya, seorang sarjana pertanian memilih masalah penelitiannya: apakah factor-faktor penyebab penyakit lumpuh pada anak-anak? Ataupun seorang sarjana hukum memilih masalah yang berbunyi : apakah terdapat pengaruh pemangkasan kopi terhadap frekuensi berbuah? Masalah yang dipilih harus menarik keingintahuan sipeneliti untuk memberi harapan kepada peneliti untuk menemukan jawaban ataupun menemukan masalah lain yang lebih penting dan lebih menarik.

2.3.2 Masalah harus sesuai dengan kualifikasi
Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi peneliti sendiri. Dengan perkataan lain, sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan harus sesuai dengan derajat ilmiah yang dipunyai peneliti. Sudah terang seorang peneliti yang mempunyai derajat ilmiah Doktor akan memilih masalah penelitian yang berbeda dengan seorang Insinyur ataupun seorang sarjana hokum. Masalah yang dipilih harus sesuai dengan derajat daya nalar, sensitifitas terhadap daya, serta kemampuan peneliti dalam menghasilkan orisinalitas.

SUMBER UNTUK MEMPEROLEH MASALAH
Sebenarnya banyak sekali pemasalahan yang harus dipecahkan berada disekeliling peneliti. Yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah kesanggupan peneliti menggali dan mengidentifikasikan masalah serta mengetahui sumber-sumber dimana masalah penelitian diperoleh dengan mudah. Sumber-sumber dimana masalah diperoleh antara lain sebagai berikut.
pengamatan terhadap kegiatan manusia
bacaan
analisis bidang pengetahuan
ulangan serta perluasan penelitian
cabang studi yang sedang dikerjakan
pengalaman dan catatan pribadi
praktik serta keinginan masyarakat
bidang spesialisasi
pelajaran dan mata ajaran yang sedang diikuti
pengamatan terhadap alam sekeliling
diskusi-diskusi ilmiah

3.1 Pengamatan terhadap kegiatan manusia
Pengamatan sepintas terhadap kegiatan-kegiatan manusia dapat merupakan sumber dari masalah yang akan diteliti. Seorang ahli ilmu jiwa, dapat menemukan masalah ketika ia melihat tingkah laku pekerja pabrik melakukan kegiatan mereka dalam pabrik. Seorang ahli ekonomi pertanian dapat menemukan masalah ketika ia melihat cara petani bersahaja mengerjakan serta menyimpan hasil usaha pertaniannya. Seorang dokter dapat menemukan masalah ketika melihat penduduk mengambil air mimum disungai dan buang air dikali, ataupun melihat banyak penduduk mempunyai kaki sebesar kaki gajah.

3.2 Pengamatan terhadap alam sekeliling
Peneliti-peneliti ilmu natura sering kali memperoleh masalah dari alam sekelilingnya. Seorang ahli ilmu bintang banyak memperoleh masalah ketika ia mengamati cakrawala. Seoarang peneliti ilmu tanah akan menemukan masalah ketika ia secara sepintas mengamati tanah disekelilingnya ataupun dalam suatu perjalanan jauh. Seorang ahli penyakit tanaman ataupun ahli hama banyak menemukan masalah ketika mengamati tanaman. Seorang peneliti yang banun pagi untuk melakukan kegiatan olahraga aerobic, tersandung kakinya dengan sebuah batu, dan batu tersebut menyentuh keingintahuannya, maka peneliti ahli batu-batuan tersebut telah menemukan masalah yang ingin diteliti.

3.3. Bacaan
Bacaan-bacaan dapat merupakan sumber dari masalah yang dipilih untuk diteliti. Lebih-lebih jika bacaan tersebut merupakan karya ilmiah ataupun makalah, maka banyak sekali rekomendasi didalamnya yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Bukan saja dari bacaan tersebut ditemukan masalah yang ingin mengungkapkan hubungan, tetapi bacaan dapat juga memberikan teknik dan metode yang ingin dikembangkan lebih lanjut. Membaca hasil-hasil penelitian terdahulu akan memberikan banyak sekali masalah-maslah yang belum sanggup dipecahkan. Hal ini merupakan masalah yang perlu dipecahkan dalam penelitian selanjutnya.

3.4. Ulangan serta perluasan penelitian
Masalah juga diperoleh dengan mengulang percobaan-percobaan yang pernah dilakukan, dimana percobaan yang telah dikerjakan tersebut belum memuaskan. Perluasan analisis maupun metode dan teknik dengan equipment yang lebih modern akan membuat masalah dapat dipecahkan secara lebih memuaskan. Misalnya, kerja steinhauser telah menemukan minyak codliver untuk menyembuhkan penyakit criket ditahun 1840 belum dapat dijelaskan secara terperinci sampai dengan penelitian selanjutnya bertahun-tahun kemudian. Ataupun penemuan penicilin oleh Fleming ditahun 1929 telah terhenti beberapa lama, sampai kemudian Florey meneliti kembali sifat-sifat penicilin sebagai alat penyembuh penyakit.

3.5 Cabang studi yang sedang dikembangkan
Kadangkala masalah ditemukan, bukan dari bidang studi itu sendiri, tetapi dari cabang yang timbul kemudian, yang mula-mula dipikirkan tidak berapa penting sifatnya. Misalnya, ketika Pasteur meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayam-ayam percobaanya dengan mikroba colera, pada suatu hari ia kehabisan ayam-ayam sehat. Ia kemudian terpaksa menggunakan aym-ayam yang pernah kena kolera. Dilihatnya, ayam-ayam tersebut tidak mati akibat suntikan mikroba kolera. Dari percobaan ini ia tertarik akan ketahanan ayam-ayam tersebut, dan ia menemukan masalah yang mendorongnya meneliti tentang prinsip-prinsip kekebalan atau imunisasi. Ketika William Perkins mencoba mengubah aniline menjadi quinine dalam percobaannya, ia menemukan suatu masalah lain yang menghasilkan alat pencelup anniline yang ungu. Begitu juga ketika W. R. Whitney meneliti penggunaan ion air raksa sebagai sumber cahaya, ia menemukan fakta-fakta yang telah menggiring ia merumuskan masalah yang menghasilkan alternating current rectifier.

3.6 Catatan dan pengalaman pribadi
Catatan pribadi serta pengalaman pribadi sering merupakan sumber dari masalah penelitian. Dalam penelitian ilmu sosial, pengalaman serta catatan pribadi tentang sejarah sendiri, maka kegiatan pribadi ataupun kegiatan profesional dapat merupakan sumber masalah untuk penelitian.

3.7 Praktik serta keinginan masyarakat
Praktik-praktik yang timbul dan keinginan-keinginan yang menonjol dalam masyarakat dapat merupakan sumber dari masalah. Praktik-praktik tersebut dalam merupakan tunjuk perasaan, pernyataan-pernyataan pemimpin, otorita ilmu pengetahuan baik bersifat lokal, daerah, maupun nasional. Adanya gejolak rasial, misalnya dapat merupakan sumber masalah. Adanya ketimpangan antara input dan produktivitas sekolah dapat merupakan suatu masalah penelitian. Ataupun ucapan ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), ataupun Prof. Dr. Sumitro,dapat merupakan sumber masalah, karena otoritanya dalam ilmu pengetahuan.

3.8 Bidang Spesialisasi
Bidang spesialisasi seseorang dapat merupakan sumber masalah. Seorang speasialis dalam bidangnya, telah menguasai ilmu yang dalam-dalam bidang spesialisasinya. Dari itu, akan banyak sekali masalah yang memerlukan pemecahan dalam bidang spesialisasi tersebut. Dalam membuat masalah berdasarkan bidang spesialisasi, perlu juga dijaga supaya masalah yang digali jangan menjurus kepada over-spesialisasi. Hal tersebut akan dapat menghilangkan unitas yang fundamental.

3.9. Pelajaran yang sedang diikuti
Pelajaran yang sedang diikuti dapat merupakan sumber dari masalah penelitian. Diskusi kelas, hubungan antara dosen dengan mahasiswa banyak mempengaruhi mahasiswa dalam memilih masalah untuk penelitian. Pengaruh staf senior serta ajarannya dapat merupakan sumber masalah bagi mahasiswa yang ingin membuat thesis.

3.10 Diskusi-diskusi Ilmiah
Masalah penelitian dapat juga bersumber dari diskusi-diskusi ilmiah, seminar, serta pertemuan-pertemuan ilmiah. Dalam diskusi tersebut, seseorang dapat menangkap banyak analisis-analisis ilmiah, serta argumentasi-argumentasi profesional, yang dapat menjurus pada suatu permasalahan baru.

3.11 Perasaan Intuisi
Kadangkala, suatu perasaan intuisi dapat timbul tanpa disangka, dan kesulitan tersebut dapat merupakan masalah penelitian. Tidak jarang, seseorang yang baru bangun dari tidurnya, dihadapkan pada satu kesulitan secara intuisi, ataupun seseorang yang sedang buang air dikakus, dapat menghasilkan suatu masalah yang ingin dipecahkan, yang muncul secara tiba-tiba.

4. CARA MERUMUSKAN MASALAH
Setelah masalah diidentifikasikan dan dipilih, maka tibalah saatnya masalah tersebut dirumuskan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis nantinya, dan dari rumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian, atau judul dari penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut.
masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
Rumusan hendaklah jelas dan padat.
Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah
Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

Misalnya, masalah yang dirumuskan adalah sebagai berikut
” apakah hasil padi ladang akan bertambah jika dipupuk dengan pupuk K ? ”
”apakah ada hubungan dengan konsumsi rumah tangga petani dengan pendapatan dan kekayaan petani?”

Dari rumusan masalah diatas, maka dapat dibuat judul penelitian sebagai berikut.
”pemupukan padi ladang dengan pupuk K”
hubungan antara konsumsi rumah tangga dengan pendapatan dan pendidikan petani Aceh
Perlu juga diperingatkan, bahwa dalam memilih masalah, perlu dihindarkan masalah serta rumusan masalah yang terlalu umum, terlalu sempit, terlalu besifat lokal, ataupun terlalu argumentatif. Variabel-variabel penting dalam rumusan masalah harus diperhatikan benar-benar.
Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam merumuskan masalah. Masalah ilmiah tidak boleh merupakan pertanaan-pertanyaan etika atau moral. Menanyakan hal-hal diatas adalah pertanyaan tentang nilai atau value judgement yang tidak bisa dijawab secara ilmiah. Misalnya, masalah yang dipilih adalah ” perlukah kepemimpinan organisasi secara demokrasi ? ”, atau ” bagaimanakah sebaiknya mengajar mahasiswa diperguruan tinggi?” untuk menghindarkan hal tersebut diatas, maka janganlah menggunakan kata” mustika ” atau ”lebih baik”, atau perkataan lain yang menunjukkan preferensi. Ganti perkataan lebih baik dengan perkataan ” lebih besar
”, misalnya. Contoh lain, ”apakah metode mengajar secara otorita menuju kecara belajar yang buruk ?” pertanyaan ini bukanlah suatu masalah ilmiah. Belajar yang buruk adalah value judgement. Mengajar secara otorita tidak dapat didefinisikan. Supaya tidak ada value judgement, maka sebaiknya” belajar yang buruk” dapat diganti dengan ”mengurangi perilaku memecahkan soal”.
Hindarkan masalah yang merupakan metodologi. Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan ”metode sampling”, atau ”pengukuran” dan lain-lain, supaya jangan digunakan dalam menformulasikan masalah.
Sebagai kesimpulan, perlu dijelaskan bahwa ada dua jalan untuk menformulasikan masalah. Pertama, dengan menurunkan masalah dari teori yang telah ada, seperti masalah pada penelitian experimental. Cara lain adalah dari observasi langsung dilapangan, seperti yang sering dilakukan oleh ahli-ahli sosiologi. Jika masalah diperoleh dilapangan, maka sebaiknya juga menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori yang telah ada, sebelumnya masalah tersebut diformulasikan. Ini bukan berarti bahwa penelitian yang tidak didukung oleh suatu teori tidak berguna sama sekali. Karena, ada kalanya penelitian tersebut dapat menghasilkan dalili-dalil dan dapat membentuk sebuah teori.
Masalah sebenarnya adalah hal yang pertama dipikirkan oleh peneliti-peneliti ketika merencanakan proyek penelitiannya. Walaupun diatas kertas, yang pertama-tama muncul adalah judul dan pendahuluan, tetapi yang lebih dahulu timbul pada penelitian adalah masalah penelitian.
Membuat masalah penelitian merupakan hal yang sukar, antara lain karena :
tidak semua masalah dilapangan dapat diuji secara empiris.
Tidak ada pengetahuan atau tidak diketahui sumber atau tempat mencari masalah-masalah.
Kadangkala sipeneliti dihadapkan kepada banyak sekali masalah penelitian, dan sang peneliti tidak dapat memilih masalah mana yang lebih baik untuk dipecahkan.
Adakalanya masalah cukup menarik, tetapi data yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut sukar diperoleh.
Peneliti tidak tahu kegunaan spesifik yang ada dikepalanya dalam memilih masalah.
Sesudah kita formulasikan masalah, maka langkah selanjutnya adalah membangun tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan atau statement tentang apa yang ingin kita cari atau yang ingin kita tentukan. Kalau masalah penelitian dinyatakan dalam kalimat pertanyaan ( bentuk interogatif), maka tujuan penelitian diberikan dalam kalimat pernyataan (bentuk deklaratif). Tujuan penelitian biasanya dimulai dengan kalimat.
”untuk menentukan apakah...”, atau ”untuk mencari...”, dan sebagainya. Tujuan penelitian haruslah dinyatakan secara lebih spesifik dibandingkan dengan perumusan masalah. Jika masalah merupakan konsep yang masih abstrak, maka tujuan penelitian haruslah kontrak yang lebih konkrit












MEMILIH VARIABEL DAN TEKNIK PENGUKURANNYA


1. PENDAHULUAN
Sesudah masalah penelitian dirumuskan dan studi kepustakaan dilakukan, maka tibalah saatnya bagi seorang peneliti untuk merumuskan hipotesis. Hipotesis tersebut harus berkaitan dengan masalah yang inginn dipecahkan. Peneliti juga harus menentukan variabel-variabel mana yang akan digunakan dalam pengujian hipotesis tersebut.
Variabel-variabel yang ingin digunakan perlu ditetapkan, diidentifikasikan, dan diklasifikasikan. Jumlah variabel yang digunakan bergantung dari luas serta sempitnya penelitian yang akana dilakukan.
Dalam ilmu-ilmu eksakta, variabel-variabel yang digunakan umumnya mudah diketahui karena dapat dilihat ataupun divisualisasikan. Tetapi, variabel-variabel dalam ilmu sosial, sifatnya lebih abstrak sehingga suka dijamah secara realita. Variabel-variabel ilmu sosial berasal dari suatu konsep yang perlu diperjelas dan diubah bentuknya sehingga dapat diukur dan dipergunakan secara operasional.
Alat pengukuran yang tepat untuk mengukur variabel atau konsep sangat penting artinya. Dengan adanya alat ukur yang tepat, peneliti dapat menghubungkan suatu konsep yang abstrak dengan realita dan dapat merumuskan serta menguji hipotesis tanpa memperoleh kesulitan. Masalah pengukuran memegang peranan yang amat pentibng, lebih-lebih dalam penelitian ilmu-ilmu sosial , karena variabel atau konsep yang dibentuk tidk dapat diraba serta dimensinya tidak dapat dilihat dengan nyata. Mengukur benda dalam ilmu natura tidaklah sesukar mengukur variabel ilmu sosial. Variabel-variabel seperti: panjang, tinggi, berat, isi, luas, dari suatu objek tidaklah sesukar mengukur variabel-variabel dalam ilmu-ilmu sosial, seperti persepsi, minat, intelegensia, dan sebagainya. Konsep-konsep dlam ilmu sosial, seperti kemerdekaan, keadilan, damai, kegembiraan, kearifan (semuanya menyatakan nilai), agresif, bermusuhan, perpaduan( semuanya menyatakan sikap), amat sukar diukur. Karena dalam penelitian sosial banyak sekali konsep-konsep yang abstrak yang perlu diukur, maka masalah pengukuran ini perlu dibahas secara lebih mendalam.
Dengan menggunakan ukuran-ukuran yang cocok untuk suatu konsep atau variabel, maka dalam ilmu-ilmu sosial konsep yang berbentuk kualitatif perlu diberikan ciri kuantitatif dengan membuat skala. Dengan perkataan lain, skala diperlukan untuk mengubah atribut dengan ciri kualitatif kedalam bentuk variabel yang sifatnya kuantitatif.
Karena banyak variabel atau konsep dalam ilmu-ilmu sosial yang mempunyai dimensi lebih dari satu, maka perlu diuraikan lebih dahulu dimensi-dimensi yang dipunyai oleh konsep tersebut. Kemudian barulah dipilih cara pengukuran, unit ukuran, serta validitas dan reabilitas dari alat pengukur yang digunakan.

2. KONSEP, KONSTRAK, DAN VARIABEL
Ilmu sosial banyak sekali menggunakan abstraksi-abstraksi yang dibuat secara umum yang dinamakan konsep. Konsep menggambarkan suatu fenomena secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas.
Dalam ilmu-ilmu natura, konsep-konsep dapat dengan jelas diukur. Berat, misalnya adalah suatu konsep yang menyatakan berbagai pengamatan dari sesuatu objek yang cirinya ringan atau tidak ringan. Konsep-konsep lain dari ilmu natura, seperti gaya, energi, masa, luas, panjang, tinggi, dan sebagainya, mudah sekali dipikirkan. Dalam ilmu sosial, dilain pihak terdapat juga konsep-konsep seperti fertilitas dan fekunditas untuk menggambarkan kapasitas reproduksi, migrasi dan mobilitas untuk menggambarkan perpindahan, perilaku menyimpang untuk menggambarkan fenomena bunuh diri, pemabuk, lesbian, dan sebagainya.
Umumnya konsep dibuat dan dihasilkan oleh ilmuwan secara sadar untuk keperluan ilmiah yang khas dan tertentu. Konsep begini rupa dinamakan konstrak(Construct).
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Badan, misalnya, adalah konsep dan bukan variabel, karena badan tersebut tidak mempunyai keragaman nilai. Sebaliknya, besar badan adalah variabel. Berat badan adalah variabel, karena ada keragaman nilai, bisa 45 kg, bisa 47,3 kg, bisa 59,76 kg ataupun 5380,77777 ons. Seks adalah variabel, dan mempunyai dua keragaman, yaitu laki-laki dan perempuan. Status pemilikan, status perkawinan, permintaan terhadap uang, konsumsi makanan adalah contoh-contoh dari variabel.
Konsep dapat diubah menjadi variabel. Caranya adalah dengan memusatkan pada aspek tertentu dari variabel itu sendiri, konsep perilaku kontrasepsi dapat diubah menjadi variabel penggunaan kontrasepsi.
Umumnya, variabel dibagi atas dua jenis, yaitu variabel continue (continous variable) dan variabel deskrip(descrete variable) variabel dapat juga dibagi sebagai variabel dependen dan variabel bebas. Juga variabel dapat dilihat sebagai variabel aktif dan variabel atribut.
Dalam membuat model matematik, variable biasanya dinyatakan dalam huruf. Misalnya dalam huruf Y, atau dalam huruf X, dan sebagainya. Y dan X ini adalah simbol, dan untuk simbol-simbol ini ditunjuk nilai. Sebuah variable X bisa mempunyai dua buah nilai, seperti jenis kelamin. Jika X = jenis kelamin, maka dapat kita tentukan nilai 1 untuk laki-laki, dan nilai 0 untuk perempuan. Nilai dari variabel, misalnya, intelegensia adalah skala dari IQ. Jika variabel Y, misalnya adalah berat badan maka nilai bisa saja 52,2,47,3,76,0, dan seterusnya.

2.1 Variabel Kontinu
Variabel kontinu adalah variabel yang dapat kita tentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan decimal yang tidak terbatas. Contoh variabel ini misalnya berat, tinggi, luas, pendapatan, dan sebagainya. Untuk berat badan misalnya kita bisa menulis 75,0 kg, 76,14 kg, atau 41,76694. luas panen, bisa 14,2 ha, 19,49 ha, atau 188,0003 ha.

2.2 Variabel Descrete
Variabel descrete adalah konsep yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan atau decimal dibelakang koma. Variabel ini sering juga dinyatakan sebagai variabel kategori. Kalau dia mempunyai dua kategori saja dinamakan saja variabel di khotom. Misalnya jenis kelamin, terdiri atas laki-laki atau perempuan. Status perkawinan terdiri atas laki-laki atau perempuan. Status perkawinan , bisa kawin atau tidak kawin. Jika ada lebih dari dua kategori, disebut juga variabel politom. Tingkat pendidikan adalah variabel politom. Bisa SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan sebagainya. Jumlah anak merupakan jumlah variabel yang descrete. Jumlah anak hanya bisa : 3,4, atau 10. Tidak mungkin ada jumlah anak : 4,4.,21/2 dan sebagainya.

2.3 variabel dependen dan variabel bebas
Dalam hal terdapat hubungan antara dua variabel, misalnya antara variabel Y dan variabel X, maka jika variabel Y disebabkan oleh variabel X, maka variabel Y dinamakan variabel dependen dan variabel X adalah variabel bebas. Variabel bebas adalah antecedent dan variabel dependen adalah konsekuensi. Variabel yanga tergantung atas variabel lain dinamakan variabel dependen. Contoh jika dipikirkan ada hubungan antara konsumsi dan pendapatan, dimana dengan bertambahnya pendapatan, konsumsi juga akan bertambah, maka konsumsi adalah variabel dependen pendapatan adalah variabel bebas. Dalam mmodel matematika, hubungan tersebut dapat dinyatakan dalam fungsi, yaitu
X=F (Y)
Dimana:
Y= pendapatan (Rp pertahun)
X= konsumsi (Rp. Pertahun)
F= Fungsi

Variabel moderator dan variabel random
Jika dilihat suatu hubungan antarvariabel, biasanya terdapat sebuah variabel dependen dan beberapa variabel bebas, dan semua variabel bebas telah diperkirakan dalam membuat hubungan tersebut. Jika Y adalah variabel dependen dan variabel ini tergantung dari 4 buah variabel bebas,X1, X2, X3, dan X4, maka fungsinya adalah :
Y = f (X1, X2, X3, dan X4)

Jika ada variabel lain, yang dianggap berpengaruh terhadap variabel dependen tersebut, tetapi dianggap tidak mempunyai pengaruh utama, maka variaebl ini dinamakan variabel moderator. Misalnya, variabel yang mempengaruhi demand terhadap ikan (Y) adalah harga ikan (X1), pendapatan (X2), dan harga daging (X3), variabel tersebut adalah variabel utama. Jika umur (X4) juga berpengaruh, tetapi bukanlah sebagai penyebab utama, maka umur merupakan variabel moderator.
Disamping variabel-variabel tertentu yang nyata-nyata mempengaruhi variabel dependen, masih terdapat berjenis-jenis variabel lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan hubungan di atas. Variabel ini dinamakan variabel random, dan pengaruhnya dapat dilihat berdasarkan error yang timbul dalam mengadakan estimasi. Pada hubungan-hubungan yang stokhastik, variabel random ini selalu diestimasikan sebagai pertinggal dari estimasi variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.

Variabel aktif
Variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti dinamakan variabel aktif. Jika seorang peneliti memanipulasikan metode mengajar, cara menghukum mahasiswa, maka metode mengajar cara menghukum, adalah variabel-variabel aktif, karena variabel ini dapat dimanipulasikan.
2.6 Variabel atribut
Ada juga variabel-variabel yang tidak bisa dimanipulasikan ataupun sukar dimanipulasikan. Variabel demikian dinamakan variabel atribut. Variabel-variabel atribut umumnya merupakan karakteristik manusia seperti intelegansia, jenis kelamin, status sosial, pendidikan, sikap, dan sebagainya. Variabel-variabel yang merupakan objek inanimate (inanimate objects) seperti populasi, rumah tangga, daerah geografis dan sebagainya, adalah juga variabel-variabel atribut.

MENDEFINISIKAN VARIABEL
Dalam ilmu-ilmu natura, variabel-variabel yang digunakan umumnya nyata dapat dimengerti, diraba, dan dapat dilihat, sehingga kurang menimbulkan keragu-raguan akan maknanya. Dilain pihak, variabel atau konstrak yang dibangun dalam ilmu sosial memerlukan definisi yang terang, supaya tidak terdapat keragu-raguan, dan dapat memperterang arti ataupun untuk membuat variabel atau konstrak tersebut dapat digunakan secara operasional.
Ada dua cara untuk memberikan definisi terhadap variabel. Pertama-tama, suatu konstrak didefinisikan dengan konstrak yang lain. Kedua, dengan menyatakan kegiatan yang ditimbulkannya, atau perilaku yang dihasilkannya, atau dengan sifat-sifat yang dapat diimplikasikan daripadanya. Sehubungan dengan kedua cara tersebut, maka definisi terhadap variabel atau konstrak dapat dibagi atas dua pula, yaitu :
Definisi konstitutif
Definisi operasional

3.1 Definisi konstitusi
Definisi konstitutif adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu konstrak dengan menggunakan konstrak yang lain. Misalnya kita mempunyai sebuah konsep, yaitu area. Secara konstitutif, area dedefinidikan sebagai luas sebidang tanah. Misal lain adalah berat. Berat dapat didefinisikan secara konstitutif sebagai susahnya suatu persoalan dikerjakan.

3.2 Definisi operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur konstrak atau variabel tersebut. Definisi operasional yang dibuat dapat berbentuk definisi operasional yang diukur (measured), ataupun definisi operasional eksperimental. Definisi operasional yang diukur memberikan gambaran bagaimana variabel atau konstrak tersebut diukur. Misalnya kita mempunyai sebuah konstrak yaitu kemampuan. Misalnya, kemampuan diberikan definisi sebagai suatu uji kemampuan dengan suatu standar, seperti standardized archievent test. Atau, kemampuan adalah uji kemampuan berdasarkan nilai uji akhir. Definisi terhadap kemampuan dengan cara demikian adalah definisi yang diukur.
Definisi operasional eksperimental adalah mendefinisikan variabel dengan keterangan-keterangan percobaan yang dilakukan terhadap variabel atau konstrak tersebut. Misalnya definisi yang diberikan terhadap frustasi. Definisi terhadap frustasi digambarkan dengan perilaku seorang anak yang dimasukkan dalam sebuah kamar yang dikelilingi oleh banyak popi dan mainan lainnya. Mainan tersebut tidak dapat di capai oleh si anak, karena mainan tersebut diletakkan di tempat yang tinggi. Anak tersebut dapat melihat mainan tersebut tetapi tidak dapat menjamahnya.
Dari keterangan diatas, maka dapat disimpulkan tiga buah pola dalam memberikan definisi operasional terhadap suatu konstrak atau variabel. Ketiga pola tersebut adalah sebagai berikut :
Definisi yang disusun atas dasar kegiatan lain yang terjadi, yang harus dilakukan atau yang tidak dilakukan untuk memperoleh konstrak yang didefinisikan.
Definisi yang disusun berdasarkan sifat serta cara beroperasinya hal-hal yang didefinisikan.
Definisi yang disusun atas dasar bagaimana hal yang didefinisikan itu muncul.

Definisi terhadap konstrak menurut pola pertama, yaitu definisi yang dibuat berdasarkan kegiatan lain yang terjadi, atau kegiatan yang harus dilakukan, atau yang tidak dilakukan untuk memperoleh konstrak yang didefinisikan, dapat dijelaskan dengan contoh berikut.
Kenyang adalah suatu keadaan yang timbul dalam individu setelah ia diberi makan secukupnya dengan interval selama 4 jam.
Garam adalah suatu zat yang dibentuk dari kombinasi antara kalium dan khlor.
Frustasi adalah suatu hal yang timbul akibat tidak tercapainya hal yang sangat ia inginkan padahal hal tersebut sudah hampir tercapai.

Contoh definisi operasional pola kedua, yaitu definisi yang disusun berdasarkan atas sifat atau atas cara bekerjanya hal yang didefinisikan adalah sebagai berikut.
Bodoh adalah seseorang yang rendah kemampuannya baik dalam memecahkan soal atau dalam menggunakan bahasa dan bilangan.
Lapor adalah orang yang menyantap makanannya kurang dari satu menit setelah makanan tersebut dihidangkan dan menghabiskan makanan tersebut dalam tempo 5 menit.
Subur adalah seoarng ibu yang melahirkan anak tidak kurang dari 4 orang dalam 5 tahun.

Contoh definisi operasional dari variabel atau konstrak pola ketiga, yaitu definisi yang dibuat atas dasar bagaimana hal yang didefinisikan itu Nampak atau dimunculkan adalah sebagai berikut.
Ektraversi adalah kecenderungan sseorang yang lebih menyukai berada dalam suatu kelompok daripada menyendiri.
Prestasi berhitung adalah kompetensi dalam menambah, mengurang, mengalikan, membagi, menarik akar, menggunakan pecahan, dan decimal.
Murid yang cerdas adalah mereka-mereka yang mempunyai kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik serta dapat berdiri sendiri dalam memecahkan masalah.
Harga gabah, adalah harga rata-rata dari gabah kualitas rendah ditingkat pedesaan dijawa.
Setelah peneliti memberikan definisi operasional kepada variabel atau konstrak yang dipilih dan digunakan dalam penelitiannya, maka peneliti dapat memberikan cara mengukur variabel tersebut.

4. TEKNIK PENGUKURAN
Pengukuran adalah penetapan / pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu (Stevens, 1951). Ada tiga buah kata kunci yang diperlukan dalam memebrikan definisi terhadap pengukuran seperti diatas. Ketiga kata kunci tersebut adalah angka, penetapan, dan aturan
Angka tidak lain dari sebuah symbol dalam bentuk 1,2,3,…dan seterusnya atau I, II, III,…dan seterusnya, yang tidak mempunyai arti, kecuali deberikan arti kepadanya. Jika pada angka telah dikaitkan arti kuantitatif, maka angka tersebut setelah berubah menjadi nomor (number).
Yang dimaksud dengan penetapan/pemberian adalah memetakan (mapping). Sedangkan aturan tidak lain dari panduan atau perintah untuk melaksanakan sesuatu. Fungsi dalam matematika adalah suatu aturan korespondensi. Dalam mengukur, aturan yang diberkan dapat saja sebagai berikut.

Jika objek setuju berikan ia angka 1, dan jika tidak setujju berikan angka 0.
Jika objek sangat setujju berikan angka 5, jika setuju berikan angka 4, jika tak acuh berikan angka 3, jika kurang setuju berilkan angka 2, dan jika tidak setuju sama sekali berikan angka 1.
Jika kita mempunyai sebuah set yang terdiri atas 6 orang, yaitu : A, B, C, D, E dan F, dan kita juga mempunyai set angka (1,2,3,4,5) dan sebuah set angka lain (1, 0), maka kita dapat membuat korespondensi antara set tersebut sehubunngan dengan peraturan diatas seperti pada gambar 8.1 dibawah ini.

Gambar 8.1










Gambar 8.1 memperlihatkan pengukuran atau fungsi. Dalam engukuran, fungsi tersebut dapat dipikirkan sebagai berikut.
F =[(x,y);(x=objek dan y=angka)]
Dengan perkataan lain, funsi f atau aturan korespondensi adalah sama dengan set dari pasangan (x,y), dimana x adalah objek dan tiap y yang cocok adalah angka. Inilah yang dinamakan pengukuran dalam ilmu-ilmu sosial.

4.1 Indikan dari Objek
Suatu objek mempunyai ciri atau sifat. Jika kita mengukur suatu objek, yang diukur sebenarnya bukanlah objek tersebut, bukan pula sifatnya, tetapi yang diukur adalah indikan dari sifat tersebut. Indikan tidak lain dari suatu istilah yang sering digunakan, yang berarti ”sesuatu yang menunjukkan pada sesuatu yang lain” indikan terhadap ”alim” misalnya adalah jumlah kali seseorang pergi ke mesjid perbulan. Indikan terhadap ”bengis” misalnya, jumlah kali seorang anak memukul adiknnya tiap hari, Dan sebagainya.
Angka diberikan kepada indikan dari sifat perilaku. Kemudian, sesudah mengadakan pengamatan terhadap indikan-indikan, angka-angka disubtitusikan dengan indikan, dan kemudian dianalisis secara statistik. Misalnya, kita ingin melihat hubungan antara kecerdasan dan alim. Cara yang dipilih misalnya, mencari korelasi antara kecerdasan dan alim dengan melihat koefisien korelasi. Untuk ini diperlukan pengukuran kecerdasan dan alim. Sebagai indikan dari kecerdasan adalah jumlah jawaban yang benar dalam suatu tes IQ. Dilain pihak, indikan terhadap alim, adalah jumlah kali seseorang pergi kemasjid dalam sebulan. Dari set alim dan set kecerdasan dicari korelasi serta koefisien korelasinya.

4.2 Pengukuran Versus Realita
Dalam ilmu-ilmu natura, ukuran dari suatu variabel dapat secara langsung diamati dan dibandingkan dengan realita. Setongkol jagung A dua kali lebih panjang dari tongkol lain, dapat diukur secara realita dengan mengunakan centimeter misalnya. Tingkat panas suatu benda dapat diukur dengan memberikan angka terhadap derajat panas dalam bentuk derajat celsius, misalnya. Dilain pihak,pengukuran variabel dalam ilmu sosial sering mengandung tanda tanya, apakah pengukuran yang dilakukan cocok dengan realita. Dengan perkataan lain, apakah prosedur pengukuran yang dilakukan isomorphic dengan realita? Suatu pengukuran yang baik harus mempunyai sifat isomorphism dengan realita.
Misalnya seorang peneliti ingin meneliti prestasi 8 orang murid. Prestasi didefinisikan sebagai kompetensi dalam ilmu hitung yang meliputi menambah, mengurang, mengkali,membagi ,menarik akar, menggunakan pecahan, menarik logaritma, dan mengunakan desimal. Skor yang diberikan adalah 10(yang terpandai) dan 1(yang terendah). Dan pengukuran prestasi ke 8 murid diperoleh nilai : 7,7,5,4,4,3,2 dan 1. sebenarnya, ”Yang Maha Kuasa” tahu bahwa prestasi ke 8 murid tersebut adalah : 9,6,3,5,4,4,2,1. ini adalah prestasi ke 8 murid tersebut secara realita. Jika kita jajarkan prestasi yang diukur dengan prestasi realita ke delapan murid tersebut secara realita. Maka dapat divisualisasikan sebagai berikut :



(gambar 8.2)
9 8
8 7
7
6 6
5 5
4 4
3 3
2 2
1 1
0 Realita pengukuran

Gambar 8.2 memberikan kepada kita beberapa kenyataan, yaitu :
1.hanya 3 kasus dari 8 ukuran kita yang sebenarnya cocok dengan realita
2.sebuah kasus sangat menyimpang dari realita
3.menurut realita, prestasi kedelapan murid tersebut bergerak dari 0 sampai 9, sedangkan dalam pengukuran, prestasi murid mempunyai jangka dari 1 sampai 8.
Dalam penelitian yang sebenarnya, peneliti tidak tahu tentang realita. Akan tetapi, seorang peneliti harus selalu mempertanyakan apakah prosedur pengukuran yang dipakainya isoporphik dengan realita? Walaupun realita tidak diketahui, peneliti harus menguji, tetunya dengan teknik tertentu, apakah pengukurannya mempunyai isomorphisme realita.

4.3 Jenis-jenis ukuran
Secara umum, terdapat empat jenis ukuran, yaitu
1. ukuran nominal
2. ukuran ordinal
3. ukuran interval
4. ukuran rasio

Marilah kita lihat persamaan dan perbedaan dari masing-masing ukuran tersebut.

4.3.1 Ukuran nominal
Ukuran nominal adalah ukuran yang paling sederhana, dimana angka yang diberikan kepada objek mempunyai arti sebagai label saja, dan tidak menunjukkan tingkatan apa-apa. Objek dikelompokkan dalam set-set, dan kepada semua anggota set diberikan angka. Set-set tersebut tidak boleh tumpang-tindih dan bersisa (mutually exhaustive). Misalnya, untuk mengukur jenis kelamin, objek dibagi atas tiga set, yaitu laki-laki, perempuan dan banci. Kemudian untuk masing-masing anggota set di atas kita diberikan angka, misalnya: 1- pria; 2- wanita; dan 0- untuk banci. Jelas kelihatan bahwa angka yang diberikan tidak menunjukkan bahwa tingkat wanita lebih tinggi dari pria ataupun tingkat pria lebih tinggi dari banci. Angka-angka tersebut tidak memberikan arti apa-apa jika ditambahkan. Angka yang diberikan hanya berfungsi sebagai label saja. Ukuran demikian dinamakan ukuran nominal.

4.3.2 Ukuran ordinal
Ukuran ordinal adalah angka yang diberikan dimana angka-angka tersebut mengandung pengertian tingkatan. Ukuran nominal digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah ke tertinggi atau sebaliknya. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan urutan (ranking) saja. Jika kita mempunyai sebuah set objek yang dinomori dari 1-n, yaitu N = a,b,c,d,...n, dan sebuah set lain, yaitu R = 1,2,3,4,...,n, dan dibuat korespondensi antara set R dengan set N dengan aturan dimana objek yang terkecil diberikan angka 1, objek terbesar kedua diberikan angka 2, dan seterusnya, maka kita telah menggunakan ukuran ordinal. Misalnya, kita mempunyai 8 orang bayi, yaitu A,B,C,D,E,F,G dan H, dengan berat masing-masing 1.500 gram, dan 2.000 gram, maka ukuran secara ordinal untuk bayi-bayi tersebut adalah sebagai berikut
Bayi N R
A 1 1
B 2 8
C 3 7
D 4 6
E 5 5
F 6 4
G 7 3
H 8 2

Angka yang diberikan oleh R disebut nilai ranking dari objek. Jika nilai ranking dijajarkan dengan nilai absolut dari objek (berat dalam gram), maka kita lihat sebagai berikut.



1.000 2.000 3.000 4.000 5.000
bayi A H G F E D C B



1 2 3 4 5 6 7 8
ranking
Dari gambar diatas dapat ditarik beberapa sifat dari ukuran ordinal, yaitu :
Ukuran ordinal hanya menyatakan ranking
Ukuran ordinal tidak menyatakan nilai absolut
Ukuran ordinal tidak menyatakan bahwa interval antara angka-angka tersebut sama besarnya. Skala ranking bukanlah skala yang mempunyai interval yang sama.

ukuran interval
Ukuran interval adalah suatu pemberian angka kepada set dari objek yang mempunyai sifat-sifat ukuran ordinal dan ditambah satu sifat lain, yaitu jarak yang sama pada pengukuran interval memperlihatkan jarak yang sama dari ciri atau sifat objek yang diukur. Ukuran interval tidak memberikan jumlah absolut dari objek yang diukur.

Misalnya, kita telah mengukur 5 objek dengan ukuran interval, yaitu 10,8,6,4 dan 2, maka kita lihat bahwa interval antara yang pertama dengan yang kedua adalah 10-2= 8, antara kedua dan ketiga adalah 8-6= 2; antara pertama dan ketiga adalah 10-6= 4 dan antara yang kedua dan keempat adalah 8-4 = 4. ukuran interval diatas dapat digambarkan sebagai berikut.
A B C D E


2 4 6 8 10

Gambar tersebut menunjukkan bahwa interval A-C = 6-2 = 4; interval C-D = 8-6 = 2 ; innterval A-D =8-2 = 6, atau ( interval A-C )+(interval C-D), yaitu 4 + 2 = 6.
Dari keterangan tersebut dapat diambil satu sifat lain dari pengukuran interval, yaitu interval dapat ditambahkan atau dikurangkan.
Dalam penelitian sosial skala sikap ataupun preastasi yang banyak sekali digunakana adalah ukuran interval. Misalnya jika 6 orang murid, A, B, C, D, E, dan F diukur dengan interval pada skala prestasi dengan ukuran 1,2,3,4,5, dan 6, maka dapat dikatakan bahwa beda prestasi antara A dan D adalah 4-1 =3, beda prestasi antara F dan B = 6,2 =4 akan tetapi, tidak boleh disimpulkan bahwa prestasi D adalah 4 kali prestasi A ataupun prestasi F adalah 3 kali prestasi B.

3.3.4 Ukuran Rasio
Ukuran rasio adalah ukuran yang mencakup semua ukuran diatas, ditamabah dengan satu sifat lain, yaitu ukuran ini memberikan keterangan tentang nilai absolut tentang objek yang diukur. Ukuran rasio mempunyai titik nol, karena itu, interval jarak tidak dinyatakan dengan beda angka rata-rata satu kelompok dibandingkan dengan titik nol diatas. Karena ada titik 0 tersebut, maka ukuran rasio dapat dibuat perkalian ataupun pembagian. Angka pada skala rasio menunjukkan nilai sebenarnya dari objek yang diukur. Jika ada 4 bayi, A, B, C ,dan D mempunyai berat badan 1 kg, 3 kg, 4 kg dan 5 kg maka ukuran rasio dapat digambarkan sebagai berikut.

A B C D


0 1 2 3 4 5

Dari gambar tersebut dapat dilihat dengan ukuran rasio, berat bayi C adalah 4 kali berat bayi A; berat bayi D adalah 5 kali berat bayi A, berat bayi C adalah 4/3 kali berat bayi B. Denagn perkataan lain, rasio antara C dan A adalah 4:1 ; rasio antara D dan A adalah 5 : 1 sedangkan rasio antara C dan B adalah 4 : 3 . interval antara A dan C adalah 4-1 = 3 kg dan berat bayi C adalah 4 kali berat bayi A. Ukuran rasio banyak sekali digunakan dalam ilmu sosial maupun ilmu natura. Beberapa contoh variabel yang menggunakan ukuran rasio adalah jumlah anak hidup, tingkat ketergantungan, tingkat pengangguran dan sebagainya.
Sesuai dengan jenis pengukuran yang digunakan, maka sering juga variabel penelitian dibagi atas empat, yaitu variabel nominal, variabel ordinal, variabel interval dan variabel rasio. Variabel nominal, yaitu variabel yang dikategorikan secara diskrit dan saling terpisah ( mutually exclusive) seperti: status perkawinan, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan sebagainya. Variabel ordinal yaitu variabel yang disusun atas dasar ranking, seperti ranking prestasi mahasiswa, ranking perlombaan catur, ranking sukarnya suatu pekerjaan, dan lain-lain. Variabel interval adalah variabel yang diukur dengan ukuran interval seperti penghasilan, sikap, dan sebagainya. Variabel rasio adalah variabel yang disusun dengan ukuran rasio seperti dependency ration, tingkat pengganguran dan sebagainya.


RELIABILITAS DAN VALIDITAS
Setelah peneliti memilih ukuran uhntuk variabel maka timbul sekurangnya dua pertanyaan lain, yaitu
bagaimana reliabilitas dari alat pengukur.
bagaimana validitasnya?

Jika reliabilitas dan validitas tidak diketahui, maka akibatnya menjadi fatal dalam memberkan kesimpulan ataupun dalam memberi alasan terhadap hubungan-hubugan antar variabel. Bahkan secara luas, reliabilitas dan validitas mencakup mutu seluruh proses pengumpulan data sejak konsep disiapkan sampai kepada data siap untuk dianalisis.

5.1 Reliabilitas
5.1.1 Definisi Reliabilitas
Reliabilitas menyangkut ketepatan alat ukur. Pengertian reliabilitas dapat lebih mudah dipikirkan jika petanyaan berikut dijawab
jika set objek yang sama diukur berkali-kali dengan alat ukur yang sama, apakah kita akan memperoleh hasil yang sama?
apakah ukuran yang diperoleh dengan menggunakan alat ukuran tertentu adalah ukuran sebenarnya dari objek tersebut?
berapa besar error yang kita peroleh dengan menggunakan ukuran tersebut terhadap objek

jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak lain dari tiga aspek pengertian tentang reliabilitas. Suatu alau ukur disebut mempunyai reliabilitas tinggi atau dapat dipercaya, jika alat ukur itu mantap, dalam pengertian bahwa alat ukur tersebut stabil, dapat diandalkan ( dependability) dan dapat dilambangkan ( predictability). Suatu alat ukur yang mantap tidak berubah-ubah pengukurannya dan dapat diandalkan karena penggunaan alat ukur tersebut berkali-kali akan memberikan hasil yang serupa.

Pertanyaan kedua memberi aspek ketepatan atau akurasi. Suatu pertanyaan atau ukuran yang akurat adalah ukuran yang cocok dengan yang ingin diukur. Jika kedua aspek diatas, yaitu aspek stabilitas dan aspek akurasi digabungkan maka dapat disimpulkan bahwa alat ukur tersebut mantap dan dapat mengukur secara cermat dan tepat. Suatu alat ukur juga harus sedemikian rupa sifatnya, sehingga error yang terjadi, yaitu error pengukuran yang random sifatnya, dapat ditolerir.

Dari aspek-aspek reliabilitas diatas, dapat disimpulkan bahwa reliabilitas adalah ketepatan atau tingkata presisi suatu ukuran atau alat pengukur. Mari kita berikan sebuah contoh. Seorang peneliti menggunakan alat untuk mengumpulkan data yaitu Quisioner . salah satu pertanyaan dalam Quisioner tersebut adalah : ” berapakah anggota keluarga anda?” pertanyaan ini kurang reliabilitanya, karena istilah ” keluarga” mempunyai interpretasi bermacam-macam. Apakah yang dimaksud denga keluarga ? apakah hanya suami, istri dan anak sendiri saja ? ataukah dalam keluarga termasuk mertua, nenek, dan kakek ? ataukah dimasukkan pula anak angkat ?

Contoh lain. Dua orang anak sedang bermain-main disebuah kilang kayu. Keduanya ingin mengukur panjang 6 buah balok A, B, C, D, E, dan F. Anak yang pertama mengukurnya dengan menggunakan hastanya, dan dia memperoleh ukuran A=16 m; B = 15m; C = 13 m; D= 10m; E=8m; dan F = 5 m. anak yang lain mengukur balok tersebut dengan menggunakan langkahnya dan ia berkesimpulan bahwa panjang balok tersebut adalah : A =14 m; B = 9m ; C = 10m; D = 7 m; E = 15m ; dan F = 4 m. pemilik kilang kayu tersebut, tahu bahwa ukuran sebenarnya kayu tersebut adalah A=17 m; B = 16m; C = 12 m; D= 10m; E = 9 m; F = 6 m. jika ketiga ukuran tersebut disejajarkan dan diukur rankingnya, maka hasilnya dapat dilihat pada tabel 8.1 dibawah ini.

Tabel 8.1
Ukuran sebenarnya, ukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi dan rendah serta ranking panjang kayu.
Kayu Ukuran sebenarnya Ukuran anak pertama Ukuran anak kedua
Mutlak Rank Mutlak Rank Mutlak Rank
A
B
C
D
E
F 17
16
12
10
9
6 1
2
3
4
5
6 16
15
13
10
8
5 1
2
3
4
5
6 14
9
10
7
15
4 2
4
3
5
1
6

Tabel 8.1 memperlihatkan bahwa ukuran kedua anak tersebut kurang tepat menurut harga mutlak dari panjang kayu yang sebenarnya. Akan tetapi, secara ranking, ukuran anak pertama lebih tepat dari ukuran yang dibuat oleh anak kedua. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ukuran hasta yang digunakan anak pertama untuk mengukur kayu tersebut mempunyai reliabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran langkah yang dipakai oleh anak kedua.

5.1.2 Teori reliabilitas
Untuk melihat reliabilitas suatu alat atau intrumen, maka pertama-tama harus dipunyai suatu alat yang standar. Ukuran yang diperoleh dengan menggunakan alat estándar ini dinamakan ukuran yang sebenarnya, atau skor yang sebenarnya. Skor yang diperoleh dengan menggunakan alat yang kita pakai, dinamakan skor yang diperoleh. Selisih angka atau skor yang sebenarnya dengan skor yang diperoleh kita sebut error ukuran ( salah ukur ).
Jika kita nyatakan:
Ys = skor yang sebenarnya
Yp = skor yang diperoleh
Ye = error pengukuran
Maka suatu identiti dapat dibangun, yaitu
Yp = Ys + Ye
Besarnya error pengukuran adalah

G =

Dimana: g = koefisien reliabilitas

Dalam parkatik, reliabilitas dinyatakan dalam bentuk varience. Dalam bentuk variance, identiti diatas dapat ditulis sebagai :
Vp = Vs + Ve
Dimana :
Vp = variance yang diperoleh
Vs = variance sebenarnya
Ve = variance error

Reliabilitas dapat dilihat dari error yang dibuat. Makin besar error yang terjadi, maka makin kecil reliabilitas pengukuran, dan sebaliknya. Untuk mencari derajat reliabilitas, maka digunakan koefisien reliabilitas, yang meempunyai dua arti pula, yaitu :
a. reliabilitas adalah perbandingan antara variance sebenarnya dengan variance yang diiperoleh, yaitu
r =
b. reliabilitas adalah perbandingan antara selisih variance diperoleh dengan variance error dan variance sebenarnya, yaitu :
r = = 1 -
Untuk lebih jelas, marilah kita berikan contoh berikut. Misalnya, ada dua buah ujian, yang keduanya mempunyai variance yang sama. Tes I, mempunyai 80% variance sebenarnya dan 20% variance error. Dilain pihak, ujian II mempunyai 50% variance sebenarnya dan 50% variance error. Keadaan ini dapat divisualisasikan dengan gambar berikut.


Ve Ve



Vp
Vs Vs






Ujian I Ujian II


Untuk ujian I Untuk ujian II
Ve = 20 Ve = 50
Vs = 80 Vs = 50
Vp = 100 Vp = 100

R = = = 0,8 r = = = 0,5
Atau : atau :
R = 1 - r = 1 -
= 1 - = 0,8 = 1 - = 0,5

Perhitungan diatas menunjukkan bahwa reliabilitas ujian I lebih baik dibandingkan dengan reliabilitas ujian II.
Marilah kita lihat sebuah contoh lain. Misalnya kita mempunyai skor yang mempunyai skala 6 poin tentang prestasi belajar dari 5 orang murid. Skor yang tinggi menyatakan prestasi tinggi, dan yang terendah memberikan prestasi terendah. Skor tersebut berasal dari 6 buah pertanyaan. Ujian diadakan dua kali dengan soal yang berbeda. Hasil skor ujian-ujian tersebut adalah sebagai berikut.
Ujian I Ujian II

Skor tiap soal Skor tiap soal
Murid a b c d e f murid A B C D E F
1 6 6 5 4 2 2 1 6 4 5 1 2 2
2 4 6 5 3 1 1 2 4 1 5 4 1 1
3 4 4 4 2 1 1 3 4 6 4 2 1 1
4 3 1 4 2 1 1 4 3 6 4 3 1 1
5 1 2 1 1 1 1 5 1 2 1 2 1 1

Kita ingin mengetahui bagaimana reliabilitas dari kedua ujian prestasi tersebut.
Dalam persoalan diatas, yang perlu diperhatikan adalah penuangan rumus mencari koefisien reliabilitas. Dalam hal ini diperlukan suatu analisis variance, karena dari analisis variance tersebut dapat diperoleh, secara simultan, variance error dan variance individu. Koefisien reliabilitas dicari dengan :
r =
dimana:
V = variance antara individu
V = variance error

Untuk memperoleh suatu analisis variance maka perlu dicari lebih dahulu :
Correction factor (CF), sum square antarsoal, sum square antarmurid (individu), sum square error, sum square total, dan mean square (MS) atau variance dari masing-masing ujian tersebut. Untuk keperluan hitungan, maka work sheet berikut diperlukan :
Ujian I
X
a b c d e f

6 6 5 4 2 2
4 6 5 3 1 1
4 4 4 2 1 1
3 1 4 2 1 1
1 2 1 1 1 1 25
20
16
12
7

18 19 19 12 6 6 80

= 18 + 19 + 19 + 12 + 6 + 6 = 80
( ) = (80) = 6400
= 6 + 6 + … + 1 = 304
CF = = = 213,3
SS = ( ) - Cf = 304 - 213,3 = 90,7
SS = - 213,3
= 39,1

SS = - 213,3
= 32,4
Ujian II
X
a b c d e f

6 4 5 1 2 2
4 1 5 4 1 1
4 6 4 2 1 1
3 6 4 3 1 1
1 2 1 2 1 1 20
16
18
18
8

18 19 19 12 6 6 80

= 18 + 19 + 19 + 12 + 6 + 6 = 80
( ) = (80) = 6400
= 6 + 4 + 5 + … + 1 = 304
CF = = = 304
SS = ( ) - Cf = 304 - 213,3 = 90,7
SS = - 213,3
= 39,1

SS = - 213,3
= 14,7

Dari perhitungan-perhitungan diatas, variance dari individu (murid) dan variasi dari error dapat dicari. Untuk ini perlu dibuat ANOVA dari masing-masing ujian tersebut. Hasil hitungan adalah sebagai berikut.





Ujian I Ujian II
Sumber variasi df SS MS
Soal
Indiv
error 5
4
20 39,1
32,4
19,2 7,82
8,10
0,96
Total 29 90,7
Sumber variasi df SS MS
Soal
Indiv
error 5
4
20 39,1
14,7
36,9 7,82
3,68
1,84
Total 29 90,7


r = r =
= =
= 0,88 = 0,50

Dari koefisien reliabilitas yang diperoleh dapat kita simpulkan bahwa data pada ujian I mempunyai reliabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan data dari ujian II.

5.1.3 menguji indeks reliabilitas
Reliabilitas alat penelitian dapat diuji atau dinilai dengan menggunakan beberapa teknik, antara lain:
teknik kesesuaian
teknik korelasi
teknik belah dua (split half)

menilai reliabilitas dengan teknik kesesuaian adalah dengan cara mencari indeks kesesuaian kasar( crude intex of agreement). Caranya adalah dengan mengulang penelitian dengan menggunakan alat yang sama dengan menggunakan responden yang sama dan dalam waktu yang tidak lama pula. Hasil penelitian pertama kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian kedua, dan stabilitas dari jawaban dianalisis.
Misalnya, kepada 15 responden ditanyakan suatu pertanyaan dalam survei yang berbunyi:







Responden Wawancara I Wawancara II
bekerja Tidak bekerja Mencari kerja bekerja Tidak bekerja Mencari kerja
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O x
x

x




x

x

x


x

x


x

x

x

x
x





x
x x

x



x


x
x



x
x

x







x
x
x


x



x
x
Total 6 7 2 6 5 4


Hasil wawancara I dan wawancara ulangan kita buat dalam matriks dengan frekuensi sebagai berikut

Wawancara I Wawancara ulangan

Bekerja

Tidak bekerja

Mencari kerja
2

4

1
2

2

0

2

1

1
6

7

2
Total 7 4 4 15

Kemudian, unsur diagonal dari matriks diatas dijumlahkan, yaitu 2 + 2 + 1 = 5. indeks kesesuaian kasar adalah
P = = 0,33

Indeks yang kurang dari 0,9 menunjukkan reliabilitas yang kurang, artinya jawaban pada wawancara I dan wawancara ulangan mempunyai sifatnya tidak stabil. Dari P = 0.33 di atas dapat disimpulkan bahwa alat pengukur yang digunakan mempunyai reliabilitas yang rendah.

Dalam memberikan kesimpulan seperti diatas, perlu juga diingat kelemahan-kelemahan dari indeks kesesuaian kasar diatas. Kelemahan-kelemahan tersebut, antara lain sebagai berikut.
Dalam wawancara ulangan, responden telah lebih siap, dan keadaan ini sangat berpengaruh dalam menilai reliabilitas alat pengukur dalam uji kemampuan (aptitute test) diatas.
Ketika wawancara ulangan dilakukan, telah terjadi beberapa perubahan-perubahan pada responden (misalnya dulu ia mencari kerja, sekarang ia sudah bekerja)
Responden hanya mengulangi saja jawaban yang telah diberikan wawancara pertama.

Cara lain untuk menilai reliabilitas alat ukur adalah dengan menggunakan teknik paralel. Teknik ini hampir serupa prosedurnya dengan teknik penyesuaian diatas, hanya saja dalam teknik paralel, variabel diukur dua kali pada waktu yang sama atau hampir bersamaan. Kerja memisahkan pengukuran atas dua bagian yang paralel dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
dua peneliti menggunakan alat ukur yang sama
satu peneliti menggunakan dua alat ukur yang ”berbeda” dalam pengertian bahwa alat-alat ukur tersebut memang diperuntukkan bagi pengukuran vsrisbel yang bersangkutan.

Sebagai contoh, marilah kita lihat cara seorang peneliti mengukur nilai ekonomi seorang responden. Disini seorang peneliti menggunakan 2 alat ukur status ekonomi, yaitu pendapatan total, dan kedua kekayaan, yang telah dibuat dalam bentuk indeks (indeks kekayaan). Skor yang diperoleh kemudian diurutkan dari tinggi ke rendah, dan misalnya, hasilnya adalah sebagai berikut.

Responden Rank status
menurut pendapatan Rank status
menurut kekayaan
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 1
2
5
3
7
6
4
10
8
9

Untuk mencari reliabilitas, maka pertama-tama dicari korelasi antara kedua hasil ukuran tersebut dengan mencari koefisien korelasi Spearman. Dari angka korelasi Spearman tersebut dicari koefisien reliabilitas dengan rumus :
r =
dimana :
p = koefisien korelasi Spearman
r = koefisien reliabilitas

Dengan menggunakan data diatas, marilah kita cari lebih dahulu koefisien korelasi Spearman, p.
Hasilnya dapat dilihat sebagai berikut :

Responden Rank I
(X )
Rank II
(X )
D D

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 1
2
5
3
7
6
4
10
8
9 0
0
-2
-1
2
0
-3
2
-1
-1
0
0
4
1
4
0
9
4
1
1
24

Koefisien korelasi Spearman adalah
P = 1 -
P = 1 - = 1 - = 0,85
Koefisiensi reliabilitas adalah

r = = = 0,92

Dari harga koefisien reliabilitas diatas dapat disimpulkan bahwa kedua alat ukur diatas cukup terpercaya dan mantap.
Teknik lain untuk menilai reliabilitas alat ukur adalah dengan menggunakan teknik belah dua (split half). Teknik ini hampir sama dengan teknik paralel, hanya saja disini observasi dibagi atas dua bagian. Teknik ini berkehendak untuk menguji reliabilitas pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan berbentuk skala, yang mempunyai hubungan satu sama lain. Penilaian reliabilitas ini ditujukan untuk mengukur internal konsistensi pertanyaan atau pernyataan.
Misalnya dalam uji prestasi terdapat pertanyaan-pertanyaan yang terdiri dari pertanyaan no. 1 sampai dengan pertanyaan no.20, yang diikuti oleh sepuluh mahasiswa. Nilai dari masing-masing nomor pada ujian tersebut telah diperoleh. Kemudian nilai tersebut dibelah dua, yaitu nilai untuk soal nomor ganjil dan nilai untuk soal nomor genap. Reliabilitas dari alat pengukur diuji dengan menggunakan rumus yang dibandingkan oleh Kuder dan Richardson (1937) yang terkenal dengan nama KR 20 dan KR 21. Rumus dari KR 20 dan KR 21 adalah sebagai berikut
KR 20 =

KR 21 =
Dimana :
k = jumlah item dalam ujian
p = proporsi respon yang benar
q = proporsi respon yang salah = 1- p
s = variance dari skor
M = mean dari skor

Marilah kita berikan sebuah contoh. Sepuluh orang mahasiswa , (A,B,…,J) diberikan ujian yang mempunyai nomor 1 sampai dengan 6, dan tiap nomor menggunakan sistem multiple choise dengan 4 alternatif (a,b,c,d). Jawaban yang benar adalah 1b,2c,3b,4a,5d dan 6d. Hasil ujian adalah sebagai berikut.
No soal Kunci Jawaban mahasiswa proporsi
A B C D E F G H I J p q pq
1
2
3
4
5
6 b
c
b
a
d
d b c c d b a a b d b
c b d b c c c c c c
b b c b b b a b b b
a d a a a c c a d b
c d b d c d a d b b
d a d a a c b d d d 0,4
0,7
0,8
0,5
0,5
0,4 0,6
0,3
0,2
0,5
0,5
0,6 0,24
0,21
0,16
0,25
0,25
0,24
p.q = 1,35

Skor jumlah skor
No. ganjil (X) 2 2 0 2 2 2 0 3 2 2 = 17
No. Genap (Y) 3 0 2 1 2 1 1 3 1 2 =16
X + Y 5 2 2 3 4 4 1 8 3 4 + Y = 33

Jawaban mahasiswa
A B C D E F G H I J
Kuadrat jumlah
X 4 4 0 4 4 4 0 9 4 4 = 37
Y 9 0 4 0 4 0 0 9 1 4 = 34
(X + Y) 25 4 4 9 16 9 1 36 9 16 = 37

Perkalian
XY 6 0 0 2 4 2 0 9 2 4 = 29


Mean = M = = = 3,3

Variance = S = -

= - = 2,01

K = 6

KR 20 =

= = 0,40

KR 21 =

= = 0,31


Kr 20 digunakan jika nilai ujian hanya dinilai nomor yang benar saja, dan tiap nomor yang benar diberikan nilai 1. jika soal tidak banyak berbeda dalam derajat kesukarannya, maka KR 20 kurang baik untuk digunakan, dan diganti dengan KR 21. tetapi KR 21 juga masih mempunyai kelemahan, yaitu KR 21 selalu memberikan koefisien reliabilitas yang underestimates, jiks item atau soal-soal yang diberikan pernomor sangat berbeda dalam ”kesukaran”.

2. Validitas
Reliabilitas alat ukur menunjukkan pada kita tentang sifat suatu alat ukur dalam pengertian apakah suatu alat ukur cukup akurat, stabil atau konsisten dalam mengukur apa yang ingin diukur. Validitas, dilain pihak, mempersoalkan apakah benar-benar kita mengukur apa yang kita pikirkan sedang kita ukur?
Validitas banyak macamnya. Ada yang membagi validitas atau concurrent validity, construct validity, face validity,factorial validity, empirical validity, intrinsic validity, dan predictive validity. Conrurrent validity berkenaan dengan hubungan antara skor dengan kriteria penampilan (performance). Construct validity berkenaan dengan “kualitas psikologi apa yang diukur oleh sebuah pengujian” dan mengevaluasikannya dengan “memperlihatkan bahwa kontrak tertentu yang bisa diterangkan” dapat menyebabkan penampilan baik (performance-nya) dalam ujian. Content validity berkenaan dengan baik buruknya sampling dari isi suatu universe (populasi). Curricular validity ditentukan dengan cara menilik isi dari ujian itu sendiri dan menilai sampai seberapa jauh jauh ujian tersebut merupakan alat ukur yang sebenarnya terhadap tujuan dari pelajaran, ataupun sebagai sampling yang sebenarnya dari materi-materi pelajaran. Empirical validity menunjuk hubungan antara skor dan sebuah kriteria, diman kriteria tersebut adalah ukuran bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh ujian tersebut. Fase validity berhubungan dengan apa yang nampaknya untuk mengukur sesuatu, dan bukan terhadap apa yang seharusnya kegiatan tersebut mengukur. Factorial validity dari sebuah alat ukur (ujian) adalah korelasi antara alat ukur (ujian) tersebut dengan faktor-faktor yang bersamaan dalam kelompok atau ukuran-ukuran perilaku lainnya ….,dimana validitas tersebut didasarkan atas analisis faktor. Intrinsic validity berkenaan dengan penggunaan teknik percobaan dan bukan teknik korelasi terhadap suatu kriteria untuk memperoleh bukti kuantitatif dan objektif yang mendukung bahwa alat ukur (ujian) tersebut benar-benar mengukur apa yang sebenarnya harus diukur. Predictive validity berkenaan dengan hubungan antara skor, ujian untuk mengukur suatu kriteria yang didasarkan atas penampilan dimasa mendatang. Dari definisi-definisi yang diberikan terhadap berjenis-jenis validitas diatas, maka nampak bahwa tedapat tumpang tindih antara satu jenis validitas dengan yang lain. Karena itu, Thorndike dan Hagen (1955) membagi validitas atas dua jenis saja, yaitu validitas langsung dan validitas derivatif. Validitas langsung adalah jenis validitas yang bergantung pada analisis rasional dan putusan profesi (professional judgement), sedangkan validitas derivatif bergantung pada pembuktian statistik dan empiris.
Kerlinger (1973) membagi validitas atas tiga jenis, yaitu validitas isi, validitas yang berhubungan dengan kriteria, dan validitas konstrak. Marilah kita lihat lebih mendalam pengertian validitas menurut Kerlinger tersebut.

2.1 Validitas isi
Validitas isi mempersoalkan apakah isi dari suatu alat ukur (bahannya, topiknya,substansinya) cukup representatif atau cukup merupakan sebuah sampling? Validitas isi dipandu oleh pertanyaan : “apakah isi atau sunstansi dari alat ukur ini merupakan representatif dari isi atau suatu isi universal dari sifat-sifat yang ingin diukur?”
Validitas isi secara mendasar adalah merupakan suatu pendapat, baik pendapat sendiri ataupun pendapat orang lain. Tiap-tiap item soal dalam ujian perlu dipelajari secara seksama, dan kemudian dipertimbangkan tentang representatif tidaknya isi yang akan diuji.
Misalnya seorang dosen memberikan ujian tengah semester pada Fakultas Pertanian. Materi yang diberikan selama setengah semester telah ditentukan dalam course outline. Dosen tersebut membuat soal dalam bentuk objektif dan essai. Yang dipertanyakan apakah soal yang dibuat tersebut telah mencakup keseluruhan isi pelajaran sesuai dengan course outline. Pertanyaan tersebut mempersoalkan masalah validitas isi dari alat ukur (soal ujian) yang digunakan untuk mengukur prestasi dari mahasiswa dalam jarak waktu setengah semester.
Kita lihat bahwa dalam menentukan validitas isi alat ukur, yang perlu sekali mendapat perhatian adalah :
apakah alat ukur (soal-soal) telah mewakili senua mata yang diberikan?
Apakah pokok-pokok yang dicantumkan dalam alat ukur (soal) sesuai dengan mata pelajaran yang telah diajarkan?

Untuk melihat validitas isi tersebut biasanya sang dosen mendiskusikan alat ukur tersebut dengan teman sejawat, disamping menggunakan penilaian sendiri yang disesuaikan dengan course outline dari mata pelajaran yang bersangkutan.

2.2 validitas yang berhubungan dengan kriteria
Validitas yang berhubungan dengan kriteria adalah validitas yang dilihat dengan membandingkan dengan suatu kriteria atau variabel yang diketahui atau yang dipercaya dapat digunakan untuk mengukur suatu atribut tertentu. Jika skor atau skala yang diukur dibandingkan dengan satu atau lebih kriteria atau variabel yang dianggap mengukur hal yang ingin diukur, maka yang dikerjakan adalah menetapkan validitas dari alat ukur. Validitas prediktif termasuk dalam validitas yang berhubungan dengan criterion. Misalnya, mahasiswa ingin masuk perguruan tinggi. Ia harus lebih dahulu mengikuti ujian masuk universitas (ujian perintis). Soal ujian (alat ukur) telah dibuat sedemikian rupa sehingga dipikirkan bahwa mahasiswa yang baik dalam ujian masuk, akan baik pula dalam performance-nya nanti, dan akan memberikanangka-angka yang baik pula dalam ujian akhir. Demikian pula bagi mereka yang mempunyai nilai sedang, ataupun yang mempunyai nilai rata-rata saja. Mereka yang memperoleh nilai sedang pada ujian masuk, akan memperoleh nilai sedang pula untuk ujian akhir nantinya. Yang kita pertanyakan, apakah alat ukur berupa soal-soal ujian masuk yang dibuat cukup baik sehingga dapat meramalkan seorang mahasiswa, dimana mahasiswa tersebut nanti akan lulus dengan baik atau lulus biasa saja? Dalam hal ini, kita mempertanyakan validitas prediksi dari alat ukur (ujian masuk perintis) tersebut.
Segala jenis validitas dengan tujuan mengadakan prediksi dengan kriteria luar adalah validitas yang berhubungan dengan kreteria. Hampir semua bentuk ujian adalah bentuk prediksi. Ujian prestasi mengadakan prediksi (ramalan) prestasi dan kemampuan sekarang dan akan datang; ujian bakat (aptitude test) meramalkan prestasi yang akan datang; ujian inteligensia meramalkan kemampuan belajar dan memecahkan soal, baik dewasa ini ataupun yang akan datang.
Yang amat sukar dalam menentukan validitas dalam jenis ini adalah dalam memilih kriteria apa yang akan digunakan untuk dibandingkan. Kriteria apakah yang digunakan untuk mengadakan validasi terhadap alat pengukur efektivitas seorang guru? Siapa yang akan menilai efektivitas guru tersebut?
Sebuah alat ukur (ujian, misalnya) dikatakan mempunyai validitas yanga berhubungan dengan kriteria yang tinggi, jika ujian tersebut dapat menolong peneliti dalam membuat keputusan yang tepat dalam menempatkan seseorang, baik dalam pekerjaan, tugas dan sebagainya.

2.3 validitas konstrak
Seperti diketahui, konstrak adalah suatu abstraksi dan generalisasi khusus dan merupakan suatu konsep yang diciptakan khusus untuk kebutuhan ilmiah dan mempunyai pengertian terbatas. Konstrak tersebut diberi definisi sehingga dapat diamati dan diukur. Dalam melihat validitas konstrak beberapa pertanyaan di bawah ini perlu dijawab.
- komponen-komponen atau dimensi apa saja yang membentuk konsep tersebut?
- apakah landasan teoretis yang merangkum dimensi tersebut?
- bukti empiris apakah yang memperlihatkan ada tidaknya keterkaitan antara komponen atau dimensi-dimensi diatas?

Dalam membahas validitas konstrak (seperti : inteligensia, status eknomi, fertilitas, persepsi, pendidikan tradisional, dan sebagainya), maka yang pertama-tama dikerjakan oleh seorang peneliti adalah menganalisis unsur-unsur apa yang menjadi bagian dari konstrak tersebut. Kemudian dilihat isi dan makna dari komponen-komponen tersebut, serta dari alat ukur yang digunakan untuk mengukur konstrak tersebut. Dengan perkataan lain, sipeneliti ingin mengetahui sifat-sifat apakah yang dapat menerangkan variance dari alat ukur atau tes tersebut.
Misalnya, seorang ingin mengukur inteligensia seseorang. Sipeneliti bertanya :
1) faktor-faktor atau konstrak apakah yang menyebabkan terjadinya variasi penampilan ujian?
2) apakh ujian tersebut hanya mengukur ”kemampuan mengingat saja” dan kemanpuan ”memberikan alasan saja”

Apakah alat ukur tersebut juga mengukur ”kelas sosial”? Dengan perkataan lain, sipeneliti ingin mengetahui berapa bagian dari penampilan ujian disebabkan oleh kemampuan mengingat, kemampuan memberikan alasan dan oleh kelas sosial? Validitas konstrak, bukan saja mengadakan validasi terhadap alat ukur (misalnya ujian), tetapi juga mengadakan validasi terhadap teori dibelakang alat ukur tersebut. Ini yang membedakan validitas konstrak dengan validitas prediksi.
Mari kita nilai validitas konstrak dari inteligensia. Pertama-tama perlu ditentukan apakah yang sebenarnya diukur oleh tes inteligensia yang mempunyai dimensi banyak tersebut. Apakah kemampuan menghafal, kemampuan menganalisis, kemampuan mengadakan evaluasi, kemampuan membuat sintesis, atau kemampuan menerapkan sesuatu? Sesudah dimensi dari inteligensia tersebut diukur, maka baru disusun alat ukur untuk masing-masing dimensi inteligensia tersebut.
Langkah kedua adalah menentukan suatu kriteria yang secara umum dapat digunakan untuk membedakan orang yang mempunyai intelegensia rendah. Misalnya, kriteria yang dipilih adalah ”kecepatan dalam menyelesaikan soal matematika dengan tepat”.
Kemudian diberikan ujian kepada subjek, yaitu tes inteligensia dan soal matematika. Jika mereka memperoleh skor yang tinggi dalam tes inteligensia juga mampu menyelesaikan ujian matematika secara cepat dan tepat, dan sebaliknya mereka yang mendapat skor rendah dalam tes inteligensia juga tidak mampu menyelesaikan soal-soal matematika, mak dapat disimpulkan bahwa konstrak inteligensia dengan lima dimensi diatas mempunyai validitas konstrak yang tinggi.

2.4 validitas muka
Ada dua pengertian tentang validitas muka. Pertama, validitas muka berhubungan dengan pengukuran atribut yang konkrit tanpa memerlukan inferensi. Misalnya, jika ingin diketahui kemahiran seseorang dalam menulis steno, maka jumlah kata yang ditulis per detik sudah merupakan ukuran yang tepat tentang kemahiran steno seseorang. Untuk mengetahui kemahiran mengetik seseorang, maka suruhlah ia mengetik dan hitung jumlah huruf/kalimat yang dapat diselesaikan per menit.
Arti yang lain dari validitas muka berhubungan dengan penilaian para ahli terhadap suatu alat ukur. Misalnya, seorang peneliti ingin menyusun skala tentang persepsi. Skala tersebut diperlihatkan pada beberapa ahli. Jika ahli-ahli ini berpendapat bahwa unsur-unsur dalam skala tersebut dapat mengukur persepsi secara baik, maka skala tersebut mempunyai validitas muka yang tinggi.
















MERUMUSKAN
DAN
MENGUJI HIPOTESIS


PENDAHULUAN
Setelah si peneliti menelaah hasil-hasil penelitian dari peneliti-peneliti terdahulu melalui studi kepustakaan, dan sipeneliti telah memilih dan merumuskan masalah penelitian yang ingin dipecahkan, maka tibalah saatnya sipeneliti merumuskan hipotesis-hipotesis untuk diuji. Dengan banyak membaca, sipeneliti telah memperoleh banyak informasi, baik mengenai metode penelitian yang akan digunakan, maupun mengenai bahan-bahan komparatif yang akan dipakai untuk mengembangkan hipotesis dan mempertajam analisis. Sipeneliti sudah cukup mempunyai pengetahuan tentang teori-teori yang berkembang serta konsep-konsep yang ada mengenai fenomena-fenomena dan hubungan-hubungan yang akan dicari.
Menformulasikan hipotesis harus diakui, adalahsuatu pekerjaan yang sukar dalam penelitian. Hal ini lebih-lebih akan amat terasa jika permasalahan yang ingin dipecahkan tidak mempunyai kerangka teori yang jelas. Dilain pihak, kesukaran merumuskan hipotesis disebabkan oleh kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori secra logis, disamping kurang mengenal teknik serta metode penelitian yang ada.
Suatu hal yang masih konstroversial adalah pertanyaan apakah hipotesis diperlukan dalam suatu penelitian ? sudah terang, jawabannya bisa”ya” dan bisa juga “ tidak”. Jika penelitian ilmiah berkenaan dengan verifikasi, dimana langkah pokok dituntun oleh komponen “masalah hipotesis-data-analisis-kesimpulan”, yang mana komponen-komponen ini dijalin oleh suatu kerangka teori, maka hipotesis ini tidak dapat dimungkiri merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah. Dilain pihak, jika penelitian masih bersifat eksploratif dan deskriptif, maka hipoteis tidak diperlukan. Penelitian eksploratif adalah penelitian pendahuluan sebelum penelitian yang terperinci dan mendalam dilaksanakan. Karena itu, penelitian demikian belum memerlukan adanya hipotesis-hipotesis.
Hipotesis yang telah dirumuskan, kemudian diuji. Cara mengujinya tergantung dari metode penelitian seta desain penelitian itu sendiri. Yang penting adalah, hipotesis harus diuji dan dievaluasikan ;hipotesis tersebut harus dicari kecocokannya dengan fakta ataupun dengan logika.

MERUMUSKAN HIPOTESIS

Definisi Hipotesis
Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara sebagai sutu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja panduan dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomen yang kompleks.
Trelease (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai “suatu keterangan semenara dari suatu fakta yang dapat diamati “. Sedangkan Good dan Scates (1954) menyatakan bahwa “hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah penelitian selanjutnya? “ Hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel. ( Kerlinger, 1973).
Hipotesis amat berguna dalam penelitian. Tanpa antisipasi terhadap alam ataupun tanpa hipotesis, tidak aka ada progress dalam wawasan atau atau pengertian ilmiah dalam mengumpulkan fakta empiris. Tanpa ide yang membimbing, maka sulit dicari fakta-fakta yang ingin dikumpulkan dan sukar menentukan mana yang relevan mana yang tidak ( Cohen, 1956).
Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sebagai berikut.
Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
Menyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perrhatian peneliti.
Sebagai alat yang sederhana dalam memfokus fakta yang bercerai-cerai tanpa koordinasi kedalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antarfakta.

Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari hal berikut.
Pengamatan yang tajam dari sipeneliti.
Imajinasi serta pemikiran kreatif dari sipeneliti.
Kerangka analisis yang digunakan oleh sipeneliti.
Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh sipeneliti.

Sudah terang bagi penelitian yang tidak menggunakan hipotesis, hipotesis tidak berguna sama sekali.

Ciri-ciri Hipotesis
Hipotesis yang baik mempunyai cirri-ciri berikut.
Hipotesis harus banyak menyatakan hubungan.
Hipotesis harus sesuai dengan fakta.
Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan.
Hipotesis harus dapat diuji
Hipotesis harus sederhana.
Hipotesis harus bisa menerangkan fakta.
Hipotesis harus merupakan pernyataan terkaan tentang hubungan-hubungan antarvariabel. Ini berarti bahwa hipotesis mengandung dua atau lebih variabel-variabel yang dapat diukur ataupun secara potensial dapat diukur. Hipotesis menspesifikasikan bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan. Hipotesis yang tidak mempunyai cirri diatas, sama sekali bukan hipoteis dalam pengertian metode ilmiah.
Hipotesis harus cocok dengan fakta. Artinya, hipotesis harus terang. Kandungan konsep dan variabel harus jelas. Hipotesis harus dapat dimengerti, dan tidak mengandung hal-hal yang metafisik. Sesuai dengan fakta, bukan berarti hipotesis baru diterima jika hubungan yang dinyatakannya harus cocok dengan fakta.
Hipotesis juga harus tumbuh dari dan ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan. Jika tidak, maka hipotesis bukan lagi terkaan, tetapi merupakan suatu pertanyaan yang tidak berfungsi sama sekali.
Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuatan memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika. Alasan yang diberikan biasanya bersifat deduktif. Sehubungan dengan ini, maka supaya dapat diuji, hipotesis harus spesifik. Pernyataan hubungan antarvariabel yang terlalu umum biasanya akan memperoleh banyak kesulitan dalam pengujian kelak.
Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dan terbatas untuk mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian. Semakin spesifik atau khas sebuah hipotesis dirumuskan, semakin kecil pula kemungkinan memasukkan hal yang tidak relevan kedalam hipotesis.
Hipotesis juga harus dinyatakan dalam bentuk yang dapat menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai. Hipotesis harus dirumuskan sesuai dengan kemampuan teknologi serta keterampilan menguji dari sipeneliti.
Secara umum, hipotesis yang baik harus mempertimbangkan semua fakta-fakta yang relevan, harus masuk akal dan tidak bertentangan dengan hukum alam yang telah diciptakan Tuhan. Hipotesis harus dapat diujji dengan aplikasi deduktif atau induktif untuk verifikasi. Hipotesis harus sederhana.

Jenis-jenis Hipotesis
Hipotesis, yang isi dan rumusannya bermacam-macam, dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan kita dalam membaginya. Hipotesis dapat kita bagi sebagai berikut.
Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan
Hipotesis kerja vs hipotesis nul.
Hipotesis common sense dan ideal.

Hipotesis hubungan dan perbedaan
Hipotesis dapat kita bagi dengan melihat apakah pernyataan sementara yang diberikan adalah hubungan ataukah perbedaan. Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun regresi. Sebaliknya, hipotesis yang menjelaskan perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komparatif.

Hipotesis tentang hubungan dan perbedaan merupakan hipotesis hubungan analitis. Hipotesis ini, secara analitis menyatakan hubungan atau perbedaan satu sifat dengan sifat yang lain.


Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Dengan melihat pada cara seorang peneliti menyusun pernyataan dalam hipotesisnya, hipotesis dapat dibedakan antara hipotesis kerja dan nul. Hipotesis nul, yang mula-mula diperkenalkan oleh bapak statistika Fisher, diformulasikan untuk ditolak sesudah pengujian. Dalam hipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Perumusannya bisa dan bentuk:
“ Tidak ada beda antara…dengan…”Hipotesis nul dapat juga ditulis dalam bentuk:”…tidak mem…”

Hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statistika. Seperti telah dinyatakan diatas, hipotesis nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesisnul, maka kita menerima hipotesis pasangan, yang disebut hipotesis alternative.

Hipotesis nul biasanya digunakan dalam penelitian eksperimental. Akhir-akhir ini hipotesis nul juga digunakan dalam penelitian sosial, seperti penelitian dibidang sosiologi, pendidikan , dan lain-lain.
Hipotesis kerja, dilain pihak, mempunyai rumusan dengan implikasi alternative didalamnya. Hipotesis kerja biasanya dirumuskan sebagai berikut:
“ Andaikata…,maka….”
Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima dan dirumuskan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang noneksperimental. Dengan adanya hipotesis kerja, sipeneliti dapat bekerja lebih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.

3.3 Hipotesis tentang ideal vs common sense
Hipotesis acapkali menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaja dan common sense (akal sehat). Hipotesis ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan. Contohnya, hipotesis sederhana tentang produksi dan status pemilikan tanah, hipotesis mengenali hubungan tenaga kerja dengan luas garapan, hubungan antara dosis pemupukan dengan daya tahan terhadap insekta, hubungan antara kegiatan-kegiatan dalam industry, dan sebagainya.
Sebaliknya, hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis jenis ideal. Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Hipotesis ideal adalah peningkatan dari hipotesis analitis. Misalnya, kita mempunyai suatu hipotesis ideal tentang keseragaman empiris dan hubungan antar daerah, jenis tanah, luas garapan, jenis pupuk, dan sebagainya. Misalnya, tentang hubungan jenis tanaman A dengan jenis tanah A * dan jenis tanaman B dengan jenis tanah B*. jika kita perinci hubungan ideal diatas, misalnya dengan mencari hubungan antara varietas-varietas tanaman A saja, maka kita memformulasikan hipotesis analitis.

Menggali dan Merumuskan Hipotesis
Menemukan suatu hipotesis memerlukan kemampuan sipeneliti dalam menggaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka anailsis yang dibentuknya. Menggali dan merumuskan hipotesis mempunyai sebi tersendiri. Sipeneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka. Dalam menggali hipotesis, sipeneliti harus :
Mempunyai banyak informasi tentang maslah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literature-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan;
Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki;
Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka teoriilmu dan bidang yang bersangkutan.
Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial yang telah cukup berkembang seperti ilmu ekonomi misalnya, perumusan hipotesis dimulai dengan pembentukan kerangka analisis. Kerangka analisis ini biasanya dinyatakan dalam model matematika. Hipotesis-hipotesis dikaitkan dengan model matematika tersebut, yang kemudian diuji dengan menggunakan data empiris. ( Lihat Gambar 9,1). Kebenaran model matematika tersebut dapat diuji dengan teknik tertentu. Simulasi dapat dikerjakan dengan menggunakan computer.
Dalam memformulasikan atau merumuskan hipotesis, hubungan-hubungan berikut dapat dijadikan model untuk memudahkan rumusan;
Suatu hipotesis dapat menegaskan bahwa sesuatu adalah kasus dalam suatu keadaan, dimana satu objek tertentu, seseorang, situasi, atau kejadian mempunyai suatu ciri tertentu. Misalnya dirumuskan hipotesis yang menyatakan bahwa Raja Anu adalah orang Aceh, dalam suatu penelitian dengan metode sejarah.

Goode dan Hatt (1952) memberikan empat buah sumber untuk menggali hipotesis, berikut ini.
Kebudayaan dimana ilmu tersebut dibentuk.
Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori, dan teori member arah kepada penelitian.
Analogi juga merupakan hipotesis. Pengamatan terhadap jagad raya yang serupa atau pengamatan yang serupa pada ilmu lain merupakan sumber hipotesis yang baik. Mengamati respons berta hewan terhadap makanan, memberikan analog tentand adanya respons tanaman terhadap zat hara. Darinya dapat dirumuskan hubungan antara tumbuh dengan zat hara dalam tanah.
Reaksi individu dan pengalaman. Reaksi individu terhadap sesuatu, ataupun pengalaman-pengalaman sebagai suatu konsekuensi dari suatu fenomena dapat merupakan sumber hipotesis. Reaksi tanaman terhadap pestisida, reaksi ayam terhadap suntikan obat dapat merupakan sumber hipotesis.

Good dan Scates (1954) memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis.
Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu
Imajinasi atau angan-angan
Materi bacaan dan literature
Pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki
Data yang tersedia
Analogi atau kesamaan

Merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah. Seperti sudah disinggung sekurang-kurangnya ada tiga penyebab kesukaran dalam memformulasikan hipotesis, yaitu:
Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang kerangka teori yang terang;
Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka teori yang sudah ada, dan
Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk dapat merangkaikan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.

Hipotesis dibentuk dengan suatu pernyataan tentang frekuensi kejadian atau hubungan antarvariabel. Dapat dinyatakan bahwa sesuatu terjadi dalam suatu bagian dari seluruh waktu, atau suatu gejala diikuti oleh gejala lain, atau sesuatu lebih besar atau lebih kecil dari yang lain. Bisa juga dinyatakan tentang korelasi satu dengan yang lain.
Gambar 9.1
Proses Merumuskan Hipotesis






















Hipotesis dapat juga meneaskan rekaan bahwa suatu ciriatau keadaan adalah satu factor yang menentukan ciri lain atau keadaan lain. Hipotesis yang begini rupa dinamakan juga hipotesis sebab-akibat atau hipotesis kausal. Misalnya suatu hipotesis yang menyatakan bahwa pengalaman waktu balita merupakan determinan personalitas waktu biasa.

Perlu juga disinggung bahwa dalam merumuskan hipotesis nul, harus juga diiringi dengan hipotesis pendamping yang disebut hipotesis alterbatif. Jadi, jika kita rumuskan hipotesis :
Hipotesis : tidak ada beda antara A dengan B, maka hipotesis alternative: ada beda antara A dengan B.

Dalam merumuskan hipotesis, sipeneliti juga bisa merumuskan hipotesis nul ataupun merumuskan hipotesis alternative.

Dalam merumuskan hipotesis, maka harus dipikirkan bahwa : pertama, hipotesis yang dirumuskan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih juga akan dijumpai dalam penelitian lainnya. Kedua, hubungan yang direka sebaiknya berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teori. Karena itu, jika sumber dari hipotesis adalah asosiasi berdasarkan penemuan-penemuan lain, maka terdapat kemungkinan yang besar bahwa hipotesis yang dibentuk akan sesuai dengan penemuan pada penelitian-penelitian lainnya. Selanjutnya, jika hipotesis dikembangkan berdasarkan suatu kerangka teori yang jelas, maka sudah jelas hipotesi tersebut tidak akan bertentangan dengan teori.

Sehubungan dengan hal diatas, maka perlu juga disinggung bahwa hipotesis yang dirumuskan dan bersumber kepada intuisi atau firasat, adakalanya memberikan konstribusi yang besar kepada ilmu. Tetapi hipotesis yang didasarkan pada firasat dapat menjurus kepada:
Tidak adanya jaminan bahwa hubungan yang diperoleh juga akan diperoleh dalam penelitian lain, dan
Hubungan yang dibentuk tidak adahubungannya dengan ilmu atau teori.

Sebagai kesimpulan, maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut.
Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik.
Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan
Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antar dua atau lebih variabel yang dapat diukur.
Hipotesis hendaknya dapat diuji.
Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.
Marilah kita berikan beberapa contoh hipotesis yang dirumuskan secara sederhana:” petani padi masuk BIMAS berproduksi lebih tinggi”. Disini kita melihat suatu hubungan antara satu variabel “ petani padi BIMAS “ dan variabel yang lain “ produksi padi”. Karena kedua variabel tersebut dapat diukur, maka pengujian hipotesis juga dapat dikerjakan. Marimkita lihat contoh lain. Ada suatu hipotesis yang dinyatakan sebagai berikut ,” biaya produksi tidak mempengaruhi pendapat bersih usaha tani”. Hipotesis ini juga menunjukkan hubungan antara variabel” biaya produksi” dan “pendapatan bersih”. Hipotesis dinyatakan dalam bentuk hipotesis nul, yang tujuannya untuk ditolak. Hanya saja pernyataan diatas bukanlah merupakan hipotesis, karena hipotesis alternative yaitu “ biaya produksi mempengaruhi pendapatan bersih udara tani”adalah suatu identity, suatu common sense yang tidak perlu diuji lagi kebenaraannya. Mari pula kita lihat sebuah hipotesis lagi “ anak-anak dari golongan menengah lebih banyak menghindari mengecat dengan tangan dibandingkan dengan anak-anak dari golongan rendah. “ HIipotesis ini berkenaan perbedaan kelompok A dan B dalam beberapa cirri. Hipotesis diatas merupakan hipotesis analitis, yang merupakan subhipotesis dari suatu hipotesis ideal. Hipotesis ideal dapat dinyatakan sebagai berikut,” perilaku mengecat dengan jari sebagian adalah fungsi dari kelas sosial”.
Perlu juga dijelaskan bahwa hipotesis dapat dinyatakan secara eksplisit, yaitu pernyataan-pernyataan hubungan dinyatakan dengan tegas satu per satu. Adakalnya hipotesis tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi secara implisit. Dalam hal ini, hipotesis merupakan pernyataan yang tersirat dalam banyak hal-hal yang diterapkan didalam permasalahan ataupun dalam menceritakan pentingnya studi yang sedang dilakukan.
Hipotesis bersama-sama dengan masalah penelitian selalu mengembangkan pengetahuan dengan cara menolong peneliti membuat konfirmasi tentang ketidakcocokan dengan teori. Penggunaan hipotesis adalah seperti menebak lotre. Lebih dahulu sudah ditentukan aturan permainan. Lebih dahulu sudah dilakukan tebakan. Seorang tidak dapat mengubah aturan permainan. Seorang tidak dapat mengubah tebakan jika permainan sudah dimulai. Jika ini dilakukan, maka permainan tidak fair lagi. Seseorang tidak boleh melempar dadu dulu, baru menebak. Jika sipeneliti mengumpulkan data lebih dahulu, kemudian memilih data yang akan dijadikan hipotesis, maka sipeneliti tersebut telah melanggar aturan permainan ilmiah.
Akan tetapi,apakah suatu hipotesis dapat dirumuskan atau tidak dalam satu penelitian, amat tergantung dari tingkat pengetahuan dalam bidang yang diselidiki. Karena itu, banyak sekali penelitian yang sifatnya ekploratif, dimana data dikerjakan terus sebelum hipotesis dapat dirumuskan. Demikian juga pada ilmu-ilmu sosial yang kerangka teorinya belum begitu berkembang, hipotesis sangat jarang dirumuskan. Karena itu, jangan sekali-kali menyimpulkan bahwa penelitian yang tidak mempunyai hipotesis tidak ilmiah sama sekali.
Dari hipotesis-hipotesis dapat juga tumbuh teori. Dalam hal ini batasan antara hipotesis dan teori sukar diberikan. Perbedaan, jika ada, hanya terletak pada luas dan kompleksnya pengujian terhadap fakta. Dalam tahap permulaan, teori dapat merupakan hipotesis-hipotesis, dan dengan implikasi logika yang berjenis-jenis serta hipotesis-hipotesis yang berliku-liku memperlihatkan kecocokan dengan fakta, maka ia telah menjadi teori. Tetapi penjabaran teori dari hipotesis tidaklah mudah, apalagi kehendak mau menjabarkan teori dari satu atau dua hipotesis saja, yang kecocokannya pun didasarkan pada satu atau beberapa kasus saja.
Dalam pandangan ilmiah yang keras, teori adalah suatu hipotesis yang sudah cukup kekar dan dalam perjalanannya telah menjadi dalil (hukum). Contoh dari teori, misalnya teori Darwin tentang seleksi alamiah atau teori kuantum dari Planck tentang zat dalam ilmu fisika. Dalam pengertian ilmiah, dalil berarti keteraturan atau uniformitas dalam ciriatau hubungan kelompok-kelompok fakta tertentu atau kejadian tertentu. Dalil atau hukum tidak lain adalah suatu pernyataan tentang urutan atau hubungan dari fenomena yang sebegitu jauh tidak berubah-ubah dalam kondisi tertentu. Sedangkan hipotesis adalah rekaan tentang terjadinya suatu fakta atau dalil yang akan digunakan untuk menerangkan hubungan fakta-fakta yang sudah diketahui ada( Creighton dan Smart, 1938) sedangkan Black (1947), melihat hipotesis sebagai suatu presisi yang tidak diketahui benar atau salah, yang diselidiki untuk menentukan konsekuensi yang akan mengikuti kebenarannya.
Dibawah ini diberikan beberapa contoh rumusan hipotesis serta hubungannya dengan judul penelitian dan tujuan penelitian.

JUDUL PENELITIAN
TUJUAN PENELITIAN
HIPOTESIS

Peningkatan usaha kerajinan genteng dalam rangka penyerapan tenaga kerja dan penambahan pendapatan keluarga tani didesa Berjo, kecamatan bodean, Kabupaten Sleman, daerah Istimewa Yogyakarta.

















Perbandingan Biaya dan penerimaan antara pemeliharaan sapi potong secara ekstensif dan pemeliharaan sapi potong secra intensif di kotamadya Pare-pare Propinsi Sulawesi Selatan.













Analisis pengeluaran pembangunan selama pelita I dan II.


























Analisis kuantitatif tentang penerimaan pemerintah dari sector pajak selama pelita I dan II.



Memperoleh gambaran sampai seberapa jauh pengangguran musiman dapat diserap oleh kerajinan genteng.
Mengetahui besarnya sumbangan usaha kerajinan terhadap pendapatan total usaha tani.
Mengetahui apakah usah a kerajinan genteng mempunyai hubungan yang bersifat komplementer ataukah substitusi terhadap usaha tani padi dalam hal alokasi pencurahan jam tenaga kerja.


Mengetahui gross margin (keuntungan kotor ) perekor ternak yang diperoleh peternak dengan cara pemeliharaan secara ekstensif dan pemeliharaan intensif
Mengetahui pendapatn bersih(netform income) usaha ternak dari kedua cara diatas.







Mengetahui pengaruh variable penjelas yang digunakan penerimaan pembangunan, eskspor minyak, dan non minyak, impor minyak dan non minyak serta jumlah uang beredar terhadap pengeluaran pembangunan.
Menyelidiki pegaruh data semester sebagai variable boneka dan perubahan dan pengukur dari dolar kerupiah terhadap persamaan regresi.
Menyelidiki penngaruh pembangunan dan variabel penjelas sebelum suatu periode terhdapa variabel yang dijelaskan periode yang berlaku.



Mengetahui pengaruh factor-faktor baik secara sendiri atau secara bersama-sama terhadap perubahan penerimaan pajak.
Menyelidiki pengaruh data semesteran sebagai variabel boneka yang akan mengubah konstanta ataupun slope persamaan regresi yang ditaksir. Usaha kerajinan genteng dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan total keluarga petani, lebih besar daripada sifatnya yang sekarang.

Alokasi pencurajhan jam tenaga kerja disektor usaha tani padi tanpa genteng masing dapat diperkecil untuk dialihkan keusaha kerajinan genteng.






Gross Margin per ekor yang diperoleh dari pemeliharaan secara intensif lebih besar daripada yang diiperoleh dari pemeliharaan intensif.

Pendapatan bersih yang diperoleh dari pemeliharaan secara intensif lebih besar daripada yang diperoleh dari usaha pemeliharaan ekstensif.Elastisitas antara pengeluaran pembangunan adalah positif dan kecil.

Elastisitas antara pengeluaran pembangunan adalah positif dan kecil






Elastisitas antara pengeluaran pembangunan terhadap ekspor minyak dan nonminyak, impor minyak dan nonminyak serta jumlah uang beredar adalah positif dan lebih kecil dari satu.






Pengeluaran pemerintah periode t mampu mempengaruhi perubahan penerimaan pajak periode t.
Jumlah penduduk periode t mampu mempengaruhi perubahan penerimaan pajak periode t.

Nilai impor dan ekspor periode t mampu mempengaruhi perubahan penerimaan pajak periode t.

Secara bersama-sama variabel diatas mampu mempengaruhi perubahan penerimaan pajak periode t.

MENGUJI HIPOTESIS

Fungsi hipotesis adalah untuk memberi suatu pernyataan terkaan tentang hubungan tentative antara fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan tentatif ini akan diuji validitasnya menurut teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian. Bagi seorang peneliti, hipotesis bukan merupakan suatu hal yang menjadi vested interest, dalam artian bahwa hipotesis harus selalu diterima kebenarannya. Jika hipotesis ditolak karena tidak sesuai dengan data, misalnya keadaan ini tidak berarti sipeneliti dapat menerangkan mengapa hipotesisnya tidak valid. Penolakan hipotesis dapat merupakan penemuan yang positif, karena telah memecahkan ketidaktahuan (ignorance) universal dan memberi jalan kepada hipotesis yang lebih baik. Akan tetapi, seorang ilmuwan tidak dapat mengetahui bukti positif atau negative kecuali ilmuwan tersebut mempunyai hipotesis dan dia telah menguji hipotesis tersebut.
Hipotesis tidak pernah dibuktikan kebenarannya, tetapiu diuji validitasnya. Kecocokan hipotesis dengan fakta bukanlah membuktikan hipotesis, karena bukti tersebut memberikan alasan kepada kita untuk menerima hipotesis, dan hipotesis adalah konsekuensi logis dari bukti yang diperoleh.
Untuk menguji hipotesis diperlukan data atau fakta-fakta. Kerangka pengujian harus ditetapkan lebih dahulu sebelum sipeneliti mengumpulkan data. Pengujian hipotesis memerlukan pengetahuan yang luas mengenai teori, kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistic, dan teknik-teknik pengujian. Cara pengujian hipotesis bergantung dari metode dan desain penelitian yang digunakan.
Yang penting disadari adalah hipotesis harus diuji dan dievaluasikan. Apakah hipotesis tersebut cocok dengan fakta atau dengan logika. ? ilmuwan tidak akan mengakui validitas ilmu pengetahuan jika validitas tidak diuji secara menyeluruh. Satu kesalahan besar telah dilakukan jika dipikirkan bahwa hipotesis adalah fakta, walau bagaimanapun baiknya kita menformulasikan hipotesis tersebut.
Secara umum hipotesis dapat diuji dengan dua cara, yaitu mencocokkan dengan fakta, atau dengan mempelajari konsistensi logis. Dalam menguji hipotesis dengan mencocokkan fakta, maka diperlukan percobaan-percobaan untuk memperoleh data. Data tersebut kemudian kita nilai untuk mengetahui apakah hipotesis tersebut cocok dengan fakta tersebut atau tidak. Cara ini biasa dikerjakan dengan menggunakan desain percobaan.
Jika hipotesis diuji dengan konsistensi logis, maka si peneliti memilih suatu desain dimana logika dapat digunakan, untuk menerima atau menolak hipotesis. Cara iini sering digunakan dalam menguji hipotesis pada penelitian yang menggunakan metode noneksperimental seperti metode deskriptif, metode sejarah, dan sebagainya

1. menguji hipotesis dengan konsistensi logis
Penggunaan logika memegang peranan penting dalam menguji hipotesis dengan konsistensi logis. Logika adalah ilmu yang mempelajari cara memberi alasan. Karena cara memberi alasan adalah berkenaan dengan berpikir tentang berpikir. Secara lebih luas, logika adalah studi tentang operasional memberi alasan, dengan mana fakta-fakta diamati, bukti-bukti dikumpulkan, dan kesimpulan yang wajar diambil. Dengan demikian, logika tidak lain adalah metode memberi alasan. Cara penarikan kesimpulan dengan berpikir secara valid dinamakan berpikir secara logis.
Logika adalah cara menalar dimana data diamati dan dibagi-bagi, buktinya dicari dan diperetimbangkan, dan kemudian kesimpulan diambil. Ada dua cara dalam memberi alasan, yaitu cara deduktif (dari umum mennjadi spesifik) dan cara induktif (dari spesifik menuju umum).

1.1 alasan deduktif
Alasan deduktif adalah cara memberi alasan dengan berpikir dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum dan menarik kesimpulan yang bersifat khusus atau spesifik. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya dengan jalan menggunakan pola berpikir yang disebut sillogisma. Sillogisma berasal dari kota Yunani yang bararti menggabungkan bersama-sama. Suatu sillogisma terdiri dari tiga kalimat, dimana dua kalimat pertama adalah dua proposisi atau premis dan kalimat terakhir adalah suatu kesimpulan. Premis-premis gunanya untuj memberikan dasar atau alasan agar memperoleh kesimpulan pada kalimat ketiga
Penggunaan sillogisma adalah memberi alasan mempunyai beberapa keuntungan, yaitu
- pengorganisasian pengetahuan dalam suatu pengalaman, atau kepercayaan yang telah diterima;
- merupakan alat yang ampuh dalam menentukan apakah sebuah kesimpulan yang diambil konsisten dengan hukum-hukum umum atau tidak.

Dalam program berpikir secara deduktif, ada tiga jenis sillogisma yang dapat digunakan, yaitu :
a. sillogisma alternatif
b. sillogisma hipotesis
c. sillogismakategori


Sillogisma alternatif dibangun berdasarkan proposisi alternatif. Sillogisma ini terdiri dari 3 proposisi, yaitu :
premis mayor, merupakan sebuah proposisi alternatif
- premis minor, merupakan sebuah proposisi kategori
- kesimpulan, yang juga merupakan sebuah proposisi kategori

Dalam bentuk simbol, sillogisma alternatif dapat ditulis :
A adalah B atau C (premis mayor)
A bukan C (premis minor)
A adalah B (kesimpulan)
Contoh :
Ayam itu tidur atau mati (mayor)
Ayan itu tidak mati (minor)

Ayam itu tidur (kesimpulan)

Satu bentuk lagi dari sillogisma alternatif adalah sebagai berikut :
- premis mayor merupakan proposisi alternatif
- premis minor mengiyakan salah satu alternatif
- kesimpulan

Dalam simbol dapat ditanyakan :
A adalah B atau C (premis mayor)
A adalah B (premis minor)
A bukan C (kesimpulan)

Contoh :
Tanaman itu mangga atau kueni
Tanaman itu mangga
Tanaman itu bukan kueni

Sillogisma hipotetik adalah suatu argumentasi dengan tiga proposisi, yaitu :
- premis mayor, yang merupakan proposisi hipotetik
- premis minor yang merupakan proposisi kategori
- kesimpulan yang merupakan proposisi kategori

Ada dua jenis sillogisma hipotetik, yaitu bentuk kontruktif dan bentuk destruktif.
Dalam sillogisma hipotetik bentuk konstuktif kita lihat :
- premis minor mengiyakan atau menegaskan anteseden atau bagian yang mendahului kata pengganti dari premis mayor
- kesimpulan mengiyakan konsekuensi dari premis mayor

Secara simbolis bentuk konstuktif dapat ditulis :
Jika A adalah B, maka C adalah D (mayor)
A adalah B (minor)
C adalah D (kesimpulan)


Contoh :
Jika hari hujan, bibit akan tumbuh (mayor)
Hari akan hujan (minor)
bibit akan tumbuh (kesimpulan)

pada sillogisma hipotetik bentuk destruktif :
- premis minor menyangkal konsekuensi dari premis mayor
- kesimpulan menyangkal anteseden premis mayor

Dalam bentuk simbol dapat ditulis :
Jika A adalah B, C adalah D (premis mayor)
C bukan D (premis minor)
A bukan B (kesimpulan)

Contoh :
Jika hujan turun, biji akan tumbuh (mayor)
Biji tidak tumbuh (minor)
Hujan turun (kesimpulan)

Satu bentuk lain dari sillogisma adalah sillogisma kategori. Sillogisma kategori mempunyai tiga proposisi, yang mana ketiga-tiga proposisi tersebut adalah proposisi kategori. Pada sillogisma kategori :
- premis mayor adalah proposisi kategori
- premis minor adalah proposisi kategori
- kesimpulan adalah proposisi kategori

Dalam bentuk simbol dapat ditulis sebagai :
Semua B adalah C (premis mayor)
Semua A adalah B (premis minor)
Semua A adalah C (kesimpulan)

Contoh :
Semua orang akan mati (premis mayor)
Plato adalah orang (premis minor)
plato akan mati (kesimpulan)

sillogisma kategori adalah alat argumentasi yang banyak digunakan oleh aristoteles, yang dinyatakannya secara bebas sebagai ”apa saja yang dapat dikukuhkan atau disalahkan dari satu kelas, dapat dikukuhkan atau ditolak oleh tiap anggota kelas tersebut”. Dalam mengambil kesimpulan berdasarkan sillogisma, orang banyak membuat kesalahan karena dua sebab utama :
1) menggunakan sillogisma kategori dimana premis mayor adalah proposisi kategori, tetapi premis minor menyangkal premis mayor, yaitu :

Semua B adalah C (premis mayor)
D bukan B (premis minor)
D bukan C (kesimpulan)

Contoh :
Semua mahasiswa IKIP pandai (mayor)
Mariana bukan mahasiswa IKIP (minor)
Mariana tidak pandai (kesimpulan)

Kesimpulan diatas nyata-nyata salah, lebih-lebih jika diperhatikan diagram Venn dibawah ini :

Bukan mahasiswa tetapi pandai





Bukan mahasiswa IKIP tetapi pandai









Kesimpulan diatas salah karena premis minor menolak premmis mayor dan kemudian diambil kesimpulan menolak premis mayor. Memang Mariana bukan mahasiswa IKIP, tetapi mungkin saja ia mahasiswa pandai dari Unsyiah atau dari Ar- Raniry.

2) kesimpulan yang diambil salah, karena menguatkan atau mensahkan konsekuensi. Dalam simbol dapat dituliskan sebagai :
Semua B adalah C (premis mayor)
A adalah C (premis minor)
A adalah B (kesimpulan)

Kesalahan kesimpulan akibat mengiyakan konsekuensi premis mayor oleh premis minor dapat dilihat dari contoh berikut :
Semua orang akan mati (premis mayor)
Kiki akan mati (premis minor)
kiki adalah orang (kesimpulan)

kesalahan ini jika divualisasikan dengan diagram Venn adalah sebagai berikut







Semua mati walaupun bukan orang









Dalam kesimpulan yang diambil, kesalahan terletak pada premis minor yang mengiyakan konsekuensi dari premis mayor. Konsekuensi dari semua orang adalah mati. Kiki mengiyakan mati. Padahal kiki bisa saja bukan orang, Kiki bisa ayam, bisa kucing. Karena itu, kesimpulan tersebut menjadi salah. Secara matematis, ini dapat ditunjukkan :
Benar : B = C Salah : B = C
A = B A = C
A = C A = B

1.2 Alasan induktif
Alasan induktif adalah cara berfikir untuk memberi alasan yang dimulai dengan pernyataan-pernyataan yang spesifik untuk menyusun suatu argumentasi yang bersifat umum. Alasan secara induktif banyak digunakan untuk menjajaki aturan-aturan alamiah dari suatu fenomena. Karena dalam kehidupan jagad raya ilmu tidak menggugat Pencipta,tetapi menelaah sebab dan akibat dari kejadian di jagad raya yang telah diciptakan Allah. Alasan-alasan induktif banyak digunakan dalam pembuktiannya.
Dalam alasan induktif, suatu kesimpulan umum ditarik dari pernyataan spesifik. Misalnya, dari pengamatan bahwa ikan ada mulut, kodok ada mulut, ayam ada mulut, kambing ada mulut, burung ada mulut, maka ditarik kesimpulan bahwa semua binatang ada mulut.























Dalam menguji hipotesis secara konsistensi logis, tidak ada suatu ketentuan apakah seorang peneliti harus menggunakan alasan deduktif atau induktif. Dengan perkataan lain, dalam proses pengujian hipotesis peneliti tidak mempunyai batasan yang nyata dalam memberikan alasan untuk menguji, mengutak-ngatik data, serta variabel khas untuk menguji hipotesis ataupun dari suatu hal yang umum diturunkannya ke sifat-sifat khas untuk menguji hipotesis.
Alasan deduktif sering digunakan oleh sipeneliti untuk menguji hipotesis. Dari hubungan-hubungan yang kompleks dari fenomena dapat ditarik suatu proposisi sebagai suatu faktor penyebab dalam pengujian hipotesis. Dalam hal ini, sipeneliti menyaring dari perilaku yang kompleks sebuah ide yang cocok dengan hipotesisnya. Cara deduksi memberi tiga keuntungan (Cohen, 1931) :
a. menolong menentukan beberapa asumsi yang benar serta memperbanyak hipotesis alternatif sebagai hipotesis pendamping.
b. deduksi serta akibat-akibatnya akan memperjelas arti hipotesis sehingga akan menolong proses pengujian hipotesis.
c. proses induksi dalam cara berpikir dapat membantu menghindari hal-hal yang tidak relevan, dan induksi merupakan kuci untuk menyelesaikan teka-teki.

Penggunaan alasan induktif dalam menguji hipotesis mempunyai dua macam keuntungan. Pertama, pernyataan atau kesimpulan yang diambil yang mempunyai sifat umum, lebih ekonomis. Berbagai fakta mempunyai hubungan dan pengunpulan fakta tersebut dapat merupakan satu esensi yang menyeluruh. Kedua , pernyataan yang bersifat umum tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan alasan lebih lanjut, baik secara induktif maupun deduktif. Secara induktif, dari pernyataan yang bersifat umum dapt disimpulkan menjadi sifat yang lebih umum lagi. Misalnya, karena binatang mempunyai mulut, dan manusia mempunyai mulut, maka disimpulkan bahwa semua makhluk Tuhan mempunyai mulut.

1.3 Canon dari Mill
Dalam hubungannya dengan alasan induktif ada beberapa aksioma yang sering dipakai dalam proses berpikir.
- apa saja yang terjadi, ada penyebabnya
- jika ada perbedaan dalam efek atau pengaruh maka ada perbedaan dalam sebab
- tiap sebab adalah pengaruh dari efek sebelumnya dan tiap efek adalah penyebab dari efek posterior
John Stuart Mill adalah ahli mantik (logika) pertama yang berhasil membuat desain yang dapat memberikan implikasi untuk pengujian hipotesis. Metode yang dikembangkannya disebut Canon dari Mill atau Hukum Mill. Canon mill ini merupakan embrio dari desain percobaan. Ada 5 buah canon dari Mill, yaitu :
a. canon I : metode kesesuaian (methods of agreement)
b. canon II : metode perbedakan (methods of difference)
c. canon III : metode bersama kesesuaian dan perbedaan (methods of agreement and difference)
d. canon IV : metode pertinggal (methods of residue)
e. canon V : metode variasi yang beriringan (methods of concomitant variations)

Metode kesamaan atau methods of agreement, berbunyi sebagai berikut :”jika dua atau beberapa kasus dari suatu kejadian mempunyai satu dan hanya satu kondisi yang sama, maka kondisi tersebut dapat dianggap sebagai sebab atau efek dari kejadian tersebut”. Dengan perkataan lain, jika diamati ada kejadian Q dan tiap kasus ada unsure Z, maka penyebab dari Q adalah Z. sebagai contoh : ada dua situasi dimana terdapat unsure A,B,Z untuk situasi I dan unsure X,Y,Z untuk situasi 2, dan kedua set situasi memberikan observasi O, maka dapat disimpulkan bahwa D adalah disebabkan oleh Z, atau sekurang-kurangnya ada hubungan kausal antara Z dan D (lihat gambar 9.2).

Kelemahan dari Canon I adalah :
1. mungkin saja ada faktor lain yang tidak diamati yang menyebabkan D
2. akan bekerja hanya dalam suatu kondisi yang berlaku





Gambar 9.2




menghasilkan


situasi 1



menghasilkan


situasi 2

canon II dari Mill, yaitu metode perbedaan menyatakan bahwa : “jika dua atau lebih kejadian mempunyai unsur-unsur yang serupa, kecuali ada suatu unsur yang berbeda, dan fenomena tersebut terjadi jika unsur yang berbeda itu ada, maka unsur yang berbeda tersebut mungkin penyebab atau akibat dari hasil pengamatan yang terjadi. Misalnya, satu situasi dengan tiga unsur, A, B, dan C, tidak menghasilkan D, maka dapat disimpulkan bahwa C dan D mempunyai hubungan kausal”. (lihat gambar 9.3)

gambar 9.3


menghasilkan


Situasi 1




menghasilkan

Situasi 2

Canon II dari Mill juga masih mempunyai kelemahan, yaitu sukar diperoleh situasi yang sama atau keadaan yang serupa. Biasanya situasi selalu berbeda, baik menurut waktu maupun menurut ruang. Canon III dari Mill dinamakan metode kesesuaian dan perbedaan. Canon III berbunyi : “jika dua atau lebih keadaan mempunyai satu unsur yang sama menghasilkan satu fenomena, sedangkan satu atau lebih hal ini yang tidak sama menyebabkan tidak terjadinya fenomena tersebut, maka keadaan dimana kedua gugus peristiwa berbeda adalah akibat atau penyebab atau bagian yang ada dalam penyebab fenomena”.
Misalnya ada dua situasi, yaitu situasi 1 dan situasi 2. situasi 1 mempunyai unsur C yang juga dipunyai oleh situasi 2, menghasilkan fenomena D. Ada pula dua situasi lain, yaitu situasi 3 yang mempunyai unsur non-C, A dan B yang sama dengan situasi 1 tidak menghasilkan fenomena D, dan situasi 4, yang juga mempunyai unsur non-C, D dan E yang sama dengan situasi 2, juga tidak menghasilkan D, tetapi menghasilkan fenomena non-D, maka C adalah penyebab atau akibat dari D. (lihat gambar 9.4)


A B C
Situasi 1



C D E
Situasi 2



A Non
C B
Situasi 3





Non
C D E
Situasi 4















Canon IV dari Mill yang disebut juga metode pertinggal (residual method) adalah sebagai berikut : “ jika factor spesifik menyebabkan satu bagian tertentu satu fenomena diketahui, maka bagian selebihnya dari fenomena boleh jadi disebabkan oleh factor lainnya yang tinggal”.
Misalnya fenomena 1 menyebabkan fenomena 2. Diketahui pula bahwa unsur A dari fenomena C pada fenomena 2, maka unsur D dari fenomena 2 dimesti disebabkan oleh unsur B dari fenomena 1, jika A dan B adalah unsur dari fenomena 1, sedangkan C dan D adalah unsure dari fenomena 2. Untuk lebih jelas lihat gambar 9.5
Gambar 9.5






Situasi 1 Situasi 2
Canon V dari Mill yang dinamakan juga metode variasi yang seiring (methods of concomitant variation), berbunyi : “jika dua kejadian bervariasi atau berubah secara beraturan, maka variasi pada satu fenomena disebabkan oleh variasi pada yang lain, atau keduanya dipengaruhi oleh satu atau beberapa sebab yang sama”. Misalnya : adanya A menyebabkan adanya B, adanya C menyebabkan adanya D, maka dapat disimpulkan bahwa adanya A atau C disebabkan oleh B atau D, ataupun F yang menyebabkan semua itu. (lihat gambar 9.6)













Contoh yang nyata adalah sebagai berikut :
Air pasang naik di bumi, bulan tidak penuh
Air pasang surut di bumi, bulan penuh
Kesimpulan
1). Bulan penuh atau tidak penuh disebabkan oleh pasang surut atau pasang naik
2). Pasang surut atau pasang naik disebabkan oleh bulan penuh, atau tidak penuh
3.) penyebabnya adalah fenomena lain, yaitu jarak antara bulan dan bumi

Canon Mill kelima ini merupakan dasar dari teknik korelasi, sehingga Canon V dari Mill dapat diterjemahkan sebagai :” jika perubahan dari satu variabel diiringi oleh perubahan yang berbanding dari variabel lain dalam dua lebih kasus, dan perubahan variabel terakhir tidak terjadi jika variabel pertama tidak berubah, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan yang satu disebabkan oleh perubahan yang satu lagi”.

2. Menguji dengan mencocokkan fakta
Satu cara lagi menguji hipotesis adalah dengan mencocokkan fakta. Hal ini sering dilakukan pada penelitian dengan metode percobaan. Si peneliti dalam hal ini mengadakan percobaan untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk menguji hipotesisnya. Pada percobaan tersebut si peneliti menggunakan control.

Control dalam suatu percobaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
Dengan manipulasi fisik
Dengan pemilihan bahan atau desain

Manipulasi fisik
Manipulasi fisik dapat dilaksanakan dengan berbagai cara dengan menggunakan berbagai alat. Manipulasi fisik dapat berupa menipulasi mekanis dengan menggunakan listrik, dengan cara pembedahan, dengan cara farmakologi, dan sebagainya. Misalnya seorang peneliti ingin melihat pengaruh pemangkasan terhadap produksi kopi. Sipeneliti akan melakukan manipulasi fisik terhadap kopi percobaannya,yaitu memangkas tanaman kopi secara mekanis, dengan menggunakan pisau pemangkas. Seorang peneliti lain akan mencoba efektifitas racun hama, maka ia akan melakukan manipulasi farmakologis dalam percobaannya. Seorang ahli kimia dalam mengadakan percobaan di laboratorium akan melakukan manipulasi kimiawi. Sering kali peneliti melakukan banyak ragam manipulasi dalam satu percobaannya.

Pemilihan atau seleksi
Control dalam percobaan juga dapat dikerjakan dengan seleksi, baik seleksi bahan ataupun seleksi terhadap desain percobaan yang akan digunakan. Dalam metode percobaan, si peneliti dapat memilih sesuka hati bahan-bahan yang digunakan asal saja bahan tersebut sesuai dengan tujuan (apakah menggunakan cangkul, pestisida, rumput, pupuk, dan sebagainya), ataupun masalah penelitian yang dipilih (apakah pemupukan, penyiangan, penyemprotan, dan sebagainya).

Dengan desain percobaan yangdipilih, jumlah replikasi dan perlakuan dapat diatur, dan pengamatan dilakukan untuk menguji hipotesis. Jika data cocok dengan hipotesis, maka hipotesis diterima. Sebaliknya, jika hasil percobaan tidak cocok dengan hipotesis, maka hipotesis ditolak atau di-“simpan”.

Contoh pengujian hipotesis dengan cara mencocokkan dengan fakta dapat dilihat sebagai berikut.

Seorang peneliti dihadapkan kepada masalah berikut.
Apakah diperlukan cahaya supaya biji jagung dapat tumbuh? Dari masalah ini si peneliti merumuskan sebuah hipotesis nul, yaitu : ”biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk tumbuh”. Hipotesis tersebut diuji dengan cara mencocokkan dengan fakta dari percobaan.

Masalah
Apakah biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh?
Hipotesis
Biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk tumbuh.
Ho. Alternative
Biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh.
Menguji hipotesis
Hipotesis diuji dengan mengadakan percobaan.
Sipeneliti menyediakan biji jagung yang daya kecambahnya baik.
Disediakan suatu tempat di mana kondisi tanah, suhu, cuaca, dan sebagainya cukup ideal untuk pertumbuhan jagung.
Si peneliti membagi jagung atas dua perlakuan :
Sebagian dibiarkan memperoleh cahaya
Sebagian lagi tidak diberi cahaya (ditutup)
Si peneliti melakukan pengamatan selama tujuh hari.
Hasil pengamatan
Biji jagung yang kena cahaya tumbuh dengan baik dalam tempo tujuh hari. Sebaliknya biji jagung yang tertutup (tanpa cahaya) tidak tumbuh dalam tempo tujuh hari.
Kesimpulan
Biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh. Dengan perkataan lain, si peneliti menolak hipotesis nulnya, dan menerima hipotesis alternative.



















MENGUMPULKAN
DATA


PENDAHULUAN
Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan, kecuali untuk penelitian eksploratif, untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Data yang dikumpulkan harus cukup valid untuk digunakan. Validitas data dapat ditingkatkan jika alat pengukuran serta kualitas dari pengambilan datanya sendiri cukup valid. Dalam penelitian untuk bidang tertentu, seperti data penelitian beberapa masalah psikologi, si pengambil data adalah peneliti sendiri yang harus cukup terampil.
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah member arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data. Banyak masalah yang dirumuskan tidak akan bisa dipecahkan karena metode untuk memperoleh data yang digunakan tidak memungkinkan, ataupun metode yang ada tidak dapat menghasilkan data seperti yang diinginkan. Jika hal sedemikian terjadi, maka tidak ada lain jalan bagi sipeneliti kecuali menukar masalah yang ingin dipecahkan.
Secara umum metode pengumpulan data dapat dibagi atas beberapa kelompok yaitu :
Metode pengamatan langsung
Metode dengan mengunakan pertanyaan
Metode khusus
Dalam pembagian diatas, dasar pembagian adalah sampai berapa jauh si pengambil data langsung atau tidak langsung bergaul dengan subjek penelitian.
Perlu juga dijelaskan bahwa cara pengumpulan data dapat dikerjakan berdasarkan pengalaman. Memang dapat dipelajari metode-metode pengumpulan data yang lumrah digunakan, tetapi bagaimana cara mengumpulkan data dilapangan, dan bagaimana menggunakanteknik tersebut dilapangan atau di laboratorium, berkehendak akan pengalaman yang banyak.

PENGUMPULAN DATA DENGAN OBSERVASI LANGSUNG
Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluaan tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari, kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Kita sering mengamati bulan purnama, mengamati lampu warna-warni, mengamati gunung yang indah, ataupun mengintip gadis cantik sedang mandi di sungai. Tetapi yang dimaksud dengan pengamatan dalam metode ilmiah, bukanlah kegiatan pengamatan seperti diatas. Pengamatan baru tergolong sebagai teknik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut mempenyai kriteria berikut :
Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik
Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan
Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik perhatian saja.
Pengamatan dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan reliabilitasnya.

Penggunaan pengamatan langsung sebagai cara mengumpulkan data mempunyai beberapa keuntungan :
Dengan cara pengamatan langsung, terdapat kemungkinan untuk mencatat hal-hal, perilaku, pertumbuhan, dan sebagainya, sewaktu kejadian tersebut berlaku, atau sewaktu perilaku tersebut terjadi. Dengan cara pengamatan, data yang langsung mengenai perilaku yang tipikal dari objek dapat dicatat segera, dan tidak menggantungkan data dari ingatan seseorang.
Pengamatan langsung dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tidak mau berkomunikasi secara verbal. Misalnya anak bayi tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap bayi, seseorang dapat mengetahui perilaku bayi tersebut serta hubungannya dengan sifat-sifat tertentu. Dengan mengamati tanaman atau binatang, seseorang dapat mengetahui respons hewan atau tanaman terhadap suatu perlakuan. Adakalanya subjek tidak mau berkomunikasi secara verbal dengan enumerator atau peneliti, baik karena takut, karena tidak ada waktu atau karena enggan. Dengan pengamatan langsung, hal diatas dapat ditanggulangi.

Selain dari keuntungan yang telah diberikan diatas, pengamatan secara langsung sebagai salah satu metode dalam mengumpulkan data, mempunyai kelemahan-kelemahan. Kelemahan yang penting dari pengamatan langsung adalah :
Kadangkala diperlukan waktu menunggu yang lama untuk memperoleh pengamatan langsung terhadap suatu kejadian. Misalnya, jika seorang ahli antropologi ingin mengetahui adat perkawinan suatu suku asing di suatu daerah, maka ia harus menunggu sampai ada upacara tersebut.
Pengamatan terhadap suatu fenomena yang lama tidak dapat dilakukan secara langsung. Misalnya, untuk mengamati sejarah kehidupan seseorang sejak bayi sampai meninggal tidak mungkin sama sekali. Tetapi life history dari objek yang mempunyai durasi pendek, misalnya, sejarah hidup dari lalat, masih bisa dilakukan dengan pengamatan langsung.
Ada kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diperoleh datanya dengan pengamatan. Misalnya, kegiatan seks, pertengkaran keluarga, dan sebagainya.

Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung ada yang dapat dikuantifikasikan. Tetapi ini bukan berarti bahwa semua data yang diperoleh secara pengamatan langsung harus dikuantifikasikan.
Pengamatan data secara langsung dilaksanakan terhadap subjek sebagaimana adanya dilapangan, atau dalam suatu percobaan baik dilapangan atau didalam laboratorium. Cara pengamatan langsung dapat digunakan pada penelitian aksploratori atau pada penelitian untuk menguji hipotesis. Peneliti dalam mengadakan pengamatan langsung, dapat menjadi anggota kelompok subjek (partisipan), dan dapat pula berada diluar subjek (nonpartisipan).
Secara umum cara pengamatan langsung ini dapat dibagi dua, yaitu :
Pengamatan tidak berstruktur
Pengamatan berstruktur

Untuk menentukan apakah suatu pengamatan yang dilakukan tidak berstruktur atau berstruktur, maka terdapat 4 pertanyaan dibawah ini harus dijawab oleh sipeneliti, yaitu :
Apa yang akan diamati?
Bagaimana pengamatan tersebut dicatat?
Prosedur apa yang digunakan untuk memperoleh pengamatan yang akurat?
Bagaimana hubungan antara pengamat dengan yang diamati dan bagaimana hubungan tersebut dibina?

Pengamatan yang tidak berstruktur
Pada pengamatan yang tidak berstruktur, sipeneliti tidak mengetahui aspek-aspek apa dari kegiatan-kegiatan yang ingin diamatinya relevan dengan tujuan penelitiannya. Peneliti juga tidak mempunyai suatu rencana tentang cara-cara pencacatan dari pengamatannya, sebelum ia memulai kerja mengumpulkan data. Pengamatan yang tidak berstuktur sering digunakan dalam penelitian antropologi ataupun dalam penelitian yang sifatnya aksploratori.
Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam pengamatan tidak berstruktur adalah :
Isi dari pengamatan
Mencatat pengamatan
Ketetapan pengamatan
Hubungan antara pengamat dan yang diamati

isi pengamatan
pertanyaan yang amat sukar dijawab dalam hubungannya dengan pengamatan yang tidak berstruktur adalah berikut ini :
apakah yang ingin diamati? Karena dalam pengamatan yang tidak berstruktur, peneliti sendiri tidak tahu apa yang akan diamati. Seyogyanya, semua harus diamati, asal saja berhubungan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Karena itu peneliti mengamati semua fenomena yang dianggapnya penting. Kalau ini tidak memenuhi sasarannya, maka ia pindah ke pengamatan lain sambil mempersempit jangkauan pengamatannya. Karena pengamatan tidak berstruktur sering digunakan sebagai teknik eksploratori, maka pengertian pengamat tehadap situasi terus berubah. Hal ini menghendaki perubahan terhadap apa yang diamatinya. Perubahan dari isi apa yang akan diamatinya merupakan penggunaan pengamatan tak berstruktur secara optimal.
Misalnya, peneliti ingin mengamati bagaimana seorang ibu rumah tangga menggunakan waktunya dalam berbelanja. Sipeneliti mengamati frekuensi serta tempat berbelanja. Tetapi kemudian ia heran bahwa ibu rumah tangga hanya berbelanja sekali sebulan. Kemudian baru diketahui bahwa yang mempunyai tugas berbelanja bukanlah ibu rumah tangga, tetapi suaminya sendiri. Karena itu sipeneliti mengubah focus pengamatannya kepada sang suami dan tidak kepada sang istri lagi, karena rupanya dalam masyarakat yang ditelitinya, sang istri bertugas bekerja disawah, dan bukan untuk berbelanja.
Karena tidak ada suatu ketentuan mengenai apa yang harus diamati oleh peneliti dalam pengamatan tak berstruktur, maka beberapa cek dapat diberikan.

Partisipan
Dalam hal ini peneliti mengadakan pengamatan untuk mengetahui siapa partisipan dan bagaimana hubungan partisipan satu dengan yang lain? Beberapa ciri-ciri partisipan yang ingin diketahui adalah sebagai berikut :

Seks, umur, pekerjaan, fungsional (tuan rumah, langganan, dan sebagainya). Dalam suatu kejadian perlu diamati apakah satu partisipan dengan yang lain saling mengenal atau tidak, apakah mereka merupakan anggota dalam satu kelompok atau lain? Dan sebagainya

Setting
Suatu keadaan atau kegiatan terjadi pada setting yang berbeda-beda seperti rumah sakit, simpang jalan, pabrik, restoran, halaman, tanah lapang, kampus. Sehubungan dengan ini, ingin juga diketahui bukan saja keadaan dari setting tersebut, tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan perilaku, seperti apa yag dilarang atau apa yang dibolehkan dalam setting tertentu?

Tujuan
Pengamatan juga difokuskan untuk melihat apakah tujuan terjadinya suatu fenomena atau terjadinya suatu komunikasi, atau terbentuknya suatu kelompok. Apakah tujuan dari fenomena, apakah untuk suatu gotong-royong atau untuk suatu hal yang antagonistis?

Perilaku sosial
Peneliti juga ingin mengetahui apakah yang terjadi secara aktual. Apa yang dikerjakan oleh partisipan dan bagaimana ia melakukannya? Dalam hubungannya dengan perilaku, beberapa hal ingin diselidiki dapat saja :
Stimulus apakah yang terjadi sehingga kejadian dimulai?
Apakah kira-kira tujuannya?
Untuk siapa atau kearah mana suatu perilaku ditujukan?
Bentuk aktifitas apa yang dinyatakan oleh perilaku? (bercakap-cakap, lari, duduk, mengendarai sepede, dan sebagainya)
Bagaimana kualitas dari perilaku (intensitas, kecocokan, lama, sopan, congkak, dan sebagainya)
Apakah akibat dari perilaku tersebut?

Frekuensi dan lamanya kejadian
Dalam hal ini pengamatan, ditujukan untuk mengetahui bila suatu situasi terjadi, dan bila berakhir. Apakah fenomena tersebut berulang, ataukah suatu hal yang terjadi itu merupakan suatu fenomena yang istimewa?
Kegiatan apa yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi. Apakah kejadian-kejadian tersebut sudah lumrah dan terjadi dalam interval tertentu?

Perlu juga dijelaskan bahwa list dari pengamatan diatas hanya merupakan sebagian kecil petunjuk saja dalam mengamati. Banyak hal-hal lain yang timbul tetapi tidak dapat diterangkan satu persatu secara kongkrit.

Mencatat pengamatan
Dalam hal mencatat pengamatan yang tidak berstruktur, maka dua hal perlu diperhatikan, yaitu waktu pengerjaan pencatatan dan bagaimana fenomena atau kejadian dicatat. Waktu yang terbaik untuk mencatat pengamatan adalah langsung on the spot ketika kejadian sedang berlaku. Pencatatan on the spot dapat mengurangi bias yang disebabkan oleh kelupaan. Akan tetapi, pencatatan on the spot terhadap perilaku mengakibatkan dua hal :
Konsentrasi pengamatan menjadi berkurang
Dapat mengakibatkan tidak terjadinya sesuatu yang sebenarnya harus terjadi akibat adanya reaksi kecurigaan dari objek.

Hal ini biasa terjadi pada pengamatan dengan sistem partisipan. Jika situasi mencatat on the spot tidak dapat dikerjakan, maka sipeneliti hanya hanya dapat mencatat kata-kata kunci (key words) saja dari pengamatannya. Jika perlu peningkatan hapalan terhadap fenomena, biasa juga digunakan system “jembatan keledai”.
Sesudah kejadian yang diamati selesai, maka dengan segera sipeneliti harus menuliskan kembali segala pengamatannya secara naratif, dengan mengingat kembali apa yang terjadi sesuai dengan kata-kata kunci yang dicatatnya on the spot. Menunda-nunda penulisan kembali merupakan hal yang amat fatal. Karena banyak sekali pengamatan yang dilakukan, dan akan terjadi akumulasi dari catatan, maka sebaiknya tiap catatan diberi indeks. Dengan adanya indeks tersebut, peneliti dengan mudah mengetahui suatu fenomena berkenaan dengan satu situasi dan satu kejadian lain mengenai situasi lain pula. Indeks tersebut sekurang-kurangnya berisi : tanggal, tempat pengamatan, beberap nama yang terlibat, kelompok yang terlibat serta hubungan yang terjadi.

1.3 Meningkatkan ketepatan pengamatan
Untuk meningkatkan ketepatan pengamatan, maka ada beberapa cara yang dapat ditempuh, antara lain :
Peneliti menggunakan tape recorder untuk merekam pembicaraan. Kelemahannya tape recorder hanya dapat mencatat pembicaraan, tetapi tidak dapat merekam suatu perbuatan.
Peneliti menggunakan kamera, tetapi hal ini terlalu mahal dan dapat mengganggu kegiatan normal dari objek yang diteliti.
Pengamat bukan terdiri dari satu orang saja, tetapi terdiri dari lebih dari satu orang. Dalam hal ini masing-masing pengamat mencatat fenomena, dan nanti catatannya masing-masing dibandingkan. Dalam catatan tersebut harus dijelaskan yang mana pengamatan fakta dan yang mana pula suatu interpretasi. Terlalu banyak dimasukkan interpretasi dalam catatan dapat merusak kesimpulan.

Bagi peneliti yang bertindak juga sebagai partisipan dalam pengumpulan data dengan pengamatan tidak berstruktur, sangat sukar untuk mempertahankan objektivitas dalam pengamatannya. Biasanya peneliti telah menjalin persaudaraan atau rasa kawanan. Dia akan mendapatkan dirinya begitu berkepentingan dengan keterangan yang diberikan oleh informan. Karenanya objektivitas menjadi berkurang, ada baiknya dia langsung mencatat segala kejadian tanpa menunggu terlalu lama.
Karena keterlibatan aktivitas yang sedang diselidiki, peneliti partisipan biasanya kurang tajam dalam pengamatannya, karena sipeneliti sudah menjadi terbiasa dengan beberapa jenis perilaku. Seorang peneliti yang baru mulai berpartisipasi dalam pengumpulan data, biasanya mencatat secara berlebih-lebihan pula. Tetapi semakin lama peneliti berada dalam kelompok, maka banyak perilaku kelompok telah terbiasa olehnya, sehingga banyak hal-hal yang penting, dianggapnya tidak berapa penting lagi. Untuk mengurangi hal ini maka caranya adalah jangan menganggap sesuatu memang mesti begitu (take for granted).
Menghindarkan tertinggalnya pengamatan terhadap hal-hal yang penting dapat dilakukan peneliti dengan cara menyediakan check list seperti yang telah diterangkan dan dengan menunjukkan pengamatan terhadap sentra aktivitas tertentu.
Cara lain untuk meningkatkan akurasi dari pengamatan adalah dengan mengadakan wawancara langsung dengan satu lebih subjek yang ikut serta dalam aktivitas yang sedang diamati.

1.4 hubungan antara pengamat dengan yang diamati
Suatu hal yang paling penting dalam pengamatan langsung adalah sipeneliti tidak dapat mengganti subjek penelitian. Ini berbeda jika peneliti menggunakan sistem wawancara. Jika seorang responden misalnya tidak ingin memberikan keterangan tentang suatu hal, maka peneliti dapat pindah mencari responden lain. Tidak demikian halnya dalam pengamatan langsung, karena itu, sipeneliti harus dapat mencari jalan supaya pengamatan terhadap kejadian yang ingin diamati tidak boleh gagal.
Sebelum sipeneliti turun untuk pengamatan, maka dia harus lebih dahulu memutuskan apakah ia akan memperkenalkan dirinya sebagai peneliti, ataukah ia akan bekerja secara incognito. Tetapi pengalaman memperlihatkan bahwa sebaiknya sipeneliti memperkenalkan dirinya sebagai peneliti pada kelompok objek. Hal ini memberikan beberapa keuntungan antara lain :
Hal tersebut adalah hal yang sederhana untuk dilakukan, karena dengan pemunculan orang asing secara tiba-tiba dapat menimbulkan kecurigaan.
Mempertinggi kemungkinan memperoleh keterangan yang diinginkan
Jika ia bekerja secara incognito, maka ada perasaan bersalah secara etika dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh objek yang sedang diteliti.

Yang paling penting dalam hal hubungan antara pengamat dengan yang diamati adalah, si pengamat harus dapat meyakinkan objek atau harus dapat memberikan alasan-alasan yang tepat mengapa ia harus mengadakan pengamatan terhadap perilaku atau fenomena yang ingin diamati. Dalam partisipasi langsung untuk pengamatan kejadian atau fenomena, maka adalah sangat penting bagi sipeneliti untuk membuat dirinya dapat diterima dalam anggota kelompok dimana pengamatan akan dilakukan.

Pengamatan berstruktur
Pengamatan berstruktur berbeda dengan pengamatan tidak berstruktur dalam sistematis tidaknya pengamatan yang dilakukan. Pada pengamatan berstruktur, sipeneliti telah mengetahui aspek apa dari aktivitas yang diamatinya yang relevan dengan masalah serta tujuan peneliti, dengan pengungkapan yang sistematis untuk menguji hipotesisnya. Pengamatan bisa saja dilapangan atau dilaboratorium, bisa terhadap manusia, hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Jika digunakan desain noneksperimental, maka sipeneliti tidak mempunyai control terhadap variable, tetapi dalam pengamatan berstruktur, sipeneliti masih dapat secara lebih awal menentukan secara umum, perilaku apa yang ingin diamati agar masalah yang dipilih dapat dipecahkan. Pada desain metode eksperimental, sipeneliti dapat mengadakan pengaturan terhadap beberapa perlakuan dan mengadakan control yang sesuai dengan keperluan menguji hipotesis dan memecahkan masalah penelitian.

isi pengamatan
karena pengamatannya yang berstruktur telah direncanakan serta sistematis, maka sudah terang isi dari observasinya lebih sempit dan terarah dibandingkan dengan isi pengamatan yang tidak berstruktur. Dalam menentukan isi dari pengamatan, peneliti dapat menggunakan berbagai teknik.

Pada pengamatan fenomena social, peneliti dapat menngunakan dua alat, yaitu :
sistem kategori
menggunakan rating scale (skala nilai)

Dalam mengamati fenomena social, peneliti dapat menggunakan kategorisasi terhadap fenomena yang akan diamati. Sebuah kategori adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan suatu kelas fenomena, dimana perilaku yang diamati dapat dibuat sandi. Suatu system kategori terdiri dari dua atau lebih kategori-kategori (Festinger dan Katz, 1976). Dengan kategori yang tepat, maka peneliti dapat melahirkan kerangka referensi (frame of reference) untuk pengamat. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan bahwa aspek-aspek yang relevan dapat diamati secara lebih terpercaya. Banyaknya kategori yang dibuat dan tingkat konseptualisasi serta terapannya terhadap situasi yang berjenis-jenis, tergantung dari tujuan penelitian dan kerangka teori yang digunakan oleh peneliti. Mari kita berikan sebuah contoh tentang kategori. Bales (1950), dalam penelitiannya melakukan pengamatan terhadap situasi kelompok dan membuat 12 kategori dalam mengamati interaksi seperti tertera pada skema 10.1

Jenis-jenis kategori yang dikembangkan dapat dibedakan antara lain dari :
banyaknyadimennsi
dimensi menyuluruh atau parsial

kategori interaksi kelompok dari Bales adalah kategori multidimensi. Misalnya, kategori 1, “menunjukkan solidaritas”, kategori 2, “menunjukkan pelepasan tensi”, merupakan interaksi tentang kasih saying, sedangkan kategori 3, “menunjukkan persetujuan”, kategori 4 “memberikan saran”, kategori 5 “memberikan pendapat”, dan kategori 6 “memberikan orientasi”, merupakan dimensi tentang aktivitas memecahkan masalah secara intelektual.

Kategori yang dibuat oleh Heyns dan Berkowitz (1949) mempunyai satu dimensi, dan digunakan dalam mengamati proses pemecahan masalah dalam pembuatan keputusan oleh kelompok. Mereka membagi pengamatan pemecahan masalah dalam 12 kategori.
Penetapan tujuan
Pencarian keterangan
Pangajuan pemecahan
Pemberian pengembangan
Kesetujuan
Member ikhtisar
Pengajuan masalah
Pemberian keterangan
Pencarian perkembangan
Penolakan
Mencari ikhtisar
Pengarahan diluar masalah

Selain dari banyaknya dimensi dari kategori yang dibuat, kategori dapat berbeda dalam hal apakah semua kategori dalam sistem atau sebagian saja yang digunakan untuk dasar pengamatan. Jika semua kategori diamati, maka kategori disebut kategori dengan dimensi lengkap. Sedangkan, sebaliknya, jika hanya sebagian dari seluruh kategori yang diawasi, maka kategori tersebut berdimensi tidak lengkap (exhaustive dan nonexhaustive). Kategori dari Bales adalah kategori dengan dimensi lengkap (exhaustive dimension). Sebenarnya semua kategori harus lengkap, karena jika ada kategori yang dibuat tetapi tidak diamati, maka kategori tersebut sebenarnya berada diluar system. Penggunaan kategori lengkap akan menyingkat waktu pengamatan.

Kategori dibuat dapat pula ditinjau dalam hubungannya dengan inferensi yang ingin dibuat. Ada kategori dibentuk untuk mengadakan deduksi terhadap suatu perilaku. Dilain pihak ada juga kategori yang dibuat tidak dengan maksud mengadakan inferensi






Skema 10.1 kategori dari Bales

Menunjukkan solidaritas : meningkatkan status orang lain, memberi pertolongan, memberi penghargaan.
Menunjukkan pelepasan tensi, tertawa, lelucon, puas
Setuju : menunjukkan penerimaan pasif, mengerti, menuruti, sependapat.
Memberi saran : petunjuk, memberi implikasi otonomi terhadap yang lain.
Memberi pendapat : evaluasi, analisa, menunjukkan perasaan, keinginan.
Memberikan orientasi : keterangan, mengulang, menjelaskan, membuktikan.
Menanyakan orientasi : keterangan, pengulangan, konfirmasi.
Menanyakan pendapat : evaluasi, analisis, penunjukan perasaan.
Menanyakan saran : arah, kemungkinan cara bertindak
Menyanggah : menunjukkan penolakan pasif, formalitas, tidak mau menolong.
Menunjukkan tensi : meminta pertolongan, menarik diri.
Menunjukkan antagonisme : menyimpang dari status yang lain, mempertahankan atau membenarkan diri sendiri.









F e d c b a




Keterangan : A = reaksi positif, B = jawaban, C = pertanyaan, D = reaksi negatif
A = masalah komunikasi, b = masalah evaluasi, c = masalah kontrol, d = masalah keputusan, e = masalah mengurangi tensi, f = masalah reintegrasi.

Marilah kita lihat sebuah contoh yang diberikan oleh Festinger dan Katz (1976).
Seorang peneliti ingin menyelidiki pengaruh disiplin yang ketat dalam kelas terhadap interaksi antar murid ketika bermain-main dilapangan sekolah. Sipeneliti dapat membuat dua kelompok kategori. Kelompok pertama peneliti dapat membuat kategori, misalnya :
Mendorong-dorong murid lain
Memanggil-manggil nama murid lain
Meminta tolong

Ketiga kategori tersebut dibuat untuk memperoleh data untuk menguji hipotesisnya atau karena keinginan peneliti untuk mengelompokkan lagi “tingkat” kategori tersebut menjadi “tingkat yang lebih tinggi”.
Dipihak lain, peneliti dapat membuat kategori pengamatan sebagai berikut :
Memperlihatkan hostilitas (permusuhan)
Meminta ketundukan (submission)
Menginginkan sokongan (support)
Membenci ketergantungan.

Keempat kategori diatas digunakan untuk melihat perilaku yang serupa dengan yang diatas, hanya saja kategori diatas membuat suatu inferensi mengenai perilaku tersebut. Materi pengamatan dibuat inferensinya terhadap kategori tersebut. Dalam kategori kelompok pertama, jika diinginkan juga membuat inferensi, maka peneliti dapat melakukannya kembali dengan mengelompokkan kategori-kategori sehingga dapat dibuat inferensi. Pada pengelompokan kategori kedua, peneliti secara langsung telah membuat inferensi.
Kategori yang dibuat dapat juga dilihat dari sudut apakah kategori-kategori tersebut merupakan satu kontinum yang seakan-akan tidak terputus, ataukah kategori-kategori itu ti tidak merupakan satu kontinum, tetapi descrete atau terputus. Misalnya dalam mengamati perilaku agresif, dibuat kategori berikut :
Serangan ringan secara lisan
Ancaman lisan dengan gerak-gerik mengancam
Serangan fisik

Dalam hal diatas, maka kategori merupakann suatu kontinum yang bersambung dari tingkat rendah ke tingkat tinggi dari agresif. Pembuatan kategori bagini sangat berrguna jika peneliti ingin mengurutkan suatu perilaku dari rendah ke tinggi atau sebaliknya. Sedangkan kategori yang dibuat Bales tentang interaksi bukan kategori bersambung, tetapi kategori yang descrete.
Selain dari teknik kategorisasi, maka teknik rating scale digunakan sebagai alat pengamatan. Penggunaan skala amat berguna, antara lain :
Untuk menghilangkan hal yang tidak relevan
Untuk menghilangkan variabel yang membingungkan
Untuk memisahkan dan mengklasifikasikan hal-hal menurut dimensi yang berbeda-beda.
Untuk meletakkan ”penimbang” relatife terhadap hal-hal yang berbeda. (Francis, 1967)
Rating scale adalah sebuah intrumen atau alat yang mewajibkan pengamat untuk menetapkan subjek kepada kategori atau kontinum dengan memberikan nomor atau angka pada kategori-kategori tersebut. (Kerlinger, 1973). Penggunaan rating scale ini mudah, tetapi secara relative,validitasnya jauh berkurang dibandingkan dengan membuat kategori.
Mari kita lihat seorang mengamati seorang guru yang mengajar tentang kesiagaan atau kewaspadaan. Misalnya kita ingin melihat tingkat waspadanya seseorang sebagai berikut :
Sangat siaga
Siaga
Tidak siaga
Tidak siaga sama sekali
Secara sederhana, maka untuk tiap kategori diatas diberi angka atau nomor, bisa saja 4,3,2,1 atau 3,2,1,0 sebagai rating scale. Dapat saja rating scale diatas dibuat dalam bentuk grafik seperti dibawah ini.

Sangat siaga tidak siaga tidak siaga
siaga sama sekali


Kelemahan penggunaan rating scale adalah :
Karena mudah, maka sering digunakan seenaknya
Dapat menjurus kepada pengaruh halo, (halo effect), yaitu mengadakan rating terhadap objek karena impresi peneliti.
Contoh dari efek halo adalah seorang dianggap pandai karena ia selalu setuju kepada apa yang kita katakana. Seorang dianggap berbudi tinggi, karena kita menyukainya.
Tiga jenis error dalam melakukan rating scale sering dijumpai, yaitu :
Error kehebatan (error severity)
Error kemurahan hati (error of leniency)
Error central tendency
Error kehebatan, cenderung memberi skala rendah, error kemurahan hati cenderung member nilai tinggi. Sedangkan error central tendency adalah kecenderungan memberikan skala dalam nilai pertengahan saja, tanpa mau memberikan nilai ekstrem.

Mencatat pengamatan
cara mencatat pengamatan tidak mempunyai standar tertentu. Yang penting adalah fenomena dapat dicatat dan perilaku dapat diketahui dengan jelas. Yang paling mudah, lebih-lebih kesulitan pembiayaan, adalah dengan menggunakan kertas yang terdiri dari urutan kategori dan sel-sel dimana kategori tersebut ditandai. Pencatat, dengan mengunakan pensil, member tanda pada kategori dimana perilaku tersebut cocok ditempatkan dalam sel tertentu. Ada juga instrument yang telah dibuat untuk mencatat, yang dinamakan interaction chronograph (Chapple , 1949), ataupun interaction recorder (Bales dan Gerbrand, 1948). Penggunaan interaction recorder sangat berguna untuk mencatat kategori yang terlalu banyak. Alat ini terdiri dari satu kotak yang berisi satu mekanisme yang berputar. Diatas kotak ini disebelah kiri, ditempatkan sebuah lembaran kertas yang menunjukkan kategori yang akan diamati. Sebuah gulungan kertas, yang besarnya sama dengan lembaran kertas tadi bergerak dari kiri ke kanan pada kotak tadi dengan mekanisme berputar diatas. Bagian yang berisi dari kertas gulungan muncul dibagian kanan dari lembaran kertas kategori. Pengamat memberikan tanda pada bagian yang kosong tersebut. Misalnya, peneliti mengamati suatu kelompok dengan menggunakan kategori Bales pada halaman 378. Misalnya, kategori “memberi pendapat” cocok dengan perilaku anggota kelompok no. 1. Peneliti memberi tanda pada kertas angka 1 yang sejajar dengan kateegori “member pendapat” pada lembaran kertas kategori. Karena kertas terus menggulung, maka bagian yang bertanda menghilang dalam kotak, dan kertas yang kosong kembali muncul. Peneliti membuat tanda lagi, dan seterusnya.

2.3 Meningkatkan reliabilitas pengamatan
Reliabilitas pengamatan dapat ditingkatkan dengan cara menjaga beberapa hal yang mempengaruhi error pengamatan. Antara lain dapat disebutkan :
perumusan definisi yang tepat tentang kategori. Definisi yang kurang jelas dan tidak lengkap tentang kategori yang ingin diamati yang berkaitan dengan konsep-konsep yang dibuat, dapat mengurangi reliabilitas serta validitas pengamatan.
Derajat kepercayaan dalam memutuskan suatu kategori harus lebih dahulu ditetapkan, sehingga dalam menilai sesuatu pengamatan, peneliti telah mempunyai pegangan dalam menilai pengamatan tersebut.
Hindarkan persepsi kepentingan pribadi atau nilai sendiri dalam pengamatan. Banyak sekali kejadian timbul error karena peneliti telah merusak persepsi dengan menggunakan nilai-nilai pribadi.
Adakan latihan yang intensif terhadap pengamat. Dalam hubungan ini, perlu dijelaskan prosedur pengamatan, tujuan dari penelitian, teori-teori yang berhubungan dengannya, tentang kategori serta peraturan-peraturan dalam penggunaannya. Adakan diskusi sebanyak mungkin.
Adakan pre-test pada kelompok kecil yang serupa dengan kelompok dimana pengamatan yang sebenarnya akan dilakukan.
Gunakan lebih dari satu orang pengamat. Dalam hal ini, penggunaan lebih dari dua pengamat dipihak lain dapat juga menimbulkan error, karena penekanan yang diberikan pengamat dipengaruhi oleh latar belakang bekal ilmiah yang dimiliki mereka.

Hubungan antara pengamat dan yang diamati
Hal penting dalam hal ini adalah pengamat harus berbuat sedemikian rupa supaya dia diterima dalam kelompok yang akan diamati, dan kelompok yang diamati menyetujui penelitian dilakukan. Kelakuan pengamat harus dapat meyakinkan kelompok yang diamati bahwa kehadiran pengamat tidak merugikan kelompok yang sedang diamati. Kembangkan rapport sehingga perilaku kelompok dapat terjadi secara wajar. Tingkat penerimaan pengamat ke dalam kelompok sangat bergantung pada hubungan individu dalam kelompok. Suatu kelompok yang dapat bekerja sama sesamanya, lebih mudah “dimasuki” dari suatu kelompok yang memperlihatkan persaingan antar anggota.

Beberapa cirri umum dari pengamatan
Beberapa cirri umum dari metode observasi dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut :
Harus secara jelas diketahui, apa yang ingin diamati
Perilaku dibuat dalam kategori-kategori
Unit yang digunakan dalam mengukur perilaku harus ada
Derajat inferensi yang diinginkan harus jelas
Harus punya derajat terapan atau generalisasi
Jenis serta besarr sampel harus ditentukan
Pengamatan harus reliabel dan valid

Yang diamati harus jelas
dalam setiap pengamatan, apa yang diamati harus jelas. Misalnya, seorang peneliti ingin melihat hubungan antara perilaku ketidaktergantungan dengan kemampuan memecahkan soal ujian. Peneliti mempunyai hipotesis bahwa makin kecil ketergantungan seorang murid, makin sanggup ia memecahkan soal ujian. Tetapi, diketahui apa itu ketidaktergantungan? Apakah jika seorang anak terus mengerjakan sesuatu sendiri adalah seorang anak yang menunjukkan ketidaktergantungan? Ataukah jika seorang anak selalu mengambil inisiatif dalam tiap tindakan, ia tergantung atas sesuatu? Dari itu, peneliti perlu sekali memberi definisi sejelas-jelasnya apa yang ingin diamati.

Membuat kategori
Apa yang ingin diamati harus dibuat dalam kategori-kategori. Kategori sebaiknya dibuat secara eksaustif. Karena itu, peneliti harus memberi definisi dulu terhadap universe perilaku yang ingin diamati. Dari universe ini baru dibuat subset dan kemudian kategori dari perilaku. Besar kecilnya universe bergantung dari masalah penelitian dan tujuan penelitian.

Unit perilaku
unit perilaku harus dibentuk, apakah dalam unit besar atau kecil. Secara teori, seseorang akan memperoleh reliabilitas yang lebih tinggi dengan menggunakan unit yang kecil, mudah diamati dan mudah dicatat. Akan tetapi, terdapat reliabilitas yang tinggi tersebut dapat mengorbankan validitas. Dilain pihak, peneliti dapat menggunakan unit yang lebih umum, tapi dapat menghasilkan suatu kekaburan dalam pengamatan, sehingga mengurangi reliabilitas, tetapi meningkatkan validitas. Jika unit perilaku yang digunakan bersifat umum , sering disebut sebagai pendekatan molar. Sebaliknya, jika pendekatan dilakukan dengan unit yang kecil disebut pendekatan molecular.

Derajat inferensi pengamat
pengamatan dapat dibedakan dengan melihat pada penggunaan inferensi pengamatan. Jika unit dengan pendekatan molecular, inferensinya relative kecil. Umumnya, inferensi yang diinginkan jangan terlalu kecil dan jangan pula terlalu besar. Inferensi medium agaknya lebih baik dalam membuat kategori-kategori.

Terapan dan sifat umum
banyak sistem kategori yang dibentuk bersifat umum. Artinya, kategori tersebut dapat digunakan pada banyak penelitian. Akan tetapi, ada juga system kategori yang hanya dapat diterapkan pada suatu situasi saja dan bersifat sangat spesifik. Kategori Bales termasuk kategori bersifat umum.

3.6 Sampling perilaku
Sebelum pengamatan dimulai maka harus diputuskan apakah semua perilaku diamati ataukah hanya sampel dari perilaku saja yang diamati. Sampling perilaku dapat merupakan enent sampling (sampling kejadiannya) ataupun sampling waktu, yaitu memilih pengamatan terhadap perilaku menurut waktu tertentu.

Pengamatan pada penelitian ilmu natura
Dalam banyak hal, pengamatan juga dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu natura. Misalnya dalam penelitian tentang pemupukan, peneliti “perilaku” serta pertumbuhan dari tanaman. Tetapi pengamatan dalam ilmu natura lebih mudah, karena pengukuran dapat dilakukan terhadap bagian-bagian tertentu dari objek dengan menggunakan ukuran yang cukup eksak. Misalnya, pengamatan dilakukan terhadap lebar dada dari hewan ruminant. Alat pengukurnya juga sudah cukup jelas, apakah menggunakan meteran atau menggunakan timbangan atau menghitung banyak lubang misalnya, dalam mengukur intensitas serangan hama.
Marilah kita lihat bagaimana mencatat beberapa pengamatan dalam penelitian tanaman padi (Gomez, 1972)

Rata-rata produksi per unit tanah
Yang dimaksud dengan rata-rata produksi per unit tanah atau yield adalah berat dari gabah kering bersih per unit area. Untuk padi, biasanya dinyatakan dalam kg per hektar atau dalam ton per hektar, pada suatu kadar air tertentu. Untuk gabah, kadar airnya adalah 14 persen. Dalam suatu plot percobaan, ukuran suatu area batas yang besarnya 5 m2, per plot tidak dimasukkan. Kemudian bersihkan, rontokkan, dan timbang beratnya untuk masing-masing plot. Seketika buat adjustment kadar air menjadi sebesar 14% untuk padi. Berat gabah tersebut dicari dengan rumus:
W = A . B

Dimana :
A = koefisien adjustment
B = berat gabah yang ditimbang
W = berat gabah pada kadar air 14%
Dimana M = kadar air dari gabah sewaktu ditimbang

Mengukur tinggi dan banyak anak
Pada tanaman padi yang masih muda, yang disebut tinggi tanaman adalah jarak dari tanah sampai keujung daun yang tertinggi. Untuk menghitung jumlah anak dalam satu rumpun, maka dihitung banyaknya anak perbatang atau banyak anak per area. Untuk pengukur tinggi tanaman secara sampling, cukup digunakan satu rumpun. Tetapi untuk mengukur banyak anak , 2x2 rumpun. Hitung jumlah anak dari keempat rumpun, dan hitung tinggi pada suatu rumpun saja seperti gambar dibawah ini.





● ●



● ●



● ●



● ●



● ●



● ●



● ●



● ●



● ●












Untuk menghitung banyak anak
◙ Untuk menghitung banyak anaka dan tinggi
jika ingin dilihat sifat diatas dalam suatu stages pertumbuhan , maka gunakan saja plot sampling yang sama.

Menghitung komponen dari rata-rata per area
Beberapa komponen dari rata-rata per area (rata-rata per hektar atau rata-rata per meter2) adalah jumlah bulir berisi dan persentase gabah kosong. Banyaknya bulir berisi rata-rata bulir berisi pertangkai. Persentase gabah kosong dihitung dari berat bulir. Berat bulir dasar biasanya 100 bulir atau per 1.000 bulir.

Untuk melihat hal-hal diatas maka lakukan hal berikut :
pilihlah n buah unit, 2 x 2 rumpun sampel dari area yang ditanami, tidak termasuk area border. Biasanya n = 3, yang berarti kita menarik secara random 12 rumpun.
Hitunglah banyaknya tangkai (panicle) dari semua rumpun sampel unit.
Dari tiap rumpun, pisahkan panicle ditengah-tengah, kemudian rontokkan dan tumpukkan masing-masing sesuai dengan rumpunnya.
Pisahkan gabah yang berisi dan yang kosong. Untuk memisahkan ini dapat digunakan separator atau air garam (berat jenis 1,06) ataupun dengan manual saja.
Hitung bulir yang berisi dan hitung bulir yang kosong
Kemudian rontokkan padi dari panicle yana tinggal (yang bukan ditengah rumpun) dan pisahkan gabah berisi dan gabah kosong
Hitung jumlah bulir berisi dan berat dari gabah kosong
Kemudian hitung jumlah panicle per rumpun, jumlah gabah barisi per panicle, persentase dari gabah kosong dan berat dari 100 bulir gabah sebagai barikut :

Jumlah panicle per rumpun = P/4n
Dimana :
P = jumlah panicle dari semua rumpun sampel
N = jumlah (2 x 2 rumpun), biasanya 3.

Jumlah bulir berisi per panicle = f/W x ((W+w))/P
Dimana :
f = jumlah gabah berisi dari panicle tengah-tengah
w = berat dari gabah kosong dari panicle tengah-tengah
W = jumlah gabah berisi dari panicle sisa

Persentase dari gabah kosong , PGK :

PGK = (U+u)/((F(W+w))/w+U u)×100
Dimana :
u = jumlah gabah kosong dari panicle-panicle sisa (bukan dari panicle tengah-tengah)
U = jumlah gabah kosong dari panicle tengah-tengah
Berat dari 100 bulir gabah = W/f x 100
Mengukur indeks area daun (IAD)
Yang dimaksud dengan indeks area daun (IAD) adalah area dari penemuan daun per unit area permukaan tanah. Ada dua cara mengukur IAD. Pertama, ketika tanamannya masih berada ditanah dan kedua, ketika tanamannya dicabut dan diukur setelah tanaman dicabut.
Jika daunnya tidak dicabut atau dipotong dari batangnya, maka mula-mula pilih secara random n buah rumpun dari plot sampel. Banyaknya rumpun biasanya sepuluh buah sudah cukup. Untuk tiap plot sampel, hitung jumlah anak tiap rumpun. Kemudian pilihlah daun yang ditengah-tengah (dari anak ditengah) yang terpanjang dan ukur panjangnya, serta ukur lebar pada bagian yang terlebar. Kemudian hitung area daun dengan rumus :

Area daun = K x 1 x w
Dimana :
= panjang
W = lebar
K = koefisien, biasanya 0,75 pada padi, dan 0,67 jika padi padi sudah tua

Kemudian hitung area daun per rumpun
Area daun per rumpun = total area dari daun di rumpun tengah-tengah x jumlah anak
Lalu hitung IAD =
IAD = (total area daun/rumpun dari n rumpun sampel)/(area dari tanah yang ditutup oleh n rumpun)

Jika tanaman dicabut dan diihitung IAD dalam laboratorium, maka prosedurnya adalah sebagai berikut :
Pilih secara random 8 buah rumpun dari tiap plot sampel
Dari masing-masing plot sampel, cabut rumpun-rumpun yang akan diukur
Dari tiap rumpun sampel, cabut atau pisahkan anak yang ditengah-tengah
Dari anak ini cabut semua daunnya. Letakkan daun tersebut dalam tabung yang berisi sedikit air.
Ukur area dari daun-daun. Kemudian keringkan daun-daun tersebut dan timbang
Pisahkan daun-daun dari rumpun yang masih tertinggal dan hitung berat keringnya.
Hitung area daun per rumpun :
Area daun per rumpun = aW/w
Dimana :
A = total area daun dari rumpun sampel
w = berat kering daun dari anak sampel
W = berat kering dari semua daun dalam rumpun termasuk dari anak sampel
- hitunglah IAD dengan rumus :

IAD = (total area daun /rumpun dari n rumpun sampel)/(area dari tanah yang dituup oleh n rumpun)

4.5 Mengukur serangan ulat penggerek
Adanya serangan ulat penggerek batang dapat ditandai dengan terdapatnya anak-anak padi muda menjadi coklat (dead heart) atau terdapat panicle yang putih dan kosong (white head). Cara melihat adanya serangan ulat penggerek ini ada dua , yaitu :
Enumerasi penuh terhadap rumpun yang diserang
Sampling dari rumpun yang diserang

Jika serangan ulat tersebut dikerjakan dengan enumerasi penuh, maka prosedurnya adalah sebagai berikut :
Hitung banyaknya anak yang diserang dan yang tidak diserang dalam semua rumpun pada sebuah plot.
Pilih sebuah sampel yang terdiri dari 10 rumpun yang tidak diserang dan hitung jumlah anaknya.
Hitung serangan hama denga persentase serangan dari plot sebagai berikut :
P = I/(Ns+(N-n)y) x 100
Dimana :
I = jumlah anak yang diserang dari semua rumpun yang diserang
c = rata-rata jumlah anak per rumpun dari semua rumpun yang diserang
y = rata-rata anak per rumpun dari 10 rumpun yang tidak diserang
n = jumlah dari rumpun yang diserang
N = jumlah rumpun yang diserang dan yang tidak diserang dalam satu plot
P = persentase serangan

Jika menggunakan sampling, karena enumerasi dari semua rumpun tidak fisibel, observasi dilakukan pada jajaran secara selang dua. Cara melakukan perhitungan adalah sebagai berikut :
Hitung banyaknya anak yang diserang dan yang tidak diserang dari masing-masing unit 2 jajar diatas
Kemudian pilih sebuah sampel berisi 10 rumpun yang tidak diserang dan hitung jumlah anak
Hitung persentase dengan rumus diatas, hanya saja N = total jumlah rumpun dalam semua jajaran yang diselidiki

3. PENGUMPULAN DATA DENGAN WAWANCARA
Selain dari pengumpulan data dengan cara pengamatan, maka dalam ilmu sosial data dapat juga diperoleh dengan mengadakan interview atau wawancara. Dalam hal ini informasi atau keterangan diperoleh langsung dari responden atau informan dengan cara tatap muka dan bercakap-cakap.

Definisi
Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan sipenjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan sehari-hari, antara lain :
pewawancara dan responden biasanya belum saling mengenal sebelumnya
responden selalu menjawab pertanyaan
pewawancara selalu bertanya
pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu bersifat netral
pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya. Pertanyaan panduan ini dinamakan interview guide

Wawancara sebagai proses interaksi
interview merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden. Walaupun bagi pewawancara, proses tersebut adalah satu bagian dari langkah-langkah dalam penelitian, tetapi belum tentu bagi responden, wawancara adalah bagian dari penelitian. Andaikatapun pewawancara dan responden menganggap bahwa wawancara adalah bagian dari penelitian, tetapi sukses atau tidaknya pelaksanaan wawancara bergantung sekali dari proses interaksi yang terjadi. Suatu elemen yang paling penting dari proses interaksi yang terjadi adalah wawasan dan pengertian (insight).
Dalam interaksi tersebut, masalah isyarat-isyarat yang berada dibawah persepsi (subliminal cues) sukar dikenali karena antara pewawancara dan responden belum saling mengenal. Karena itu, pewawancara sedapat mungkin dapat memperbaiki wawasan atau pengertian dalam interaksi, antara lain:
siaga terhadap banyak isyarat dan mencoba isyarat tertentu
mencoba membawa isyarat tersebut ke batas yang dapat diberi makna
Selain dari pewawancara dan responden, situasi wawancara dan isi pertanyaan yang ditanyakan merupakan factor-faktor yang mempengaruhi interaksi dan komunikasi dalam wawancara. Isi dari wawancara mempengaruhi pewawancara,responden, dan situasi wawancara. Pengaruh timbal balik terjadi antara pewawancara dan situasi wawancara, antara situasi wawancara dengan responden, dan antara pewawancara dan responden sendiri. (lihat skema 10.1)
Karakteristik sosial, baik dari responden maupun dari pewawancara merupakan factor yang penting dalam komunikasi wawancara. Penampilan dari pewawancara, latar belakang sosial pewawancara, merupakan sifat yang dapat melancarkan atau menghambat komunikasi. Ciri-ciri sosial, sikap, kesehatan, latar belakang dari responden, juga merupakan sifat-sifat yang mempengaruhi interaksi. Pewawancara harus mempunyai motivasi yang tinggi serta merasa aman dalam melaksanakan wawancara. Ketrampilan dalam bertanya, ataupun dalam gerak-gerik yang mengundang jawaban yang tepat dan lancer sangat diperlukan bagi seorang pewawancara. Sukar mudahnya pertanyaan harus disesuaikan dengan kemampuan responden dalam menangkap pertanyaan. Pewawancara harus dapat membuat pertanyaan serta situasi sedemikian rupa sehingga responden mempunyai keinginan dan kegairahan untuk menjawabnya. Kesukaran menangkap pertanyaan ataupun keengganan memberikan keterangan dapat menghambat komunikasi.
Skema 10.1
Factor yang mempengaruhi interaksi dalam wawancara
























Interaksi komunikasi akan menjadi mudah jika waktu, tempat, serta sikap masyarakat menunjang situasi. Waktu wawancara harus dicari sedemikian rupa, sehingga bagi responden merupakan waktu tersebut adalah waktu yang tidak digunakan untuk pekerjaan lain, dan dijaga supaya responden tidak menggunakan waktu yang terlalu lama untuk wawancara. Tempat untuk wawancara haruslah suatu tempat yang dapat diterima oleh responden dan “dapat diterima” oleh masyarakat sekelilingnya. Kehadiran orang lain dalam wawancara dapat menambah komunikasi dan ada pula yang dapat mengurangi kelancaran komunikasi. Dalam mewawancarai seorang wanita atau ibu rumah tangga, maka kehadiran anaknya yang kecil biasanya menambah kepercayaan si ibu terhadap dirinya sendiri dan dapat diterima oleh masyarakat. Mungkin suatu masyarakat tidak dapat menerima wawancara empat mata antara pewawancara laki-laki dengan responden wanita,atau sebaliknya. Dilain pihak, ada kalanya komunikasi akan lebih lancar jika wawancara dilakukan dengan empat mata, karena banyak hal yang ingin disampaikan oleh respoden sesuai dengan pertanyaan dapat dikemukakan secara bebas. Kehadiran aparat pemerintah bersama pewawancara biasanya menghambat komunikasi.
Isi wawancara juga mempengaruhi situasi wawancara, pewawancara dan responden sendiri. Isi wawancara yang tidak sesuai dengan minat responden sangat mempengaruhi situasi wawancara. Hal ini memerlukan keterampilan pewawancara dan dapat menggugah kemampuan responden dalam berwawancara. Apalagi pertanyaan terlalu peka akan sukar dijawab. Pertanyaan yang peka umumnya menghendaki situasi yang wawancara empat mata. Isi wawancara dapat merupakan sumber kekhawatiran, adakalanya bagi responden atau bagi pewawancara sendiri. Suatu keserasian antara pewawancara, responden, serta situasi wawancara perlu dipelihara supaya terdapat suatu komunikasi yang lancar dalam wawancara. Dalam hubungan ini, maka sangat diperlukan :
suatu hubungan yang baik antara pewawancara dan responden sehingga wawancara berjalan lancar.
Kemampuan pewawancara mencatat jawaban sejelas-jelasnya, teliti dan sesuai dengan maksud jawaban.
Kemampuan pewawancara menyampaikan pertanyaan kepada responden sejelas-jelasnya dan sesederhana mungkin dan tidak menyimpang dari interview guide.
Dapat membuat responden memberikan penjelasan tambahan untuk menambah penjelasan jawaban sebelumnya dengan pertanyaan yang tepat.
Pewawancara harus dapat bersifat netral terhadap semua jawaban.

Sasaran isi wawancara
Seperti telah dijelaskan, data yang diperoleh dengan teknik wawancara adalah dengan menanyakan sesuatu kepada responden. Sudah jelas, keterangan tersebut diperoleh berdasarkan apa yang diketahui dan yang ingin diberikan oleh responden, baik tentang suatu fakta, suatu kepercayaan, suatu standar, suatu alas an, dan sebagainya. Sasaran isi dari pertanyaan atau keterangan yang ingin diperoleh berjenis-jenis banyak dan sifatnya, dan sukar dikelompokkan dalam jenis-jenis umum. Tetapi Selltiz (1964) mencoba mengelompokkan isi dari keterangan yang ingin diperoleh dengan cara wawancara sebagai berikut :
Sasaran isi untuk memperoleh atau memastikan suatu fakta
Isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan kepercayaan tentang keadaan fakta
Isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan perasaan
Isi yang mempmempunyunyai sasaran untuk menemukan suatu standar kegiatan
Isi yang mempunyai sasaran untuk mengetahui perilaku sekarang atau perilaku terdahulu
Isi yang mempunyai sasaran mengetahui alasan-alasan

Memperoleh dan memastikan fakta
Cara paling baik untuk memperoleh suatu fakta adalah pergi menanyakan kepada orang yang mengetahui tentang fakta tersebut. Seseorang pasti tahu tentang fakta mengenai dirinya sendiri dan mengenal lingkungannya. Seorang policy maker tahu tentang kebijakan yang pernah dilaksanakannya. Seorang petani tahu fakta mengenai usaha taninya. Fakta-fakta yang selalu ingin diketahui adalah umur, agama, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, serta beberapa sifat dari orang-orang yang dekat dengan responden sendiri, seperti kepercayaan, keinginan, perhatian, dan sebagainya. Dalam menerima keterangan tentang fakta tersebut, pewawancara harus selalu dikaitkan dengan kredibilitas. Bagaimana dia memperoleh fakta? Motif apa responden mengingat fakta tersebut?

3.2 Memperkuat kepercayaan
Adakalanya isi pertanyaan bukab mengenai fakta, tetapi mengenai hal yang menyangkut kepercayaan atau tentang pendapat responden mengenai suatu fakta. Jawaban yang diberikan, bukan untuk memperoleh kebenaran tentang fakta yang ditanyakan, tetapi untuk melihat bagaimana anggapan atau kepercayaan responnden tentang fakta tersebut. Misalnya pewawancara bertanya, “apakah benar bahwa rakyat Aceh tidak mempunyai andil dalam perang kemerdekaan tahun 1945?” sebelum bertanya tentang hal diatas, sudah jelas pewawancara harus bertanya dulu apakah responden mengetahui tentang adanya perang kemerdekaan tahun 1945. Dalam mempertanyakan mengenai fakta, maka responden harus orang yang berkecimpung atau mengetahui benar mengenai fakta tersebut.akan tetapi, jika mempertanyakan mengenai kepercayaan atau anggapan, sebaiknya responden dipilih orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam fakta tersebut. Jika ingin diketahui bagaimana atau berapa banyak terjadi kecelakaan lalu lintas disuatu daerah, maka sebaiknya ditanyakan pada anggota polisi. Tetapi jika ingin ditanyakan bagaimana pendapat seseorang tentang masalah kecelakaan, maka tanyakan pada orang awam yang tidak terlibat.

Memperkuat perasaan
Perasaan seseorang ada hubungannya dengan kepercayaan seseorang terhadap sesuatu. Begitu juga sebaliknya. Adakalanya pewawancara ingin mengetahui secara langsung perasaan seseorang terhadap sesuatu. Hal ini dapat ditanyakan dalam wawancara. Akan tetapi, dalam menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan, lakukan secara tidak langsung lebih dahulu. Misalnya ada orang yang tidak senang kepada Anjing. Maka dalam mewawancarai responden tersebut untuk mengetahui bagaimana perasaan responden terhadap Anjing, buat pertanyaan sebagai berikut, “apakah Anda pernah bertamu kerumah seseorang yang memelihara anjing?” jika jawabannya “ya”, maka baru ditanyakan bagaimana perasaannya terhadap anjing?

3.4 Menggali standar kegiatan
Banyak juga wawancara dilakukan untuk mengetahui kegiatan standar. Kegiatan standar ini ada dua jenis, yaitu :
standar etika
standar kegiatan yang fisibel
Pertanyaan tentang apa yang sebaiknya dilakukan, atau yang sebaiknya dikerjakan, adalah pertanyaan untuk menggali suatu standar kegiatan bagi seseorang. kadangkala wawancara dimulai dengan kata-kata “setuju” atau “tidak” setuju. Misalnya pertanyaan : apakah saudara setuju supaya kelas untuk murid wanita dan kelas untuk murid pria dipisahkan antara penumpang laki-laki dan perempuan dalam bus kota? Ini adalah pertanyaan untuk menggali suatu standar etik dari seseorang. Ada juga hal yang ditanyakan itu, berhubungan dengan suatu standar tentang fisibel tidaknya suatu kegiataan menurut suatu standar masyarakat. Misalnya suatu pertanyaan : apakah saudara setuju dengan dinaikkannya harga BBM oleh pemerintah dewasa ini? Apakah yang anda lakukan jika tanah anda dibeli pemerintah dengan harga Rp……per hertar?

Mengetahui alasan seseorang
Tidak jarang, pertanyaan ditujukan untuk mengetahui alasan seseorang mengenai anggapannya, perasaannya, perilakunya, dan kebijakannya. Dengan perkataan lain, pewawancara ingin mengetahui jawaban dari “mengapa?” pertanyaan yang dimulai dengan “mengapa ….” Ini, biasanya mendapat jawaban yang kurang memuaskan. Dari itu, pertanyaan tentang alasan biasa dimulai dengan “alasan-alasan apa…..” atau “apakah ada alasan-alasan tertentu sehingga anda (percaya, merasa, berbuat,…)”?

Menggali keterangan lebih dalam
Jika keterangan yang diberikan masih bersifat sangat umum, maka perlu digali keterangan tentang hal tersebut secara lebih mendalam. Bahkan dalam banyak hal, jika banyak sekali jawaban “tidak tahu”, peneliti perlu menggali tentang jawaban “tidak tahu” tersebut, pada akhirnya diperoleh jawaban yang jelas. Misalnya ditanyakan “mangapa anda tidak menggunakan tenaga kerja diluar keluarga dalam membajak sawah?” jaawaban yang diperoleh misalnya, adalah “menyusahkan saja”. Maka perlu digali lagi apa yang dimaksudkan dengan “menyusahkan saja”. Apakah :
menyusahkan karena harus membayar upah
menyusahkan karena selalu bertengkar dengan buruh keluarga
menyusahkan karena sulit mencari tenaga luar, dan sebagainya
Jika jawaban kurang jelas, maka perlu diminta penjelasan dengan pertanyaan yang bersifat netral. Misalnya ”dapatkan Bapak menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut?” hindarkan pertanyaan yang menjurus kepada jawaban. Misalnya “apakah bapak tidak menggunakan tenaga luar keluarga karena sukar mencari tenaga luar keluarga di desa Bapak?”
Pertanyaan-pertanyaan untuk menggali lebih lanjut suatu keterangan sering dinamakan pertanyaan penyelidikan (probe question). Dalam hal ini, pewawancara harus bertanya lebih dalam lagi karena :
pewawancara belum yakin bahwa jawaban yang diinginkan adalah jawaban yang dimaksudkan oleh responden.
Pewawancara belum mengerti jawaban yang diberikan

Untuk menghindari jawaban tidak tahu, pewawancara dapat menggunakan perrtanyaan-pertanyaan penyelidikan atau memberikan sedikit penjelasan tentang pertanyaan, kecuali alasan keempat yang diberikan diatas. Jika beberapa kata-kata yang tidak dipahami, maka buatlah pertanyaan lain sehingga perkataan yang tidak dimengerti itu menjadi jelas. “apakah Bapak pernah memberikan agunan jika meminjam uang pada bank pemerintah?” jika jawabannya “tidak tahu”, maka cobalah pertanyaan berikut : “jika Bapak meminjam uang dari bank, apakah Bapak menyerahkan sesuatu pada bank untuk jaminan?”jika dengan pertanyaan kedua, responden menjawab “ya” atau “tidak”, maka responden tidak mengerti arti “agunan” pada pertanyaan pertama.
Adakalanya jawaban “tidak tahu” diberikan karena respoden tidak cukup waktu memikirkan jawaban pertanyaan tersebut. Dalam hal ini pewawancara harus mengubah pertanyaan tersebut menjadi beberapa pertanyaan dengan mengurutkan kembali kejadian yang dipertanyakan dalam bentuk yang lebih mudah. Keterangan-keterangan yang memerlukan ingatan serta flashback, termasuk dalam kategori keterangan demikian.
Jika keterangan yang diinginkan mendapat jawaban “tidak tahu” karena rasa takut, maka dapat pertanyaan tersebut diubah dengan memulainya dengan kata-kata “menurut pendapat Bapak” atau “andaikata Bapak……”
Melaksanakan wawancara
Wawancara dilakukan setelah persiapan untuk itu dimantapkan. Dalam persiapan wawancara, sampel responden, kriteria-kriteria responden, pewawancara, serta interview guide telah disiapkan dahulu.
Interview guide sudah harus disusun dan pewawancara harus mengerti sekali aka nisi serta makna dari interview guide tersebut. Segala pertanyaan yang ditanyakan haruslah tidak menyimpang dari panduan yang telah digariskan dalam interview guide tersebut. Latihan wawancara harus diadakan sebelum wawancara diadakan.
Umumnya pewawancara memegang peranan yang amat penting dalam memulai wawancara. Pewawancara harus dapat menggali keterangan-keterangan dari responden, dan harus dapat merasa serta dapat membawa responden untuk memberikan informasi, baik dengan jalan :
Membuat responden merasa bahwa dengan memberikan keterangan tersebut responden telah melepaskan kepuasannya kareana suatu tujuan tertentu telah tercapai.
Menghilangkan pembatas antara pewawancara dan responden sehingga wawancara dapat berjalan lancar.
Keterangan diberikan karena kepuasannya bertatap muka dan berbicara dengan pewawancara.

Umumnya urut-urutan prosedur dalam memulai wawancara adalah sebagai berikut :
Menerangkan kegunaan serta tujuan dari penelitian
Menjelaskan mengapa responden terpilih untuk diwawancarai
Menjelaskan institusi atau badan apa yang melaksanakan penelitian tersebut
Menerangkan bahwa wawancara tersebut merupakan sesuatu yang confidential

Penjelasan tentang kegunaan dan tujuan penelitian dapat memberikan motivasi kepada responden untuk berwawancara. Kesangsian responden serta rasa curiga tentang keterlibatan atau pemilihan responden untuk menjawab pertanyaan dapat dihilangkan dengan menjelaskan bagaimana caranya dan mengapa, maka responden yang bersangkutan terpilih sebagai responden. Penjelasan tentang institusi atau badan yang melaksanakan penelitian dapat membuat responden percaya bahwa keterangan-keterangan yang diberikan akan digunakan untuk keperluan yang objektif pula. Sifat wawancara yang konfidensial akan lebih mendorong responden untuk memberikan keterangan tanpa sembunyi-sembunyi dan mendorong responden memberikan keterangan secara jujur.
Kelancaran wawancara sangat dipengaruhi oleh adanya rapport. Rapport adalah suatu situasi dimana telah terjadi hubungan psikologis antara pewawancara dan responden, dimana rasa curiga responden telah hilang. Antara responden dan pewawancara telah terjalin suasana berkomunikasi secara wajar dan jujur. Rapport adalah suasana atau atmosfir yang wajar dalam berbincang-bincang, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau di tanamkan kedalam suatu wawancara. Jika wawancara dimulai dengan “assalamualaikum” atau “selamat pagi”, kemudian menanyakan keadaan anak-anak dan sebagainya, belum tentu rapport sudah ada. Rapport adalah hubungan yang mendalam, seperti keterbukaan, toleransi, ramah, pengertian dan sebangsanya dalam proses wawancara. Cara berpakaian, cara menggunakan kata-kata, sikap hormat dan ramah tamah, serta sifat tidak sok dari pewawancara dapat menghasilkan suatu rapport, sehingga komunikasi dapat terjalin secara wajar dan tidak artifisal. Air muka yang manis tanpa terlalu banyak berbasa-basi juga perlu diperhatikan dalam mengadakan rapport.
Dalam mencatat keterangan, pewawancara janganlah mengalihkan perhatiannya terhadap responden dan terlalu asyik dengan kertas dan pensilnya saja. Pemendekan kata-kata dan merangkaikannya kembali kemudian, dapat dibenarkan dalam mencatat wawancara.
Beberapa sikap pewawancara dalam bertanya harus diperhatikan. Sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut :
Netral. Jangan memberikan reaksi terhadap jawaban, baik dengan kata-kata atau dengan perbuatan atau dengan gerak-gerik. Baik tidak baik, senang tidak senang, setuju tidak setuju, jangan sekali-kali diperlihatkan oleh pewawancara dalam wawancara. Jangan memberikan sugesti.
Adil. Dalam wawancara, semuetuju tidak setuju, jangan sekali-kali diperlihatkan oleh pewawancara dalam wawancara. Jangan memberikan sugesti.
Ramah. Tujukkan keramahan yang wajar, tidak dibuat-buat, segar, bermuka manis.

Beberapa kualifikasi pewawancara
Sudah jelas tidak sukar untuk menjawab pertanyaan “bagaimanakah atau apakah cirri-ciri seorang pewawancara yang ideal?” banyak sekali sifat-sifat controversial tentang cirri-ciri pewawancara yang baik, tetapi beberapa sifat pewawancara yang tidak controversial adalah seperti dibawah ini :

6.1 Jujur
Seorang pewawancara harus jujur, dalam pengerjaan pewawancara tidak mengadakan manipulasi terhadap jawaban responden, apalagi member jawaban sendiri tanpa melakukan wawancara.

Berminat
Minat untuk melakukan wawancara merupakan ciri yang penting. Kualitas wawancara yang rendah, serta banyaknya kesalahan yang dibuat dalam melakukan wawancara, banyak disebabkan karena pewawancara itu tidak berguna sama sekali. Karena itu, banyak ahli menganggap bahwa kerja mewawancarai tidak boleh merupakan kerja tetap, tetapi sebaiknya kerja tidak rutin, untuk menghindarkan kebosanan.

Akuratan
Seorang pewawancara harus akurat, baik dalam mencatat jawaban, mengaplikasikan definisi, mengikuti instruksi, serta dalam kerja administrative lainnya. Memang tidak dapat dihindarkan bahwa banyak juga ketidak-akuratan yang terjadi, tapi janganlah hal tersebut menjadi suatu kebiasaan atau menyifat pada seseorang pewawancara.

Penyesuaian diri
Seorang pewawancara harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi wawancara. Sifat prasangka jangan sekali-kali dipunyai oleh seorang pewawancara. Pewawancara harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dengan adat istiadat, dengan jenis responden, dan juga dengan jenis survei yang sedang dikerjakan. Pewawancara harus selalu riang dalam situasi apa saja.

Personalitas dan temperamen
Seorang pewawancara harus mempunyai personalitasnya sendiri dan jangan over-acting, baik dalam bentuk terlalu bersifat formal ataupun terlalu bersifat sosial. Over-rapport tidak dianjurkan dalam melakukan wawancara. Tetapi pewawancara harus bersifat wajar. Jangan mempunyai temperamen tinggi ataupun terlalu emosional dengan responden.

Inteligensia dan pendidikan
Seorang pewawancara tidaklah diharapkan harus mempunyai inteligensia dan pendidikan yang terlalu tinggi. Biasanya seseorang yang mempunyai inteligensia yang tinggi ataupun pendidikan tinggi dapat menjadi cepat bosan dengan situasi “mengulang-ulang” serta suasana keterbatasan inisiatif. Oleh karenanya, inteligensia dan pendidikan memang diperlukan sebagai syarat seorang pewawancara, tetapi inteligensia dan pendidikan tersebut tidaklah perlu terlalu tinggi.


PENGUMPULAN DATA MELALUI DAFTAR PERTANYAAN
Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sering disebutkan secara umum dengan nama kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci dan lengkap.ini membedakan daftar pertanyaan dengan interview guide. Keterangan-keterangan yang diperoleh dengan mengisi daftar pertanyaan, dapat dilihat dari segi siapa yang mengisi (menulis isian) daftar pertanyaan tersebut. Sehubungan dengan ini, sering dibedakan antara kuesioner dan schedule. Jika yang menuliskan isian kedalam kuesioner, adalah responden, maka daftar pertanyaan tersebut dinamakan kuesioner, sedangkan jika yang menulis isiannya adalah pencatat yang membawakan daftar isian dalam suatu tatap muka, maka daftar pertanyaan tersebut dinamakan schedule. Pencatat yang mengadakan wawancara sesuai dengan daftar pertanyaan dinamakan enumerator.
Walaupun nama yang diberikan kepada daftar pertanyaan disebut kuesioner atau schedule, tetapi isi dari daftar pertanyaan tersebut sama saja sifatnya. Kuesioner atau schedule tidak lain adalah sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian, dan tiap pertanyaan merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis.

Isi dari kuesioner/schedule
Kuesioner atau schedule harus mempunyai center perhatian, yaitu masalah yang ingin dipecahkan.tiap pertanyaan harus merupakan bagian dari hipotesis yang ingin diuji. Dalam memperoleh keterangan yang berkisar pada masalah yang ingin dipecahkan itu, maka secara umum isi dari kuesioner atau schedule dapat berupa :
Pertanyakan tentang fakta
Pertanyaan tentang pendapat (opinion)
Pertanyaan tentang persepsi diri

Pertanyaan tentang fakta
Isi dari kuesioner/schedule adalah pertanyaan tentang fakta-fakta yang dianggap dikuasai oleh responden. Fakta-fakta tersebut bisa saja berhubungan dengan responden, dengan suatu keadaan ataupun dengan orang-orang yang dikenal oleh responden sendiri. Hampir semua pertanyaan dalam survei adalah mengenai fakta dalam pengertian yang luas. Fakta mengenai miliknya, produksinya, luas garapannya, umurnya, tanggungannya, kreditnya, bahkan mengenai jenis-jenis barang yang dijual atau dikosumsinya. Juga fakta mengenai nkerabatnya, anaknya, tanggungannya, dan sebagainya. Informasi-informasi yang diketahui oleh responden juga dikategorikan dalam fakta.

Pertanyaan mengenai fakta ini umumnya dapat diketahui ataupun dapat dibandingkan atau direka-reka oleh enumerator. Lain halnya dengan pertanyaan mengenai pendapat.dalam pertanyaan mengenai fakta, maka dimaksudkan juga pertanyaan yang menyangkut klasifikasi. Pertanyaan klasifikasi adalah pertanyaan yang dapat digunakan untuk memperoleh keterangan tentang kelompok atau keterangan yang berguna karena ingin mengelompokkan responden dalam analisis nantinya.antara lain pertanyaan mengenai status perkawinan, jenis kelamin,jumlah keluarga yang tinggal serumah, petani bimas, bukan bimas,adalah pertanyaan klasifikasi yang sering kita jumpai. Biasanya pertanyaan klasifikasi ditanyakan pada akhir pertanyaan, tetapi tidak ada salahnya ditanyakan dibagian permulaan. Tetapi dalam daftar pertanyaan dengan menggunakan guota sampling, pertanyaan klasifikasi ditanyakan dibagian permulaan.

Pertanyaan tentang pendapat
Pertanyaan mengenai pendapat relatif lebih sukar dijawab oleh responden dibandingkan dengan pertanyaan tentang fakta. Pertanyaan mengenai fakta tidak berapa memerlukan pikiran bagi responden. Tidak demikian halnya jika pertanyaan tersebut adalah mengenai pendapat, baik tentang suatu keadaan atau tentang suatu situasi. Jawaban pertanyaan tentang pendapat pada umumnya bersifat laten dan baru muncul jika ditanyakan. Juga pertanyaan mengenai pendapat banyak sekali seginya, menyangkut masalah moral, kebudayaan, harga diri, dan sebagainya. Disamping itu, pendapat tentang sesuatu mempunyai intensitas yang berbeda. Pertanyaan mengenai pendapat juga sangat sensitive sifatnya.
Dalam penelitian, pertanyaan tentang pendapat dapat didekati dengan dua cara. Cara pendekatan pertama adalah dengan melihat berapa persen dari responden yang setuju atau tidak setuju terhadap suatu hal yang ditanyakan, tanpa keinginan untuk mengukur “kekuatan” dari pendapat tersebut. Misalnya, suatu pertanyaan tentang pendapat, dapat dijawab hanya dengan “suka”, “tidak suka”, dan “tidak tahu”. Pendekatan kedua, pertanyaan tersebut bukan saja untuk melihat, tetapi juga untuk mengukur “kekuatan” pendapatnya, atau untuk melihat sikap responden. Dalam hal ini, analisis perlu dilakukan dengan menggunakan penskoran untuk menyatukan pendapat dan sikap tersebut.

Pertanyaan tentang persepsi diri
Pertanyaan dalam kuesioner atau schedule dapat juga mengenai cara responden menilai sesuatu tentang perilakunya sendiri dalam hubungannya dengan oranglain atau lingkungannya. Misalnya, pertanyaan tentang jumlah atau frekuensi berkunjung pada keluarganya dan bagaimana pengaruh kunjungan tersebut terhadap keluarga-keluarga lain. Bagaimana pandangan seseorang, terhadap dirinya sendiri dalam hal ia mengadakan kegiatan-kegiatan sosial.

Cara mengungkapkan pertanyaan
Walaupun sukar untuk menentukan suatu aturan yang dapat berlaku umum tentang cara mengungkapkan pertanyaan, beberapa petunjuk penting berkenaan dengan hal diatas perlu diketahui, antara lain :
Jangan gunakan perkataan-perkataan sulit
Jang gunakan pertanyaan yang bersifat terlalu umum
Hindarkan pertanyaan yang mendua arti (ambiguous)
Jangan gunakan kata-kata yang samar-samar
Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti
Hindarkan pertanyaan yang berdasarkan presumasi
Jangan membuat pertanyaan yang melakukan responden
Hindarkan pertanyaan yang menghendaki ingatan

Perkataan dan kalimat harus sederhana
Dalam membuat pertanyaan dalam kuesioner / schedule, pakailah kalimat dan kata-kata yang sederhana. Hindarkan pemilihan kata-kata sulit. Sebaiknya jangan gunakan pertanyaan : bagaimana status Ibu? Tetapi lebih baik tanyakan : apakah Ibu bersuami?

Pertanyaan sebaiknya khas
Pertanyaan janganlah terlalu umum, tetapi sebaiknya spesifik dank has. Pertanyaan yang umum yang akan digunakan untuk memperoleh jawaban terhadap sesuatu hal yang khusus, dapat menghasilkan jawaban yang tidak mengenai sasaran. Misalnya, peneliti ingin mengetahui tentang harga makanan dan pelayanan dari kantin fakultas yang baru saja dibuka. Jika bentuk pertanyaannya “apakah anda puas dengan kantin baru kita?” maka jelas bahwa pertanyaan tersebut sangat umum sifatnya, dan jawabannya tidak akan dapat menjawab masalah harga makanan dan baik buruknya pelayanan. Karena itu, pertanyaannya harus dibuat secara lebih spesifik, dan diubah menjadi dua pertanyaan sebagai berikut “apakah anda puas dengan harga makanan pada kantin kita?” “apakah anda puas dengan pelayanan kantin kita yang baru?”

Pertanyaan jangan berarti dua
Jika pertanyaan dapat mendua arti, maka tiap orang akan mengartikan pertanyaan tersebut dengan pengertian yang berbeda. Misalnya pertanyaan “apakah Bapak senang minum teh atau kopi?” pertanyaan ini sukar dijawab bagi orang yang menyenangi kedua-duanya. Pertanyaan “apakah Bapak mau masuk kelompok Tani?”

Jangan gunakan kata yang samar-samar artinya
Hindarkan kata-kata yang artinya samar-samar. Kata-kata ini dapat menghasilkan jawaban samar-samar pula. Kata-kata : banyak, secara keseluruhan, jenis, biasa, agak, dan sebagainya merupakan kata-kata yang samar-samar. Bahkan ada yang menganggap, menggunakan kata “mengapa” dalam sebuah pertanyaan dapat membuat pertanyaan tersebut menjadi samar-samar.

Pertanyaan yang mengandung sugesti
Pertanyaan, baik karena isi atau kata-kata yang digunakan, dapat menjuruskan responden kepada suatu jawaban tertentu. Pertanyaan seperti ini dinamakan pertanyaan yang memberikan sugesti (leading question). Hindarkan pertanyaan demikian. Penggunaan kata-kata seperti “berperan”, “apakah anda setuju” biasanya mengundang jawaban “ya”. Misalnya, “ apakh anda setuju supaya…”, “apakah pemerintah harus lebih banyak berperan dalam….” Pertanyaan yang mengandung beberapa jawaban dari sekian banyak pilihan, juga merupakan pertanyaan sugesti. Misalnya, “apakah anda membaca surat kabar seperti Kompas dan Waspada?”



2.6 Pertanyaan presumasi
Pertanyaan presumasi adalah pertanyaan yang berstandar kepada anggapan bahwa responden termasuk dalam kategori yang mempunyai sifat ingin ditanyakan, ataupun responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang kelompok yang ingin ditanyakan. Misalnya, semua responden ditanyakan “jenis pupuk apa yang anda gunakan?” padahal belum tentu semua responden menggunakan pupuk. Karena itu, pertanyaan lain harus diajukan lebih dahulu sebelum pertanyaan diatas ditanyakan, yaitu pertanyaan untuk menyaring responden. Pertanyaan tersebut misalnya “apakah anda menggunakan pupuk pada tanaman padi anda musim yang lalu?”

Pertanyaan yang membuat seseorang malu
Hindarkan pertanyaan yang membuat malu atau terlalu pribadi bagi responden. Jika ingin ditanyakan juga, maka buatlah pertanyaan tersebut untuk orang lain dan tanyakan pendapat resonden. Misalnya, kita ingin diketahui mengapa responden tidak ikut dalam bimas, maka tanyakan pendapatnya dengan menggunakan pertanyaan tidak langsung, seperti “bapak orang yang tidak ingin ikut dalam program bimas. Apakah anda dapat mereka-reka mengapa mereka tidak mau ikut bimas?”

2.8 Pertanyaan yang mengundang ingatan kuat
Hindarkan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan ingatan yang kuat dari responden. Daya ingat responden terhadap sesuatu dipengaruhi sekurang-kurangnya oleh dua hal, yaitu :
berapa lamanya waktu tersebut telah berlalu
pentinya hal tersebut bagi responden sendiri
maka dari itu, periode suatu kejadian yang ingin ditanyakan harus disesuaikan dengan daya ingat normal dari responden.

Jenis pertanyaan
Pertanyaan yang dibuat dalam kuesioner atau schedule dapat memperoleh jawaban yang berjenis-jenis, atau menjurus kepada beberapa alternative jawaban yang sudah diberikan lebih dahulu. Dalam hubungannya dengan leluasa tidaknya responden memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, pertanyaan dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu pertanyaan berstruktur dan pertanyaan terbuka.
Pertanyaan berstruktur
pertanyaan berstruktur adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga responden dibatasi dalam member jawaban kepada beberapa alternative saja ataupun kepada satu jawaban saja. Jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan berstruktur adalah “ya” atau “tidak”. Beberapa contoh dari pertanyaan yang berstruktur adalah sebagai berikut :
apakah anda mempunyai mobil dinas?
¬¬¬ Ya Tidak
dalam kategori manakah pendapatan Bapak semusim dari usaha tani?
dibawah Rp 50.000,00 / musim
Rp 50.000 s.d di bawah Rp 100.000,00 / musim
Rp 100.000,00 s.d di bawah Rp 150.000,00 / musim
Rp 150.000,00 s.d di bawah Rp 200.000,00 / musim
Rp 200.000,00 ke atas / musim
mulai tahun lalu mahasiswa Universitas Syiah Kuala diharuskan mengikuti P4 sebelum diterima menjadi mahasiswa. Apakah Bapak :
sangat setuju
setuju
kurang setuju
tidak setuju sama sekali
dalam pemilihan umum yang lalu, Golkar kalah di Aceh. Taruhlah No.1 pada alasan yang paling penting, no. 2 pada alasan penting, dan seterusnya, pada alasan-alasan kekalahan Golkar yang tertulis dibawah ini.
Program Golkar tidak jelas
Program Golkar tidak cocok dengan masyarakat
Program Golkar tidak diketahui masyarakat
Pimpinan Golkar tidak dikenal
Memilih Golkar dianggap berdosa
Adakalanya pertanyaan sudah berstruktur secara sendirinya, karena jawaban yang dapat diberikan pada pertanyaan tersebut hanya satu saja. Misalnya “berapakah umur anda pada hari ulang tahun anda yang terakhir? ________tahun.

Adakalanya pertanyaan tidak dapat dibuat berstruktur karena kita tidak mengetahui jawaban-jawaban apa yang harus diberikan. Dalam hal ini, maka pertanyaan dibuat menjadi semistruktur, dimana dibawah alternative- alternative jawaban, ditambahkan “lain-lain”.
Contoh
mengapa anda tidak ikut program bimas?
Tidak mengetahui ada program bimas di desa ini
Takut mengambil resiko
Tidak dibenarkan oleh tuan tanah
Alasan lain :
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Pertanyaan berstruktur ada baiknya dan ada pula buruknya. Kebaikan dari pertanyaan berstruktur adalah sebagai berikut :
pertanyaan berstruktur mudah dianalisis
jawaban yang diberikan akan lebih memperjelas arti dari pertanyaan terhadap responden, ataupun dimensi dari jawaban yang harus diberikan
responden sendiri memberikan “penilaian” sendiri terhadap jawaban sehingga si penganalisis nantinya tidak perlu lagi memberikan penilaian.

Disamping kebaikan, maka pertanyaan berstruktur mempunyai kelemahan sebagai berikut :
mendorong responden untuk memberikan jawaban, padahal responden sendiri tidak tahu akan hal tersebut.
Jawaban dapat menimbulkan bias, karena jawaban yang diinginkan tidak termasuk dalam alternative-alternatif jawaban yang ada.
Menutup kemungkinan ada jawaban lain yang lebih relevan, yang tidak dipikirkan oleh sipembuat penelitian.

Pertanyaan-pertanyaan berstruktur hanya baik dibuat untuk mengetahui hal-hal yang mempunyai sedikit alternative jawaban, dan alternative-alternatif tersebut nyata sekali perbedaannya. Pertanyaan demikian lebih banyak dalam hal mencari keterangan tentang umur, pendidikan, pendapatan, sewa, kepunyaan (ownership), dan sebagainya, dan juga untuk memperoleh keterangan mengenai opini tentang sesuatu hal dimana opini ini cukup jelas.

3.2 Pertanyaan terbuka
Pertanyaan terbuka atau pertanyaan tidak berstruktur adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa dan jawabannya serta cara penggukapannya dapat bermacam-macam. Bentuk pertanyaan ini jarang digunakan dalam schedule atau kuesioner, tetapi banyak digunakan dalam interview guide. Responden mempunyai kebebasan dalam memjawab pertanyaan terbuka. Dalam pertanyaan terbuka ini, responden tidak terikat kepada alternative-alternatif jawaban. Misalnya.

Bagaimana pendirian Bapak jika sebuah sekolah “Politeknik” didirikan di desa ini?
Jawabannya bermacam-macam. Bisa saja “saya tanya dulu istri saya.” atau “terserah pada pemerintah.” atau “saya tidak peduli.” jika peneliti, sebenarnya menginginkan jawaban, apakah banyak orang setuju atau yang menentang pendirian sekolah politeknik di desa tersebut, maka pertanyaan tersebut sebaiknya dibuat berstruktur saja, yaitu :

Bagaimana pendirian Bapak tentang pembukaan sekolah politeknik didesa ini? ______Setuju;________ tidak setuju
Contoh lain dari pertanyaan terbuka adalah

Seringkah anda menonton siaran “Dunia Dalam Barita” di TVRI?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat bermacam-macam. Misalnya tidak berapa sering; kadang-kadang saja; jika saya diajak oleh pacar saya; jika saya ingin mengatahui sesuatu hal; dan sebagainya. Tetapi, jika diinginkan oleh peneliti adalah frekuensi penonton siaran “Dunia Dalam Berita” tiap minggu, maka pertanyaan tersebut lebih baik diubah menjadi pertanyaan berstruktur sebagai berikut.
Berapa kalikah anda menonton siaran “Dunia Dalam Berita” di TV Saudara dalam 1 minggu?
tidak pernah
1 x seminggu
2 x seminggu
3 x seminggu
Lebih dari 3 kali seminggu
Tiap malam
Kebaikan dari pertanyaan terbuka adalah kebebasan bagi responden untuk menjawab dan enumerator tidak menjuruskan jawaban terhadap hal-hal tersebut. Dari itu, bias yang ditmbulkan relative kecil. Dilain pihak, jawaban terbuka sukar dianalisis, dan jawabannya dapat saja berada diluar dari kerangka analisis yang diinginkan.

Hubungan pertanyaan dengan masalah pokok
Dalam hubungan pertanyaan, maka peneliti harus selalu kembali kepada pertanyaan : pertanyaan apakah yang penting-penting yang harus ditanyakan sehingga sasaran penelitian untuk memecahkan masalah yang akan diselidiki harus terjawab. Karena itu, pertanyaan yang dibuat harus mempunyai hubungan yang relevan dengan permasalahan pokok dan harus dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan.mengingat bahwa untuk menjawab pertanayaan tersebut diperlukan waktu, maka pertanyaan seyogyanya harus dapat dijawab oleh responden dalam waktu yang singkat. Biasanya untuk menyelesaikan satu schedule atau kuesioner, waktu yang diperlukan tidak melebihi 30 menit.
Dalam menyusun pertanyaan, sekurang-kurangnya dua hal perlu dipikirkan,yaitu isi dari tiap item pertanyaan, dan kedua, hubungan antara item dengan item dalam keseluruhan kuesioner. Item dari pertanyaan harus padat, terang, dan tiap item harus merupakan hipotesis ataupun bagian dari hipotesis yang ingin diuji. Berdasarkan pengalaman, pengetahuan ataupun konsultasi, maka peneliti harus dapat membuat sebanyak mungkin keterangan yang diinginkan untuk dicari jawabannya. Keterangan-keterangan ini kemudian diubah dalam bentuk pertanyaan. Semua keterangan harus mempunyai implikasi yang logis dengan masalah yang ingin dipecahkan. Setelah peneliti mengumpulkan item-item yang diinginkan, baik dengan konsultasi dengan para ahli ataupun dengan kawan-kawan seprofesi, item-item tersebut dikembangkan, dan beberapa perubahan dapat dilakukan. Biasanya list dari pertanyaan menjadi bertambah luas, dan bias, kemenduaan arti, serta kalimat-kalimat buruk menjadi berkurang jumlahnya dan hubungan-hubungan logis antara pertanyaan dengan masalah pokok menjadi lebih jelas.
Selain dari isi dari masing-masing item pertanyaan itu sendiri harus cocok dan relevan dengan masalah pokok, item-item secara keseluruhan harus pula diatur menjadi suatu unit yang padat. Untuk itu diperlukan penyusunan urutan-urutan pertanyaan yang dapat menghasilkan jawaban secara optimal. Sehubungan dengan ini, urutan-urutan pertanyaan biasanya dimulai dari pertanyaan yang mudah untuk dijawab dan berisi item yang menarik perhatian responden, dan tidak berisi pertanyaan yang controversial. Pertanyaan dimulai dari yang mudah kemudian kepada yang kompleks. Jangan mulai dengan pertanyaan yang berisi jawaban-jawaban yang terlalu pribadi ataupun yang membuat seseorang menjadi tersinggung.
Dalam membuat pertanyaan, susunlah pertanyaan menurut kelompok kerangka pemikiran tertentu, dan jangan melompat dari suatu kerangka pemikiran ke kerangka pemikiran yang lain. Penempatan pertanyaan cross-check juga diletakkan dalam kelompok kerangka pemikiran masing-masing.
Perlu juga disinggung bahwa ada juga item pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan, tetapi dapat dijawab sendiri oleh enumerator. Misalnya pertanyaan;
Jenis kelamin: _________ laki-laki, _______ perempuan dalam schedule tidak perlu ditanyakan. Enumerator sendiri dapat mengisinya dengan melihat jenis kelamin dari responden dalam tatap muka.

DAFTAR PERTANYAAN YANG DIKIRIMKAN
Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dan dikirimkan untuk memperoleh respons dari responden adalah kuesioner, karena yang mengisi jawaban pertanyaan tersebut adalah responden sendiri. Pengiriman kuesioner biasanya dilakukan dengan pos. hanya untuk memperoleh informasi tertentu saja ppenggunaan kuesioner melalui pos dapat dilakukan secara efektif.

Keuntungan menggunakan kuesioner dikirimkan
Mengumpulkan data dengan mengirimkan kuesioner mempunyai beberapa keuntungan, antara lain :
Dengan komunikasi pos yang baik, penggunaan kuesioner melalui pos tidak memerlukan enumerator, sehingga dapat mengurangi biaya. Kuesioner dapat dikirimkan melalui pos saja, sedangkan enumerator tidak bisa dikirimkan melalui pos.
Kuesioner yang dikirimkan dapat mencapai responden dalam area yang luas, lebih-lebih pada daerah yang populasinya jarang dan posnya baik.
Karena tidak menggunakan enumerator, maka penggunaan kuesioner yang dikirimkan dapat mengurangi error dari enumerator.
Kuesioner yang dikirimkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan waktu untuk konsultasi atau untuk pencarian data secara lebih akurat.
Responden dapat menjawab pertanyaan secara lebih jujur, lebih-lebih pertanyaan yang bersifat pribadi, karena responden tidak bertatap muka dengan enumerator.

Walaupun penggunaan kuesioner mempunyai keuntungan-keuntungan, tetapi penggunaan kuesioner yang dikirimkan mempunyai limitasi-limitasi tertentu. Beberapa dari limitasi tersebut adalah :
Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat harus sederhana dan langsung mengenai sasaran
Pertanyaan yang dibuat harus dapat dimengerti oleh responden
Jawaban dari pertanyaan tersebut harus diterima sebagai suatu jawaban final, kecuali diadakan lagi checking dengan menggunakan schedule
Penggunaan kuesioner yang dikirimkan memakan waktu lama untuk memperoleh response, sehingga sering digunakan untuk pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban secara cepat.
Karena responden dapat membaca semua pertanyaan lebih dahulu sebelum memberi jawaban kepada masing-masing item pertanyaan, jawaban yang diberikan untuk masing-masing pertanyaan tidak lagi merdeka (independent)
Tidak ada kesempatan untuk membuat tambahan terhadap jawaban yang diperoleh berdasarkan observasi
Responden dapat saja tidak mengembalikan kuesioner

2. Hal yang dapat dikumpulkan dengan kuesioner dikirim
Tidak semua masalah dapat dijawab dengan tepat dengan menggunakan kuesioner yang dikirimkan. Kuesioner yang dikirimkan baru digunakan setelah dipertimbangkan masak-masak jenis keterangan yang diinginkan, jenis responden yang digunakan, aksesibilitas, dan jenis hipotesis yang di uji.
Keterangan yang dapat diperoleh dengan kuesioner yang dikirimkan haruslah keterangan yang bersifat sederhana dan tidak terlalu banyak memakan waktu untuk menjawabnya. Dengan demikian, jawaban-jawaban tersebut harus dapat diberikan oleh responden dalam waktu kurang dari 20-30 menit. Masalah yang ditanyakan juga harus yang sederhana dan tidak terlalu kompleks.
Tidak semua kelompok mau menjawab kuesioner yang dikirimkan padanya. Sekurang-kurangnya, hanya responden yang dapat menulis dan membaca saja yang dapat memberikan jawaban. Karena itu, penggunaan kuesioner yang dikirimkan tidak dapat digunakan untuk semua jenis responden dalam populasi yang diinginkan.
Selain dari itu, responden juga harus dapat dicapai dengan pos. jika responden berada pada daerah yang sangat jauh dan tidak dapat dilayani dengan pos, maka penggunaan kuesioner yang dikirimkan tidak efektif sama sekali.
Hipotesis harus lebih terfokus dalam kuesioner yang dikirimkan. Jika hipotesis yang dikembangkan masih belum terlalu menjurus dan tajam, maka penggunaan kuesioner yang dikirimkan untuk memperoleh informasi untuk menguji hipotesis tersebut tidak akan terlalu efektif.

3. Membuat kuesioner lebih menarik dan efektif
Tidaklah diharapkan bahwa semua kuesioner yang dikirimkan akan memperoleh response. Pemulangan kuesioner yang telah diisi sebanyak 75-80% saja sudah dianggap cukup baik dalam tiap penelitian yang mengunakan cara ini. walaupun demikian, tidak jarang 93-95% dari kuesioner yang dikirimkan kembali sesudah diisi oleh responden.
Beberapa hal harus diperhatikan supaya response terhadap kuesioner tersebut menjadi lebih besar, antara lain :
Nyatakan permohonan yang menonjolkan tentang perlunya jawaban dari responden dan pentingnya responden dalam menjawab masalah tersebut. Dalam hal ini :
Nyatakan siapa yang melakukan penelitian
Nyatakan mangapa studi harus dilaksanakan
Nyatakan bahwa tanpa partisipasi responden, penelitian tersebut tidak dapat dilaksanakan
Berikan cara-cara mengisi kuesioner tersebut sejelas-jelasnya. Jika ada beberapa istilah asing ataupun yang sukar, berikan penjelasan yang jelas
Berikan jaminan bahwa kerahasiaan jawaban dan kerahasiaan responden tetap dijamin. Sehubungan dengan ini, nama dari responden dan identifikasi lain tidak ditanyakan dalam kuesioner.
Untuk melancarkan pengiriman kembali jawaban sebaiknya dilampirkan amplop jawaban dengan alamat dan prangko yang tidak perlu ditulis dan dibayar oleh responden sendiri.

STUDI PENDAHULUAN DAN PRETEST
Bagaimanapun baiknya seseorang menyusun daftar pertanyaan ataupun membuat interview guide, tetapi disana sini masih akan dijumpai juga beberapa kekurangan. Maka dari itu, sebelum item-item pertanyaan dijadikan pertanyaan final, maka perlu lebih dahulu dijajaki kebaikannya dengan dua cara, yaitu :
Dengan mengadakan studi pendahuluan atau pilot studi
Dengan mengadakan pretest terhadap pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat

Pilot studi
Pilot studi dilakukan untuk menjawab pertanyaan “bagaimana seorang peneliti memformulasikan pertanyaan-pertanyaan dalam daerah studi yang literaturnya kurang sekali?” karena keterangan-keterangan tentang area penelitian masih kurang, maka diperlukan terlebih dahulu suatu studi pendahuluan atau pilot studi. Dalam pilot studi ini, tidak dapat dibuat suatu schedule, tetapi yang bisa dikembangkan adalah suatu interview guide. Sipeneliti melaksanakan wawancara dilapangan, dengan arah yang tidak tentu. Dalam interview tersebut sipeneliti mencoba menjajaki arah-arah yang memberi harapan, baik dalam area penelitian, dalam respons, dan hal-hal lain yang dirasa perlu. Dari hasil ini, sipeneliti baru dapat membangun hipotesis-hipotesis. Dalam pilot studi, sipeneliti bukan saja belum memperoleh pegangan tentang hal-hal apa yang perlu di interview, sipeneliti juga belum tahu jenis-jenis responden mana yang akan digunakan untuk memperoleh keterangan.
Hasil interview atau wawancara diatas kemudian ditulis dan dianalisis. Hasil analisis ini merupakan dasar logis dalam membuat daftar wawancara (kuesioner atau schedule).

Pretest
Bagaimana seseorang yakin bahwa item-item dalam daftar pertanyaan sudah cukup cocok untuk keperluan mengumpulkan data? Hal ini dapat dijawab dengan mengadakan pengumpulan data pendahuluan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dibuat. Pengumpulan data pendahuluan, yang boleh dikatakan sebagai studi gladi bersih untuk turun kelapangan yang sebenarnya, dinamakan pretest. Pretest ini dilakukan seperti melakukan pengumpulan data yang sebenarnya, hanya saja untuk sampel yang lebih kecil. Tempat untuk pretest harus dipillih sedemikian rupa sehingga hampir bersamaan atau sama dengan lapangan yang sebenarnya.
Hasil pretest ini dianalisis dan dilihat kelemahan-kelemahan dari kuesioner atau schedule. Mungkin ada beberapa pertanyaan yang tidak relevan, atau range (jangka) dari pendapatan tidak cukup banyak, ataupun desain dari penelitian yang kurang sesuai. Hasil dari analisis tersebut akan dijadikan bahan untuk mengadakan perubahan ataupun penyesuaian dalam membuat daftar pertanyaan yang baru.
Beberapa hal perlu mendapat perhatian dalam mengadakan analisis terhadap pretest yaitu :
Jawaban yang diperoleh memperlihatkan ketidakadaan atau kekurangan dalam hal distribusi atau urutan, atau tidak memperlihatkan suatu pola tertentu. Hal ini mungkin disebabkan oleh item dalam pertanyaan dibuat kurang baik atau kurang mempunyai konsepsualisasi.
Terlalu banyak jawaban yang sama untuk semua responden, ataupun terlalu banyak jawaban mengiyakan atau menidakkan. Hal ini menunjukkan ada kelemahan dalam membuat daftar pertanyaan mengenai item tertentu, sehingga responden memberikan respons klise.
Terlalu banyak yang menjawab “tidak tahu” atau “ tidak mengerti”. Ini dapat diakibatkan oleh pertanyaan yang terlalu sulit dimengerti ataupun karena desain sampling yang digunakan tidak benar. Pertanyaan yang kurang jelas juga dapat mengakibatkan banyaknya jawaban “tidak tahu”
Terlalu banyak komentar yang tidak relevan dengan masalah penelitian ataupun terlalu banyak jawaban terhadap “lain-lain” dalam alternative yang diberikan. Hal ini memberikan kesan bahwa pertanyaan yang dibuat kurang sesuai ataupun alternative yang diberikan kurang relevan.
Banyak pertanyaan yang tidak dijawab oleh responden memperlihatkan bahwa pertanyaan tersebut terlalu pribadi, jaminan kerahasiaan penelitian tidak dicantumkan, ataupun kurang dipercayai oleh responden. Jaminan kerahasiaan kadang kala dapat dicari dari beberapa pertanyaan dalam item-item tertentu dalam daftar pertanyaan itu sendiri.

BEBERAPA METODE PENGUMPULAN DATA YANG LAIN
Selain dari metode pengumpulan data yang telah diterangkan diatas, maka banyak metode lain yang juga sering digunakan dalam penelitian. Antara lain metode proyektif, metode sosiometri, content analysis, dan sebagainya. Dalam buku ini akan dibicarakan hanya dua dari metode-metode yang ada, yaitu metode proyektif dan metode sosiometri.

Metode proyektif
Metode proyektif dalam pengumpulkan data didasarkan pada sifat manusia yang diberikan Tuhan untuk memproyeksikan nilai-nilai, keinginan, kebutuhan ataupun sikapnya kedalam perilaku, ataupun objek diluar manusia itu sendiri. Tiap orang memandang sesuatu di dunia ini menurut proyeksi dari dirinya sendiri. Cara seorang pelukis membuat lukisan adalah proyeksi dari dirinya sendiri. Demikian juga cara-cara seorang anak bermain-main dengan bonekanya. Dengan demikian, jika kita dapat membuat seseorang memproyeksikan motivasinya, emosinya,nilainya, sikapnya, dan keinginannya kepada suatu benda atau objek, mak kita dapat mengetahui motivasinya, emosinya, nilainya, dan sikapnya. Pengamatan serta kegiatan mencatat secara sistematis sifat-sifat internal yang diproyeksikan secara eksternal oleh seseorang adalah cara mengumpulkan data dengan menggunakan metode proyektif. Nama metode proyektif diberikan oleh Frank (1939) yang memberikan definisi sebagai berikut :
“metode proyektif …..melibatkan persentase dari suatu situasi sebagai akibat dari stimulus yang dipilih sedemikian rupa, sebab hal itu mempunyai arti bagi subjek, bukan apa yang dipikirkan oleh si pembuat eksperimen, tetapi apa yang dipikirkan mempunyai arti oleh subjek yang memberikanya…”
Beberapa kelebihan cara mengumpulkan data dengan metode proyektif dibandingkan dengan metode-metode lain, adalah sebagai berikut :
Informasi dari subjek yang lebih mudah memberikan ekspresinya tanpa bercakap-cakap tentang hal tersebut, misalnya tentang perasaannya, tentang sikapnya, jauh lebih mudah diperoleh dengan menggunakan metode proyektif.
Seseorang yang tak dapat memberikan keterangan tentang perasaan, nilai, atau sikapnya secara akurat dengan metode lain akan diketahui dengan mudah dengan menggunakan metode proyektif.
Adakalanya, jika bukan dengan metode proyektif, banyak hal tentang populasi tertentu (seperti anak-anak sekolah, pekerja pabrik, dan sebagainya) akan ditutup-tutupi jika penelitian tidak dilakukan dengan metode proyektif.
Keterangan yang lebih ekstensif akan diperoleh dengan menggunakan metode proyektif dibandingkan dengan menggunakan wawancara atau daftar pertanyaan, walaupun daftar pertanyaan yang dibuat merupakan pertanyaan terbuka (open ended).

Walaupun demikian, metode mengumpulkan data dengan metode proyektif dianggap mempunyai ciri kurang objektif. Seorang pengamat terhadap situasi yang diadakan secara stimulus dapat memberikan interpretasi yang berbeda dari proyeksi-proyeksi yang diberikan oleh subjek. Metode proyektif ini banyak digunakan dalam penelitian psikologis.
Beberapa jenis metode proyektif dapat diberikan. Sesuai dengan jenis respons yang diberikan akibat stimulus, maka metode proyektif dapat dibagi atas beberapa teknik, yaitu :
Teknik asosiasi
Teknik konstruksi
Teknik menyiapkan (menyelesaikan)
Teknik memilih atau mengurutkan
Teknik ekspresif

1.1 Teknik asosiasi
Dalam metode proyektif jenis ini, pengamatan serta pengumpulan keterangan dilakukan terhadap respons subjek akibat stimulus yang diberikan. Respons yang dicatat adalah sesuatu yang pertama-tama keluar dari pikiran subjek. Dalam teknik asosiasi ini ada beberapa cara yang telah popular dilakukan, antara lain cara asosiasi kata dan uji rorschach.
Jika digunakan cara asosiasi kata, maka kepada subjek diberikan beberapa kata, dimana kata-kata tersebut terdiri dari kata-kata yang netral dan bernada (sedih, gembira dan sebagainya). Subjek disuruh memilih kata-kata apa yang mula-mula muncul dari pikirannya dari sejumlah kata-kata yang disodorkan padanya, atau meminta subjek untuk member arti dari kata-kata yang dipilihnya sebanyak mungkin. Dari pilihan tersebut, analisis dibuat dengan menyusun scoring tentang beberapa aspek yang ingin diteliti (kreativitas misalnya).
Jika digunakan uji Rorschach, maka stimulasi yang digunakan adalah sepuluh bintik noda tinta yang mempunyai bentuk berbeda-beda, dengan warna yang berbeda-beda pula. Kemudian subjek disuruh memberikan respons terhadap noda-noda tinta tersebut. Tetapi uji Rorschach ini kurang berguna bagi penelitian dan banyak digunakan dalam kerja klinik, karena menghendaki skill yang khusus bagi seorang pengamat (pengumpul data). Kelemahan lain, uji ini mempunyai reliabitilitas dan validitas yang rendah.

Teknik konstruksi
Disini pengamatan dilakukan terhadap hasil yang dimintakan kepada subjek ataupun terhadap suatu konstruksi dari subjek terhadap suatu hal yang dijuruskan oleh pembuat penelitian. Beberapa cara yang sering dilakukan adalah Thematic Apperception Test (TAT) dan cara n-ach dari Mc Clelland et al.
Dalam TAT, pokok-pokok yang dilakukan adalah sebagai berikut. Kepada subjek dimintakan untuk menerangkan suatu cerita apa saja yang ia alami kemarin, atau kepada subjek diberikan gambar-gambar dan meminta subjek untuk membuat cerita tersebut dapat dibuat score tentang perasaan, tentang apa-apa yang dipikirkan oleh subjek dan sebagainya.
Cara n-ach adalah teknik konstruksi yang dikembangkan untuk mengukur motivasi untuk prestasi atau need achievement. Subjek diperlihatkan empat buah gambar yang dapat diberikan interpretasi yang bermacam-macam. Misalnya diberikan sebuah gambar tentang seorang anak laki-laki meletakkan tangan kirinya diatas meja sambil duduk, dan didepannya terdapat sebuah buku dan anak tersebut melihat jauh kedepan. Kepada subjek diberikan waktu 1 menit untuk membuat cerita tentang gambar tersebut. Berdasarkan cerita yang dibuat oleh subjek, analisis yang kompleks dapat dibuat.

Teknik menyelesaikan
Dalam teknik menyelesaikan, atau completion technique, subjek diberikan suatu stimulus yang tidak lengkap, dan dimintakan kepada subjek untuk melengkapkannya. Yang sangat popular adalah dengan meminta kepada subjek untuk melengkapi kalimat. Misalnya dalam penelitian tentang sikap dari murid sekolah tentang institusinya, kepada murid-murid dimintakan untuk menyelesaikan kalimat-kalimat berikut :
belajar adalah ………………………………………………………………….
Sekolah ini …………………………………………………………………….
Kalimat-kalimat yang telah dilengkapkan oleh subjek, kemudian dinilai dengan skala tujuh titik (seven point scale) dan kemudian dikombinasikan untuk mencari rata-rata.
Kalimat-kalimat yang telah dilengkapkan oleh subjek, kemudian dinilai dengan skala tujuh titik (seven point scale) dan kemudian dikombinasikan untuk mencari rata-rata.

Pertanyaan seperti “bekerja dengan orang lain secara terus-menerus membuat saya….” Adalah salah satu contoh stimulus untuk mengukur “penyesuaian dari”. Dari jawaban yang diperoleh juga dapat dilihat apakah ada dampak positif (jika jawaban misalnya “menyenangkan”, atau “berbahagia”) atau dampak negative (misalnya jawaban “kecewa”, “bosan”, dan sebagainya) dari respponden atau subjek terhadap sesuatu.

Teknik memilih atau mengurutkan
Dalam teknik memilih, kepada subjek diberikan item-item serta pilihan dimanaa subjek dimintakan untuk memilih item yang sangat relevan, menarik atau yang paling tepat menurut kacamata subjek. Misalnya, ingin diketahui sikap seseorang terhadap orang Cina. Kepada subjek diberikan stimulus berupa gambar-gambar ataupun kalimat-kalimat. Tiap gambar atau kalimat tersebut telah dibuat sedemikian rupa sehingga ada hubungannya dengan motivasi dan sikap terhadap Cina, yang berjenis-jenis tingkatnya. Subjek biasanya pertama-tama akan memilih gambar atau kalimat yang disukainya, dan dari ranking dapat diketahui bagaimana subjek memproyeksikan dirinya tentang sikapnya terhadap Cina.

Teknik ekspresif
teknik ekspresif menggunakan stimulus untuk melihat tingkah subjek dalam melakukan sesuatu, umumnya stimulus yang diberikan sama dengan teknik konstruksi. Hanya saja pada jenis konstruksi, yang diperlukan adalah pengamatan terhadap produk akhir, sedangkan dalam teknik ekspresif ini, yang perlu dikumpulkan adalah data tentang tingkah (manner) dari subjek dalam menghasilkan produk akhir. Dengan stimulus yang diberikan, maka subjek dapat “mengeluarkan” keinginannya, kebutuhannya, emosinya, atau motif melalui cara subjek berinteraksi dengan stimulus. Dengan gaya khas tersendiri, subjek dapat menunjukkan personalitasnya. Dalam penelitian dengan teknik ekspresif ini, biasanya digunakan boneka untuk melihat cara anak bermain-main dengan boneka. Cara seseorang melukis diamati, ataupun cara seorang guru mengajar diamati, atau cara berlakon dalam suatu drama diperhatikan. Biasanya, kegiatan yang disuruh dilakukan bentuknya berstruktur, dengan instruksi-instruksi yang harus diturut.

Metode sosiometri
Sebenarnya sosiometri bukan saja metode mengumpulkan data, tetapi juga metode analisis data. Sosiometri adalah berkenaan dengan pola memilih, berkomunikasi dan berinteraksi dari individu-individu. Secara umum, dapat dikatakan bahwa sosiometri adalah studi dan pengukuran tentang pilihan sosial (social choice), baik tentang pemilihan orang-orang, pemilihan garis komunikasi, pemilihan garis pengaruh, dan sebagainya. Dalam penelitian dengan menggunakan metode sosiometri, maka subjek dimintakan untuk memilih satu atau beberapa dari item yang telah ditentukan.
Dalam metode sosiometri, pengumpulan data ditujukan untuk memperoleh keterangan tentang adanya interaksi diantara anggota kelompok, antara kelompok dengan kelompok, antara pribadi dengan anggota kelompok, dan sebagainya. Atribut dalam interaksi dapat saja perilaku, keinginan, antisipasi, ataupun suatu fantasi.
Banyak sekali jenis interaksi yang dapat dikumpulkan, seperti berjenis-jenis perilaku sosial, antara lain : duduk disamping, makan bersama, membeli, meminjamkan, bertamu, bercakap-cakap, berkawan, tinggal bersama, tinggal berjiran, dan sebagainya. Teknik dalam mengumpulkan data umumnya dengan menggunakan schedule atau questionnaire, walaupun adakalanya digunakan pengamatan partisipatif ataupun dengan memintakan suatu secara verbal.
Mengumpulkan data dengan metode sosiometri secara relative lebih mudah dibandingkan dengan teknik yang digunakan dalam menganalisis data sosiometri. Data sosiometri dapat memberikan jawaban tentang posisi individu dalam kelompok, tentang hubungan dalam subkelompok ataupun tingkat kohesi dari kelompok dalam studi tentang pengaruh variasi struktur kelompok terhadap perilaku anggota kelompok, ataupun dalam melihat ciri perorangan yang selalu dipilih dan yang jarang-jarang dipilih. Dalam analisis data sosiometri, ahli-ahli dapat menggunakan cara metrics sosiometri, sosiogram, dan indeks sosiometri.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa metode sosiometri dapat digunakan jika penelitian mempersoalkan kegiatan-kegiatan manusia seperti : memilih, mempengaruhi,mendominasikan, mengkomunikasikan, lebih-lebih jika terlibat masalah kelompok. Dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sering terdapat perkataan : berkomunikasi dengan, berinteraksi dengan, mempengaruhi, mendominasikan, memimpin, menerima, menyukai saya, bersahabat, dan sebangsanya. Beberapa pertanyaan dalam penelitian sosiometri dapat dilihat dibawah ini :
Dengan siapa anda lebih suka bekerja (bermain, duduk disamping, dan sebagainya.)
Anggota-anggota kelompok mana (kelompok umur, kelas, organisasi, dan sebagainya)
Siapakah tiga orang murid yang paling baik (paling baru) dalam kelas anda?
Siapakah yang anda akan pilih untuk mewakili anda dalam komisi untuk meningkatkan program fakultas?
Berikan empat orang yang mempunyai prestise tertinggi dalam organnisasi anda (kelas, perusahaan, tim, dan sebagainya)
Sebutkan dua kelompok yang sangat anda terima (yang sangat anda benci) sebagai jiran anda (sebagai kawan, sebagai kongsi berdagang, dan sebagainya).

Jennings (1943) merupakan ahli yang pertama-tama menggunakan metode sosiometri dalam meneliti masalah kepemimpinan. Murid-murid wanita dalam satu sekolah keterampilan dimintakan untuk memilih beberapa murid dalam sekolah yang dia rasa dapat bekerja sama dan dapat tinggal bersama, dan juga memberikan serangkaian nama-nama dengan siapa dia tidak dapat berkawan. Dari pilihan yang diberikan, maka dibuat “skor pilihan” dan tiap garis dalam sekolah dapat dikategorikan sebagai overchosen, average chosen dan under chosen. Dari banyak variable yang diteliti, Jennings menyimpulkan bahwa kepemimpinan tidak dapat diterangkan oleh personalitas atau sifat dan pembawaan (trait), tetapi oleh kontribusi interpersonal dalam kelompok tertentu.
Metode sosiometri, misalnya, juga telah digunakan dalam mempelajari prejudice (prasangka) rasial, kepercayaan, dan pilihan. Misalnya telah ditemukan bahwa prejudice lebih banyak ditentukan oleh kepercayaan (belief) daripada oleh kesukuan.
Dalam sebuah penelitian dengan metode sosiometri juga telah ditemukan bahwa pujian yang diberikan oleh seseorang yang mempunyai prestise tinggi kepada murid dapat menambah “nilai pilihan (choice value) dari murid tersebut.
Perlu jug ditambahkan bahwa metode sosiometri bukan saja digunakan untuk meneliti manusia tetapi dapat juga digunakan untuk meneliti perilaku binatang atau hewan. Misalnya metode ini telah digunakan dalam meneliti pengaruh kondisi pemeliharaan monyet terhadap preferensi sosialnya, yang dilakukan oleh Pratt dan Sackett (1967).




























DESAIN PERCOBAAN



PENDAHULUAN
Dalam melakukan penelitian secara eksperimental maka perlu sekali diketahui desain-desain yang sering digunakan dalam penelitian tersebut. Dengan desain yang baik, maka pengaturan variable-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental dapat dilakukan secara seksama, ketat, dan tertib.

Definisi desain percobaan
Desain percobaan tidak lain dari semua proses yang diperlukan dalam merencanakan dan melaksanakan percobaan. Secara sempit, desain penelitian sering ditafsirkan sebagai suatu proses merencanakan percobaan, sehingga hasil yang diperoleh dari percobaan ini dapat memecahkan masalah secara mantap. Tetapi sebenarnya desain percobaan bukan saja memberikan proses perencanaan, tetapi juga mencakup langkah-langkah yang berurutan, menyeluruh, komplit, dibuat lebih dahulu, serta cara pelaksanaan percobaan, supaya peneliti yakin bahwa data yang diperoleh dapat dianalisis secara objektif dan dapat digunakan untuk mengadakan suatu interferensi yang falid berkenaan dengan masalah yang sedang diselidiki.

Guna desain percobaan
Desain percobaan sangat diperlukan dalam melakukan penelitian eksperimental. Guna dari desain percobaan adalah untuk memperoleh suatu keterangan yang maksimum mengenai cara membuat percobaan dan bagaimana proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan akan dilakukan.
Untuk melihat pentingnya desain percobaan dalam penelitian eksperimental, marilah kita berikan contoh yang konkret. Seorang peneliti angin menentukan pengaruh dari insektisida terhadap hama tembakau.peneliti tersebut mempunyai sepuluh jenis insektisida dan mempunyai dua puluh petak tanah atau plot tanah untuk ditanami jagung. Beberapa pertanyaan timbul dalam benak sang peneliti :
Ciri-ciri apakah yang dianalisis, sehinggan dapat diukur pengaruh dari insektisida terhadap hama tembakau?
Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi karakter atau ciri-ciri yang akan dianalisis?
Factor-faktor mana saja yang akan diselidiki dalam percobaan diatas?
Berapa kalikah percobaan dasar perlu dikerjakan?
Dalam bentuk apa analisis akan dikerjakan?
Sampai berapa besar suatu pengaruh yang terjadi, baru dapat diterima sebagai suatu pengaruh yang penting?
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas, maka nyata kepada kita bahwa proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan perlu memperoleh pemikiran yang s ungguh-sungguh. Peneliti harus lebih dahulu memikirkan langkah-langkah serta jenjang-jenjang perencanaan dari percobaan yang akan dilakukannya.

Jenis-jenis desain percobaan
Suatu desain percobaan harus mempunyai ciri-ciri tertentu, dan harus memberikan keterangan yang cukup untuk memecahkan masalah yang sedang diteliti atau dicoba. Jika penelitian dirancang dengan hanya mempunyai sedikit saja ciri-ciri suatu desain percobaan, maka desain tersebut dinamakan desain praeksperimental. Dilain pihak, ada juga desain penelitian percobaan, dimana sebagian besar saja dari ciri-ciri desain percobaan terdapat didalamnya. Desain demikian disebut desain eksperimental semu. Sedangkan desain percobaan yang mempunyai ciri-ciri lengkap diperlukan oleh sebuah percobaan sehingga desain tersebut mempunyai validitas yang tinggi, dinamakan desain eksperimental yang sebenarnya.

CIRI DAN PRINSIP DASAR DESAIN PERCOBAAN
Ciri-ciri desain percobaan
Beberapa ciri dasar dari desain percobaan adalah sebagai berikut :
Variabel-variabel serta kondisi yang diperlukan diatur secara ketat dan dikontrol. Manipulasi terhadap variabel baik secara langsung atau tidak langsung dilakukan.
Variabel-variabel yang ingin diteliti selalu dibandingkan dengan variable control
Analisis variance selalu digunakan, yang mana analisis ini berusaha untuk :
- meminimalkan variance dari error.
Meminimalkan variance variabel yang tidak termasuk dalam variabel –variabel yang ingin diteliti.
Memaksimalkan variance dari variabel-variabel yang diteliti dan yang berkaitan dengan hipotesis yang dibangun.

Validitas dalam desain percobaan
Jika diperbandingkan masalah validitas, maka peneliti mempermasalahkan alat ukur. Apakah alat ukur yang digunakan memang mencerminkan alat ukur atau konsep yang digunakan dalam penelitian? Dalam desain percobaan, validitas menyangkut pertanyaan : apakah seorang peneliti mengukur apa yang dipikirkan oleh sipeneliti akan diukur? Dalam desain percobaan, terdapat dua jenis validitas yang perlu diperhatikan, yaitu validitas eksternal dan validitas internal.
Validitas eksternal
jika ingin hasil dari percobaan dapat dibuat generalisasi untuk member ukuran terhadap populasi secara mantap, maka yang dipersoalkan adalah validitas eksternal. Suatu desain percobaan harus mempunyai validitas yang tinggi. Untuk ini, randomisasi atau sampling harus diusahakan semaksimal mungkin. Dengan eksternal validitas yang tinggi, hasil dari percobaan akan cukup representative untuk mewakili populasi.

Validitas internal
Pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah : apakah perbedaan yang ditujukan dalam percobaan tersebut benar-benar disebabkan oleh variabel-varibel yangsedang diteliti, ataukah barangkali disebabkan oleh variabel lain? Untuk menjawab ini, maka diperlukan validitas internal yang tinggi. Suatu desain percobaan harus dibuat sedemikian rupa sehingga perbedaan yang diperlihatkan benar-benar disebabkan oleh perlakuan yang diperlukan, bukan oleh factor atau variabel lain diluar itu.



Tiga prinsip dasar desain percobaan
Dalam rangka meningkatkan validitas, desain percobaan harus diarahkan kepada meningkatkan validitas eksternal dari suatu percobaan. Untuk ini, ada tiga prinsip dasar yang perlu diketahui, yaitu : replikasi, randomisasi (berhubungan dengan validitas eksternal) dan kontrol internal (yang berhubungan dengan validitas internal).

Replikasi
Yang dimaksud dengan replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar. Replikasi ini berguna untuk :
Memberikan suatu error estimasi. Error estimasi ini diperlukan sebagai unit dasar untuk mengukur signifikan tidaknya beda yang diperlukan dan juga untuk mengukur jarak interval kepercayaan (confidence interval).
Memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error percobaan. Dengan asumsi tertentu, error percobaan dapat juga dicari tanpa replikasi, tetapi estimasi error percobaan yang diperoleh dengan cara ini kurang tepat.
Memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap pengaruh mean (mean effect) dari tiap factor karena :
S_x= Q^2/n
Dimana Q = error percobaan dan n = banyaknya replikasi.
Unit percobaan adalah sebuah unit dimana percobaan dilaksanakan. Misalnya, 20 plot jagung adalah unit eksperimen. Sebuah kelas percobaan dengan 30 murid adalah unit percobaan. Dalam melakukan percobaan, maka akan terlihat adanya kegagalan untuk menberikan hasil yang serupa, walaupun kedua percobaan tersebut memperoleh perlakuan yang sama. Kegagalan ini disebut error percobaan. Error percobaan ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain:
Kesalahan dari percobaan yang sedang dilakukan
Kesalahan pengamatan
Kesalahan pengukuran
Variasi dari bahan yang digunakan dalam percobaan
Pengaruh kombinasi dari factor-faktor luar biasa


Error percobaan dapat dikurangi dengan jalan :
Menggunakan bahan atau material percobaan yang lebih homogen
Mengadakan stratifikasi yang lebih hati-hati
Menggunakan desain percobaan yang lebih cocok

Jumlah replikasi yang perlu diadakan bergantung dari banyak hal. Factor-faktor terpenting yang mempengaruhi banyaknya replikasi suatu percobaan adalah :
Luas serta jenis unit percobaan
Bentuk unit percobaan
Variabilitas material percobaan
Derajat ketelitian yang diinginkan
Tersedianya materi percobaan (alat-alat, tanah, ruang kelas, mahasiswa, guru, marmot, dan sebagainya)
Secara praktis, jumlah replikasi yang digunakan adalah sedemikian rupa, sehingga degree of freedom dalam analisis variance nantinya tidak boleh kurang dari 10-15.

3.2 Randomisasi
Seperti sudah diterapkan, replikasi dapat memberikan estimasi yang lebih baik untuk error percobaan. Dengan adanya replikasi, maka dimungkinkan menguji signifikan dapat dilakukan, atau :
Replikasi error percobaan uji signifikan.
Supaya uji signifikan valid, maka diperlukan randomisasi. Uji signifikan dikatakan valid, jika beberapa hal terpenuhi, yaitu pengamatan didistribusikan secara bebas. Untuk mendekati terdapatnya pengamatan yang mempunyai distribusi diatas, maka pengambilan sampel harus dilakukan secara random, ataupun perlakuan harus diberikan secara random. Dengan demikian, randomisasi dengan mengadakan perlakuan secara random penting sekali artinya dalam desain percobaan. Randomisasi ini, selain membuat uji signifikan menjadi valid, juga berguna untuk mengurangi bias. Randomisasi dapat menghilangkan bias yangdisebabkan oleh pilih kasih.


3.3 Kontrol internal
Yang dimaksud dengan kontrol internal adalah banyaknya perimbangan, blocking, dan pengelompokan dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam percobaan. Kontrol internal ini berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih efisien, dan sensitif. Desain percobaan harus memikirkan kontrol internal yang cocok.
Pengelompokan atau grouping adalah membagi unit-unit percobaan dalam kelompok yang homogeny. Tiap unit percobaan dalam suatu kelompok harus memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, jika seorang peneliti mengadakan penelitian tentang pengaruh sejenis obat dengan tiga macam dosis terhadap manusia, maka ia akan mengelompokkan unit percobaan diatas tiga kelompok. Tiap kelompok disuntikkan obat diatas, yaitu kelompok 1 dengan dosis A, kelompok 2 dengan dosis B, dan kelompok 3 dengan dosis C. kita lihat bahwa unit percobaan tiap kelompok harus homogeny, dan tiap kelompok pemperoleh hanya satu perlakuan saja.
Yang dimaksud dengan blocking adalah membagi unit-unit percobaan dalam kelompok yang homogeny, tetapi tiap kelompok dibagi lagi dalam beberapa kelompok lain. Pengelompokan pertama dinamakan blocking, dan dari masing-masing blok dibuat perlakuan yang berbeda. Blocking diadakan jika unit-unit percobaan yang digunakan tidak homogen.
Misalnya ingin dicoba tiga jenis insektisida terhadap 24 ekor ayam. Kedua puluh empat ekor ayam tersebut merupakan unit percobaan. Tetapi ayam tersebut tidak homogen, karena terdiri dari 12 ekor ayam kampong, 6 ekor ayam White Leghorn dan 6 ekor ayam Rhode Island. Untuk melihat pengaruh dari ketiga insektisida diatas, yaitu insektisida A,B dan C, terhadap ayam-ayam tersebut, perlu lebih dahulu diadakan blocking, dimana unit percobaan dibagi atas 3 blok, yaitu blok 1, ayam kampong, blok II, ayam White Leghorn, dan blok III, ayam Rhode Island. Dengan demikian, blok I terdiri dari 12 ekor ayam, blok II terdiri dari 6 ekor ayam, dan blok III terdiri dari 6 ekor ayam. Kemudian secara random tiap blok dikenakan perlakuan A,B,C. jumlah ayam tiap blok pada masing-masing treatment (perlakuan), misalnya, sebagai berikut :




















Jumlah perlakuan pada tiap blok sama dengan jumlah jenis perlakuan yang ingin dicoba, tetapi jumlah unit percobaan dalam tiap blok tidak perlu sama.
Balancing adalah cara seorang peneliti membagi unit percobaan dalam kelompok dan dalam menentukan jumlah unit percobaan pada satu perlakuan, sehingga terdapat suatu keseimbangan yang akan membawa kepada kelebih-baikan hasil percobaan.
Dengan adanya kontrol internal ini, maka penelitian bermaksud mengurangi apa yang dinamakan pengaruh confounded atau pengaruh campuran. Untuk lebih memperjelas tentang konsep confounded ini, marilah kita lihat contoh berikut :
Dinas Tanaman Bahan Makanan ingin mencoba dua jenis pupuk, yaitu pupuk A dan pupuk B untuk tanaman jagung. Untuk ini diadakan penelitian pada plot jagung. Jenis pupuk A dicoba di desa Samahani dan pupuk B di desa Sare. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jagung yang dipupuk dengan pupuk A mempunyai produksi per hektar yang lebih tinggi dari hasil jagung perhektar yang dipupuk dengan pupuk B. beda hasil tersebut bisa jadi disebabkan oleh perbedaan pupuk. Akan tetapi, ada juga kemungkinan bahwaperbedaan tersebut disebabkan karena kesuburan tanah di desa Samahani yang lebih baik dari kesuburan tanah di desa Sare. Kita katakan bahwa perbedaan pemupukan adalah confounded atau bercampur dengan perbedaan lokasi atau dengan perkataan lain, efek pupuk, dan efek plot adalah confounded.

Dengan demikian desain suatu percobaan harus dibuat sedemikian rupa sehingga efek confounded dapat dihilangkan atau dikecilkan.

PERLAKUAN DAN FAKTOR
Dalam membicarakan desain percobaan, istilah perlakuan dan istilah factor sering sekali dijumpai. Kedua istilah tersebut adalah istilah teknis yang artinya adalah sebagai berikut .
Perlakuan
Perlakuan (dalam bahasa inggris disebut treatment) adalah suatu set khusus yang dikenakan atau yang dilakukan terhadap sebuah unit percobaan dalam batas-batas desain yang digunakan. Contoh-contoh dari perlakuan adalah sebagai berikut .
Dalam percobaan agronomi, perlakuan bisa saja sejenis pupuk, sejumlah pupuk, jarak tanaman,varietas jenis tanaman, dan sebagainya.
Dalam penelitian peternakan, perlakuan bisa saja turunan lembu, jenis kelamin hewan, campuran makanan ternak, dan sebagainya.
Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, perlakuan bisa saja umur, jenis kelamin, jumlah tahun sekolah, motivasi, dan sebagainya.
Jika pada sebuah percobaan dijumpai lebih dari satu perlakuan, maka disebut perlakuan kombinasi. Misalnya : jarak tanam dan pupuk, varietas dan dosis pupuk, umur dan jenis kelamin, dan sebagainya.
Misalnya kita mempunyai suatu percobaan untuk meneliti pengaruh jarak tanam terhadap produksi-produksi padi. Ada tiga jarak tanam yang dicoba, yaitu :
Jarak tanam 25 x 25 cm
Jarak tanam 20 x 20 cm
Jarak tanam 15 x 15 cm
Dalam percobaan tersebut terdapat tiga buah perlakuan, yaitu tiga jenis jarak tanam.
Ada sebuah percobaan lain, yaitu pengaruh varietas padi terhadap produksi. Misalnya dicoba empat jenis varietas padi, yaitu :
Varietas PB 8
Varietas PB 5
Varietas sirendah
Varietas tangkai rotan
Dalam percobaan tersebut terdapat empat buah perlakuan, yaitu keempat jenis varietas padi yang dicoba.

Jika kedua percobaan diatas digabung menjadi suatu percobaan, yang meneliti pengaruh jarak tanaman dan varietas padi terhadap hasil, maka yang dilakukan adalah suatu perlakuan kombinasi. Banyaknya perlakuan kombinasi adalah sebanyak perlakuan pertama dikalikan dengan perlakuan kedua, yaitu 3 x 4 = 12 buah perlakuan.

Faktor dan faktorial
Dalam banyak percobaan, sipeneliti bekerja dengan lebih dari satu perlakuan atau lebih dari satu variabel bebas. Dalam bahasa desain percobaan, variabel bebas demikian sering juga disebut faktor. Faktor ini sering dijabarkan dalam huruf kecil. Misalnya, suatu penelitian yang menyangkut pemupukan, jarak tanam, dan musim, maka ketiga variabel bebas diatas ditulis sebagai :
P = jenis pupuk yang digunakan
d = jarak tanam
m = musim
Jika suatu percobaan kombinasi dilakukan, dengan4 jenis pupuk, 3 jarak tanam dan 2 musim, perlakuan diatas dituliskan sebagai :
P1 P2 P3 P4
d1 d2 d3
m1 m2
Harga atau nilai factor dinamakan level dari factor. Dari percobaan diatas kita peroleh :
4 level dari pupuk
3 level jarak tanam
2 level musim
Jumlah perlakuan adalah perkalian dari level factor. Pada percobaan diatas, jumlah perlakuan adalah 4 x 3 x 2 = 24
Pada suatu percobaan tentang pengaruh dari dua jenis pupuk dengan empat dosis dari masing-masing pupuk tersebut, maka terdapat dua factor, yaitu :
Factor pupuk dengan level, yaitu P1 dan P2
Factor dosis dengan 4 level, yaitu d1, d2, d3 dan d4
Jumlah perlakuan kombinasi adalah 2 x 4 = 8 yaitu
(P1,P2) (d1, d2, d3, d4) =
p1d1 p1d2 p1d3 p2d1 p2d2 p2d3 p2d4

Jika ada suatu percobaan dengan factor, yaitu :
Factor a dengan 2 level : a1 dan a2
Factor b dengan 2 level : b1 dan b2
Factor c dengan 3 level : c1, c2 dan c3

Maka percobaan tersebut dinamakan percobaan tiga factorial, atau percobaan 2 x 2 x 3 faktorial. Percobaan tersebut mempunyai 2 x 2 x 3 = 12 perlakuan kombinasi, yaitu :
a1b1c1 a1b1c2 a1b1c3 a1b2c1 a1b2c2 a1b2c3
a2b1c1 a2b1c2 a2b1c3 a2b2c1 a2b2c2 a2b2c3
Dengan menggunakan symbol, perlakuan kombinasi diatas dapat dituliskan sebagai aibjck dimana I = 1,2; j = 1,2; k = 1,2,3

4. KEBAIKAN DAN KELEMAHAN DESAIN PERCOBAAN
Desain percobaan, umumnya mempunyai lebih banyak kebaikan dibandingkan dengan kelemahannya. Kebaikan dari desain percobaan adalah sebagai berikut.
Dengan adanya desain percobaan, maka telah terjalin kerja sama antara ahli statistic dengan peneliti dalam menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap data.
Dalam percobaan, peneliti dapat membuat preplanning yang sistematis terlebih dahulu.
Perhatian dapat ditujukan terhadap hubungan-hubungan tertentu dalam mengukur dan mengenal sumber-sumber variasi.
Jumlah uji yang digunakan dapat ditentukan lebih dahulu dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Dengan adanya pengelompokan, maka pengaruh yang dapat diukur secara lebih tepat
Kesimpulan yang diperoleh dapat diketahui secara pasti dengan kepastian matematika.


Kelemahan dari desain percobaan, antara lain sebagai berikut.
Desain dan analisis percobaan selalu dinyatakan dalam “bahasa” ahli-ahli statistic.
Desain percobaan menghendaki biaya yang besar dan juga memakan waktu yang lama.

5. LANGKAH-LANGKAH POKOK
Dalam membuat desain percobaan, maka buatlah sejenis check list tentang hal-hal berikut.
Berikan penjelasan tentang masalah :
Sampai dimana cakupan area dari masalah
Identifikasikan outline masalah serta limitasi-limitasi yang terkandung di dalamnya
Berikan skope atau jangkauan dari program serta perencanaan percobaan tersebut.
Tentukan hubungan dari masalah yang khas dengan masalah keseluruhan
Kumpulkan keterangan yang tersedia
Pelajari dan selidiki semua keterangan dari sumber-sumber yang ada tentang masalah serta percobaan yang akan dibuat.
Catat dan tabulasikan data yang ada hubungannya dengan percobaan yang akan dilakukan.
Buat program mengenai desain percobaan
Diskusikan dengan anggota peneliti hal-hal berikut.
Perumusan hipotesis yang mau diuji
Pemilihan variabel-variabel yang akan digunakan
Pembuatan dari alternatif hasil yang bakal ditemui
Pemilihan range yang praktis dari factor-faktor tersebut dan level yang akan digunakan
Penentuan ukuran yang akan digunakan
Pertimbangan terhadap efek variabilitas sampling dan keterangan yang akan digunakan dalam percobaan
Pertimbangan-pertimbangan tentang kemungkinan adanya interaksi
Penentuan limitasi waktu, biaya, material, tenaga, alat-alat, kondisi tanah, iklim serta fasilitas lainya
Pertimbangan mengenai hal-hal yang menyangkut hubungan-hubungan lain antar manusia
Rencana program pendahuluan.
- buatlah jadwal yang sistematis tentang pekerjaan yang akan dilakukan
- berikan kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya perubahan jadwal
- hilangkan pengaruh-pengaruh variabel yang tidak diinginkan dengan mengadakan kontrol, randomisasi dan balancing.
- perhatikan supaya jumlah percobaan yang dilakukan jangan terlalu banyak
- pilihlah metode statistik yang akan digunakan dalam analisis
- jajaki jalan untuk memperoleh data secara baik

c. Telah kembali desain yang akan digunakan dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih masak.
- dari saran-saran yang diterima, adalah perbaikan terhadap desain yang dipilih terdahulu.
- susun langkah-langkah yang akan digunakan dalam bahasa yang dapat dimengerti

d. Rencanakan pelaksanaan percobaan
- pilihlah metode, material serta alat-alat yang digunakan
- laksanakan metode dan teknik yang dipilih
- cek sekali lagi semua hal yang berkenaan dengan percobaan dan jika perlu adakan modifikasi.
- catat segala modifikasi yang dilakukan
- Kumpulkan data secara hati-hati
- catat progress dari percobaan

Analisis data
Data yang dicatat perlu diubah dalam bentuk angka
Digunakan teknik matematika dan statistic yang cocok




6. DESAIN PRAEKSPERIMENTAL
Desain praeksperimental adalah desain percobaan yang tidak mencukupi semua syarat-syarat dari suatu desain percobaan sebenarnya. Beberapa desain praeksperimental adalah sebagai berikut.
One shot study case
Desain satu kelompok pretest-pretest
Design randomized control group only

One shot study case
Dalam One shot study case, perlakuan dikenakan pada suatu kelompok unit percobaan tertentu, kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel dependen. Desain tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Pengukuran perlakuan Pengukuran (pretest) (pretest)




Dalam percobaan ini, digunakan hanya satu kelompok unit percobaan tanpa control. Misalnya menyajikan suatu pelajaran dengan system ceramah. Kemudian diukur pengaruh memberikan ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah ceramah diberikan. Prestasi belajar kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil pretest diatas dengan mencari mean-nya.

Keuntungan
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai desain untuk penelitian eksploratori atau penelitian pendahuluan

Kelemahan
desain ini tidak mempunyai control, karenanya validitas eksternal tidak ada sama sekali. validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbanbingan, kecuali secara subjektif dan intuitif.

Design one group pretest-pretest
Dalam desain ini, kepada unit percobaan dikenakan perlakuan dengan dua kali pengukuran. Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan pengukuran kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan. Desain ini dapat digambarkan seperti dibawah ini.

Pengukuran Perlakuan Pengukuran
(pretest) (Posttest)



Desain ini merupakan perbaikan terhadap desain sebelumnya. Misalnya, percobaan dilakukan pada kelompok-kelompok murid untuk melihat kebaikan system mengajar dengan menggunakan teknik ceramah. Mengajar dengan teknik ceramah adalah suatu perlakuan X. pertama-tama diukur mean prestasi belajar dengan mengadakan pretest sebelum perlakuan dikenakan.sesudah perlakuan dikenakan, diukur lagi prestasi belajar dengan menggunakan posttest, T1. Kemudian dibuat perbandingan antara mean prestasi belajar T0 dan T1 untuk melihat bagaimana pengaruh belajar dengan system ceramah.

Kelemahan
Validitas internal masih dirasakan kurang. Tidak ada jaminan yang menyatakan bahwa perbedaan antara T0 dan T1 melulu sisebabkan oleh perlakuan X (teknik belajar dengan system ceramah).

Desain ini juga menghasilkan banyak error, antara lain error yang disebabkan oleh efek testing, pengaruh intrumen atau alat, pengaruh maturasi, history, error regresi,bias pemilihan dan mortalitas. Efek testing adalah error yang disebabkan oleh karena berubahnya motivasi belajar dengan adanya T0, ataupun berubahnya sikap serta bertambahnya insentif untuk belajar, sehingga akibatnya akibat mengubah prestasi belajar pada T1. Perubahan ukuran pada T, bukan saja disebabkan oleh X tetapi juga oleh perngaruh T0. Pengaruh intrumen, artinya error yang disebabkan oleh perbedaan cara scoring, cara pelaksanaan tes dan sebagainya, membuat perbedaan mean prestasi belajar pada T0 dan T1.
Pengaruh maturasi adalah perubahan yang terjadi atas murid karena gerakan waktu, seperti lebih dewasa, lebih bergairah, menjadi kurang berminat, dan sebagainya. Error history disebabkan oleh terjadinya hal-hal diluar masalah belajar pada subjek penelitian, seperti bertukar fasilitas rumah, perhatian orang tua menjadi lebih besar, dan sebagainya. Error regresi adalah error statistic yang tidak dapat dihindarkan jika kelompok –kelompok ekstrem dibandingkan dalam pretest dan posttest. Apabila satu atau beberapa unit percobaan tidak mengambil test, maka ada sifat-sifat yang hilang, sehingga menyebabkan terjadi error akibat pemilihan dan mortalitas.
Secara keseluruhan kita lihat bahwa desain one shot pretest memperlihatkan banyak sekali terdapat error yang disebabkan oleh efek confounded.

2.2 Keuntungan
Karena adanya pretest sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya post test sesudah perlakuan dikenakan, maka dapat dibuat perbandingan terhadap prestasi belajar dari kelompok percobaan yang sama. Bias variabel pilihan atau variabel mortalitas (hilang atau mati), dapat dihilangkan dengan menjamin bahwa kedua test tersebut adalah semua anggota unit percobaan.

Desain randomized control group only
Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, secara random. Kelompok pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok kedua merupakan kelompok untuk suatu control. Kemudian dicari perbedaan antara mean pengukuran dari keduanya, dan perbedaan ini dianggap disebabkan oleh perlakuan. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Pengukuran Perlakuan Pengkuran
(Pretest) (Posttest)

Kelompok
Percobaan

Kelompok
Kontrol

Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain diatas adalah sebagai berikut.
Pilihlah unit percobaan secara random dari suatu populasi
Jagalah supaya kedua kelompok tersebut mempunyai homoginitas yang tinggi
Gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada kelompok control (kelompok kedua)
Ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest seperti contoh yang telah lalu
Hitunglah mean dari masing-masing ukuran kelompok, dan bandingkan dengan menggunakan statistic yang cocok.

3.1 Keuntungan
Desain ini mempunyai validitas yang lebih tinggi, karena mempunyai randomisasi dan kontrol. Juga pengaruh confounded antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua tidak ada, karena pengukuran pertama (pretest) tidak dilakukan.

3.2 Kekurangan
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history, maturasi, intrumentasi, dan error testing.

7. DESAIN EKSPERIMENTAL SEMU
Desain percobaan yang belum secukupnya mempunyai sifat-sifat suatu percobaan sebenarnya, dinamakan desain eksperimental semu.
Desain percobaan ini mempunyai banyak kekurangan, baik dalam masalah randomisasi, replikasi ataupun masalah control internal. Karena kekurangan-kekurangan ini, penelitian tersebut belum mempunyai cukup syarat untuk disebut percobaan sebenarnya.
Desain-desain dalam kelompok ini yang banyak dilakukan dalam penelitian sosial, antara lain.
Desain korelasi dan ex post facto
Desain regressi discontinuity
Desain multiple time series
Percobaan time series
Desain separate sample pretest posttest control group
Desain separate sample pretest posttest
Desain counter balanced
Desain non equivalent control group
Desain equivalent material
Desain equivalent time samples

DESAIN PERCOBAAN SEBENARNYA
Desain percobaan sebenarnya adalah desain dimana aturan untuk menempatkan perlakuan pada unit percobaan dibuat sedemikian rupa, sehingga memungkinkan membuat perbandingan antar kelompok dengan validitas tinggi dan dapat mengontrol sumber-sumber variasi pada percobaan tersebut. Bergantung dari jenis percobaan, apakah percobaan dengan factor tunggal atau percobaan denga factor ganda, maka desain percobaan sebenarnya yang sering digunakan dapat dibagi atas tiga kelompok. Ketiga desain tersebut adalah berikut ini.
Complete block design, yang digunakan pada percobaan sederhana dengan beberapa perlakuan saja.
Incomplete block design, yang biasanya digunakan pada percobaan yang mempunyai banyak perlakuan dimana semua perlakuan tidak dapat ditempatkan pada blok yang homogen
Split-plot design, yang biasa digunakan pada percobaan factorial, dimana :
Banyak sekali perlakuan kombinasi yang dicoba
Perlakuan-perlakuan tertentu memerlukan plot yang lebih besar dibandingkan dengan beberapa perlakuan lainnya.

Jenis-jenis desain yang sering digunakan, lebih-lebih dalam penelitian ilmu natura dapat kita lihat pada gambar 11.1






Gambar 11.1




























Sumber : K.A. Gomes, Techniques for Field Experiments with Rice, the IRRI, Los Bannos, 1972,pp.7-9.


Beberapa desain sederhana dalam ilmu natura
Penggunaan penelitian eksperimental telah cukup berkembang didalam ilmu natura. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dilihat, bahwa penggunaan desain percobaan sudah begitu membudaya didalam percobaan-percobaan ilmu natura. Beberapa desain sederhana akan dijelaskan.
Randomized block design
Randomized complete block design
Latin square design
Lattice design
Randomized block design
Desain ini sering juga disebut complete randomized design. Desain ini sering digunakan jika percobaan bersifat homogeny seperti percobaan dalam laboratorium dimana cuaca dapat dikontrol. Desain ini jarang digunakan dilapangan.
Randomized dilakukan dengan menempatkan perlakuan secara random terhadap unit percobaan. Randomized biasanya dilakukan dengan menggunakan Table Angka Random (Random Number Table). Misalnya kita ingin mencoba empat jenis insektisida, A, B, C, D dengan lima kali pengulangan (replikasi). Jumlah kelompok percobaan atau plot ini kita susun menurut keinginan kita, misalnya secara berurutan dari no. 1 sampai dengan 20, sebagai berikut.

1 2 3 4
5 6 7 8
9 10 11 12
13 14 15 16
17 18 19 20

Kemudian secara random kita tentukan jenis perlakuan yang kita lakukan untuk masing-masing plot tersebut. Misalnya lay out terakhir dari perlakuan adalah sebagai berikut.

1
B 2
A 3
D 4
B
5
D 6
C 7
A 8
B
9
C 10
D 11
D 12
C
13
B 14
C 15
A 16
C
17
A 18
B 19
A 20
D

Design randomized complete block
Desain ini adalah desain yang banyak digunakan dalam percobaan pertanian. Desain ini mempunyai ciri khas, dimana unit percobaan dibagi dulu atas beberapa blok. Jumlah blok harus sama dengan jumlah replikasi. Tiap blok mengandung semua perlakuan yang diberikan. Dengan adanya blocking, maka akan terdapat heterogenitas antarblok, dan akan diperoleh homogenitas yang relative tinggi dalam masing-masing blok.
Dalam pembuatan desain ini, mula-mula unit percobaan dibagi atas blok. Jumlah blok harus sama dengan jumlah replikasi. Tiap blok, kemudian dibagi lagi dalam plot, yang mana jumlah plot tiap blok sama dengan jumlah perlakuan. Randomisasi perlakuan dilakukan dimasing-masing blok secara terpisah, karena pada desain ini, tiap blok harus mengandung semua perlakuan. Randomisasi dilakukan biasanya dengan menggunakan Tabel Angka Random.

1.3 Desain latin square
Pada desain randomisasi complete block, daerah yang bisa diblok hanya menuju dalam satu arah saja. Tetapi pada desain latin square, block dapat dilakukan dalam dua arah. Hal ini dapat dilakukan dalam latin square dengan mengatur perlakuan sedemikian rupa sehingga tiap perlakuan muncul hanya sekali dalam tiap kolom dan baris. Desain latin square ini memberikan kepada kita error kolom error baris, yang tidak dapat diperoleh dari desain-desain sebelumnya. Hanya saja desain ini mempunyai syarat, yaitu jumlah perlakuan dan jumlah replikasi harus sama. Karena itu, desain ini hanya digunakan pada percobaanya yang memakai 4-8 perlakuan saja.
Desain latin square untuk sebuah percobaan dengan lima buah perlakuan, A, B, C, D, E meminta supaya replikasinya juga harus lima. Penentuan perlakuan dilaksanakan dengan randomisasi. Sesudah randomisasi maka lay out dari percobaan dapat saja berbentuk sebagai berikut.
A
B
C
D
E B
A
D
E
C C
E
A
B
D D
C
E
A
B E
D
B
C
A

Desain lattice
desain lattice adalah desain blok yang tidak komplet. Desain lattice digunakan jika jumlah perlakuan terlalu besar, sehingga tidak efisien lagi dikerjakan dengan desain latin square, desain randomized complete block, maupun desain completely randomized block. Dengan menggunakan desain-desain diatas pada percobaan yang perlakuannya terlalu banyak, peneliti amat sukar untuk mengontrol error yang terjadi. Untuk menanggulangi kesukaran ini, maka peneliti menggunakan desain incomplete dan yang sering digunakan adalah desain lattice.
Dalam penelitian pertanian, desain blok yang tidak komplet (incomplete block design) yang sering digunakan adalah desain balanced lattice dan partially balanced, desain balance dan partially balanced lattice mempunyai syarat-syarat berikut.
Jumlah perlakuan harus pangkat dua, seperti 52 = 25, 81,100,16 dan sebagainya.
Jumlah plot dalam tiap blok harus sama dengan akar jumlah perlakuan.
Jika seorang peneliti mempunyai percobaan dengan 64 perlakuan, maka jumlah plot/blok adalah √64 = 8; untuk 36 perlakuan, jumlah per plot adalah 6.
Untuk desain balanced lattice, jumlah replikasi adalah jumlah perlakuan ditambah satu. Misalnya untuk percobaan dengan 49 perlakuan, jumlah replikasi adalah √(49+1) = 8; untuk percobaan dengan 64 perlakuan, maka jumlah replikasi harus 8 + 1 = 9. Di lain pihak, desain partially balanced lattice,jumlah replikasi tidak mempunyai restriksi. Bisa dua, tiga, dan sebagainya. Jika percobaan mempunyai dua replikasi, desain tersebut dinamakan simple lattice, juga tiga replikasi disebut triple lattice dan seterusnya.
Dari penjelasan diatas, maka dapat kita lihat bahwa desain lattice mempunyai kemudahan-kemudahan sebagai berikut.
Jumlah blok tidak perlu sama dengan jumlah perlakuan
Khusus untuk partially balanced lattice jumlah replikasi dapat dibuat sesuka hati sesuai dengan constraint unit percobaan yang dipunyai.
Marilah kita berikan contoh sebagai berikut, suatu percobaan dengan 9 perlakuan ingin menggunakan desain lattice. Untuk ini misalnya, peneliti ingin membuat menjadi 3 blok. Jumlah plot dalam tiap blok adalah √9 = 3 buah. Jika peneliti memilih balanced lattice, maka jumlah replikasi harus 3 + 1 = 4.
Jika perlakuannya adalah A, B, C, D, E, F, G, H dan J, maka bentuk balanced lattice dapat saja sebagai berikut.


NO BLOK TIDAK LENGKAP PERLAKUAN
Rep. 1 Rep. 2 Rep. 3 Rep. 4
I
II
III A B C
D E F
G H J A D G
B E H
C F J A E J
B F G
C D H A F H
B C J
C E G

Dalam merencanakan desain lattice diatas, maka mula-mula unit percobaan dibagi dalam replikasi dan tiap replikasi dibagi atas plot percobaan, dimana t adalah jumlah perlakuan. Kemudian tiap replikasi dibagi atas k buah blok, dimana k = √t , dan tiap blok berisi k buah plot percobaan. Jumlah plot percobaan adalah r.t = r.k2.
Misalnya seorang peneliti ingin mencoba 9 buah perlakuan pada sepetak lapangan percobaan. Karena perlakuannya adalah 9 dan dengan menggunakan 3 blok, jumlah replikasi adalah 4 untuk desain balanced lattice. Rencana desain adalah sebagai berikut.

Bagi tanah atas 4 buah replikasi




Kemudian tiap replikasi dibagi atas 3 blok, sehingga seluruh percobaan mempunyai 4 x 3 = 12 blok.





Sesudah itu tiap blok dibagi atas 3 plot percobaan ( √9 = 3 )





Penempatan perlakuan harus dilakukan secara random, randomisasi terdiri dari dua langkah, yaitu
Randomisasi replikasi
Randomisasi blok untuk setiap replikasi.
randomisasi dilakukan dengan menggunakan table angka random.

Beberapa desain dalam ilmu sosial
Desain percobaan bukan saja milik ilmu natura, tetapi juga telah banyak dikerjakan dalam ilmi sosial, lebih-lebih dalam ilmu pendidikan. Dengan percobaan dalam ilmu sosial mempunyai dasar yang sama dengan desain pada percobaan ilmu natura, hanya namanya saja yang ada kalanya berbeda. Dua buah desain percobaan dalam ilmu pendidikan diberikan dibawah ini, yaitu sebagai berikut.
Desain randomized control group pritest – posttest.
Desain randomized Solomon four group.

2.1 Desain randomized control group pretest-posttest
Desain ini dalam bentuknya yang sederhana, terdiri hanya satu perlakuan dan sebuah control. Akan tetapi bisa dikembangkan menjadi beberapa perlakuan untuk desain dengan satu perlakuan, prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut.
Pilihlah unit percobaan secara random
Bagi unit percobaan atas dua kelompok. Kelompok I diberi perlakuan. Sedangkan kelompok II, tanpa perlakuan dan merupakan kelompok control.
Berikan pretest untuk kedua kelompok, dan hitung mean prestasi untuk masing-masing kelompok.
Berikan posttest untuk kedua kelompok, dan hitung mean prestasi untuk masing-masing kelompok.
Hitung perbedaan mean (posttest dan pretest) dari masing-masing kelompok dan bandingkan perbedaan tersebut secara statistik.
Prosedurnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Pengukuran pengukuran
(pretest) perlakuan (posttest)
Kelompok percobaan T0 X T1
Kelompok kontrol T0 - T1

Jika percobaan diperluas, misalnya dengan tiga buah perlakuan, maka bagannya dapat digambarkan sebagai berikut.

Pengukuran pengukuran
(pretest) perlakuan (posttest)
Kelompok perlakuan I T01 X1 T1
Kelompok perlakuan II T02 X2 T1
Kelompok perlakuan III T03 X3 T1
Kelompok kontrol T04 - T1

Desain ini mempunyai internal yang lebih tinggi. Beberapa factor eksternal telah dapat dikontrol, yaitu.
Randomisasi telah mengontrol diferential selection
Pengaruh naturasi dan pretesting yang terjadi sama besarnya pada kedua kelompok
Diferential mortality yang non random dapat diperhitungkan
Statistical regression dapat dikontrol

Pengontrolan alat yang digunakan dapat dilakukan dengan mengadakan alat yang standar dan pengamat yang netral. Kenetralan pengamat dapat dilakukan dengan cara membuat kelompok anonim untuk mereka, sehingga biasnya dapat dikurangi.
Desain diatas juga masih mempunyai kekurangan dalam validitas eksternal. Interaksi antara pemilihan unit percobaan dengan perlakuan masih tetap ada, dan tidak dapat dikontrol. Interaksi antara history (misalnya situasi yang tidak baik dalam percobaan) dalam kelompok masih tetap ada. Begitu juga halnya dengan interaksi antara perlakuan dengan pretesting, sehingga dengan adanya pretesting, unit percobaan makin peka terhadap perlakuan. Juga pengaruh prosedur percobaan, membuat unit percobaan, yang terdiri dari manusia itu, akan mempengaruhi inferensi. Hal ini terjadi karena unit percobaan tahu bahwa mereka sedang dalam suatu percobaan, sehingga sifat-sifat asli mereka sukar timbul, jika dibandingkan dengan situasi dimana mereka melakukannya bukan dalam keadaan percobaan. Karena itu, perlu diusahakan bahwa unit percobaan tidak tahu bahwa mereka berada dalam suatu situasi percobaan.


Desain randomized Solomon four group
desain ini dapat mengurangi kelemahan desain sebelumnya, lebih-lebih dalam meningkatkan validitas eksternal dan internal.
Desain ini dapat memperbaiki dua hal, yaitu.
Mengurangi pengaruh pretesting terhadap unit percobaan
Mengurangi error interaksi antara pretesting dengan perlakuan
Hal diatas dilakukan dengan tersedianya dua kelompok lain yang tidak diadakan pretesting dalam desain ini.
Dalam desain ini, unit percobaan dibagi atas empat kelompok, yaitu.
Kelompok perlakuan dengan pretesting
Kelompok control dengan pretesting
Kelompok perlakuan tanpa pretest
Kelompok control tanpa pretest
Bagian dari desain tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

Pengukuran Perlakuan pengukuran

Kelompok T0 X T1
Kelompok T0 - T1
Kelompok - X T1
Kelompok - - T1

Dalam desain randomized Solomon four group ini, penempatan perlakuan dilakukan secara random. Desain ini memungkinkan untuk mengotrol pretesting dan juga pengaruh interaksi antara pretest dengan perlakuan. Begitu juga halnya dengan membandingkan mean kelompok control tanpa pretesting pada T1 dengan mean-mean pada T0.

PERCOBAAN FAKTORIAL
Dalam penjelasan yang lalu, percobaan yang dilakukan hanya terbatas kepada perlakuan-perlakuan dimana tiap perlakuan mempunyai intensitas ataupun dosis yang sama, ataupun perlakuan yang terdiri dari satu level saja. Percobaan factorial, dilain pihak, adalah percobaan dimana perlakuan terdiri dari semua kemungkinan kombinasi level. Yang paling sederhana adalah percobaan 22 faktorial, yaitu percobaan yang terdiri dari dua perlakuan dan tiap perlakuan terdiri dari dua level, misalnya :
Responsi dua varietas padi terhadap 2 level pupuk
Pengaruh 2 jenis penyajian materi dalam 2 waktu penyajian

Untuk lebih konkret, misalnya percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
Varietas A dengan 0 kg pupuk urea
Varietas B dengan 0 kg pupuk urea
Varietas A dengan 75 kg pupuk urea
Varietas dengan 75 kg pupuk urea
Atau
Metode ceramah yang lamanya 45 menit
Metode ceramah yang lamanya 60 menit
Metode diskusi dengan 45 menit
Metode diskusi dengan 60 menit

Bagannya dapat kita lihat berikut.
Level pupuk Varietas
A (V1) B (V2)

0 kg (P1)
75 kg (P2)

P1 V1
P2 V1

P1 V2
P2 V2


Level
waktu Cara penyajian
ceramah (K1) diskusi (K2)

45 menit (W1)
60 menit (W2)

W1 K1
W2 K1

W1 K2
W2 K2


Factorial berhubungan dengan bagaimana cara perlakuan dibentuk. Karena itu factorial adalah sebuah percobaan, bukan sebuah desain. Karena tidak ada desain factorial. Yang ada adalah percobaan faktorial dengan bermacam desain. Bisa saja percobaan factorial dengan desain completely randomized design, percobaan factorial dengan desain latin square, dan sebagainya.
Keuntungan dari percobaan factorial adalah dimungkinkan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara factor. Jika percobaan dilakukan secara masing-masing, yaitu percobaan tentang metode ceramah dengan dua perlakuan (45 menit dan 60 menit), dan metode diskusi (45 menit dan 60 menit), maka peneliti tidak dapat melihat pengaruh interaksi antara lamanya kegiatan dengan jenis penyajian. Hal tersebut baru bisa dihitung dengan menggunakan percobaan factorial.
Dalam percobaan factorial, prinsip randomisasi, pengulangan (replikasi), dan blocking juga harus diterapkan. Dengan demikian, error yang terjadi dapat diukur secara seksama.
Marilah kita lihat sebuah contoh tentang percobaan pemupukan 3 varietas padi dengan 5 level pupuk. Percobaan ini adalah percobaan 3 x 5 faktorial. Jika desain dari percobaan yang dipilih adalah desain randomized complete block, maka percobaan tersebut adalah percobaan 3 x 5 faktorial dengan desain randomized complete block.
Dalam percobaan factorial, maka yang dipikirkan sebagai perlakuan adalah kombinasi dari level. Karena itu, dalam percobaan diatas perlakuannya berjumlah 3 x 5 = 15 seperti bagan dibawah ini

Level pupuk Varietas
A
(V1) B
(V2) C
(V3)
0 kg (P1)
75 kg (P2)
100 kg (P3)
125 kg (P4)
150 kg (P5) P1 V1
P2 V1
P3 V1
P4 V1
P5 V1
P1 V2
P2 V2
P3 V2
P4 V2
P5 V2


P1 V3
P2 V3
P3 V3
P4 V3
P5 V3




Kelima belas perlakuan adalah :
P1 V1 = varietas A dipupuk dengan dosis 0 kg
P2 V1 = varietas A dipupuk dengan dosis 75 kg
Dan seterusnya sampai dengan P5 V5 yaitu varietas C dipupuk dengan dosis 150 kg. perlakuan ini dinamakan perlakuan kombinasi.
Jika percobaan factorial diatas menggunakan desain randomisasi complete block dengan empat replikasi, maka percobaan factorial tersebut dibagi atas empat buah blok. Tiap blok berisi semua kombinasi perlakuan (15 kombinasi perlakuan). Penempatan perlakuan dan bloking dilakukan dengan randomisasi. Lay out dari percobaan dapat berbentuk seperti berikut.

Block I P3 V2 P1 V1 P4 V1 P1 V2 P2 V3
P3 V3 P2 V1 P4 V3 P3 V1 P5 V3
P2 V2 P5 V1 P5 V2 P1 V3 P3 V2


Block II P1 V2 P5 V2 P1 V1 P3 V3 P3 V2
P4 V2 P4 V1 P2 V1 P2 V3 P3 V1
P5 V3 P1 V3 P2 V2 P4 V3 P5 V1

Block III P4 V1 P1 V3 P5 V1 P5 V3 P1 V1
P4 V3 P4 V2 P3 V1 P2 V1 P2 V2
P3 V3 P3 V2 P1 V2 P2 V3 P5 V2

Block IV P5 V3 P5 V1 P4 V2 P1 V3 P2 V1
P3 V2 P1 V1 P4 V1 P1 V3 P3 V1
P4 V3 P3 V3 P2 V3 P1 V2 P5 V3





























TEKNIK MEMBUAT
PLOT LAPANGAN




Dalam penelitian pertanian, percobaan-percobaan yang dilakukan banyak mempergunakan plot-plot dilapangan. Karena lapangan banyak dipengaruhi oleh lingkungan,baik suhu, tanah, iklim, dan sebagainya, maka teknik membuat plot lapangan perlu diketahui oleh peneliti-peneliti pertanian yang menggunakan metode eksperimental.

BEBERAPA PRINSIP DASAR
Dalam percobaan lapangan, seorang peneliti perlu membuat plot-plot dilapangan yang sesuai dengan desain percobaan yang dipilihnya. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam membuat plot lapangan ini, antara lain:
Tanah tempat percobaan harus tepat,
Pengaruh batas harus dihilangkan,
Besar serta bentuk dari plot harus sesuai,
Desain yang dipilih harus cocok,
Kegiatan serta manipulasi yang dilakukan harus tertib.

Lokasi Percobaan
Lokasi percobaan harus dipilih didaerah yang tepat untuk percobaan. Untuk ini perlu diperhatikan hal-hal berikut.
Daerah harus representative untuk mewakili daerah yang ingin dibuat inferensinya, serta baik untuk perlakuan yang ingin dikerjakan.
Tanah harus dipilih yang homogeny serta uniform.
Sejarah tanah, lebih-lebih mengenai tanaman yang pernah ditanam sebelumnya, perlu diketahui.
Tanah untuk tanaman lading diperlukan tanah yang slopenya sedikit heling sehingga drainase dapat dijamin.

Pengaruh Batas
Pengaruh batas atau border effect harus dihilangkan. Pengaruh batas adalah pengaruh akibat kompetisi yang terjadi. Kompetisi ini bentuknya baik, berupa kompetisi terhadap zat hara, terhadapa sinar matahari, dan sebagainya. Kompetisi harus dihilangkan, yang terdiri dari :
Kompetisi antara tanaman dalam satu unit percobaan ( kompetisi intra unit percobaan)
Kompetisi antara tanaman antara satu unit percobaan dengan percobaan lain (kompetisi antar unit percobaan)
Kompetisi antara tanaman pinggir (border plant).
Untuk menghilangkan kompetisi-kompetisi diatas maka dalam membuat percobaan dilapangan, perlu diperhatikan beberapa hal berikut.
Usahakan plot yang ditanami sekurang-kurangnya, mempunyai tiga jajar tanaman.
Sediakan satu jajar batas atau border row yang dalam pengukuran nantinya tidak diperhatikan (tidak diukur).
Tanamlah tanaman penjaga( guard row)

Lay out-nya dapat dilihat dibawah ini.
+ + + + + + + + x x + + + + + + + + x x + + + + +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + x x + + x x +
+ + + + + + + + x x + + + + + + + + x x + + + + +
xx = tanaman penjaga (guard row)
= tanaman yang diamati
+ + = tanaman batas (border row)

Luas dan Bentuk Plot
Luas serta jumlah plot yang digunakan bergantung dari banyak hal, antara lain :
Tanah yang tersedia
Uniformitas tanah
Jenis tanaman yang dijadikan unit percobaan
Jenis desain yang dipilih
Kegiatan serta teknik pertanian yang digunakan dalam perlakuan
Biaya yang tersedia

Luas serta bentuk pplot yang digunakan haruslah sedemikian rupa sehingga dapat dimaksimalkan homogenitas dari individu.
Uniformalitas tanah dapat dihitung lebih dahulu dengan menanam indicator. Dari tanaman indicator ini dapat dihitung koefisien heterogenitas tanah. Tanaman yang sering digunakan sebagai tanaman indicator adalah tanaman jagung.
Untuk percobaan dengan tanaman padi, luas plot yang biasa digunakan adalah 3x 6 m2 . untuk tanaman muda lainnya, luas plot yang digunakan berkisar antara 100 m2 samapai dengan 400 m2 . untuk tanaman tahunan, luas plot tanaman bergantung dari jarak tanamnya. Biasanya sebuah plot percobaan untuk tanaman tahunan minimal harus dapat memuat 10 batang tanaman.

Desain yang Dipilih
Desain percobaan harus dipilih sedemikian rupa, sehingga memungkinkan untuk menghilangkan error-error yang terjadi. Desain harus efisien dan tepat. Dalam pertimbangan pemilihan desain harus juga diperhatikan:
Biaya untuk percobaan tersebut
Kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam membuat percobaan
Derajat homogenitas tanah, dan
Fasilitas-fasilitas yang tersedia
Jika peneliti dihadapkan kepada pemilihan antara desain yang mudah dengan desain yang kompleks, maka perlu dipertimbangkan keuntungan relative yang diperoleh dengan adanya tambahan biaya untuk desain yang kompleks.

Jenis Kegiatan dalam Percobaan
Kegiatan percobaan harus dilakukan secara tertib, tepat, dan teratur, sehingga pengaruh dari perlakuan dapat dengan jelas diukur. Waktu mengadakan perlakuan harus sama jika digunakan desain completely randomized. Tetapi untuk desain lain, waktu tersebut dapat berbeda sedikit. Kegiatan perlakuan harus dibuat sehomogen mungkin, sehingga error dapat dihilangkan. Metode-metode yang lebih efisien dalam menghitung biji, menyemai, memupuk, dan sebagainya harus dijaga.

2. MENGHITUNG KOEFISIEN HETEROGENITAS TANAH
Seperti telah diterangkan diatas, heterogenitas tanah untuk lapangan percobaan harus diketahui. Dengan pengetahuan ini, sekurang-kurangnya pemilihan desain dapat lebih mudah dilakukan. Misalnya, jika homogenitas tanah menjerumus pada dua arah, makadesain latin square lebih baik digunakan. Sebaliknya, jika homogenitas tanah menjurus pada satu arah, maka desain completelyrandomized block lebih baik digunakan.
Untuk mengitung heterogenitas tanah, maka diperlukanhal-hal berikut.
Sebidang tanah yang dibagi atas plot-plot.
Sebuah tanaman indicator, misalnya tanaman jagung.
Sebuah variabel untuk mengukur heterogenitas, misalnya berat tongkol jagung.
Dari hasil tanaman indicator, maka dicari koefisien heterogenitas tanah dengan rumus dibawah ini.
r = □(1/m [{(∑▒T^2 )-∑▒(X^2 ) }{n(n-1) } ]-(X ̅ )^2 )/s^2

Dimana :
r = Koefisien heterogenitas
m = jumlah kelompok plot
T = total produksi semua kelompok plot
X = hasil plot individu
n = banyak plot kelompok
s^2 = variance produksi dari plot individu
X = mean dari semua produksi plot individu

Marilah kita lihat contoh dibawah ini. Untuk menghitung heterogenitas tanah, maka ditanami tanaman indicator (jagung) dengan 8 kelommpok, dan tiap kelompok ditanam 4 plot tanaman. Layout-nya adalah seperti dibawah ini. Angka dibawah plot adalah hasil observasi dari produksi.
22 23
23 22 22 20
22 20
21 22
22 21 21 19
20 19
20 18
18 20 20 19
19 20
18 17
18 17 20 18
20 18

Dari observasi diatas, maka diperoleh:
m = jumlah kelompok = 8
n = jumlah plot per kelompok = 4
T1 = 22 + 23 + 23 + 22 = 90
T2 = 21 + 22 + 22 + 21 = 86

Dan seterusnya.
T8 = 20 + 18 + 20 + 18 = 76

X ̅ = (22+23+23+22+⋯+18)/32 = 20
Untuk mencari koefisien heterogenitas, buatlah work sheet sebagai berikut .

T T2 X ̅ X ̅ 2 X - X ̅ (X - X ̅ )2
90
86
76
-
-
-
76 8.100
7.396
5.776
-
-
-
5.776 22
23
23
-
-
-
-
-
18 484
523
529
-
-
-
-
-
324 2
3
3
-
-
-
-
-
-2 4
9
9
-
-
-
-
-
4
640 31.488 640 12.892 0 92

S2 = (∑▒(〖X-X〗^2 ) )/32= 92/32=2,875

∑▒〖T^2=51.488 ∑▒〖X^2 =12.892 n=4 m=8〗〗

r = (1/8 [{51.488-12.892} {4(4-1) } ]- (〖20〗^2 ))/2,875=0,71

Makin kecil koefisien, maka tanah makin homogeny.

Selain dari koefisien heterogenitas, maka sering juga peneliti ingin melihat variabilitas dari tanah. Variabilitas tanah tidak lain adalah bagaimana berbedanya satu plot tanah dengan plot yang lain. Untuk menghitung variabilitas tanah, digunakan koefisien variabilitas dengan melihat produksi dari tanaman indicator. Koefisien variabilitas dicari dengan rumus :

C.V. = (Standar deviasi)/mean x 100%
Dimana C. V. = koefisien variabilitas. Tanah yang digunakan untuk lapangan percobaan adalah tanah yang mempunyai koefisien variabilitas yang kecil.
Cara memilih petak tanah yang digunakan untuk tempat percobaan adalah sebagai berikut.
Tanami tanah dengan suatu tanaman indicator tertentu
Bagi tanah tersebut atas satuan-satuan kecil, misalnya atas 20 satuan kecil, dengan nomor 1 sampai 2.
Kemudian buat satuan luas dengan mengkombinasikan plot-plot yang telah dibuat.
Cari mean dan standar deviasi dari produksi per satuan luas dasar untuk mencaari koefisien variabilitas.
Misalnya, mula-mulanseluruh tanah merupakan satuan, yaitu 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,..,20. Cari mean dan standar deviasi dari produksi. Kemudian kita buat satuan kecil lain sebagai berikut ( 1+2), (3+4), ( 5+10),(9+14), (7+8), (12+13), (15+20), (18+19), (16+17), (6+11). Cari mean dan standar deviasi dari produksi.
Kkita buat kelompok kecil yang lain, misalnya terdiri dari 4 plot dasar (1+2+6+7), ( 3+4+8+9), (4+5+6+7), dan seterusnya, lalu dicari standar deviasi dan mean produksi. Kemudian dicari kkoefisien variabilitas dari masing-masing pengelompokan diats. Satuan pengelompokan yang mempunyai koefisien variabilitas terendah akan dipilih sebagai tempat plot percobaan lapangan.
CARA RANDOMISASI
Randomisasi merupakan persyaratan dalam menempatkan perlakuan terhadap suatu plot tertentu dalam suatu desain percobaan. Randomisasi dilakukan biasanya dengan menggunakan tabel angka random. Cara penggunaan tabel angka random untuk mengadakan randomisasi dari beberapa desain dasar akan diberikan di bawah ini.
Desain Completely Randomisasi
Desain ini sering digunakan pada percobaan dimana unit percobaan adalah homogen. Biasa digunakan pada percobaan-percobaan dalam laboratorium atau dalam rumah kaca. Desain ini adalah desain yang paling sederhana dibandingkan dengan desain-desain lain. Desain ini kurang digunakan dalam percobaan lapangan. Randomisasi dilaksanakan dengan menentukan perlakuan terhadap semua unit percobaan secara random.
Misalny, kita telah mempunyai pengaturan plot seperti dibawah ini. (Gambar12.1). percobaan dilakukan dengan 4 buah treatment dan 6 replikasi. Untuk ini diperlukan 4x6=24 buah plot percobaan. Jika misalnya percobaan dilaksanakan dengan menggunakan petri dish dilaboratotium, maka diperlukan 4x6=24 buah petri dish. Plot-plot atau petri dish tersebut diberi nomordari 1 sampai 24.
Gambar 12.1

1 2 3 4
5 6 7 8
9 10 11 12
13 14 15 16
17 18 19 20
21 22 23 24

Pengaturan plot dilapangan.










Pengaturan petri dish di laboratorium.
Kita misalkan bahwa kita mempunyai 4 buah perlakuan, yaitu : A, B, C, D (kontrol). Kitanjuga menginginkan 6 replikasi. Untuk menentukan randomisasi, maka:
Tentukan jumlah plot, yaitu 6x4 = 24 plot;
Tentukan nomor dari plot dengan cara apa saja, misalnya secara berurutan dari 1 sampai dengan 24. (lihat gambar 12.1);
Tentukan perlakuan dengan menggunakan table random number sebagai berikut.
Caranya adalah sebagai berikut.
Bukalah tabel Random Number dimuka anda, dan dengan menutup mata, maka tancapkan pinsil anda pada salah satu nomor pada tabel random number tersebut. Angka yang tertusuk adalah angka dasar untuk randomisai.
,,isalnya angka dasar yang tertusuk adalah angka 8 pada kolom 11 dan jajaran (row) ke 17. ( lihat gambar 12.2)
Dengan menggunakan angka dasar tersebut, maka bacalah angka-angka berdigit 3 kebawah.
Banyaknya angka berdigit 3 ini adalah sebanyak plot yang kita punyai. Dalam contoh kita, jumlahnya adalah 24, yaitu dari :877;624;849;470;…;283;164.
Tiap pembelian angka berdigit 3 tersebut kita tuliskan dikertas bersama-sama urutannya, sebagai berikut.

25950
82973
60819
59041
74028

39412
48480
95318
72094
63158

19082
15232
94252
72020
48392

37950
09394
34800
36435
28187



85189
16405
27364
38475
69516

50075
03642
















75108
46857
53290
84697
79762

82753
53920
15395

45703
31924
81736
30853
01935

15040
47192
26081
38405
20405

45362
29950
74151
18079
95920

42610
45692
68867
06096
91590





Gambar 12.2

Random number Urutan
877 1
624 2
849 3
470 4
354 5
395 6
915 7
857 8
522 9
970 10
414 11

1 comment:

  1. terimakasih ya blog ini sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas kuliah metode penelitian :)

    ReplyDelete